Pandangannya kembali tertuju pada Hera, wajah polos itu tampak lelap. Bibir ranum milik Hera yang berwarna pink natural berhasil membangkitkan sesuatu dalam tubuh Gama. Gairahnya sudah tak tertahankan lagi.
Maka Gama segera membuka kancing kemejanya dengan cepat. Ia menelanjangi tubuh bagian atasnya. Membuat otot-otot kekarnya tampak jelas sekarang.
Tangan Gama membelai rambut Hera, lantas mengusap bibirnya yang mungil. Sedetik kemudian, Gama langsung memagut bibir itu dengan bibirnya.
"Eenghh.." gerakannya membuat tidur Hera terganggu. Matanya terbuka perlahan saat merasa ada sesuatu yang berat dan menindihnya.
Seketika itu Hera terkejut melihat Gama yang sedang mencumbunya. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Gama yang mabuk hingga jatuh ke sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau datang ke kamarku, Gama! Aku minta pergi dari sini sekarang juga!" Heran turun dari ranjang, ia berdiri menatap Gama lalu mengarahkan telunjuknya ke pintu yang tertutup.
Meski sedang mabuk, tapi Gama masih sadar apa yang didengar dan dilakukannya. Ia mengangkat sebelah alisnya pada Hera.
"Apa hakmu mengusirku? Apa kau lupa kalau aku lah pemilik paviliun ini?" sindir Gama membuat bibir Hera terkatup rapat.
Gama benar. Paviliun ini memang miliknya. Tapi bukan Hera namanya jika ia kalah dengan ucapan lelaki itu.
"Aku tahu. Tapi bukan berarti kau bisa masuk ke kamar ini seenaknya dan menciumi wanita yang sedang tertidur?" geram Hera.
"Jadi kau mau aku menciummu dalam keadaan sadar? Begitu?" Gama malah semakin menantang Hera. Ia pun bangkit dari ranjang, membuat Hera memundurkan langkahnya dan menatap Gama dengan wajah waspada.
Seakan Gama adalah binatang buas yang bersiap untuk menerkamnya.
"Baik. Aku akan melakukannya, Hera. Aku akan melakukannya kalau itu maumu," kata Gama sebelum ia berhasil menarik tangan Hera hingga d**a mereka saling bertabrakan. Tangan kekarnya mendekap punggung Hera begitu erat. Sementara Hera berusaha melepaskan diri dengan usahanya yang sia-sia. Apalah Hera dibanding Gama yang jelas-jelas memiliki postur yang lebih tinggi dan besar itu.
"Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan?!" Hera berteriak panik.
"Kau pasti tahu apa yang kuinginkan. Apa kau tidak merasa milikku yang sudah bersiap untuk memasukimu?" bisik Gama di atas bibir Hera. Karena Gama menekan miliknya ke perut Hera. Membuat Hera menggeram kesal.
“Berengsek!" maki Hera bersungut-sungut. Ia masih berusaha melepaskan diri. Tapi Gama malah melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Gama bahkan tak memberikan Hera kesempatan sedetikpun untuk bangkit dan melepaskan diri, karena setelahnya Gama menyusul menindih tubuhnya, lalu tangannya Hera ia tahan di kedua sisi kepala wanita itu.
"Lepaskan aku! Jangan berpikir untuk menyentuhku atau aku akan berteriak!" diambang ketakutannya, Hera mengancam.
Namun Gama membalasnya dengan dengkusan pelan dan senyum mengejek. "Teriak saja sampai suaramu serak dan habis. Tidak akan ada satu orangpun yang menolongmu. Yang ada kau malah akan ditertawakan karena tidak ada yang namanya suami memerkosa istrinya sendiri." jawaban Gama sangat tepat. Membuat Hera menelan ludahnya kasar.
Tidak akan ada yang membantunya. Semua pelayan di sini pun tahu jika Hera adalah istri sah dari Tuan mereka. Kalaupun Gama datang ke kamar Hera dan memaksa menyentuhnya, siapa yang berani mengatakan itu sebagai pemerkosaan?
Senang melihat Hera tercenung dengan ucapannya, Gama mengangkat sebelah ujung bibirnya. Selanjutnya ia menarik gaun tidur yang Hera kenakan hingga terdengar suara robekan kain.
"Tidak! Gama! Jangan lakukan ini. Kau tidak bisa melakukannya!"
"Kenapa tidak bisa? Aku suamimu, kan? Ini 'kan yang kau inginkan? Sekarang diam dan lakukan tugasmu sebagai istri!" bentak Gama. Lalu menyumpal teriakan Hera dengan bibirnya. Memagutnya tanpa ampun.
Hera menangis. Ia berusaha memberontak dengan tenaganya yang kian melemah. Tetapi semua itu tak membuat Gama menghentikan aksinya. Ia malah menggerakkan tangannya, bermain dengan bagian atas tubuh Hera.
Gama menulikan telinga ketika Hera menjerit memintanya berhenti. Gama sedang berada di puncak kerinduannya pada mantan istrinya, tapi ia malah datang pada Hera dan melampiaskannya pada wanita itu.
"Jangan!" Hera memekik ketika Gama mulai mengambil kesuciannya.
Gerakan lelaki itu sempat terhenti sejenak saat ia menyadari Hera masih perawan. Tapi diamnya Gama hanya beberapa detik. Selanjutnya, ia kembali menuntut haknya sebagai suami.
Hera merasa terhina. Sebenarnya jika Gama datang dan memintanya baik-baik. Hera pasti akan memberikannya karena ia sadar dengan kewajibannya sebagai istri.
Tapi Gama datang dengan paksaan dan perlakuannya yang membuat Hera sakit hati. Sakit di fisiknya tak seberapa dibanding yang dirasakan oleh hatinya saat ini. Hera membenci Gama. Ia tidak menyangka akan jatuh cinta pada lelaki yang telah menghinanya sampai serendah ini.
Hati Hera yang rapuh itu pun terasa remuk saat mendengar Gama berkali-kali menyebut nama Karin selama percintaan mereka.
“Karin, aku sangat mencintaimu,” desah Gama sambil berbaring di samping Hera, tanpa peduli pada Hera yang baru saja ia sakiti fisik dan perasaannya.
Kemudian Hera turun dari ranjang dengan menahan sakit di kewanitaannya. Hera membawa serta selimut tebal yang kini membalut tubuhnya itu ke dalam kamar mandi. Karena pakaian tidurnya sudah tak terselamatkan. Hanya sisa robekan kainnya yang berserakan di lantai.
Ingin menghilangkan rasa sentuhan tangan Gama dalam tubuhnya, Hera segera menyalakan shower, membuat airnya yang deras jatuh membasahi rambut dan seluruh tubuhnya.
‘Karin, kau cantik sekali malam ini. Aku sangat mencintaimu.’ setiap ucapan Gama yang memuji Karin di tengah aktivitasnya menyentuh Hera, kembali terngiang di telinga Hera, membuat perasaan Hera begitu perih.
“Dia menyentuhku, tapi membayangkan mantan istrinya. Secinta itukah dia pada Karin?”