15 : Yang saling Mengkhianati

1497 Words
From Agung Rahardjo: Salah satu keluarga Hoesnadi akan naik ke panggung politik. Kita belum tau mereka akan menempati posisi apa. Tapi, melihat posisi mereka saat ini besar kemungkinan mereka mendapatkan jabatan sejajar menteri. Terus saja menempel pada Layla Noah baru saja selesai mandi ketika dia mendapatkan notifikasi pesan dari ayahnya. Hubungan antara Agung dengan Noah memang tak selayaknya ayah dan anak yang dekat secara emosional. Daripada keluarga mereka lebih mirip rekan bisnis yang mencari keuntungan dari satu sama lain. Sejak dulu begitu tradisinya. Yah, meskipun begitu Noah tak keberatan untuk patuh pada perintah Agung. Ayahnya adalah pengacara senior terkemuka sekaligus pebisnis. Lelaki tua itu mampu bertahan di kehidupan yang mapan berkat strateginya sendiri. Noah yakin dia juga bisa menjadi seperti Agung. Lagi pula, Layla bukan perempuan yang buruk untuk dipertahankan. “Menghubungi siapa? Tunanganmu?” Annette yang tadi pergi ke dapur kini telah kembali. Perempuan itu hanya menggunakan gaun tidur yang diikat secara asal membuat kulit polosnya sesekali terlihat setiap kali angin bertiup. Di jari Annette terjepit sebatang rok0k yang belum terkena api. “Not your business, Honey.” Anette mendengkus tajam. Dia melangkah membuka pintu kaca yang menghubungkan ke balkon. Pemandangan langit pagi Jakarta terlihat kali itu. Dari ketinggian Annette bisa melihat kendaraan di bawah sana yang tampak kecil. “Mau sarapan apa kita?” Tahu-tahu Noah menyusul. Lelaki itu sudah melingkarkan kedua tangannya di sekitar perut Anette. Sesekali Noah mengecupi perpotongan leher Anette demi mencecap jejak wangi di kulit kekasih gelapnya. Mungkin sudah 3 bulan Noah dan Anette menjalin hubungan terlarang tersebut. Berawal dari sebuah ketidaksengajaan sampai akhirnya mereka sama-sama saling terpikat. Anette tenggelam ke dalam pesona Noah. Lelaki itu bagai sihir yang memiliki seribu magis. “Mungkin kamu harus sarapan di rumah tunangan kamu itu.” “Layla? Dia enggak suka aku datang mendadak.” “Kamu sangat memperhatikan perasaannya ya?” Anette melepaskan kedua tangan Noah yang melingkar di tubuh rampingnya. Perempuan itu berbalik dan menatap Noah dengan ekspresi kesal. “Kalau kamu secinta itu sama dia kenapa kamu enggak kembali ke dia aja, Noah?” “Jangan gitu, dong, Honey. Aku sayang kamu.” “Tapi, kamu cinta dia.” “Aku butuhnya kamu, Anette. You are all I need. Kamu yang paling mengenalku daripada Layla. Kamu tau … walaupun ingin, aku enggak bisa melepaskan Layla begitu aja. Dia pernah depresi berat dan menjadikan nark0ba sebagai pelarian. Bisa kamu bayangkan betapa bersalahnya aku kalau sampai menjadi pemicu dari kambuhnya depresi Layla?” Noah memasang tampang bersalah. Noah melempar rok0k yang Anette pegang kemudian kedua tangannya menggenggam perempuan itu. Noah adalah aktor yang andal. Noah paling tahu cara meluluhkan hati perempuan. “Jadi, please … untuk kali ini kamu mau ya memahami aku?” “Biar aku yang bicara sama dia kalau gitu. Dia harus belajar untuk melepaskan hal-hal yang enggak layak dia terima.” “No, jangan, Anette.” Noah menggeleng. Ditatapnya Anette lamat-lamat. Tatapan itu berhasil memadamkan api yang membakar amarah kekasih gelapnya. “Aku akan menyelesaikannya sendiri nanti. Aku janji. Kamu percaya ‘kan sama aku?” Anette tahu ada yang tidak beres. Akan tetapi, rasa cintanya kepada Noah sudah terlalu besar. Selama 3 bulan menjalin hubungan perselingkuhan selama itu pula Noah bolak-balik ke apartemennya. Noah menciumnya di banyak tempat dan membawa Anette kepada bintang-bintang dan surga fana. Melepaskan Noah juga bukanlah pilihan. Jadi, Anette mengangguk dan mengalah. Sebagaimana triknya dalam menenangkan hati Layla kali ini Noah juga melakukan hal serupa. Noah menarik rahang Anette dan menciumnya. Gerakan Noah begitu menuntut dan kasar. Tangan lelaki itu bergerak menyentuh titik sensitif yang membuat Anette terkulai di bahunya. Pagi itu berakhir sama seperti pagi sebelumnya. Anette kembali tenggelam di dalam kubangan dosa bersama Noah. Mereka saling menyentuh dan saling menyebut satu sama lain. *** “Hai,” sapa Athala sewaktu dia masuk elevator dan bertemu Layla di sana. Layla menampilkan senyum manis. “Hai.” Di dalam elevator hanya ada mereka berdua. Sehubung sekarang adalah jam sibuk jadi, tak banyak karyawan yang menggunakan elevator. Benda besi itu baru ramai memasuki jam makan siang nanti. Sudah terhitung seminggu Athala kembali masuk kantor. Selama itu pula diam-diam Athala dan Layla menjalin hubungan tak bernama. Rasanya terlalu remeh kalau sekadar dibilang teman, tetapi juga rasanya tak pantas jika disebut sebagai kekasih. Entahlah. Untuk saat ini keduanya masih sama-sama menikmati status abu-abu tersebut. “Aku enggak liat kamu pas fingerprint tadi,” kata Layla berusaha mencari topik. “Ah, iya. Aku bangun kesiangan.” “Pasti gara-gara ngobrol sampai larut malam sama aku. Besok-besok kita teleponan maksimal satu jam aja.” Sejak menjalin hubungan tak bernama itu Layla dan Athala memang jadi rutin melakukan panggilan telepon sampai larut malam. Supaya tak terendus Noah, Layla sengaja menggunakan ponsel yang berbeda. Mau dilihat dari sudut pandang mana pun hal tersebut tidaklah benar. Namun, Layla juga tak kuasa menolak keinginan hatinya. Layla tak bisa lagi patuh pada Noah untuk menepati janjinya menjauhi Athala. Selama Noah tak tahu maka, harusnya semuanya aman-aman saja. Layla hanya perlu melakukan segalanya dengan rapi. Athala menolak ide tersebut. “Enggak mau. Satu jam itu terlalu sebentar. Aku suka suara kamu, Layla.” Layla pura-pura berdecak sebal. “Sudah berapa perempuan yang kamu gombalin kayak gini hm?” Athala tersenyum lebar melihat raut wajah Layla yang berubah kesal. Sebagai upaya memulihkan suasana hati Layla, Athala mendekat dan memeluk Layla dari belakang. Kedua tangan Athala melingkar di sekitar perut Layla, sedangkan dagunya ia letakkan di bahu kanan Layla. Melalui pantulan dinding elevator Layla bisa melihat bayangan dirinya dan Athala. “Hanya kamu, Layla Sayang,” kata Athala kemudian. “Dan, hanya boleh kamu.” Layla mengusap lengan kekar Athala yang melingkar di sekitar pinggangnya. Aroma parfum Athala tercium jelas di jarak sedekat itu. Aroma khas Athala itu mengingatkan Layla pada aroma tobacco yang memberikan kesan bold maskulin, namun sentuhan aroma amber yang muncul setelah mengendus cukup lama melahirkan aroma hangat. Wangi yang sangat merepresentasikan Athala … setidaknya bagi Layla. “Weekend ini aku enggak ke mana-mana,” kata Layla. “Mau pergi bersamaku?” “Kamu ingin kita ke mana?” “Hm ….” Layla berpikir. Ada banyak tempat yang ingin Layla kunjungi bersama Athala seperti bioskop, Jakarta Aquarium, Rumah Hantu Kota Tua, Image Space PIK, Dufan, dan masih banyak lagi tempat kencan menyenangkan lainnya yang masuk wishlist Layla. Hanya saja, mengingat status keduanya mustahil bagi mereka untuk berkencan di ruang publik. Terlebih lagi Layla cukup dikenal oleh masyarakat luas. “Aku ingin ke Dufan sama kamu, tapi enggak mungkin. Jadi, enaknya kemana ya? Tempat di mana enggak ada yang menghakimi kita … di mana kita bisa menjadi diri sendiri.” “Apartemenku mau? Aku punya home theater. Kalau kamu berkenan.” “Ayo.” Layla setuju. Bertepatan dengan itu pintu elevator terbuka di lantai di mana Athala harus turun. Sebelum meninggalkan elevator Athala sempat mencuri cium ke pipi Layla lalu lari setelah berhasil membuat perempuan yang dia sayangi melotot. *** “Mas Gasendra tau ‘kan aku selingkuh sama Athala, tapi kenapa diam aja?” Layla bertanya ketika dirinya dan Gasendra sedang makan siang bersama. Kebetulan Gasendra harus bertemu klien yang di lokasi yang tak jauh dari kantor Layla. Secara inisiatif Gasendra mengajak adik iparnya untuk lunch bersama. Sebuah restoran makanan Jepang menjadi pilihan mereka berdua. Gasendra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Walaupun tak lagi muda, namun ketampanan Gasendra tak lekang oleh waktu. Lelaki itu menatap Layla dengan sorot penuh pengertian. “Sebetulnya mau sampai kapan permainan petak umpet ini akan kamu lakukan?” “Enggak tau. Aku … aku enggak melihat ada gambaran dari diriku yang melepaskan Athala.” “Kamu enggak kepikiran soal Noah?” Layla menampilkan ekspresi yang sulit untuk dibaca sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Aku enggak tau caranya lepas dari dia, Mas.” “Do you love him?” “Ya, aku sayang dia.” “Maksud Mas adalah Noah.” Gasendra mengoreksi karena dia sadar Layla salah menangkap arti dari pertanyaannya. Layla tersenyum masam. “Mungkin Mas akan menghakimiku, tapi … cintaku untuk Noah sudah lama hilang. Kami ….” Layla menunduk dan menemukan cincin tunangannya ada di sana. Kini benda bermatakan berlian yang berkilaun itu menjadi sebuah beban yang menghantui. “Kami bertahan bukan karena cinta lagi. Aku tau Noah juga merasakan hal yang sama.” Noah berselingkuh. Tinggal menunggu waktu sampai hal tersebut muncul ke permukaan dan diketahui oleh orang banyak. Jika orang itu berselingkuh maka, cinta sudah hilang di hatinya. Sebab Layla juga melakukan tindakan serupa. “Layla.” Gasendra memangil perempuan itu membuat sang pemilik nama kembali mengangkat pandangan. Satu tangan Gasendra bergerak mengusap puncak kepala Layla. Di mata Gasendra sosok Layla masihlah gadis remaja yang selalu mengekor ke mana pun Liliana pergi. “Sampai kapan pun Mas akan selalu memihak kamu, Layla. Bagi Mas, kamu sama pentingnya seperti Liliana. Pilihan apapun yang kamu pilih tak akan Mas tentang.” Layla tahu. Masalahnya bukan Gasendra, melainkan Sheila. Sang kakak sudah terlanjur percaya kepada Noah sehingga mengabaikan Layla. Meskipun demikian, Layla tak akan mengeluhkan hal tersebut. Layla hanya mengangguk sebagai respons. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD