Bab 17. Sakit

1110 Words
Mata Hera mengerjap, kepalanya terasa begitu pening. Tubuhnya tak lagi dingin. Tapi wajahnya masih nampak sedikit pucat. “Nonya Hera sudah bangun?” Hera menoleh ke samping. Di sana, Diar tengah tersenyum lalu tangannya meraih segelas air yang terletak di atas meja. “Jangan bangun dulu, Nyonya. Kepalanya pasti masih pusing, ya?” Diar menahan bahu pundah Hera saat gadis hendak bangkit. “Iya, Diar. Rasanya kepalaku berat. Dan perutku mual.” Diar menyodorkan gelas yang berada di tangannya pada Hera. “Minum air hangat dulu, Nyonya.” Hera mengangguk. “Terimakasih.” Lantas ia meneguk air hangat itu hingga setengah gelas. “Sudah siang! Gama pasti sudah berangkat ya?” tanya Hera. Mengambil gelas yang Hera serahkan padanya, Diar mengangguk. “Tuan Gama sudah berangkat sejak pukul tujuh. Nyonya Hera sarapan dulu. Nanti baru minum obat.” kata Diar sembari melirik ke arah mangkuk berisi bubur yang terletak di atas meja. Hera memutar lehernya, melirik ke arah yang sama. Seketika ia tercenung saat melihat tampilan bubur di mangkuk itu. Bentuknya sungguh aneh dan tak berupa. Dengan menggigit bibir bawah, Hera bertanya pada Diar. “Apa kau yang membuat buburnya?” Bukannya menjawab, wanita itu malah terkikik geli. Hingga membuat dahi Hera berkerut dalam. “Bukan, Nyonya. Tuan Gama yang membuatnya!” jawab Diar. Sejenak, Hera terdiam. Gama? Entah mengapa Hera merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Diar. “Saat saya baru bangun tidur, saya mendengar suara berisik di dapur. Tadinya, saya pikir itu suara kucing. Saat ditengok, ternyata Tuan Gama yang sedang mengaduk-aduk bubur di atas panci. Katanya, Nyonya Hera menggigil semalaman.” Diar bercerita. Hera menundukan pandangannya. Ia ingat, kalau semalam tubuhnya memang menggigil kedinginan. Tapi, ia tidak tahu kalau ternyata Gama menyadari hal itu. Hera takut terlalu kegeeran atas perhatian yang Gama berikan padanya. Lantas Hera akan sakit hati lagi saat lelaki itu kembali melontarkan kalimat-kalimat yang membuat hatinya tercabik. “Ya sudah. Saya ke bawah lagi, ya. Nyonya Hera mau makan bubur buatan Tuan Gama saja atau mau sarapan yang lain?” tanya Diar menahan senyum. Ia sungguh geli setiap kali melihat ke arah mangkuk bubur itu. Hera terkekeh. Ia tahu apa yang Diar pikirkan. “Aku makan buburnya saja. Sayang kalau cuma dianggurin.” Diar mengangguk. Lantas pamit dan berbalik pergi keluar kamar. Meninggalkan Hera sendirian. Mencoba bangkit dari rebahnya, Hera menyandarkan punggungnya di bantal yang sengaja ia buat bertumpuk. Lantas tangannya meraih mangkuk bubur itu. Wanita itu tersenyum saat mendapati sebuah catatan kecil terletak di bawahnya. Ia mengambil secarik kertas itu, lalu membaca tulisan yang tertera di sana. “Kalau kau merasa jijik, tidak usah dimakan!” tawa Hera nyaris tumpah saat membacanya. Ya! Tampilan bubur buatan Gama ini memang terlihat tak menggugah selera. Tapi, Hera tak mau menyia-nyiakan apa yang sudah orang lakukan susah-susah untuknya. “Terimakasih, Gama!” Hera hanya melontarkan satu kalimat itu. Ia mulai mengendus aroma dari bubur itu. Baunya tidak terlalu buruk. Dan setelah ia mencicipinya satu sendok. Hera mengulum senyum. Rasanya hambar. Sepertinya lelaki itu tidak tahu kalau membuat bubur harus ditambahkan garam. *** Begitu tahu dari Jessi kalau Hera tengah sakit, Kevin langsung panik. Lelaki itu langsung bergegas menaiki mobil mewahnya, lantas pergi ke rumah Gama dengan separsel buah-buahan di tangannya. “Dia sedang istirahat di kamar.” Tante Jessi menuntun Kevin menaiki tangga untuk kemudian menuju ke kamar Hera. “Kau masuk saja, ya! Biar tante buatkan kopi..” Kevin menggeleng cepat. “Ah! Jangan tante, jangan,” tolak Kevin. Melihat Jessi yang mendelik, Kevin langsung berkata. “Jangan satu gelas, maksudnya!” kata Kevin dengan terkekeh. Jessi tersenyum lebar mencubit pinggang Kevin. Sebelum akhirnya ia berbalik menuruni tangga. Meninggalkan Kevin yang saat ini sudah berdiri tegak di depan pintu kamar Hera. Menghembuskan napas kasar, Kevin mengangkat tangannya. Untuk menyentuh kenop, lalu memutarnya. Pelan sekali Kevin mendorong daun pintu, ia takut kalau Hera tengah tertidur dan suara pintu akan mengganggu istirahatnya. “Kevin!” pekik Hera. Kevin juga terkejut. Lelaki itu menggigit bibirnya. Saat ia masuk ke dalam kamar, ternyata gadis itu tengah duduk menyandar di tempat tidur. Dengan sebuah buku di tangannya. “Eh, maaf! Aku mau melihat keadaanmu. Tante Jessi bilang kau sedang istirahat dan aku disuruh masuk saja ke dalam kamar. Kupikir kau sedang tidur, jadi aku tak mengetuk pintunya tadi.” Kevin menjelaskan. Ia takut kalau Hera salah paham. Melihat Kevin yang berkata seraya mengusap tengkuknya, Hera tersenyum. Ia menutup buku yang tadi sedang dibacanya ke meja yang terletak di samping tempat tidur. Lantas Hera kembali menatap pada Kevin yang masih berdiri di depan pintu yang terbuka. “Duduklah!” Hera menunjuk kursi yang tak jauh dari pinggir tempat tidur dengan dagunya. “Jangan berdiri di sana!” Kevin mengangguk. Ia melangkah menuju ke arah kursi yang Hera maksud. Ia menarik kursi itu agar berada tepat di samping Hera. Lantas Kevin menghempaskan dirinya di sana. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa tubuhmu masih dingin?” Kevin bertanya, lalu tangannya terangkat untuk menyentuh dahi Hera. Wanita itu menggeleng. “Tidak! Aku sudah baikan. Tapi Mama masih melarangku turun dari tempat tidur. Padahal, punggungku sudah pegal karena seharian berbaring terus.” Hera mengaduh dengan mengusap punggungnya. Kevin terkekeh. “Tapi dia juga baik-baik saja, bukan?” Kevin melirik kearah perut Hera yang datar. Hera menurunkan pandangannya ke sana. “Tentu. Dia sangat kuat!” kata Hera sembari mengusap perutnya. Kevin mengulum senyum, sejenak ia berpikir. Andai yang mendiami rahim itu adalah benihnya, sudah pasti ia akan sangat bahagia. “Hai Cutie pie! Maafkan aku ya! Aku sudah membuat ibumu sakit semalaman. Jangan nakal-nakal di dalam, ya!” Kevin berkata seolah tengah mengajak ngobrol pada bayi yang masih berada di dalam perut ibunya. “Don’t worry, om Kevin! Aku baik-baik saja. Aku anak manis. jadi tidak akan nakal di perut mama.” Hera menirukan suara anak kecil. Lantas mereka terkekeh bersamaan. “Apakah itu buah tangan untuk anakku?” tanya Hera melirik ke arah parsel buah yang masih setia di pangkuan Kevin. Lelaki itu mengangguk. “Off course.” Kevin menaruh parsel itu di samping Hera. “Ini buah-buahan yang manis untuk si cutie pie-nya om Kevin,” kata Kevin. Hera tersenyum. “Makasih om Kevin.” wanita itu memangku parsel buahnya. “Buka saja Hera! Kau ingin buah yang mana? Biar aku yang kupas!” Kevin bertanya. Hera meneliti parsel buah pemberian Kevin. “Um … Apa ini mangga arumanis?” tanya Hera. Ia menoleh pada Kevin. Lelaki itu langsung mengangguk. “Iya. Kenapa? Apa kau tidak suka mangga arumanis? Hem?” Hera menggeleng. “Bukan. Hanya saja lidahku pahit. Entah kenapa aku ingin sesuatu yang kecut-kecut.” Kevin tertawa. “Rupanya mamamu sedang ngidam ya, Cutie pie!” kata Kevin di sela kekehannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD