Malam itu menjadi malam yang paling disesali oleh Gama.
Andai saja waktu itu ia tidak mabuk, pasti ia tidak akan sampai menyentuh Hera.
Gama berharap, apa yang terjadi malam itu tidak akan membuat Hera hamil. Sayangnya, tepat dua bulan kemudian, Hera dinyatakan hamil, hingga membuat Gama mau tidak mau memindahkan Hera dari paviliun ke dalam rumahnya.
Meskipun mereka tetap tidur di kamar terpisah.
Jarum jam sudah menunjukan angka 23.00.
Gama baru saja menghentikan mobilnya di pelataran rumah. Ia mematikan mesin mobil mewahnya itu. Lantas membuka pintu. Keluar dengan sebuah tas kerja yang tergenggam di sebelah tangannya.
Gama menghembuskan napasnya kasar. Hari ini pekerjaan di kantornya begitu menumpuk. Hingga membuat Gama sedikit kewalahan. Ia menyeka keringat di dahinya. Membenarkan jas yang nampak sedikit kusut. Sekusut wajahnya saat ini.
Kakinya kini melangkah lebar. Berjalan menuju pintu. Telunjuknya yang panjang menekan bell. Hingga detik itu juga, bunyinya terdengar sampai ke luar.
Tak lama, pintu berderit terbuka. Menampilkan sosok wanita yang menatap Gama dengan wajah muramnya.
“Mama?”
“Jam berapa ini?” wanita tua itu yang ternyata adalah Jessi. Bertanya sembari menunjukan arlojinya ke hadapan Gama. “Kau baru pulang saat sudah selarut ini?” tanya Jessi sambil berpangku tangan.
Gama mengusap wajahnya. Nampak sekali ia sudah sangat lelah.
“Sejak kapan Mama datang? Mengapa tidak memberitahuku dulu kalau Mama akan ke sini?” Masih berdiri di ambang pintu. Gama bertanya dengan nada sesal. Ia bahkan ingin masuk. Tapi tubuh ibunya tentu saja menghalang langkah Gama.
“Aku ibumu! Wanita yang sudah mengetahui tubuhmu luar dan dalam. Apa aku harus perlu izin dulu untuk bisa datang ke rumah anakku? Sepertinya kau tidak senang Mama datang?” Jessi mendelik. Sebelum kemudian ia berbalik kembali beranjak masuk ke dalam rumah.
Gama mengacak rambutnya. Ia bergerak maju. Tetapi kakinya terhenti di langkah ketiga. Dilihatnya Hera tengah berdiri di depannya. Gadis itu tengah memilin jari-jemarinya. Seraya melangkah pelan ke arah Gama.
“Biar ku bawakan tas kerjamu,” Hera mencoba meraih tas yang Gama tenteng. Tetapi lelaki itu menjauhkannya.
“Tidak usah sok perhatian!” tegas Gama dengan tatapan tajamnya.
Jessi sudah pergi ke ruang makan. Tentu ia tak akan melihat betapa menusuknya cara Gama menatap mata Hera.
“Aku hanya berusaha membantumu. Aku tahu kau lelah karena seharian bekerja. Setidaknya.. jagalah sikapmu di depan mama,” Hera mengingatkan.
Gama berdecih. “Ck! Mencoba untuk mencari muka pada ibu mertua rupanya?” Gama mengejek dengan senyum kecutnya.
“Terserah apa katamu. Aku hanya mencoba mendinginkan hubungan kita yang bagai perang dingin ini. Tidak masalah kalau kau tidak ingin mengakuiku sebagai istri. Tapi, aku harap kau masih ingat dengan tanggung jawabmu pada bayi yang ku kandung.”
Selintas, mata Gama melirik ke arah perut Hera yang masih datar. Lalu ia memalingkan wajahnya.
“Bahkan aku masih bertanya pada Tuhan.. mengapa ia bisa mengirimkan janinku pada wanita yang salah.” Gama membuat Hera mematung dengan kata-katanya.
Lelaki itu beranjak melanjutkan langkahnya. Melewati Hera yang tengah berusaha menahan sesak di dalam hati.
***
“Please, Ma. Aku sudah makan malam di kantor. Jangan memaksaku untuk kembali mengisi perut di rumah.” Gama menjauhkan piring berisi makanan yang sudah Hera isi untuknya.
Gama menatap Jessi dengan wajah malas.
“Makanlah sedikit. Hargai istrimu. Dia sudah membuatkan masakan ini dengan susah payah. Tapi kau malah sudah makan malam di luar.” Jessi menyuruh Gama untuk duduk. Ia menarik lengan kekar Gama. Lantas menekan kedua pundak putranya agar tetap duduk dengan patuh di depan meja makan.
Gama memberengut sebal.
“Makanlah. Dari tadi Hera belum menyentuh makanannya sama sekali. Ia mungkin sudah lapar. Tapi masih menunggu suaminya yang pulang larut malam,” Jessi menyindir anaknya.
Hingga membuat Gama mendelik ke arah Hera.
‘Wanita ini.. benar-benar sedang mencari wajah pada ibuku
Mau tak mau ... Gama terpaksa menuruti perintah ibunya. Dengan bibir yang merapat. Tangannya mengaduk-aduk makanan di piringnya hingga menimbulkan bunyi sedikit berdenting.
Hera menelan ludah. Ia tahu, Gama tak berselera sama sekali.
Gama menyendokan makanan itu ke mulutnya, lantas ia tertegun sejenak.
Makanannya tak terlalu buruk. Hanya saja mengingat siapa yang sudah membuatnya, membuat selera makan Gama menghilang. Ia harus mengunyah lama. Agar tak menghabiskan makanan itu hingga tandas.
Bisa-bisa.. Hera makin besar kepala kalau tahu ia menghabiskannya.
***
Berhubung ibunya datang dan pasti akan memilih untuk tidur di kamar tamu yang ditempati Hera saat ini. Gama langsung menyuruh Hera untuk bergegas mengemasi semua barang-barangnya yang ada di sana. Lantas memindahkannya ke kamar Gama saat ibunya itu masih di bawah.
Setelah beres memindahkan semua barang milik Hera. Tentunya dengan sedikit bantuan Gama. Karena naluri lelakinya tak mungkin membiarkan seorang wanita hamil harus mengerjakan pekerjaan yang berat. Mau tidak mau. Gama menyentuh pakaian-pakaian Hera dan membantunya merapikan di lemari.
Hera berdiri. Menatap pada tempat tidur di depannya.
“Aku harus tidur di mana?” Hera bertanya.
Ketika tangan Gama tengah menutup lemari. Ia baru saja selesai menaruh semua pakaian Hera di lemarinya yang sebelah kiri.
Gama mengangkat sebelah alisnya. “Terserah,” katanya cuek.
Tapi akhirnya ia melemparkan bantal ke ujung bibir tempat tidurnya yang cukup besar. “Tidur di ujung sana! Jangan coba-coba pindah ke tengah!” Gama menunjuk bibir tempat tidur dengan dagunya. Sementara tangannya sudah meletakan guling untuk membuat sekat di tengah-tengah.
Hera mengangguk. Ia naik ke atas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya di ujung. Meski sebenarnya Hera sedikit takut. Bagaimana kalau ia tidur lasak? Lantas tubuhnya mengguling jatuh ke lantai?
Hera tak bisa membayangkan.. ia takut akan membahayakan bayinya.
Suara dengkuran halus mulai terdengar dari belakang tubuh Hera. Rupanya Gama sudah lelap tertidur.
Hanya menyisakan dirinya yang masih terjaga saat ini.
Lama Hera tak bisa memejamkan matanya. sedari tadi ia mencoba mencari posisi yang nyaman. Ia gelisah. Hera terus beringsut bergonta-ganti posisi. Hingga tanpa sengaja, kakinya menendang tumit Gama. Sontak saja lelaki itu terhenyak bangun dari tidurnya.
Ia menoleh pada Hera dengan dingin.
“Apa tempat tidur ini kurang besar untukmu?” Gama bukan bertanya. Tetapi ia menyindir.
“Maaf.”
Setelah mendengus kesal, Gama langsung kembali tidur. Ia memilih menjauhi Hera dengan berbaring miring di ujung tempat tidur. Hingga membuat istrinya itu menghela napas panjang.