“Apa kau selalu mimisan seperti ini?” tanya Kevin seraya meneliti bagian bawah hidung Hera. Dimana terdapat darah yang setengah mongering di sana.
“Hanya setiap kali aku kedinginan.” Hera berkata dengan bibir yang merapat. Sepertinya gadis itu memang tidak tahan dengan udara dingin.
Kalau hanya hujan deras saja, Hera tidak masalah. Tapi, hujan kali ini disertai angin yang bertiup kencang. Bagaimana tidak? Rambut Hera sampai terhembus kesana-kemari.
Menyentuh pipi Hera yang dingin. Kevin semakin merapatkan jas yang ia kenakan ditubuh Hera. Menutupkan kerahnya hingga ke leher gadis itu. Lantas, Kevin menarik tubuh Hera dalam pelukannya.
“Maaf!” kata Kevin.
Hera menolak untuk menyembunyikan wajahnya di d**a Kevin. Betapa pun. Ia adalah wanita bersuami. Meskipun suaminya tak pernah menganggapnya sebagai istri.
“Coba saja tadi aku tak mengajakmu kemari. Pasti kita tidak akan terjebak di sini! Aku takut kalau kau sakit karena kedinginan,” ucap Kevin mengusap-usap punggung Hera. Wanita itu mengangkat kepalanya, Ia mendongak. Menatap pada wajah Kevin yang juga tengah menatapnya.
“Aku lebih takut kalau orang-orang di rumah, tengah mengkhawatirkan kita saat ini,” Hera berkata pelan.
“Maaf, Hera! Aku janji akan memastikan kau pulang dengan selamat sampai ke rumah. Aku yakin. Sebentar lagi, hujannya pasti tak akan serapat ini,” kata Kevin meyakinkan.
Hera mengangguk. Ia tersenyum tipis. “Iya, semoga,” balas Hera pelan.
Wania itu mengeluarkan kedua telapak tangannya dari dalam saku jas Aram yang Leanna pakai di tubuhnya.
Bergerak cepat, Hera menggosok-gosokan telapak tangannya. Berharap, gosokan itu akan mengalirkan hawa panas yang mungkin tak terlalu besar pengaruhnya pada rasa dingin yang masih menusuk.
Melihat itu, Kevin tak tinggal diam. Lelaki itu meraih salah satu telapak tangan Hera, lantas menggosok dengan telapak tangannya.
Kevin mengosoknya bergiliran. Ia harus memastikan kalau selama Hera berada di sampingnya, wanita itu akan baik-baik saja.
***
Selang satu jam setelah Gama sampai di rumahnya, Hera turun dari mobil Kevin yang tadinya sempat di bawa ke bengkel yang buka 24 jam, setelah hujan mereda.
Lelaki itu membukakan pintu mobil, lantas Hera keluar dari sana.
“Hera!” Jessi yang tengah duduk gelisah di ruang tamu, sontak saja langsung bergegas keluar saat telinganya mendengar suara klakson mobil, disusul Diar dari belakang.
Hera menoleh pada ketiganya, lantas tersenyum canggung. Ia merasa begitu bersalah.
Bagaimana tidak? Ia sudah membuat seisi rumah dilanda rasa khawatir.
Jessi berlari kecil merengkuh tubuh Hera. “Kemana saja, kalian? Sedari tadi mama menunggu di rumah. Kami semua mengkhawatirkan kalian berdua.” Jessi mengurai pelukan.
Hera menatap sendu. “Maaf, Ma. Tadi aku dan Kevin terjebak hujan. Jadi, kami harus berteduh.” jawab Hera.
Kevin mendekat. “Harusnya aku yang minta maaf, Tante. Karena tadi sore aku mengajak Hera untuk pergi ke taman kota. Kami tidak tahu kalau hujan deras akan datang dengan tiba-tiba. Ban belakang mobilku juga kempes. Jadinya, setelah hujan berhenti. Kami menunggu di bengkel. Aku benar-benar minta maaf.”
“Terus kenapa ponselmu tidak aktif, Kevin? Tante mau menghubungimu saja tidak bisa.” “Ponselku kehabisan daya. Sekali lagi. Aku minta maaf karena mengajak Hera pergi tanpa memberitahu kalian dulu. Tapi, aku sudah meminta izin pada Gama.” Kevin menatap dengan wajah penuh penyesalan pada Jessi.
“Ya sudah. Terima kasih sudah mengantar Hera pulang.”
“Iya, Tante. Aku pulang dulu, Hera,” kata Kevin sambil tersenyum manis.
Mendengar itu, Hera menganggukan kepalanya, lantas ia membalas senyum Kevin.
“Terima kasih,” balas Hera.
Kevin mengangguk. Ia pamit pada semua orang lantas berbalik menuju mobilnya. Tak lama setelah lelaki itu masuk ke dalam mobil, mesin roda empat itu pun meninggalkan pelataran rumah Gama.
***
Baru saja pintu kamar itu dibuka, seorang lelaki bertubuh tegap dengan baju piyamanya, nampak berdiri di depan Hera dengan melipat kedua tangannya.
Lantas melontarkan sebuah kata sindiran.
“Sudah selesai, kencanmu?” tanya lelaki itu yang tak lain adalah Gama.
Hera tercenung beberapa detik. Sebelum kemudian ia berkata. “Aku tidak habis berkencan,” kata Hera.
Gma berdecih. “Kalau bukan berkencan, lantas apa namanya kau pulang sampai selarut ini? Bermain gundu?” ejek Gama.
Hera yang sudah memasuki kamar, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kini ia berbalik menatap pada bola mata Gama yang mendelik tajam.
“Maaf kalau aku lancang. Tapi aku tidak tahan untuk tak bertanya padamu, Gama. Apa otakmu yang kotor itu bisa dibersihkan?” tanya Hera dengan dagu terangkat. Ia harus mendongkak untuk bisa menatap tepat pada bola mata suaminya. “Sudah aku tegaskan tadi, kalau aku dan Kevin tidak habis berkencan. Kevin hanya mengajakku ke taman kota. Dan itu pun atas seizinmu. Lantas bagian mana yang masih kurang jelas untukmu di sini?” tanya Hera pada Gama.
Gama terdiam. Ia mengalihkan pandangannya pada sebuah bungkusan yang tersimpan manis di atas meja nakas. Lantas kakinya bergerak perlahan untuk kemudian berjalan menuju ke sana.
Hera memperhatikan gerak-gerik suaminya.
“Bungkusan ini..” Gama mengangkat bungkusan itu dengan tangannya pada Hera. “Apa Kevin juga yang memberikannya?” tanya Gama.
Masih berdiri di tempatnya, Hera mengangguk. “Iya, Kevin membelikannya untuk calon anakku.” Hera tak bisa mengatakan calon anak kita. Ia takut kalau Gama tak suka mendengarnya.
Gama mendengkus. “Kalau hanya untuk membeli barang-barang seperti ini, harusnya kau bilang padaku! Bukannya malah minta dibelikan pada orang lain,” kata Gama dengan nada geram.
Hera memicingkan matanya. Ia terkejut mendengar perkataan Gama barusan.
“Aku tidak pernah sekalipun meminta dibelikan perlengkapan bayi pada Kevin. Jangan menyimpulkan segala sesuatu hanya menurut pemikiranmu, Gama! Kevin membelikan semua itu karena ia peduli pada calon bayi yang kukandung.” Hera membela diri.
Ia tidak suka saat Gama mulai salah kaprah dalam mengartikan sesuatu yang dilihatnya.
Gama menghembuskan napas kasar. “Hhh.. Pada cecunguk itu saja kau percaya..”
“Oh, jelas. Aku mempercayai Kevin bahkan melebihi dirimu,” Hera berkata dengan tegas.
Membuat Gama membeku di tempatnya. Ia menatap Hera dengan rahang yang merapat. Napasnya akan terdengar menderu andai Hera sedikit lebih mendekat pada Lelaki itu.
Gama menggeleng. “Dia hanya sok peduli, sok ingin jadi pahlawan, agar terlihat lebih baik di mata semua orang!”
“Tidak! Kevin memang melakukan semua perbuatannya dengan sangat tulus. Niatnya murni dan ia baik hati. Kevin juga menunjukan perhatiannya bukan untuk dianggap sebagai pahlawan. Meski aku ingin mengatakan. Kalau Kevin memanglah sosok pahlawan yang nyata! Apa kau tahu, Gama? Sepertinya hanya Kevinlah satu-satunya lelaki yang tulus peduli padaku, selain Ayahmu tentunya. Saat kami terjebak dalam hujan deras saja, Kevin bahkan melepaskan jaketnya untuk membuat tubuhku tetap hangat.”
BRAK!
Hera terkejut. Gama menaruh bungkusan itu dengan menyentakannya kuat di atas nakas.
Hera mengerjap, matanya menatap pada bola mata Gama yang berkilat merah. Ia bisa melihat dengan jelas, kalau rahang lelaki itu nampak menggertak disertai napasnya yang memburu.
“Tanpa diminta pun, Kevin pasti akan dengan senang hati menghangatkan tubuhmu kapanpun lelaki itu mau.” kata Gama pada Hera.
Dengan mengerutkan dahi, Hera bertanya pada Gama. “Apa maksudmu?”