bc

INFINITY

book_age16+
114
FOLLOW
1K
READ
twisted
bold
genius
ambitious
captain
male lead
non-hunman lead
high-tech world
special ability
alien contact
like
intro-logo
Blurb

Manusia adalah spesies yang hidup di bumi dengan rasa tamak, licik, dan arogan. Tidak ada kata cukup dalam kehidupan yang mereka jalankan.

Sifat buruk manusia tidak pernah berhenti meskipun spesies mereka terancam punah.

Di bagian selatan bumi, tanah yang dulunya terkenal subur dan indah tanpa kurang, tanah Indonesia, kini kering tiada kehidupan.

Sinar matahari yang sudah tak ramah lagi, memaksa manusia yang tersisa untuk hidup di bawah tanah yang lembab.

Suatu hari, ribuan alien datang menginvasi tanah Indonesia dan berhasil menghidupkan kembali tanah yang telah lama mati.

Sekali lagi, tamak, licik, dan arogan manusia tak ada habisnya. Mereka pun berusaha merebut kembali tanah milik nenek moyang dengan berbagai cara.

Salah satu senjata pamungkas manusia adalah projek penciptaan manusia super yang mereka sebut sebagai Pasukan INFINITY,

Pasukan Tanpa Batas.

.

Innovel Writing Contest——The Next BIG Name

Illustrator: Karen Vovolita Hanri

Copyright cover owned by Alissabet

chap-preview
Free preview
Chapter 1: MALFUNCTION
Aku bisa mendengar dengan sangat jelas suara mesin pemotong yang dapat kurasakan getarannya di bagian persendian lututku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi karena mataku tidak bisa terbuka sesuai dengan perintahku. Meskipun aku yakin, aku sepenuhnya tersadar saat ini. Namun, semua perintah yang kuberikan ke dalam otakku seakan-akan ditolak mentah-mentah dan membuatku tergeletak pasrah di atas alas besi yang datar. Aku berusaha menajamkan seluruh indraku seperti biasanya, namun yang berfungsi saat ini hanyalah telingaku. Beruntung aku bisa mendengar apapun yang sedang terjadi di dekatku, termasuk suara tetesan peluh orang-orang yang sedang mengelilingi tubuhku. Samar aku mendengar suara yang sangat ku kenal,”Subjek 888 masih dalam mode tidur, waktu kita tersisa lima belas menit!” Suara wanita yang sangat dekat denganku. Ah, mode tidur. Itulah kenapa aku tidak bisa menggunakan indraku yang lain terutama mataku. Meskipun begitu, sepertinya mereka lupa kalau telingaku tidak pernah tertidur. “Dia akan mengalami sengatan listrik sebentar lagi,” suara lain, seorang pria yang sepertinya sudah cukup berumur. Aku tidak tahu apa yang ia maksud. Yang aku tahu, sesuatu sedang mereka lakukan pada persendian lututku. Entah apalagi kali ini yang mereka ubah dari tubuhku. Mereka tidak pernah merasa cukup. “Dari skala 0 sampai 10, berapa rasa sakitnya?” suara wanita itu lagi, membuat tubuhku terasa lebih rileks setiap ia mengucapkan sesuatu. “11.” “AAAAAAAAAAHHHHHGHHH!!” “AAAAAAKHKKK!!!” Aku tidak bisa merasakan tubuh bagian bawahku, tubuhku rasanya seperti terpenggal menjadi dua. Aku tidak tahu apa yang telah mereka lakukan padaku, rasanya membuat otakku nyaris pecah saking sakitnya. Aku meronta-ronta berusaha membebaskan diriku dari kekangan rantai yang mengikatku ke atas tempatku berbaring saat ini. Berhasil, ku buka mataku. Cahaya yang amat sangat terang di atas tubuhku terasa membakar mataku seketika. Sakit. Aku meraung sampai tenggorokanku terasa sangat kering dan membuatku berujung terbatuk dan muntah. Mengeluarkan isi perutku yang sudah tercerna sempurna. Saat mataku sudah bisa beradaptasi dengan cahaya di ruangan yang amat sangat ku kenal itu, ku melihat tujuh orang berpakaian serba putih sedang berdiri menjaga jarak dari tempatku berada. Tidak. Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku dengan wajah cemas. Wanita itu. “Gilang, kamu pasti bisa menahannya,” ucap wanita itu dengan suara yang membuatku nyaman. Tangannya yang hangat mulai meraih tanganku dan menggenggamnya. Berhasil membuat rasa sakit luar biasa yang sedang ku alami sedikit berkurang. “AAAAAAGGHHH!” Aku masih berteriak kencang, tidak peduli meskipun air liurku menyembur kemana-mana. Sakit. Sakit. Aku bisa merasakan perubahan suhu pada tubuhku. Rasanya sungguh tidak nyaman. Aku bisa merasakan demam, namun di sisi lain aku pun merasa kedinginan dan menggigil. Aku tidak tahu apakah suhu tubuhku saat ini lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu tubuh normalku. Mata kiriku bereaksi dan seperti sedang menonton film, aku bisa melihat sebuah layar berukuran mini muncul di sana. WARNING! SYSTEM ERROR! Zinggggg.. Zingggg…. Suara alarm tiba-tiba keluar tepat dari lubang telingaku sendiri. Rasanya seperti alarm itu memang sengaja dipasang di dalam sana dan sedang berbunyi karena ada yang tidak beres. Iya, ada yang salah. Ku lihat wajah wanita itu semakin cemas dan keringatnya mulai mengucur deras dari pelipisnya. Detik berikutnya, sekali lagi, aku kehilangan kontrol atas tubuhku. . . Aku bisa mendengar orang-orang yang tadi menjaga jarak denganku mulai berkerumunan di sekitarku. Mereka melakukan hal-hal yang tidak bisa ku pastikan dengan mata tertutup. Meskipun panca indraku telah ditingkatkan, kalau semuanya dalam mode tidur yang mutlak, aku hanyalah sebuah rongsokan robot yang rusak. “Gilang, bertahanlah!” serunya. Suara itu menguatkanku, aku pun bisa tertidur dengan tenang setelah mendengarnya.  . . Tujuh hari setelah kejadian itu… “Pssttt, Gilang!” Seseorang berbisik dari jarak jauh, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Memanggil namaku. Tunggu, dari jauh? Ah, sepertinya aku sudah pulih. Perlahan ku buka kelopak mataku yang terasa ringan, mengerjap sebentar untuk terbiasa dengan cahaya di ruangan itu. Ruangan itu sudah berbeda dari ruangan yang sebelumnya. Aku tidak merasakan sakit lagi, segera ku sibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku untuk memeriksa apakah aku terpenggal menjadi dua atau tidak. “Fyuhhh..” Masih di sana, kedua kakiku, tidak ada yang berubah. Aku pun mencoba menggerakkannya dan semuanya normal. Aku tidak berubah jadi tribrid ataupun sejenisnya. Seketika aku teringat apa yang membuatku terbangun. Seseorang memanggilku. Aku pun dengan cepat bisa menemukan dimana ia bersembunyi menggunakan sistem radar mesin dan panas yang tertanam dalam tubuhku. Iya, mesin dan panas. Karena orang yang memanggilku adalah orang yang sama denganku. Setengah mesin dan setengah manusia. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku penasaran ke arah kegelapan di balik lemari, tempatnya bersembunyi. Subjek 123, seorang laki-laki yang seusia denganku muncul dari kegelapan dan memamerkan sederet gigi putihnya ke arahku. Ia pun memiliki nama, Toni. “Anak-anak mengadakan pesta, kau harus ikut!” ia berseru dengan suara tertahan. Saat ia mengatakan anak-anak, ia sedang berbicara tentang orang-orang yang sama sepertiku dan dirinya. Anak-anak berusia 16 tahun yang sengaja dilahirkan untuk kepentingan para orang dewasa.  Anak-anak yang lahir bukan karena takdir Tuhan, tapi takdir yang mereka sendiri ciptakan, manusia. “Mereka barusaja memotong tubuhku jadi dua dan sekarang kau sudah mengajakku pergi ke pesta?” Toni menatapku dengan alis terangkat, mengamati tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian mengangguk. “Jangan mengada-ada, tubuhmu masih utuh.” “Ayo!” Toni memiliki postur badan yang lebih tinggi dan berisi daripada aku, saat tangan kuatnya yang berotot menarikku, aku pun langsung terhuyung turun dari tempat tidurku. Mau tak mau, aku pun ikut berlari mengimbangi langkahnya. Saat aku berlari, aku bisa merasakan kakiku terasa lebih ringan daripada yang sebelumnya. Menyadari hal itu, aku pun segera memeriksa kembali bagian kakiku apakah masih di sana ataukah tertinggal di ruangan tadi. Karena bagaiamanapun juga, aku merasa tidak sedang berlari melainkan terbang rendah dengan kecepatan yang lebih cepat dari Toni. Toni tampak tercengang ketika melihatku mendahuluinya, aku tersenyum layaknya remaja normal yang suka pamer. Toni yang merasa tersaingi pun berusaha membalapku, namun ia tidak bisa melampauiku kali ini. Aku tertawa puas. Apapun yang telah manusia-manusia itu lakukan padaku kemarin, sepertinya tidak terlalu buruk untukku. Tempat diadakan pesta oleh orang-orang sejenisku selalu sama, tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang dewasa. Waktu pengadaannya pun selalu sama, yaitu waktu dimana orang-orang dewasa masih tertidur. Aku menghentikan langkah kakiku saat sudah sampai di lokasi tujuan, beberapa detik berikutnya, Toni pun muncul dengan nafas tersengal. “Apa mereka mengganti kakimu dengan kaki binatang tercepat?” tanyanya penasaran. “Mereka memotong tubuhku jadi dua,” jawabku meyakinkan. Meskipun tercipta dari metode yang sama, kekuatan yang kami miliki bervariasi tergantung dari gen yang berhasil teraktivasi dan berekspresi dari tubuh masing-masing. Dari seratus orang yang sama denganku, hanya aku yang paling beruntung. Ya, beruntung untuk mendapatkan seluruh gen yang telah disisipkan ke dalam tubuhku menjelang kelahiranku bisa aktif dan berekspresi. Membuatku lebih unggul dibandingkan dengan anak lainnya. Tapi, keunggulan itu membuatku menjadi satu-satunya bahan penyiksaan orang-orang dewasa yang tak pernah merasa puas dengan ciptaannya. “Mereka sudah memulai pestanya,” ujar Toni sambil berjalan masuk mendahuluiku. Aku pun berjalan di belakangnya. Toni adalah satu-satunya orang sejenisku yang mau berteman denganku, sementara yang lainnya kebanyakan takut padaku. Atau mungkin sebenarnya bukan takut, tapi iri padaku. “Hai semua, kita sudah lengkap!” seru Toni, berhasil menyita perhatian orang-orang di sekitar yang sedang sibuk menikmati minuman berwarna-warni yang sepertinya mengandung zat fluorescent yang dapat memancar. Sesuai dugaanku, aku tidak diundang. Orang-orang melemparkan tatapan jijik, risih, atau bahkan muak ke arahku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menikmati pesta mereka seperti sebelum aku datang. “Pesta adalah ide terburuk yang pernah ada,” ucapku. Toni menyodorkan segelas minuman berwarna hijau tosca kepadaku, memaksaku untuk meminumnya namun aku tidak melakukannya. Sampai seseorang yang lebih memancarkan cahaya berjalan di hadapanku. Subjek 8. “Toni, apa yang kau lakukan?” ia memarahi Toni dengan bola matanya yang bulat dan indah. Meskipun aku tahu alasannya memarahi Toni adalah karena mengundangku, aku tetap memberikan senyuman terbaikku pada gadis itu. “Hai, Amel!” sapaku sambil mengangkat gelas minuman yang belum ku cicipi rasanya. Amel, satu-satunya anak dengan nomer sampel Subjek 1 sampai 100 yang berhasil dilahirkan. Bukankah itu artinya ia juga spesial? Tapi entah kenapa, hanya aku yang mendapatkan deskriminasi dari teman-temanku, atau, bisakah kusebut saudara? Aku merasa keberadaan Amel membuat hormon laki-lakiku aktif dan berkembang. Aku tidak tahu gen apa yang telah manusia-manusia itu sisipkan ke dalam tubuh indahnya. Yang aku tahu, setiap ada di dekatnya, aku bisa mencium aroma atraktan yang seolah-olah menarikku untuk selalu berjalan mendekatinya. “Amel, apa kamu tambah tinggi?” godaku. Gadis itu memutar bola mata indahnya, tampak sangat terganggu dengan tingkahku. Namun ia tidak mengabaikanku ataupun menganggapku tidak pernah ada, seperti yang dilakukan oleh anak-anak lainnya. “Gilang, apa yang kau lakukan di sini?” “Toni menyeretku,” jawabku jujur. Amel menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, “Kau harus pergi sekarang juga! Kalau mereka mencarimu, mereka akan tahu tempat persembunyian kami di sini.” “Baiklah, aku juga tidak suka dengan pesta ini. Apa kamu mau pergi denganku?” Aku mengulurkan tangan kananku yang bersih ke hadapannya. Ia hanya menatapnya sekilas kemudian melotot. “Aku pergi sekarang!” Putusku, tidak mau membuatnya semakin kesal. Gelas yang ada di tanganku, aku meminum isinya dalam sekali teguk. Rasanya sungguh asam. Membuat lidahku yang sangat sensitif terasa seperti mengkerut. Aku menggoyangkan kepalaku yang terkena efek samping minuman itu sebelum akhirnya bisa fokus kembali. “Suatu hari nanti, kamu pasti membutuhkanku,” ucapku pada Amel. Seperti sebuah ancaman, ingin sekali-kali mengancam gadis yang sangat atraktif itu. “Kau! Kau bisa nikmati pestamu! Aku akan kembali ke tempat tidurku!” ucapku pada Toni yang hanya memasang wajah menyesal. Tanpa menunggu orang lain mencemooh dan mengusirku, aku pun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat yang seharusnya tak pernah ku datangi itu. Aku tidak lari, ku nikmati udara lembab dan jalanan yang kosong dengan pencahayaan yang remang-remang di sekitarku dengan langkah kaki santai. Sesekali ku angkat wajahku tinggi-tinggi untuk menatap langit yang gelap dan penuh misteri. Tidak tahu ada apa di atas sana, kenapa begitu gelap. Sekilas ingatan tentang masa kecilku kembali berputar dalam kepalaku. Masa kecilku bersama teman-teman, tidak, saudara-saudaraku yang terlahir di hari yang sama meskipun warna kami berbeda-beda. Ingatan pertama yang ku miliki adalah suara tangisan bayi yang membuat telingaku terasa nyaris pecah meskipun penutup lubang telinga sedang kupakai, setiap hari berulang seperti itu. Membuatku mengalami kesulitan tidur dan akhirnya mereka memisahkan tempat tidurku. Sejak mereka memisahkan tempat tidurku dari yang lainnya, sejak saat itulah mereka memperlakukanku secara berbeda dari yang lainnya. Tidak ku ketahui alasannya saat itu, sampai aku tumbuh menjadi seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun. Begitulah ingatan yang ku miliki, melompat-lompat seperti puzzle yang kepingannya ada yang hilang. Aku tidak tahu apakah itu karena orang dewasa sengaja menghapusnya atau karena memang ingatanku payah. Yang jelas, mereka, orang dewasa itu, sangat mengerikan. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, dan mendapatkannya dengan mudah. Kepalaku tiba-tiba terasa berputar dan sakit saat aku berusaha semakin dalam mengingat kembali ingatan masa laluku. Ingatan kenapa teman-temanku membenciku, menatapku dengan jijik, dan tidak mau menerima keberadaanku bersama mereka. Aku memegangi kepalaku yang semakin sakit, rasanya ada yang tidak beres di dalam otakku. Aku mengerang. Sakit. Berat, kepalaku terasa berat, namun aku masih ingin mengingatnya lebih jauh. Ah- aku melihatnya. “Subjek 888, kenapa kamu menangis?” -Amel. Itu Amel kecil, aku sangat ingat potongan rambutnya. “Jangan menangis.” -Amel? Apa itu kenyataan atau hanya halusinasi yang aku sendiri ciptakan? “Semuanya akan baik-baik saja,” Amel berjalan menghampiriku, tatapan matanya iba. Tidak ada tatapan benci seperti sekarang. Ia mengulurkan kedua tangan mungilnya kehadapanku. Ah-apa itu yang ia pakai? Baju lusuh? Aku tidak ingat kita pernah memakai pakaian yang lusuh seperti itu. “Subjek 888, apa mereka membuatmu sakit?” tanyanya, suaranya yang mungil membuatku gemas. Ia sudah cantik sejak anak-anak. Aku tidak tahu siapa orangtuanya, kalau aku tau, mungkin aku akan mengucapkan terima kasih pada mereka karena telah memberikan skin cells berkualitas tinggi untuk penciptaan Amel. Aku yang saat itu, bicaralah sesuatu! Katakan padanya kalau kau menyukainya. Ayolah! “AAGHHH…” Sakit.. Aku tidak tahu apa salahnya mengingat masa lalu? Apakah itu tabu? Kepalaku terasa sangat sakit hingga aku terhuyung dan berlutut di atas tanah yang keras. Kedua tanganku menjambak rambutku yang ternyata sudah panjang, entah kapan terakhir kalinya wanita itu memangkas rambutku. Sakit.. Aku menghantamkan kepalaku yang se-keras baja ke atas tanah. Membenturkannya di sana berkali-kali, berharap bisa meringankan rasa sakitku. Sakit… “AAAAAAGGHHHH!” Aku tidak peduli meskipun teriakanku bisa membangunkan orang dewasa yang mungkin sedang terlelap di sekitarku. Aku tidak peduli lagi pada mereka. “AAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!” Denyut di kepalaku semakin menjadi-jadi. Rasanya sangat sakit seperti sedang digergaji dari dalam sana. Apa otakku sedang memprogram dirinya untuk self-destruction? ZINGGGGGGGGGGGGG ZINGGGGGGGGGGG “AAAAAAGHHHHH!” Lagi. Suara alarm itu membuatku benar-benar muak. Andai bisa, sudah ku rogoh lubang telingaku untuk melepaskan alarm itu. ZINGGGGGGGGG Beep… Sebuah layar mini keluar dari bola mata sebelah kiriku. Kali ini layar tersebut berwarna merah, menandakan sesuatu yang buruk sedang terjadi padaku. Beeep… WARNING! SUBJEK 888 SUBJECT MALFUNCTION,   Beepp… SYSTEM REBOOT!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
12.0K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

JANUARI

read
58.6K
bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
100.9K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook