17 : Rumah yang Didamba

1735 Words
“Bebe, ini agak kotor ….” Noah mengusap pinggiran bibir Layla yang kotor oleh saus risotto. Tak cukup sampai di sana Noah juga menjilat jarinya sendiri—tepat di titik di mana dia mengusap bekas saus di bibir Layla. “Sudah cantik lagi sekarang.” Gerakan s*****l itu membuat Layla merasa risih. Dengan tak nyaman Layla menarik wajahnya menjauh dari jangkauan Noah. “Aku merasa kamu aneh,” komentar Layla. Dia tak tahan untuk mengatakan itu sejak kemarin. Noah menaikan satu alisnya. “Aneh bagaimana?” “Enggak tau ya. Aku merasa seperti kamu sedang merasa bersalah dan sebagai gantinya kamu berusaha untuk menebus kesalahan itu secara diam-diam.” “You are too much, Bebe.” Layla meletakkan sendoknya. Kini selera makannya sudah hilang. “Enggak. Aku tau kamu orang yang seperti apa, Noah. Jadi, aku rasa kamu enggak perlu ngajakin aku lunch sering-sering. Apalagi pas weekdays.” Layla berusaha untuk menyembunyikan nada protesnya. “Kita enggak sedekat dulu.” Akhir-akhir ini entah mengapa Noah jadi begitu menempel kepada Layla. Selama seminggu full Noah bahkan rela datang jauh-jauh dari kantornya ke kantor Layla hanya supaya mereka bisa makan siang bersama. Layla jadi merasa bahwa Noah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Sebetulnya Layla tak peduli dengan rencana Noah. Yang menjadi masalahnya adalah Layla jadi tak punya waktu untuk bersama Athala. “Aku berusaha supaya kita sedekat dulu.” Layla menggeleng dengan ekspresi muram. “Maka, itu mustahil. Aku udah kehilangan rasa percaya ke kamu.” “Kami ini terlalu berlebihan, Layla. Kalau kamu membenci aku karena apa yang terjadi dulu maka, aku rasa kamu terjebak di dalam romantisme masalalu.” “The spark has alredy gone, Noah. Kamu juga merasakannya.” Layla melirik arlojinya dengan tidak sabaran. “Terlebih lagi kamuselalu pilih tempat yang jauh dari kantorku, Noah. Akibatnya aku jadi tiba di kantor lagi pas mepet waktu break lunch habis. Sekarang aja kita ke Pasific Place.” “Lho, bukannya itu berarti kita memanfaatkan waktu dengan baik ya?” Layla tidak bisa pura-pura bersikap manis di hadapan Noah. “Istirahat bukan berarti aku bisa leha-leha. Aku punya banyak pekerjaan yang menumpuk. Biasanya aku pulang lunch lebih awal dan masih sempat handle beberapa tugas. Sedangkan, sejak kamu ngajak aku makan keluar terus, aku jadi harus lembur karena ada kerjaan yang enggak kepegang.” “Bukan karena laki-laki itu?” Noah bertanya dengan nada curiga. Terpaksa Layla berbohong. “Kamu selalu menumbalkan dia setiap kali kita berselisih.” Kalau sudah begini terpaksa Layla mengeluarkan kartu AS-nya. Perempuan itu agak maju dan dengan gestur berbisik Layla mengatakan, “Di pesta atap tempo hari aku liat kamu dan Anette ciuman. Harusnya aku yang curiga sama kamu.” Layla menarik wajahnya menjauh. Pada saat itu dia melihat ekspresi kalut di wajah Noah. Lelaki itu seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga darinya. Faktanya bahwa Layla sudah mengendus perselingkuhannya membuat Noah merasa marah sekaligus panik. Ekspresi Noah yang seperti itu menjadi sebuah kepuasan bagi Layla. Fakta bahwa Noah memiliki kekurangan yang dapat diserang membuat Layla merasa lega. Layla tahu dia memiliki senjata untuk menyerang Noah. “Apalagi yang kamu tau?” Layla mgembuskan napas lelah. “Kenapa? Kamu takut aku tau apa lagi memangnya?” Noah meraih tangan Layla yang disimpan di atas meja. Jari Noah menggengam pergelangan tangan Layla secara kuat. “Siapa saja dari keluargamu yang sudah tau?” Layla meringis sambil berusaha menarik tangannya dari jangkauan Noah. Sayang sekali, usaha Layla sia-sia. Tenaga Noah jauh lebih besar daripadanya. “Kamu lebih khawatir keluargaku tau ya?” “Jawab.” Layla menggigit bibir bagian bawahnya. Seandainya saja tidak sedang berada di restoran pasti Noah sudah menamparnya sekarang. Ego Noah yang rapuh membuatnya harus menunjukkan d******i dengan cara yang kasar. “Hanya aku yang tau.” Mendengar itu Noah langsung melepaskan cengkeramannya. “Sebentar.” Noah merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Sepertinya Noah sedang membaca pesan yang baru masuk. Kening laki-laki itu berkerut. Tak lama ponsel kembali bergetar panjang. “Aku antar kamu kembali ke kantor.” “Enggak perlu.” Layla menolak sambil bangkit. “Layla—” “Lihat sekitarmu, Noah.” Layla memotong apapun yang akan dikatakan oleh Noah. “Orang-orang mulai menatap kamu heran. Kalau kamu enggak mau ada keributan, maka lepaskan aku.” Noah melihat ke sekeliling. Ucapan Layla benar. Sejumlah pengunjung restoran kini menatap Noah dengan pandangan penuh selidik. Takut citranya rusak mau tidak mau Noah mengalah. *** Layla merenggangkan kedua tangannya. Seluruh tubuh bagian atas Layla terasa pegal luar biasa. Hari Jumat ini dia lembur lagi. Gara-gara Noah mengajaknya makan siang di tempat yang jauh dari kantor Layla jadi terlambat masuk. Padahal mendekati akhir bulan tugasnya akan menumpuk. Jendela di dinding ruang kerjanya menunjukkan langit malam. Layla melirik arloji dan melihat waktu sudah bergerak menuju pukul 9 malam. “Siapa?” Baru Layla akan merapikan tasnya ketika sebuah ketukan di pintu menarik fokusnya. Suasana kantor di jam 9 malam seharusnya sudah sepi, sih. Paling hanya ada segelintir orang yang libur. Itu pun kebanyakan bukan dari divisi Layla, melainkan tim IT. “Ini aku.” Suara berat Athala terdengar. Hanya dengan mendengar suara Athala saja sudah membuat Layla merasa senang. Ketika membuka pintu tampak wajah Athala. Lelaki itu berdiri dengan senyum manis yang terukir. Kedua lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Di saat Layla sudah merasa kalau wajahnya kucel dan berminyak Athala justru sebaliknya. Laki-laki itu masih terlihat cukup segar. “Lho, kamu belum pulang?” Athala langsung memeluk Layla kala itu. Dekapan Athala terasa begitu nyaman. Kedua tangannya melingkar di sekitar tubuh Layla. Aroma parfumnya yang khas masih tercium. Layla tak kuasa menahan tangannya untuk membalas pelukan Athala. Disandarkannya pipi Layla ke dadda Athala. Terdengar sayup-sayup suara detak jantung Athala. Ritmenya terdengar teratur. Berada di dalam pelukan Athala membuat Layla menjadi mengantuk. “Malam ini aku juga lembur,” jawab Athala masih merengkuh Layla. “Kenapa lembur?” Layla bertanya dengan nada pura-pura menuduh. “Kangen kamu. Kangen sekali.” “Aku juga,” balas Layla dengan suara pelan nyaris tak terdengar. “Kangen kamu sekali.” Lantai tempat divisinya berada sudah sunyi. Seluruh lampunya juga sudah dimatikan. Kini satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu yang bersinar di ruang kerja Layla. “Sudah makan malam?” Athala menggeleng. “Belum. Mau makan bersama aku?” “Pecel lele tenda?” Athala terkekeh. “Apapun yang kamu mau, Layla.” To Mas Gasendra: Aku pulang bersama Athala. Kami makan malam di luar. Besar kemungkinan baru sampai rumah di atas jam 11 malam. Tolong bilang sama Kak Sheila kalau aku ada karaoke group sama teman kantor. Layla membaca ulang pesan yang dikirim untuk Gasendra ketika dia sudah duduk di dalam mobil Athala. Jalan-jalan seperti ini dengan Athala terasa seperti sebuah hadiah setelah Layla melewati penyiksaan batin yang dilakukan oleh Noah. Mereka berhenti di warung tenda Pecel Lele 40 yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Athala dan Layla sengaja duduk di paling pojok supaya bisa mengobrol lebih santai di tengah riuh-rendah suara orang-orang sekitar. “Coba ceritakan tentang dirimu, Athala.” Layla membuka topik baru ketika pesanan mereka baru saja tiba. Baik itu Layla maupun Athala sama-sama memesan pecel lele dan nasi uduk. Aroma daging lele yang baru saja digoreng membuat perut Layla semakin keroncongan. “Apa ya?” Athala berpikir sebentar. “Dulu aku kuliah di ITB.” “Pasti mantan pacar kamu waktu kuliah banyak.” Athala tersenyum meledek menanggapi ucapan Layla. “Harusnya aku yang bilang itu ke kamu. Kamu itu … luar biasa cantik, Layla. Kamu juga menyenangkan dan punya hati yang hangat. Musthil enggak jatuh hati sama kamu.” “Aku enggak pernah benar-benar dekat sama cowok. Sejak SD sampai kuliah. Memang pernah sih naksir sama teman waktu SMA, tapi ya … begitu akhirnya tragis. Cintaku bertepuk sebelah tangan.” “Masa, sih?” Athala bertanya heran. “Aku ini berbeda, Athala. Di sini ….” Layla menunjuk kepalanya. “Aku disleksia. Butuh waktu dan usaha lebih buatku sampai bisa ada di titik ini. Waktu SMA aku masuk sekolah reguler. Kurikulumnya tentu enggak diciptakan untuk anak-anak dengan disleksia. Aku kesulitan mengejar pelajaran, hampir enggak naik kelas kalau Om Yudistira enggak ikut campur tangan, dan yah … nilai akademikku buruk. Mau selama apapun aku belajar otakku selalu bekerja lamban.” Athala sepenuhnya menjatuhkan fokus kepada Layla. Perempuan yang menjadi objek pandangan terlihat muram meskipun sesekali bibir Layla mengukir senyum—senyum pahit. Layla bercerita dengan nada ringan seakan-akan apa yang terjadi di masalalu bukanlah masalah besar baginya. Padahal cahaya di sepasang matanya meredup kala itu. Ada kesedihan yang sedang Layla tutupi. “Sampai akhirnya aku jatuh hati sama salah satu teman sekelasku. Dia baik. Dia juga pintar. Pokoknya kebangaan guru. Aku pernah mengungkapkan perasaanku ke dia. Aku bikin cokelat dan berharap dia bakal suka. Tapi, kamu tau apa yang dia bilang ke aku?” Layla menatap Athala sedih. “Katanya, orang sepertiku … orang berbeda sepertiku enggak layak untuk bersanding dengan laki-laki sepertinya. Dia juga bilang kalau aku memiliki peluang untuk membuat anak yang kelak aku lahirkan disleksia juga. Sejak saat itu aku menanamkan pikiran kalau ya … aku emang enggak pantas buat siapapun.” “Layla—” “Enggak perlu menghiburku, Athala.” Layla menggeleng pelan. “Aku sadar kok akan kekuranganku.” “Layla, bagiku kamu sempurna.” “Dengan kekuranganku?” Binar mata Layla malam itu mengingatkan Athala akan malam bertabur bintang. “Ketidaksempurnaan yang dilabeli orang lain terhadap kamu hanyalah produk dari kontruksi sosial. Tuhan menciptakan manusia dengan sebaik dan sesempurna mungkin, Layla. Manusia itu kadang kala menciptakan nilai secara dangkal.” Athala meraih satu tangan Layla yang disimpan di atas meja. “Dan, bagiku kamu itu sempurna, Layla. Tuhan telah dengan Maha Baik menciptakan kamu. I love you for the person you've become.” Athala meraih tangan Layla dan mencium buku jari perempuan yang dicintainya. Ucapan Athala menyentuh Layla tepat di hatinya. Layla menatap Athala lekat-lekat. Layla ingin mencari kebohongan yang Athala sembunyikan di balik iris indahnya. Layla tak ingin jatuh hati terlalu dalam kepada lelaki ini. Pengalaman mengajarkan Layla bahwa manusia adalah makhluk yang paling pandai berbohong. Hanya manusia yang bisa memiliki seribu topeng kepribadian. Sebagaimana Noah yang menyakiti dengan parah dan brutal. Alih-alih kebohongan Layla justru menemukan teduh. Melalui cara Athala menatapnya Layla merasa seperti sedang dipeluk. Jiwanya seakan menemukan rumah setelah puluhan tahun berkelana. Sebuah rumah yang begitu didamba. Kalau begini terus bisa-bisa Layla tak bisa lepas dari Athala. Dan hal itu menjadi ketakutan yang bisa terjadi. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD