“Tidak. Sepertinya mualku tiba-tiba hilang, setelah aku menghabiskan mangga yang sedikit asam tadi,” jawab Gama. Lalu ia menoleh pada Diar yang masih sibuk menyapu lantai. “Terimakasih Diar.”
Diar mengangkat wajahnya, lantas menerbitkan sebuah senyum manis untuk membalas senyum majikannya. “Sama-sama, Tuan Gama. Kalau boleh saya bilang sesuatu.. sepertinya, Tuan Gama ini sedang ngidam, ya? Kok tiba-tiba ingin makan mangga muda,” kata Diar.
Yang membuat kening Gama berkerut mendengarnya. “Apa iya?” tanya Gama. “Saya kurang tahu. Tapi bisa jadi juga. Saya juga heran, kenapa lidah saya ingin makan yang asam-asam? Apa ini karena dia?” Gama menoleh pada Hera, lalu menyentuh tepat di perutnya.
Hera mengulas senyum, menatap pada telapak tangan kekar Gama yang hinggap di sana. Kalau seperti ini, nyaman sekali rasanya. Mungkin, malaikat kecil yang berada di dalam rahimnya tahu kalau saat ini ia tengah dibelai-oleh papanya.
“Sepertinya, demam Tuan Gama juga karena ngidam, ya?” Diar mengira-ngira.
Tapi Gama langsung melirik pada pembantu itu, lantas menggeleng tegas.
“Bukan. Kalau masalah demam. Itu karena kemarin..” kata Gama menggantung.
Hingga membuat Hera mengerjapkan mata. Menunggu perkataan suaminya.
Sedangkan Diar mengerutkan keningnya dalam. “Kemarin?” tanyanya penasaran.
Gama mengangguk. “Iya. Jadi, kemarin itu ada orang yang ngajak saya main hujan-hujanan di siang bolong..” Gama mengalihkan pandangannya pada Hera. Dan wanita itu mengulum senyum saat tahu kalau lelaki itu sedang menyindirnya.
Ya! Tempo hari Gama dan Hera kehujanan berdua. Saat itu, Hera merasa senang karena Gama mengatakan kalimat manis dan lembut yang belum pernah diungkapkannya.
Pria itu berjanji akan menjaga Hera beserta bayi mereka.
“Untung saja waktu itu tidak ada petir. Coba kalau ada. Bisa gosong muka tampan saya!” kata Gama lalu mengusap wajahnya dengan percaya diri. Hingga membuat Diar tergelak sampai tak sengaja menjatuhkan sapu yang ia pegang.
Sedangkan Hera mengerucutkan bibir, dan mencubit sebal lengan suaminya itu. Tapi Gama membalas dengan merengkuh erat tubuh istrinya dengan mesra. Hera tercenung sesaat.
Terlebih lagi saat Gama membisikan kata-kata yang berpotensi membuat aliran darah di tubuh Hera kian cepat.
“Ternyata merasakan ngidam itu berat, ya. Maaf karena sempat-sempatnya menjadi orang bodoh yang mencampakan kalian,” ucap Gama dalam hatinya sambil menatap Hera dan membuat wanita itu membalas tatapannya dengan salah tingkah.
***
Kesibukan di pagi ini, Hera tengah membuat roti panggang untuk sarapan. Dengan dibantu oleh Diar, ia menata rapi roti yang sudah ia keluarkan dari alat pemanggang otomatis, ke atas piring yang cukup lebar.
“Hera! Dasiku mana?”
Tentu saja Hera tahu itu suara siapa. Mendengar namanya dipanggil oleh Gama. Hera pun menyahut agak berteriak. “Di atas tempat tidur! Aku menaruhnya di sana!”
“Di atas tempat tidur tidak ada. Di mana dasiku! Aku mau berangkat kerja!”
Hera memicingkan matanya, ia kembali mengangkat kepala, untuk mendongkak menatap ke lantai atas.
Aneh! Kenapa dasi itu bisa tidak ada? Padahal, jelas-jelas sebelum turun ke bawah. Hera sudah menyiapkannya di atas tempat tidur.
“Coba cari di lantai sekitaran-ranjang. Mungkin saja jatuh ke bawah,” balas Hera lagi.
“Manja sekali Tuan Gama pagi ini,” ucap Diar meledek dengan menggelengkan kepalanya. Hera pun ikut terkekeh, lalu ia fokus untuk mengaduk s**u hamilnya, lantas membawanya ke bibir untuk ia minum kemudian.
Baru saja s**u hamil itu habis setengah gelas, Gama kembali berteriak. “Di bawah lantai juga tidak ada! Aku sudah mencarinya. Tetapi, tetap saja tidak ketemu.”
Kali ini Hera kontan menghela napas pelan. Baiklah! Sepertinya dasi berwarna biru dongker itu memang telah hilang entah kemana? Maka sebagai istri yang baik. Hers memutuskan untuk naik ke atas dan menghampiri suaminya.
Gelas bening di tangannya masih terisi setengah. Dan Hera memilih tak menghabiskannya. Ia menaruhnya kembali di atas meja makan.
Tiba di depan pintu kamar, Hera tak mengulur waktu untuk mengangkat sebelah tangannya. Kemudian memutar kenop. Lalu mendorong daun pintu hingga berderit terbuka. Seiring dengan pertanyaan yang ia lontarkan dari bibirnya. “Gama? Apa dasinya masih belum ketemu?” tanya Hera.
Lantas, seketika ia membuka mulutnya saat tangannya berhasil membentangkan pintu kamar itu lebar-lebar. Dahinya berkerut, menatap pada apa yang ia dapati di hadapannya.
Menghembuskan napasnya kasar, Hera lalu menolak kedua pinggangnya seraya menatap tajam pada Gama dari jarak yang cukup jauh.
Sedangkan si lelaki yang tengah ditatap itu nampak sama sekali tak merasa bersalah. Hingga membuat Hera kesal. Lalu ia bertanya penuh delikan. “Kau bilang dasinya tidak ada, ‘kan?” nada suara wanita itu sedikit meninggi.
Gama yang tengah melipat kedua tangannya di depan. Dengan tubuh yang tengah bersandar miring di lemari. Hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.
Melihat itu, Hera berdecak. Lalu ia berjalan cepat menuju tempat tidur. Setelahnya, ia meraih sebuah benda tipis panjang yang teronggok manis di atasnya.
“Lalu ini apa?” tanya Hera. Ia mengangkat dasi itu di hadapan Gama.
“Itu dasi,” Gama menjawab enteng. Hera memutar bola matanya jengah.
Lalu dengan kesal, dipecutkannya dasi itu ke lengan atas Gama berkali-kali. Tapi lelaki itu tak merasa kesakitan sama sekali. Yang ada, Gama malah terkekeh dan hanya melindungi tubuhnya dengan kedua tangan.
“Kau mengerjaiku, ya!” akhirnya Hera memberikan pecutan terakhirnya pada Gama.
Lelaki itu kembali terkekeh. Sembari menatap gemas pada kedua belah pipi Hera yang menggembung karenanya.
Tak menjawab tuduhan sang istri. Gama memilih untuk membungkukan badannya, lalu tangannya merogoh ke bawah tempat tidur. Lantas mengeluarkan sebuah bangku kecil, lalu menariknya hingga bangku itu berada tepat di depan kaki Hera.
“Maaf. Aku hanya sedang mencari-cari alasan, agar kau datang dan memakaikan dasi di leherku,” kata lelaki itu lalu menyunggingkan seulas senyum lebar.
Hera sontak saja mengulas senyum untuk membalasnya, ia tahu benar untuk apa Gama menarik bangku itu. Setelah melepas sandal rumah yang ia kenakan. Hera menaikan satu per satu kakinya yang seputih pualam ke atas bangku kecil itu.
Lalu, tangannya mulai melingkarkan dasi yang saat ini ia pegang, untuk kemudian ia pakaikan di leher suaminya.
Sementara kedua tangan Hera sibuk memasang dasi dengan rapi. Gama justru menyentuhkan kedua telapak tangannya pada pinggang Hera. Ia sengaja sekali sedikit merapatkan tubuhnya pada Hera. Agar hidungnya bisa hinggap di leher istrinya yang kebetulan saat ini tengah diikat ekor kuda.
Lantas dengan memejamkan mata, Gama mencuri-kecupan di leher yang putih tersebut. Hingga membuat Hera bergidik kegelian. “Gama! Ish..” Hera protes. Ia menjauhkan kepala Gama dari lehernya yang terbuka.
Sontak saja lelaki itu memanyunkan bibirnya. “Pelit!” ledek Gama pada istrinya. Tapi tanpa diduga, berselang satu detik, Hera mendaratkan sebuah kecupan-mendadak di sudut bibir suaminya. Hingga Gama dibuat melotot karena terkejut.
“Senang? Heh?” goda gadis itu.
Gama menyentuh sudut bibirnya yang terasa merekah. Lalu ditatapnya Hera dengan senyum misterius. Lagi-lagi Gama tak menjawab pertanyaan istrinya.
Tapi ia malah menggendong Hera secara tiba-tiba. Wanita itu terhenyak. “Gama! Apa-apaan ini?” Hera bertanya setelah Gama membaringkannya di atas-ranjang. Lalu dengan seenaknya, Gama kembali membuka belitan dasi di leher. Lantas melemparnya sembarang.
“Gama! Jangan macam-macam. Lihatlah! Bajumu jadi kusut. Kau jangan lupa kalau lima belas menit lagi kau harus segera berangkat ke kantor. Ingat dengan meeting pagi ini,” Hera mengingatkan.