Hera melirik perutnya. “Benarkah? Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya aku sedang ingin sesuatu. Apa itu namanya memang ngidam?”
Kevin mengangguk. “Iya. Tapi.. sayangnya aku membawa buah-buahan yang manis. Coba kita buka dulu yang ada, ya?”
Hera mengangguk. Kevin meraih parsel dari pangkuan Hera. Lantas ia membukanya dan mengeluarkan satu buah mangga yang terlihat segar.
“Kau juga membawa pisaunya?” Hera tertawa.
“Ini bonus dari tukang parselnya, mungkin dia pikir aku tak punya pisau di rumah!” Kevin berseloroh hingga Hera terkekeh.
Padahal, tukang parsel itu memberi bonus karena Kevin menolak menerima uang kembaliannya.
Kevin beranjak berdiri, ia pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci buah mangga itu, lantas kembali duduk dan mulai mengupas kulitnya.
“Ini.” Kevin menyerahkan potongan mangga ke mulut Hera. Dengan senang hati Hera memakannya.
“Enak, tidak?” tanya Kevin. Hera mengangguk.
“Maaf ya, anak manis! Sekarang kamu makan mangga yang manis dulu, tapi kalau masih mau yang kecut, pandangi saja wajah ayahmu!”
Hampir saja Hera menyemburkan mangga yang tengah ia makan kalau saja tangannya tak bergerak cepat menutup mulut.
Kevin tertawa melihat itu, hingga Hera gatal untuk tak mencubit lengannya.
“Siapa yang bilang Gama kecut?” sontak saja Kevin dan Hera menghentikan tawa mereka. Dan melayangkan pandangan ke ambang pintu.
Mereka langsung bungkam. Dan menggaruk tengkuk yang tak gatal. Saat melihat Jessi sudah melangkah dengan secangkir kopi di tangannya.
Kevin berkeringat dingin. Tubuhnya mengkerut ketika ibu kandung Gama itu meletakan kopi di atas meja yang terletak tepat di samping lelaki itu.
“Kenapa bilang Gama kecut?” tanya Jessi mengangkat dagu dengan tangan yang terlipat di perut. Hera menggigit bibir.
Wanita itu mencium akan ada sebuah bom yang meledak!
Kevin nyengir. “Maaf, tante ... tadi aku cuma bercanda!”
Jessi mendelik. “Kevin, kalau bercanda jangan terlalu jujur, kenapa? Kalau Gama mendengar, bagaimana?”
Seketika ketiganya langsung tertawa bersamaan.
Kevin menepuk jidatnya! Ia pikir Jessi akan marah.
Ternyata, wanita tua itu juga satu kubu dengannya!
***
Hari weekend, Hera nampak sibuk bergulat-dengan peralatan dapur. Tangannya bergerak gesit mencampurkan adonan ke dalam mangkuk.
Rupanya ia hendak membuat kue kesukaan sang ibu mertua. Apa lagi kalau bukan kue pie.
Dibantu oleh Diar, Hera mulai menyalakan mixernya, lantas menguarlah wangi harum yang menyeruak ke penjuru dapur.
“Wah … lagi membuat apa ini?” tanya Kevin yang tiba-tiba saja muncul dari pintu dapur, lalu menghampiri kedua orang yang nampak asyik mencampur adonan.
Hera menoleh ke belakang. Dilihatnya lelaki itu nampak rapi dan tetap tampan, meski hanya mengenakan setelan santainya.
“Aku dan Diar sedang membuat kue. Apa kau mau membantu mengacaukan kegiatan kami, Kevin?” tanya Hera dengan menahan senyum.
Diar langsung terkekeh.
Sedangkan Kevin membulatkan matanya dengan antusias. “Kalau dibolehkan, tentu saja aku mau. Aku paling suka bagian akhirnya. Saat kuenya sudah matang dan boleh dimakan. Nanti aku yang jadi jurinya ya, Hera!” Kevin mengedipkan mata pada Hera. Yang akhirnya dibalas dengan anggukan oleh wanita itu.
Berdiri di samping Hera, Kevin bukannya fokus melihat ke arah adonan yang sedang di mixer.
Tetapi lelaki itu malah sesekali melirikan pandangannya pada wajah polos Hera yang tak berpoles make up.
Kevin memuji bibir Hera yang tipis, tapi nampak begitu manis. Lelaki itu mengulas senyum samar.
Lirikan Kevin beralih pada hidung Hera yang bangir, lalu pada bola matanya yang berwarna cokelat muda. Entah bagaimana ceritanya? Tuhan pasti menciptakan Hera dengan senang hati.
Hinggalah apa yang dihasilkan, sungguh nampak begitu nyaris sempurna.
“Tuan Kevin ini mau ikutan membuat kue, atau mau curi-curi pandang sama Nyonya Hera, sih?” Diar buka suara.
Hingga membuat Kevin tertangkap basah. Sebab, Hera langsung memutar leher, dan menoleh ke arah Kevin.
Wanita itu menatap Kevin dengan alis yang terangkat.
“Emhh, dua-duanya juga boleh.” jawab Kevin ngasal. Tapi kontan saja membuat Hera mendelik pada lelaki itu.
Sedangkan Diar cekikikan.
“Bercanda, Hera! Mukamu tidak usah dibikin horror seperti itu,” kata Kevin dengan mengerucutkan bibirnya lucu.
Hera tersenyum geli. “Apanya yang horor? Perasaan di wajahku tidak ada sadako!” kata Hera, lalu tertawa.
Kevin dan Diar juga ikut terkekeh mendengarnya. Rupanya, suara tawa itu terdengar ke telinga seorang lelaki yang baru saja menuruni tangga rumahnya. Ia tengah mencari-cari Hera. Tampak segelas s**u hamil berada di genggamannya.
Dialah Gama. Kakinya melangkah menuju ke arah dapur. Karena barusan Gama menangkap suara tawa itu berasal dari sana.
Setelah berjalan lebih dekat, lelaki itu langsung mengerutkan dahinya saat ia tiba di ambang pintu dapur.
“Kevin! Mau apa lagi dia datang ke rumahku sepagi ini?” gumam Gama dengan hati yang sangat dongkol.
Tapi, kakinya tak urung untuk bergerak semakin memasuki dapur. Dilihatnya Hera sesekali menutup mulut, saat Kevin mengeluarkan candaan-candaan yang nampak menggelitik perutnya.
Hati Gama terasa panas. Untung saja lelaki itu tak mencengkram gelas yang ia pegang di tangannya dengan kencang. Kalau tidak? Bisa-bisa gelas itu langsung pecah karena menjadi pelampiasan atas amarah yang membuncah di hati orang yang sedang memegangnya.
Fokus Gama saat ini pada Hera. Ditatapnya gadis itu mencubit pinggang Kevin. Lantas Hera tertawa seraya satu tangannya memegang mixer. Gama mendengkus sebal. Bahkan, Hera tak pernah tertawa seperti itu padanya. Tapi di hadapan Kevin? Wanita itu seperti membuka semua batasannya. Ia bisa tertawa, tersenyum, atau bahkan bercanda dengan Kevin
Memang Kevin itu cecunguk menyebalkan!
“Lalu? Apa yang terjadi dengan temanmu? Apa dia bertemu dengan si gadis dari social media itu?” tanya Hera penasaran. Tangannya sudah mematikan mixer. Dan ia fokus mendengarkan cerita Kevin.
“Apa gadisnya cantik, Tuan Kevin?” tanya Diar yang tak kalah antusias.
Kevin menghembuskan napas pelan. “Kalau dibilang cantik. Sudah pasti cantik. Bodinya jangan ditanya. Kalian tahu gitar spanyol? Nah, seperti itulah kiranya tubuh gadis itu. Indah, bukan? Hanya saja … sayang seribu sayang. Ketika mereka hendak menghabiskan malam di sebuah hotel, tiba-tiba barang si gadis itu manyun saat dibuka. Hahaha..” Kevin tertawa. Dan sepertinya langsung menular pada Hera dan Diar.
“Lha? Jadi terong makan terong, toh?” Diar cekikikan.
Hera mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Karena terlalu banyak tertawa. “Ada saja orang yang begitu.” komentar Hera dengan sisa tawa yang keluar dari mulutnya.
Hinggalah suara batuk, membuat tawa mereka semua berhenti serempak. Lantas menoleh pada orang yang sudah berdiri menjulang tak jauh di belakang mereka.
“Gama? Sejak kapan kau berdiri di sana?” Hera terkejut melihat tubuh jangkung suaminya menjulang memperhatikan mereka.