Bab 22. Suami yang Ngidam

1155 Words
"Mengapa aku baru sadar sekarang? Betapa pintarnya otakmu itu, Gama!" kata Kevin dengan senyum yang ia paksakan. Gama hanya memutar bola mata. Lantas ia mengernyitkan alis menatap pada Kevin. Yang ditatap justru menolehkan pandangannya pada Hera. "Hera! Kalau boleh aku sarankan. Sebaiknya segera suapi suamimu itu. Kau Benar! Dia memang harus minum obat!" tandas Kevin mendelikan matanya penuh sindiran. Gama yang mendengar perkataan Kevin, langsung saja naik pitam. Lalu menyorot tajam pada wajah lelaki itu. "Apa maksudmu? Kau mau mengatakan kalau aku gila?" geram Gama. Kevin mengangkat bahunya. "Aku tidak bilang begitu. Tapi setahuku, orang waras tidak pernah mengatakan dirinya gila," kata Kevin. Gama nyaris saja mencengkeram kerah baju Kevin, tapi Hera lebih dulu mencegah lengan suaminya. “Gama! Sudah. Jangan seperti anak kecil!" cegah Hera. Gama memutar leher untuk menaikan sebelah alisnya pada sang istri. "Seperti anak kecil?" tanyanya tidak mengerti. Hingga membuat Kevin terkekeh lagi. “Hera, aku pulang saja, ya. Sepertinya bayi besar sensitif sekali," Kevin mengejek. Lalu ia berbalik setelah melihat anggukan dari Hera. Baru saja Kevin nyaris melewati pintu dapur, saat suara Gama menegurnya dari belakang. "Tunggu, bung! Kau melupakan garammu!" kata Gama seraya menunjukan toples berisi garam untuk menyindir sepupunya itu. Kevin menoleh sedikit ke belakang. Lalu mengibaskan tangannya ke samping. "Ah, lupakan saja. Aku tidak jadi memintanya. Toh, melihat wajahmu saja, sudah membuat lidahku keasinan!" tandas Kevin, lantas kembali melanjutkan langkahnya. Dan membuat Gama mengepalkan tangan pada toples yang ia pegang. Seolah lelaki itu sedang meremas tubuh Kevin dengan tangannya yang kekar. Di belakang Gama, Hera menyentuh bahu suaminya dengan lembut. "Jangan terlalu banyak marah. Nanti kau bisa terkena darah tinggi. Sebaiknya kita sarapan bersama? Bagaimana?" Hera menawarkan. Gama mendengkus, lalu menoleh pada istrinya. "Si kunyuk itu jangan sampai menginjakan kakinya lagi di rumahku. Aku benci melihat wajahnya!" tegas Gama. Membuat Hera hanya bisa menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. Sepertinya, suaminya ini membenci Kevin, hingga mendarah daging ditubuhnya. Yah, sudahlah! Toh mereka 'kan sahabat lama. Pasti suatu saat akan kembali baikan seperti semula. *** “Hera! Kepalaku sakit!” “Hera! Badanku pegal-pegal semua!” “Hera! Perutku tidak enak! Rasanya ada yang terus bergejolak di dalamnya! “Hera! Hidungku meler!” Suara itu sudah seperti musik yang terus menggema di telinga seorang wanita yang bernama Hera. Tampaknya, panggilan yang terus-menerus dilontarkan dari bibir Gama. Sedikit banyak membuat kepala Hera pusing juga. Ia tidak menyangka, kalau di saat sakit seperti ini, Gama akan bersikap 360 derajat dari sifat aslinya yang Hera kenal. Tak ada sifat tegas, dingin, mandiri, dan menjaga jarak yang biasanya Gama tunjukan seperti di saat awal-awal pernikahan mereka. Kini, yang Hera lihat justru sifat yang manja, mengeluh, dan tak bisa lepas dari bawah ketiaknya. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Kevin. Hingga membuat Hera menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Hera sedang hamil. Tapi ia merasa sudah menjadi ibu yang memiliki seorang anak balita. “Hera!” Yap! Panggilan itu lagi, entah untuk yang keberapa puluh kali kalau Hera rajin menghitungnya. Mendengar namanya dipanggil dari arah kamar mandi, Hera yang sedang menikmati tidur siangnya di atas tempat tidur, sontak saja mengerjapkan mata. Ia memendar ke samping tempat tidur. Lalu menghela napas saat tak melihat Gama di sana. Hera sudah tahu. Pasti lelaki itu kembali lari terbirit-b***t ke kamar mandi. Tentu saja untuk memuntahkan isi di dalam perutnya. Padahal, Hera sudah menyiapkan sebuah ember di samping tempat tidur suaminya. Tapi yang namanya Gama. Lelaki itu menolak dan tetap memilih untuk puluhan kali bolak-balik ke kamar mandi. “Hera! Aku muntah lagi!” seru Gama kembali. “Iya. Aku ke sana sekarang!” Wanita itu mengambil ikatan rambut kecil yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Lalu ia menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya dari-ranjang. Lantas bangkit berdiri dan beranjak untuk menghampiri suaminya yang sudah berkali-kali merengek seperti bocah. *** “Masih ingin muntah?” tanya Hera seraya mengurut tengkuk suaminya. Ia ikut meringis manakala melihat wajah suaminya yang sudah pucat pasi. Mungkin Gama kelelehan setelah muntah terus sejak pagi. Gama mengangguk samar. Ia tengah mengerutkan dahinya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu di pinggir wastafel. Sepertinya Gama tengah merasakan mualnya. “Kita ke dokter, ya?” Hera mengusulkan. Gama mengarahkan kepalanya perlahan untuk menatap sang istri. Lalu menggeleng dengan tegas. “Tidak. Aku tidak mau. Nanti juga aku sembuh. Aku hanya mau minum air hangat,” kata Gama yang membuat helaan napas pelan terdengar dari mulut Hera yang mungil. Lagi-lagi suaminya itu menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Hingga membuat Hera tak habis pikir. Setelah Gama tak terlalu merasa mual. Hera segera memapah lelaki itu untuk keluar dari kamar mandi. Lantas menuntunya untuk berbaring di atas-ranjang. Selepas Hera menaikan selimut hingga mencapai pinggang suaminya, ia mengarahkan matanya menatap Gama. “Aku minta ambilkan dulu air hangat pada Diar, ya?” kata Hera. Yang langsung mendapat anggukan lemah dari Gama. Hera tersenyum tipis, lalu ia meraih ponselnya yang terletak di atas meja. “Eh, maaf Diar. Gama butuh minum air hangat katanya. Bisa tolong antarkan ke atas?” pinta Hera. ‘Bisa, Nyonya. Nanti saya ambil dulu air hangatnya,” jawab Diar. Hera mengulas senyum, hendak kembali bicara, tapi ia merasa ada seseorang yang mencolek lengannya. Seketika ia menoleh ke arah seseorang itu yang ternyata adalah Gama. Hera mengedikan dagu, sebagai isyarat bertanya apa maksud Gama mencolek lengannya. Lelaki itu berdehem pelan. Lalu berbisik. “Sekalian mangga muda yang ada di dalam kulkas. Minta Diar ambilkan. Aku mau itu ‘ pinta Gama lirih. Hingga nyaris tak terdengar. Tapi cukup untuk membuat Hera membolakan matanya lebar-lebar. Ia menatap suaminya dengan ekspresi horor. Seakan sedang berpikir … kerasukan jin apa suaminya ini? Mendadak minta mangga muda. Tapi Hera akhirnya menuruti kemauan suaminya. Kini, buah yang rasanya asam kecut itu akan dikonsumsi oleh perut suaminya. Entah bagaimana ekspresi Jessi saat tahu kalau ternyata mangga muda yang ia beli khusus untuk Hera. Justru dibabat habis oleh anaknya? “Pelan-pelan, Gama.” Leanna mengingatkan. Ia hanya bisa meneguk salivanya berkali-kali. Saat Gama mulai mengupas mangga yang ketiga. “Kau mau?” Gama menyodorkan mangga muda yang sudah ia potong ke depan mulut Hera. Tapi wanita itu menggeleng dan mendorongnya. Jangankan untuk dimakan, bahkan Hera saja bisa ikut merasakan asam dilidahnya saat melihat Gama memakan mangganya dengan lahap. Bahkan dengan ekspresi wajah yang tak berubah sama sekali. Umumnya, orang-orang akan mengerutkan kening mereka, dan mengerucutkan bibir, manakala rasa asam itu menyentuh ujung lidah mereka. Tapi Gama tetap tenang dan hebatnya ia seolah tak merasa keasaman. Hera melirik pada Diar yang kini tengah menggigit bibirnya, seraya menyapu kamar Hera. Mungkin, pembantu itu juga ikut heran dengan sikap Gama yang sangat bertolak belakang dengan keperibadiannya. “Kau sudah tidak mual sekarang?” Hera bertanya pada Gama yang baru saja menghabiskan mangganya yang keempat. Sudah empat mangga habis ditelan perut suaminya yang bahkan beberapa jam lalu, memuntahkan roti, bubur, dan obat yang Hera jejalkan ke dalam mulutnya. Tapi si mangga itu dengan santainya, meluncur tanpa hambatan kemudian mendarat di usus lelaki yang kini mengangguk dan tersenyum manis pada Hera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD