Bab 16. Pertolongan untuk Hera

1071 Words
Tak ingin menggubris, Gama mengalihkan pandangan. Ia berbalik dan naik ke atas tempat tidur. Karena Jessi menginap, lagi dan lagi, mereka terpaksa tidur satu kamar. “Aku lelah.” Gama menepuk-nepuk bantal, lantas membaringkan tubuhnya. “Aku ingin tidur.” lanjut Gama yang kini sudah benar-benar berbaring dengan sebelah tangan yang terangkat untuk menutupi wajahnya. Menyisakan Hera yang masih berdiri menatap pada suaminya itu. Hera tahu, mungkin ia sudah keterlaluan tadi. Lagipula, suami mana yang akan senang saat istrinya sendiri memuji-muji lelaki lain di hadapannya? Sedikit banyak, Gama pasti merasa terganggu hatinya, meski sekalipun ia tak memiliki perasaan pada Hera. *** Sedang lelap tertidur, Gama merasakan sesuatu yang merapat dan melingkar di atas perutnya. Hingga akhirnya membuat tidur lelaki itu jadi terganggu. Gama mengerjap, lantas membuka kedua kelopak matanya. Dan, betapa terkejutnya ia, saat mendapati Hera yang tengah merapatkan tubuh padanya. Wanita itu merengkuh tubuh Gama. Menghembuskan napas kasar, Gama melepas paksa tangan Hera yang melingkar di perutnya. Hingga wanita itu terdorong sedikit menjauh dari tubuhnya. “Kau?” geram Gama hendak memarahami Hera yang matanya masih terpejam. Tapi, kemudian lelaki itu menghentikan gerakannya. Sebab, Gama melihat tubuh Hera yang sedikit gemetar. Dengan bibir yang nampak pucat, gigi Hera terdengar mengeletuk. Gama terkejut. Bergerak cepat. Ia memeriksa dahi Hera. “Panas! Kau demam!” Gama berseru panik. Ia bangkit dari rebahnya, lantas beralih pada telapak kaki Hera untuk kemudian mengeceknya. Sangat dingin! Itulah yang Gama rasakan setelah ia menempelkan telapak tangannya pada kaki Hera. “Ck! Kevin!” Gama menggeram marah. Mungkin ia kesal pada Kevin karena membawa pergi Hera di saat hujan. Hinggalah gadis itu demam tinggi. “Kau lihat? Sosok pahlawan yang kau puja-puja itu sudah membuatmu sakit seperti ini!” Gama berseru di depan wajah Hera yang mungkin tak bisa mendengar perkataannya sama sekali. Wanita itu malah masuk dan menelusupkan kepalanya pada kaki Gama yang bertekuk di atas tempat tidur. “Dingin… tolong.. dingin..” lirih Hera. Gama tergelitik rasa iba di hatinya. Ia bergerak gesit. Melepaskan tangan Hera yang melingkar di kakinya. Lantas Gama turun dari atas tempat tidur. Lelaki itu berjalan cepat keluar kamar. Ia harus melakukan sesuatu untuk istrinya! Pintu kamar itu berderit terbuka, menampilkan sosok seorang lelaki bertubuh kekar dan atletis, namun kini wajahnya terlihat kuyu dan panik. Ia menutup pintu. Lantas bergerak cepat menuju tempat tidur, dengan baskom berukuran sedang yang berisi air hangat dan beberapa helai handuk kecil di tangannya. Meletakan baskom itu di meja dekat nakas. Gama duduk di pinggir tempat tidur. Lantas ia mengecek denyut nadi dan napas Hera. Yang membuat Gama terhenyak karena wajah istrinya terlihat memucat. “Dingin,” Hera lirih dengan menenggelamkan wajahnya sendiri ke bantal. Gama mengusap surai lembut istrinya. “Bertahanlah. Balikan tubuhmu!” kata Gama seraya membenarkan posisi tidur Hera agar telentang. Setelahnya, lelaki itu membuka tiga kancing piyama yang dikenakan Hera. Lalu Gama mengambil salah satu handuk yang tenggelam di dalam baskom air hangat, untuk kemudian ia peras hingga kering. Lantas menempelkannya di leher gadis itu. Belum selesai, Gama kembali mengambil handuk di dalam baskom, lalu ia peras seperti tadi. Kali ini ia tempelkan handuk kecil itu di bagian bawah handuk yang tadi. Lelaki itu juga mengatur ac agar mengalirkan udara hangat. Gama menutupi tubuh Hera dengan selimut yang lebih tebal. Ia pandangi wajah gadis itu. Kulitnya nampak pucat, dan bagian bawah tubuhnya terasa dingin saat disentuh. Ia jadi takut, apalagi Hera sedang mengandung saat ini. Dengan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Gama terus menemani dan memantau kondisi istrinya itu. Berharap sekali kalau suhu tubuh Hera berangsur menghangat. Meski di luar, hujan deras kembali mengguyur atap rumahnya dengan desau angin yang bertiup mengerikan. *** Gama tengah mondar mandir di balkon kamarnya. Langit nampak masih sangat gelap. Hujan pun masih sangat deras. Tapi lelaki itu seakan tak kedinginan meski hanya mengenakan piyama tidurnya. “Hhh.. apa yang harus ku lakukan sekarang?” Gama meremas rambutnya sendiri. Ia bimbang. Keadaan Hera tak berangsur membaik. Padahal, Gama sudah melakukan sebisanya untuk membantu menaikan suhu tubuh gadis itu. Semuanya sudah Gama lakukan dengan harapan ia bisa mengalirkan sedikit hawa panas pada tubuh istrinya. Tetapi, tubuh Hera tetap dingin. Memejamkan mata, Gama menumpukan kedua telapak tangannya pada pagar besi balkon kamarnya. Napasnya nampak menderu. Hanya satu tindakan yang belum ia lakukan untuk Hera. Tapi, Gama ragu untuk melakukannya. Kini Gama mendongkak dengan tangan yang terkepal. Menatap pada hujan yang makin menderas. “Baiklah! Sepertinya aku memang harus melakukan ini!” putus Gama akhirnya. Lantas ia berbalik, membuka pintu balkon. Setelah tangannya kembali menutup pintu itu, dari kejauhan. Gama menatap Hera yang hanya terlihat bagian kepalanya saja di atas tempat tidur. Perlahan, kakinya melangkah menuju tempat dimana istrinya berbaring. Dengan menghembuskan napas kasar, Gama tak membuang waktu lagi. Ia bergegas membuka baju piyama yang membungkus tubuh kekarnya. Lepas! Baju itu teronggok di lantai. Kini Gama bergerak gesit menurunkan celana panjangnya. Lepas juga! Celana itu terlempar entah ke mana? Gama naik ke atas tempat tidur. Lantas ia menyibak selimut yang menutupi tubuh Hera. “Maafkan aku,” kata Gama menatap Hera yang pucat pasi. Tangan lelaki itu mulai terulur untuk membuka kancing piyama yang dikenakan Hera, satu per satu. “Tolong lemaskan tanganmu, Hera!” pinta Gama yang sedikit kesulitan saat hendak melepaskan piyama itu melewati bagian lengan Hera yang kaku. Entah Hera setengah sadar atau tidak, dia menurut. Hingga akhirnya Gama bisa melepaskan piyama bagian atas Hera, beserta kaus dalamnya. Gama menahan napas. Ini memang sebuah tindakan yang akan menimbulkan terjadinya perang batin dalam dirinya. Bagaimana tidak? Siapapun lelaki normal, pasti bagian inti mereka akan langsung tegak berdiri saat disuguhi indahnya tubuh mulus dan putih seorang gadis secantik Hera. Tapi Gama harus meredam semua itu. Ia mencoba berfokus untuk menghangatkan tubuh Hera. Dengan menarik selimut tebal, lelaki itu mulai membaringkan tubuh di samping istrinya yang mengkeret. Gama membentangkan satu lengannya untuk ia jadikan bantal di bawah kepala Hera. Lantas tangan yang satunya, ia gunakan untuk merengkuh tubuh gadis itu agar menempel padanya. Tapi, tubuhnya menegak sejenak. Manakala tangannya tak sengaja menyentuh perut Hera. “Gama ... tolong aku! Gama.. tubuhku dingin,” Hera meracau. Gama menatap pada wajah pucat istrinya. Lantas ia menghembuskan napas pelan dan mengusap-usap punggung Hera yang tak tertutup sehelai benang. “Aku berjanji, kalian akan baik-baik saja!” kata Gama sembari menempelkan kening pada istrinya. Malam itu, Gama tak berniat memejamkan mata lagi. Ia lebih memilih untuk tetap awas dan memantau keadaan Hera. Ada perasaan takut dalam dirinya kalau tiba-tiba kondisi isrinya semakin memburuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD