16 : Wildflower

1731 Words
Sehubung Athala dan Layla tinggal di gedung apartemen yang sama, maka denah unit mereka tidak berbeda. Apartemen yang Athala tempati termasuk apartemen mewah dengan fasilitas berupa kamar tidur, toilet, walk in closet, dapur, ruang tamu, dan ruang kerja. Sebuah tempat yang memang layaknya dihuni oleh seorang lajang yang belum berkeluarga. “Ternyata selama ini kita begitu dekat,” kata Layla ketika dia menjatuhkan tubuh di sofa. “Selama ini kamu hanya berjarak beberapa unit apartemen dariku, Athala. Tapi, kenapa ya … kita baru saling menemukan ketika hidupku lagi berantakan?” Athala yang sedang melihat-lihat isi kulkas menghentikan kegiatannya. Mereka belum makan malam jadi, Athala berniat untuk menyiapkan hidangan yang mudah untuk dibuat. Kebetulan di kulkasnya masih ada potongan daging sapi bagian rib eye yang bisa dioleh menjadi steak. Layla menampilkan senyum getir di bibirnya. “Mungkin ini yang dibilang dengan cinta pada orang yang tepat, namun di waktu yang salah.” “Aku enggak percaya pada istilah itu, Layla. Setiap orang dipertemukan oleh Tuhan bukan karena sebuah kebetulan. Sebagian bertemu dengan bela-han jiwa mereka ketika sedang berada di puncak kehidupan, sedangkan sisanya saling menemukan di titik terendah dalam hidup.” Selesai dengan penjelasannya Athala mengeluarkan daging dari dalam freezer. Dia memasukan daging yang masih beku ke dalam microwave dan menekan mode defrost. Kini tinggal menunggu dua menit sampai dagingnya mencair. Dari jarak yang agak jauh Layla memandangi Athala yang sedang sibuk menyiapkan bahan untuk membuat mashed potato. Athala adalah anak laki-laki yang dibanggakan oleh kedua orangtuanya—seseorang yang menjadi panutan bagi Damar. Lalu di sini Layla berada datang hanya untuk menghancurkan kehidupan laki-laki itu sebelum pergi di saat Noah memintanya. “Athala, apakah kamu pernah jatuh cinta sebelum bertemu denganku?” tanya Layla tiba-tiba. Sontak Athala menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencuci kentang. Dia menatap ke arah Layla. Sebuah anggukan singkat diberikan oleh Athala. “Pernah. Satu kali.” “Bagaimana perempuan itu?” Pertanyaan Layla membuat Athala kembali membuka pintu masalalu yang selama ini berusaha dia lupakan. Ingatan akan sosok Elaine kembali menyeruak ke permukaan. Tawa Elaine, sentuhannya, aroma, dan suara Elaine. Semua itu begitu membekas di dalam hati Athala. “Aku pernah merasa begitu dicintai ketika bersama dengan dirinya.” “Seandainya hari di mana kita berpisah sudah tiba, aku harap kamu tetap membuka hatimu untuk orang baru. Seseorang yang bisa membuat kamu merasa dicintai, Athala.” Layla berkata dengan tulus. Mendengar itu Athala langsung mendekat. Athala berjongkok tepat di hadapan Layla membuat perempuan itu kebingungan. “Layla, kamu tau apa yang aku pikirkan ketika pertama kali melihat kamu malam itu?” “Apa?” Athala meraih satu tangan Layla. Ibu jari Athala bergerak di atas permukaan kulit punggung tangan Layla. Sentuhan kecil itu selalu mampu membuat Layla merasa sedikit lebih tenang. “Aku berharap bisa menolong kamu. Kamu terlihat mendambakan kehidupan. Aku bisa melihatnya. Kamu hanya enggak tau cara untuk melakukannya.” “Athala, ketika kamu jatuh cinta lagi … aku harap kamu enggak perlu menolong orang itu. Aku harap kamu menemukan orang yang tepat di waktu yang juga tepat. Semoga ketika cinta itu hadir lagi di dalam hatimu, kamu enggak banyak terluka seperti ketika bersama aku.” “Kita bisa meninggalkan negara ini, Layla,” balas Athala. Sepasang matanya menyelami iris seterang madu milik Layla. Keindahan yang sendu berpendar ketika Athala tenggelam di dalam tatapan Layla. “Singapura, Malaysia, atau Jepang. Aku bisa membawa kamu ke sana dan kita bisa memulai kehidupan baru di sana.” “Kalau pun bisa, aku ini terlalu menji-jikan untuk bersanding dengan kamu. Aku mantan pecandu nark0ba. Kalau keluarga kamu tau, aku yakin pandangan mereka ke aku akan berubah.” “Kamu enggak menji-jikan, Layla. Kamu hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit. Dan, kebetulan kamu mengenal nark0ba. Zat adiktifnya membuat kamu merasa nyaman. Kamu merasa sudah menemukan kenyamanan yang selama ini kamu harapkan. Meskipun caranya salah, tapi aku enggak akan menghakimi kamu. Daripada mengingat masalalu lebih baik kamu lihat diri kamu yang sekarang. Kamu begitu indah, Layla. Kamu cantik. Kamu kembali hidup. Kamu berhasil melepaskan diri dari lingkaran nark0ba.” Athala bangkit dan mencium kening Layla dengan sayang. Layla menutup kedua matanya merasakan sentuhan Athala. Bersama Athala sungguh Layla merasa dicintai. Athala tahu bagaimana caranya menyingkirkan sendu yang bersemayam di dalam hati Layla. *** Puas menyantap makan malam yang lezat Layla terlelap di sofa. Perempuan itu baru bangun ketika ponselnya bergetar panjang. Ada nama Noah di sana. Buru-buru Layla menerimanya. “Kamu di mana?” tanya Noah di seberang sana tanpa basa-basi. Seketika itu juga bulu kuduk Layla meremang. Jangan-jangan Noah tahu Layla tidak ada di rumah. Dengan agak takut Layla memastikan. “Kenapa?” “Aku chat enggak langsung dibalas.” Tulang punggung Layla yang semula kaku perlahan menjadi lebih santai mendengar kalimat balasan dari Noah. “Aku ketiduran, Noah. Maaf ya. Ada apa kamu menghubungi aku?” “Lusa Mama dan Papa anninversary. Kamu harus datang ya. Sejak keluar dari pusat rehabilitasi kalian hanya pernah bertemu sekali di RS, bukan? Waktu kamu kecelakaan.” “Okay, Noah. Aku bisa.” “Itu saja?” Layla memijat keningnya yang mendadak berdenyut sakit. Bicara dengan Noah selalu terasa melelahkan. “Maaf, Noah. Apa aku ada salah lagi?” “Kamu enggak rindu aku memangnya? Kita sudah lama enggak bertemu. Kamu juga enggak merajuk karena aku enggak mengajak kamu keluar weekend ini. Jangan bilang karena kamu masih menjalin hubungan dengan Athala di belakangku?” Noah mengeluarkan asumsinya menggunakan nada menuding yang kental. Layla harap suaranya tak bergetar sehingga Noah tak mengendus kebohongan yang Layla bangun. “Aku kangen, Noah. Kita bisa ketemu lusa sebagai gantinya. Gimana?” “Aku jemput di rumah kamu nanti.” Layla mengembuskan napas lega begitu Noah mematikan sambungan telepon. Dulu sebelum Layla mengetahui wajah asli Noah, mereka akan lama sekali bicara di balik telepon. Noah itu tipikal lelaki yang pandai merangkai kata sehingga Layla mudah sekali terbuai pada ucapan manisnya. Kini jangankan bicara lama kalau bisa Layla tak ingin lagi mendengar suara berat itu. Alunan denting suara yang halus terdengar menyedot perhatian Layla. Dia melihat ke sekeliling untuk memastikan sumber suara. Athala tak ada di mana pun. Mengikuti instingnya Layla berjalan menuju ruang kerja. Benar saja laki-laki itu ada di sana duduk menghadap keyboard, sedangkan jari-jemarinya bergerak di atas tuts. Permainan keyboard Athala bagai magnet yang memaksa Layla untuk mendekat. perempuan itu berdecak kagum sewaktu Athala menekan tuts terakhir. “Aku baru tau kamu bisa main alat musik.” Athala agak kaget mendengar suara Layla yang tiba-tiba muncul. Saking fokusnya Athala sampai tak mendengar suara langkah kaki Layla. “Kamu sudah bangun?” “Sudah. Sejak kapan kamu bisa main keyboard?” “Dari SD mungkin? Dulu mendiang kakek buyutku suka sekali memainkan keyboard. Dia suka bernyanyi dan mengajari aku beberapa lagu.” “Coba mainkan aku satu lagu yang paling kamu suka.” Athala berpikir sejenak. Ada satu lagu yang sangat membekas di hatinya. “Judulnya Wildflower. Lagu ini populer di tahun 1990-an. Penyanyi aslinya adalah Ree Claire. Ini adalah lagu yang kudengarkan setiap kali merasa sedih. Kamu mau dengar?” “Mau.” Athala meluruskan punggungnya. Dia meraba-raba ingatannya. “Lagu ini bercerita tentang dua hati yang bertemu di waktu mereka sama-sama terluka dan sedang berusaha untuk mengobati jiwa masing-masing.” Bunyi tuts piano yang ditekan terdengar mengalun memenuhi ruang kerja Athala. Menyusul suara Athala terdengar. Vokalnya yang berat terdengar sesuai dengan irama lagu. Suaranya mengingatkan Layla pada lagu pengantar tidur yang dinyanyikan oleh Sheila setiap kali Layla kecil merindukan mendiang ibu mereka. I'll take you. on a humid and blistering Saturday late We can go anywhere you want There are only you and me. Layla tak begitu memahami lagu, tetapi dia tahu bahwa nada-nada yang dimainkan oleh Athala didominasi oleh nada minor dengan nuansa menyedihkan. I'll bring you some wildflowers. You'll undoubtedly adore it. or not. We'll leave regardless of the response. Walaupun demikian, menjelang akhir nada-nada mayor mulai dikeluarkan. Layla menyandarkan punggungnya ke dinding. Sementara itu, matanya sengaja dipejamkan. Layla berusaha merekam setiap nada dan suara yang dia dengar pada malam ini di dalam kepalanya. Suatu saat nanti Layla akan mengenang hari ini. I'll praise you. You were exquisite, I’ll whisper And you’ll be giggling. Then I remember falling in love once more. Ketika permainan berakhir Layla memberikan tepuk tangan ringan. “Aku enggak menyangka kamu bisa bernyanyi.” Athala menarik Layla supaya mendekat. Laki-laki itu mendudukan Layla tepat di pangkuannya. Dengan begini Layla tak perlu melihat ekspresi sedih yang mungkin saja bisa muncul di wajah Athala. “Dulu Mama dan Papa bertemu saat sudah sama-sama punya anak. Aku dan Damar bukan saudara kandung.” Layla terkejut, namun tak bisa bereaksi lebih. Dia membiarkan Athala melanjutkan ceritanya. “Orang-orang mengatakan bahwa aku dan Damar mirip karena itu pula mereka enggak tau tentang rahasia masalalu kami. Dulu Mama menikah dengan ayahku hanya secara agama. Karena itu pula kebanyakan orang enggak tahu. Pernikahan yang dijalani tanpa restu kakek dan nenek itu berjalan menyakitkan dan penuh airmata. Laki-laki itu … ayahku banyak melakukan KDRT. Bukan hanya kepada Mama, tapi juga ke aku. Mama yang takut kami ma-ti akhirnya kabur dengan membawaku bersamanya. Kami kabur dari neraka itu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saat itu aku enggak punya teman jadi, sebagai gantinya Mama memberikan sebuah walkman. Melalui walkman itulah aku menemukan lagu ini. Meskipun lagunya terkesan menyedihkan, tapi aku suka karena lagu ini memberikan kesan hangat di akhir tentang harapan akan cinta baru,” lanjut Athala menyudahi kisahnya. Kalau saja Athala tak berbagi pengalaman pahit itu Layla tak akan menduga bahwa manusia sebaik Athala pernah tumbuh di lingkungan yang kejam. Di mata Layla sosok Athala seolah lahir dari cahaya dan doa baik. Rupanya di balik senyum dan kebaikan hati Athala tersimpan luka masalalu. “Aku suka kisah yang ada di balik lagu itu, Athala.” Layla mengusap kulit lengan Athala. “Pasti enggak mudah buat kamu menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh laki-laki itu.” Layla mengubah posisi duduknya di atas pangkuan Athala menjadi menyamping. Dengan begitu Layla bisa memandang wajah Athala. Diraihnya rahang Athala. “Kamu adalah anak laki-laki yang hebat.” Layla menempelkan keningnya ke kening Athala. “Terima kasih karena saat itu kamu memilih untuk bertahan kalau enggak … aku mungkin enggak akan ketemu kamu.” Athala menutup matanya menikmati momentum tersebut bersama Layla. Sentuhan Layla. Napas Layla. Suara Layla. Semua tentang perempuan itu perlahan menjadi poros bagi dunia Athala. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD