Namun langkahnya belum sampai melewati pintu, Hera kembali bersuara.
"Jangan terlalu percaya diri, Gama. Jika bukan karena kau suamiku, aku tidak akan mau bersusah payah memasak untuk lelaki yang tak tahu berterimakasih sepertimu. Aku melakukannya bukan demi dirimu, tapi demi kedua orang tuaku yang selalu berpesan agar aku melayani suamiku dengan baik. Tapi sayangnya mereka tidak tahu jika lelaki yang kunikahi adalah manusia yang tak berperasaan!" teriak Hera menatap punggung Gama yang tegap dan lebar.
Gama berbalik menatap Hera dengan alis yang terangkat.
"Terserah. Kalau begitu lakukan saja apa yang kau mau. Dan aku tidak akan peduli!" balas Gama melayangkan tatapannya yang menusuk ke arah Hera, sebelum ia melengos pergi dan tubuhnya menghilang di balik pintu itu.
Hera mematung. Lalu ia menjatuhkan dirinya di kursi yang tadi ia duduki. Hatinya mencelos mendengar ucapan Gama. Hera tersenyum miris menertawakan kebodohannya sendiri.
Hera memegangi dadanya, ia mendongkak dengan mata yang mengembun.
"Karena Tuhan memberiku rasa cinta yang salah. Bagaimana bisa aku mencintai lelaki sekejam Gama?" desah Hera pelan.
sangat dikenal.
****
"Nyonya Hera! Mengapa Anda belum tidur?" tanya Diar pada Hera yang hanya berdiri melamun, menatap ke luar jendela kamarnya.
Saat akan masuk ke kamarnya, Diar melewati pintu kamar Hera dan ia tak sengaja melihat pintu kamar wanita itu yang terbuka.
Diar memang masih memanggil Hera dengan sebutan 'nyonya' karena ia sangat menghormati Hera sebagai istri dari tuannya. Jika Gama berada di sekitarnya, barulah Diar memanggil Hera dengan nama.
"Diar?!" Hera menoleh. Dan ia melihat pelayan itu melempar senyum padanya.
"Boleh saya masuk, Nyonya?" tanya Diar. Hera mengangguk.
Diar melangkah mendekati Hera dan ia mengambil sebuah mantel yang ada di atas kursi, lalu menyampirkannya di punggung majikannya itu.
"Maaf, Nyonya Hera. Tapi di luar sedang hujan deras. Dan Anda berdiri di depan jendela yang terbuka. Saya tahu Anda pasti merasa kedinginan." Diar langsung mengucapkan maaf karena ia telah lancang membalutkan mantel berwarna abu itu di punggung Hera, meskipun Diar tahu jika sebenarnya Hera tidak akan marah hanya karena hal itu.
"Terimakasih atas perhatianmu, Diar. Kau belum tidur?" tanya Hera. Diar menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Saya tidak penting, Nyonya. Yang terpenting saat ini adalah Anda. Saran saya.. sebaiknya Anda beristirahat. Jika Anda terus berdiri di sini hingga beberapa jam ke depan, saya takut Anda akan masuk angin," ucap Diar dengan raut khawatir yang tidak dibuat-buat.
Bukannya menjawab ucapan Diar barusan, Hera malah kembali melayangkan pandangannya ke luar jendela yang masih terbuka itu. Menatap pada hujan yang semakin menderas di luar sana. Percikan airnya mengenai wajah Hera. Tetapi Hera tetap berdiri di tempatnya. Hembusan napas pelan pun keluar dari mulut mungilnya.
"Diar. Apa Gama belum pulang?"
Diar sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hera. Namun senyum kecil tertahan di bibir pelayan itu. Rupanya, Gama lah yang sedang Hera pikirkan.
Ini memang sudah pukul dua belas malam. Seharusnya di jam seperti ini, semua orang di paviliun sudah tidur. Tapi Hera malah menyibukan diri memikirkan suaminya.
Diar menggeleng pelan. "Belum, Nyonya Hera. Tuan Gama belum pulang." jawaban itu membuat Hera mendesah kecewa.
Diar tersenyum lagi saat melihat raut khawatir tampak di wajah Hera. Gurat kecemasan itulah yang membuat Hera sulit untuk tidur.
'Di mana Gama? Ini sudah mau tengah malam tapi dia belum pulang juga. Bahkan sekarang hujan deras. Sial! Kenapa aku jadi mencemaskannya seperti ini.' Hera mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Jika mengingat sikap Gama yang tidak ada manis-manisnya, seharusnya Hera tak perlu mengacuhkan lelaki itu meskipun ia diterkam serigala, atau ditelan ikan paus sekalipun. Mengapa ia harus peduli sementara lelaki itupun tak pernah peduli padanya.
Sebab selama ini Gama selalu tak menganggap keberadaannya. Alih-alih menganggap Hera sebagai istri, lelaki itu selalu saja menatapnya dengan tatapan sedingin es. Membekukan Hera hingga ke sekujur tubuhnya. Setahun menjadi istri Gama, membuat Hera tahu bagaimana dingin dan acuhnya lelaki itu padanya.
Dan sialnya, Hera malah jatuh cinta.
Ya! Cinta itu hadir tanpa permisi. Cinta itu datang tanpa diminta. Dimulai dari niat Hera melayani Gama hanya untuk mengabdi, tapi akhirnya Hera malah terjerat karisma seorang Gama.
"Maaf jika saya lancang, Nyonya. Apa tidak sebaiknya Anda istirahat saja. Saya yakin sebentar lagi Tuan Gama pasti akan pulang. Saya tahu Anda sangat mencemaskannya. Tapi Anda juga perlu memperhatikan kesehatan Anda. Jangan sampai Anda sakit karena berdiri terus di depan jendela yang terbuka ini. Sedangkan angin dan hujannya semakin kencang." masih dengan sikapnya yang sopan, Diar memberi usul pada Hera. Ia tidak ingin majikan wanitanya itu sakit. Hera perlu istirahat.
Hera diam sebentar. Memikirkan usulan dari Diar.
Lagi, Hera menatap lurus ke pelataran rumah Gama yang terbentang luas di depan sana. Bahkan saat Hera menggeser matanya beralih pada gerbang besar yang dekat pos satpam. Gerbang yang kokoh dan tinggi itu masih tertutup rapat. Belum ada tanda-tanda terlihat di sana. Membuat Hera membuang napasnya pelan.
Akhirnya Hera menyerah. Memikirkan Gama membuat kepalanya pusing. Hera kemudian menyuruh Diar untuk meninggalkan kamarnya.
"Maaf, Nyonya. Saya baru akan pergi jika Anda berjanji akan segera istirahat setelah ini." Diar tak yakin Hera akan langsung tidur. Karena raut cemas itu masih tergambar jelas di wajahnya.
Hera tersenyum mendengar pernyataan Diar.
"Baiklah. Kau bisa memegang kata-kataku. Aku janji akan istirahat," janji Hera. Diar tersenyum lega. Sekarang ia tidak perlu mencemaskan Hera lagi.
"Kalau begitu saya pamit pergi ke kamar saya, Nyonya. Jika Anda membutuhkan apapun, Anda bisa memanggil saya."
Hera mengangguk. "Sekali lagi terimakasih untuk tehnya," ucapnya tulus.
Diar balas menganggukkan kepala. Membalas senyum Hera dengan sama tulusnya. "Sama-sama, Nyonya Hera." lantas pelayan wanita itu pun berbalik dan beranjak keluar kamar. Meninggalkan Hera sendirian yang hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.
Hera merebahkan badannya. Ia tidur terlentang dengan kedua tangan yang terlipat di atas perut. Matanya lurus menatap plafon. Benaknya masih memikirkan mengapa Gama belum pulang?
Sampai pelan-pelan kegelapan mulai menelannya. Membuatnya jatuh tertidur.
***
BRAK!
Dengan sangat kasar, Gama membanting pintu mobil. Jam dua dini hari ia baru pulang ke rumahnya. Rupanya tadi ia menghabiskan waktu di sebuah Club mewah. Meneguk banyak minuman hingga membuatnya mabuk.
Mengingat Karin yang sekarang ini entah berada di mana, membuat Gama makin merindukan wanita itu.
"Tuan Gama. Apa saya perlu memapah Anda ke dalam rumah?" melihat Gama yang nyaris tersuruk jatuh karena tak berhati-hati saat melangkah, satpam yang tadi membukakan gerbang langsung membantunya berdiri, dan bertanya pada Gama karena khawatir melihat keadaannya yang seperti sudah mabuk berat.
Gama mengangkat sebelah tangan. "Tidak perlu. Kau masukkan saja mobilku ke dalam garasi!" tolak Gama, lalu memberi perintah.
Kini langkah Gama sudah memasuki ke dalam paviliun. Paviliun itu tampak sepi. Karena semua orang yang tinggal di dalamnya sudah tertidur di kamar mereka masing-masing.
Tujuan Gama adalah kamar Hera. Entah iblis darimana yang menuntunnya untuk pergi ke kamar wanita itu. Tapi Hera adalah istrinya.
Tangan Gama membuka pintu kamar Hera secara perlahan. Dilihatnya wanita itu sedang terlelap di atas ranjang. Dengan selimut tebal yang menutupi hingga ke pinggangnya.
Dalam cahaya remang lampu tidur, Hera tampak begitu cantik. Rambut indahnya terurai menutupi bantal. Dan Gama melangkah makin dekat, berdiri di samping ranjang sembari matanya menatap Hera dengan pandangan berkabut penuh gairah.
"Hhhhh.." Gama mendesah.
'Mengapa dia terlihat begitu cantik, terlebih saat sedang tidur dengan tenang seperti ini?' batin Gama.
Setahun menjadi suami Hera, baru kali ini Gama melihat istrinya itu tertidur pulas di depannya. Gama tidak pernah menemukan bidadari secantik Hera. Gama akui, bahkan kecantikan Hera melebihi Karin.
Sial!? Memikirkan Karin, membuat darah di dalam tubuh Gama kembali berdesir hebat. Kerinduannya pun semakin memuncak.
“Karin," bisik Gama lirih sambil perlahan membuka satu per satu kancing kemejanya.