Chapter 9: HUKUMAN

2146 Words
            Zinggg…!             Zingg…..! DUEL: INVALID CODE WINNER: RAYHAN             Aku tercengang melihat sebuah papan berukuran sangat besar yang tiba-tiba muncul di hadapanku setelah bunyi alarm itu berhenti berdering. Apa?             Aku tidak mengerti kenapa Rayhan yang memenangkan duel itu, padahal sudah sangat jelas skor siapa yang lebih unggul. Tunggu- apa itu karena sistem arena rusak? Sepertinya sistemnya rusak karena tidak mampu melakukan perhitungan yang sesuai untuk serangan pamungkasku? Sial-             Untuk apa aku memusnahkan Rayhan kalau hasil akhirnya seperti ini?             Rasa emosi berkecamuk dalam batinku. Tinjuku terkepal rapat sampai aku merasa sedang menyakiti telapak tanganku sendiri. Sial- aku sudah kehabisan sisa energiku. Saat aku tidak menyadarinya, aku pun roboh ke belakang, jatuh ke atas lantai dengan bunyi debum yang keras.             Ku tatap langit biru aneh itu, tidak ada yang berubah di atas sana. Sial-, bagaimana aku bisa kalah untuk duel pertamaku?             Glitch..             Aku amati ada perubahan yang kacau di atas langit itu. Langit yang sedang ku tatap. Tak semulus tadi, aku bisa melihat munculnya garis-garis aneh mirip kaca yang pecah di atas sana. Sepertinya arena duel mengalami kerusakan. Sampai ada cahaya dari atas sana. Cahaya itu datang secara tiba-tiba dan kecepatannya melebihi kecepatan kemampuan adaptasi mataku, sehingga aku pun tak sempat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-             Glitch…             Aku bisa merasakan kedua kakiku menapak sesuatu yang padat. Sudah tidak ada lagi rasa sakit dalam tubuhku yang satu detik yang lalu bahkan membuatku tidak bisa bergerak sedikitpun. Perih di wajahku maupun ngilu di bahuku pun sudah sirna. Perlahan ku buka kembali mataku dan betapa terkejutnya aku saat melihat bayangan pertama yang ku tangkap di hadapanku.             Rayhan mengadu kedua alisnya, tampak kesal namun juga bingung di waktu yang bersamaan. Ia pun terkejut saat melihatku berdiri di hadapannya. Detik berikutnya, bayangan muncul di antara kami, dari bayangan kemudian garis bayangan itu semakin tegas, entah darimana asalnya dan apa yang sebenarnya terjadi, Amel berdiri di sana, kedua tangannya terlipat di depan d**a, sebelah alisnya terangkat saat menatapku.             “Aku sudah bilang, jangan ada yang terbunuh,” ujar gadis itu sambil mendaratkan jari telunjuknya ke bagian dadaku dan menekannya di sana.             “Apa yang terjadi?” aku masih tidak mengerti dengan perubahan suasana itu. Aku dan yang lain, sudah kembali di tempat pesta dengan posisi yang tidak berubah sedikitpun dari terakhir kali aku mengingatnya. Bahkan Toni masih mengangkat tangan kirinya ke atas udara sebelum aku melirik ke arahnya dan ia pun menurunkan tangannya itu.             “Aku kira aku sudah membunuhnya,” jelasku, berusaha menyembunyikan rasa kecewaku saat melihat Rayhan berdiri di hadapanku, masih di sana, tidak terluka sedikitpun.             “Kau kira Professor Minami membuat arena duel untuk kalian saling bunuh? Jangan bercanda,” Amel kembali geram. Kali ini ia berbalik memunggungiku dan menghadap ke arah Rayhan. Laki-laki itu tersenyum miring saat mendapatinya.             “Jangan salah paham, aku hanya memeriksa kondisimu,” ujar Amel sambil menepis tangan besar Rayhan yang sudah bergerak untuk membelai rambut gadis itu tanpa ijin.             Ku perhatikan tindakan Amel. Gadis itu mulai menggunakan kedua tangannya untuk memegang bagian-bagian tubuh Rayhan dari kepala, bahu, perut, paha, kemudian yang terakhir adalah betis. Selanjutnya, ia tampak membaca sistem cek yang ditampilkan oleh layar mini yang tentu saja hanya bisa ia lihat hasilnya.             “Sepertinya kau baik-baik saja,” pungkasnya.             Amel kembali memutar tubuhnya dan kali ini ia melakukan hal yang sama padaku dan mengucapkan hal yang sama juga setelahnya.             “Apa itu tadi?” tanyaku masih penasaran.             “Itu adalah sistem arena buatan, alat yang ada di tangan Toni. Arena itu ada di dalamnya,” jelas Amel, kali ini tangan panjangnya menarik Toni supaya mendekat.             “Yang benar saja, kita masuk ke benda kecil itu?” aku meragukan penjelasan Amel kali ini, membuat gadis itu mendengus kesal.             “Saat Toni mengaktifkan alat ini, sinyal artificial intelligence atau yang kita kenal sebagai A.I. milik kita akan tertarik oleh gaya gravitasi buatan ke dalam alat ini. Membuat tubuh asli kita seketika beralih dalam mode tidur mutlak. Makanya kalian tidak berpindah posisi sedikitpun saat ditransfer kembali ke dunia nyata.” Amel menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan,             “Arena tadi ada di dunia virtual yang terbatas. Dan tubuh kalian yang ada di dalam sana adalah tubuh virtual kalian yang hanya berpikir menggunakan sistem A.I., di dalam sana tadi, kalian sepenuhnya adalah robot. Dan kalau kau mau tanya kenapa Rayhan masih ada di sini sekarang?-”             “Karena aku membunuh tubuh virtualnya saja,” aku menyela dan gadis itu mengangguk. Merasa puas karena aku bisa menangkap penjelasannya dengan cepat.             “Kenapa kau tidak menjelaskan ini di awal?” tanyaku, masih kecewa dengan kenyataan kalau semua kejadian itu hanya berada di dunia virtual.             “Kalau aku mengatakannya di awal, duel uji coba di arena baru itu pasti tidak seru,” Amel menepuk pundakku, tatapan matanya tajam mengisyaratkan dia sudah mengatur semua itu. Pantas saja dia bisa menjawabnya dengan mudah tanpa terlihat berpikir sedikitpun.             “Sial- kenapa rasanya benar-benar nyata? Kau tau? Aku bisa merasakan simulasi kematianku sendiri, rasanya sangat mengerikan!” Rayhan mengacungkan jari telunjuknya ke depan hidungku. Dahinya berkerut. Aku mengira ia akan kembali menantangku, tapi sekilas aku bisa melihat tubuh besarnya itu gemetar. Meskipun hanya sedikit gerakannya, orang lain mungkin tidak bisa melihatnya, namun aku bisa mengetahuinya dengan jelas.             Aku tersenyum, puas. Meskipun aku gagal menghilangkan keberadaan orang menyebalkan itu, setidaknya aku berhasil memberinya pelajaran hidup, simulasi kematian yang mengenaskan. Aku rasa untuk sementara waktu, ia akan trauma karenanya.             “Kau merobek wajah tampanku!” balasku sambil mendesis. Rayhan tampak terkejut dengan cara bicaraku yang mengintimidasi.             “Tentu saja itu nyata untuk sisi robot kalian, bagaimanapun juga A.I itu yang membuat kalian menjadi setengah robot,” jelas Amel. Bergantian menatap mataku dan mata Rayhan sembari kembali mendorong Rayhan supaya berjarak dariku.             “Kau tahu apa yang terjadi sekarang?”             “Apa?” aku tidak sengaja mengucapkannya bersamaan dengan Rayhan.             “Sistem A.I milikmu mengalami kerusakan berat dan sedang ditangani oleh Para Pencipta karena tubuh virtualnya yang hancur. Butuh waktu sedikit lebih lama untuk membuat tubuh virtual baru untukmu lagi,” penjelasan Amel berhasil membuat Rayhan bergidik. Ia tampak tak percaya, namun di sisi lain, ia sangat tahu kalau Amel tidak mungkin berbicara omong kosong hanya untuk menakut-nakutinya.             “Jadi sekarang, Rayhan hanya manusia?” tanyaku penasaran, sekali lagi suara bersemangatku tak mampu ku sembunyikan. Rayhan mendengus, namun aku menikmatinya.             “Secara teknis, iya, A.I Rayhan sedang tidak kembali ke otaknya sekarang. Tapi, meskipun begitu, ia tetap humanbot, beberapa bagian tubuhnya yang telah dimodifikasi menggunakan implan khusus itu masih terbuat dari mesin. Hanya saja ia tidak mampu menggunakannya untuk beberapa waktu,” jelas Amel dengan gamblang. Ia melemparkan tatapan iba pada Rayhan kemudian berbalik menatap mataku dengan tajam. Sepertinya ia akan memarahiku.             “Dan, Kau! Ikut aku untuk menerima hukumanmu!” Amel memukul dadaku dengan keras tanpa ampun. Membuatku tersedak. Apa maunya?             “Aku akan membantumu,” Toni menyela. Aku tahu, dia berusaha menyelamatkanku dari gadis itu. Aku tersenyum kepadanya, ingin sekali berterima kasih kalau saja Amel tidak kembali menatapku dengan sinis.             “Tidak! Aku bisa melakukannya sendiri. Kalau kau membantuku, kau hanya akan menghalangiku,” desisnya. Meskipun ia sedang bicara pada Toni, matanya tetap ke arahku. Aku menelan ludah melihat tampang seriusnya yang tanpa ampun.             “Tunggu- kenapa aku harus dihukum?” protesku masih belum bisa menerimanya.             “Sudah jelas, bukan? Kau melanggar peraturan, karena aksi sok hebatmu itu, Para Pencipta harus lembur untuk memperbaiki A.I milik Rayhan.”             Amel, ia sudah tidak menerima bantahan lagi. Gadis itu mencengkram lengan kananku dan menyeretku berjalan. Orang-orang yang daritadi hanya menyimak pun dengan santai membukakan jalan untuk Amel dan aku. Aku tidak tahu apa yang akan aku terima sebagai hukuman. Dari ekspresinya, aku tahu, sepertinya hukuman ini tidak akan mudah. Aku harus bersiap.             “Aku bisa jalan sendiri dan mengikutimu,” ujarku ketika menyadari kalau Amel masih menyeretku meskipun sudah meninggalkan tempat pesta sejauh sepuluh meter. Ia pun menyetujui ideku dan menghempaskan tanganku kuat-kuat alih-alih melepasnya dengan cara yang normal.             Aku berjalan mengikutinya tanpa membuka mulutku. Imajinasi tentang hukuman yang akan aku terima membuatku nyaris gila. Apa yang kira-kira akan ia lakukan padaku? Mengingat dirinya yang sangat memuja Minami itu, sepertinya hukumannya sudah mereka buat matang-matang dan layak untuk dikatakan sebagai sebuah hukuman. Kali ini, aku sedikit menyesal karena menebas tubuh Rayhan menjadi dua dan membakarnya hidup-hidup meskipun sebenarnya ia sangat pantas mendapatkan itu.             Amel membawaku ke dalam bangunan pusat, bukan tempat bunker-bunker yang kami tinggali. Tentu saja, lagian kenapa aku berpikir kalau ia akan membawaku ke bunker?             Apa dia akan membuatku melawan alien mengerikan lagi? Atau yang lebih buruk, mengikatku kemudian membuatku menjadi makanan untuk alien itu? Tunggu- tidak mungkin seperti itu, itu juga bisa membunuhku kalau ia melakukannya. Tapi, biasanya hukuman yang diberikan atas kesalahan haruslah setimpal, bukan? Kalau aku menghilangkan tubuh virtual Rayhan, apakah itu artinya mereka akan menghilangkan tubuhku juga dengan memberikan simulasi kematian mengenaskan? Sial- membayangkannya saja sudah membuatku mual.             Sampai di sebuah ruangan berukuran kecil, luasnya tidak lebih dari tiga meter. Seperti sebuah petak kecil yang kosong bagiku, selain satu kursi besi dengan posisi sedikit merebahkan diri yang terletak di tengah-tengahnya, tidak ada hal lain yang ku temukan di ruangan itu.             “Selamat datang di ruang penghakiman,” ujar Amel, ia tersenyum miring. Aku merinding, sepertinya ia sangat menikmati tugasnya itu.             “Tunggu- apa kau yang akan menghukumku?” tanyaku mencoba mengulur waktu.             “Iya, sudah jelas, bukan? Aku satu-satunya yang berada di sini denganmu,” gadis itu mengangguk, tangannya menarik rantai pengait dari atas kursi itu kemudian bunyi beep keluar dari sana. Tidak ada layar, tidak ada papan digital transparan. Hanya kursi kosong yang terlihat biasa saja.             “Apa kau menyuruhku untuk naik ke kursi itu?” tanyaku sekali lagi. Berusaha menyembunyikan rasa tidak siapku untuk menerima hukuman itu. Amel mengangguk, mengulurkan tangannya seakan-akan sedang mempersilakanku.             “Tunggu- kenapa aku yang harus dihukum, Rayhan yang menantangku duel, bukan? Dia yang memprovokasiku, harusnya dia yang mendapat hukuman!” celotehku, masih berusaha mendapatkan keadilan yang aku sendiri buat tolak ukurnya dalam otakku. Amel tersenyum, senyumannya membuat tengkukku berdesir, sangat manis namun mematikan.             “Pembunuh rekan sendiri sepertimu tidak pantas merengek, Kapten.” Amel menekankan panggilan kapten yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.             Akhirnya, mau tidak mau, aku pun melepaskan sepatuku dan merangkak ke atas kursi besi itu. Menatap Amel untuk yang kesekian kalinya, berharap ia akan berubah pikiran dan membatalkan hukuman kekanak-kanakan itu. Tapi sekali lagi, usaha apapun yang telah ku lakukan tak berhasil meluluhkan hatinya sedikitpun.             Amel mengaitkan rantai yang tadi ia tarik ke tubuhku. Melilitku dari bahu hingga perut dengan kencang dan membuatku kesulitan untuk sekedar bernafas. Di bagian kakiku yang sedikit terlipat ke bawah, ia melilitkan rantai yang berbeda namun sama kencangnya. Aku benar-benar dibuat tidak bisa bergerak.             Saat ku tatap langit-langit ruangan itu. Ku lihat sesuatu menggantung di atas wajahku, sebuah kotak berukuran dua meter yang ku curigai berisi monster alien yang akan memakan sebagian tubuhku yang terikat tak berdaya ini. Sial- aku sungguh tak pantas menerima semua ini.             “Apa kau siap?” tanya Amel, namun ia tidak menunggu jawabanku, “Aku tidak peduli kalau kau siap atau tidak, aku tetap akan melakukannya.”             Amel mengangkat tangan kirinya yang ternyata memiliki alat yang sepertinya sama dengan alat yang melingkar di tangan Toni. Tunggu- kenapa mereka berdua memilikinya dan aku tidak? Padahal alat itu sangat keren menurutku.             Glitch..             Cahaya itu lagi. Seakan-akan tidak memberiku waktu sedetik pun untuk bersiap, cahaya itu membuat mataku buta seketika. Rasanya seperti terbakar dan detik berikutnya berhasil menyita fungsi indra penglihatanku. Aku tidak bisa melihat apapun.             .             .             Saat aku membuka kembali mataku. Aku mengerjap karena sepertinya tempatku berdiri kali ini memiliki pencahayaan yang cukup minim. Gelap, kemudian semuanya berubah warna menjadi warna-warna tajam menyilaukan. Infrared vision. Aku tahu, mataku akan beralih ke fungsi penglihatan inframerah saat cahaya yang masuk ke dalamnya sangat minim. Dan di sanalah aku. Tempat itu seperti sebuah lorong yang kosong namun sangat lembab. Aku bisa merasakan kaki telanjangku menginjak sesuatu yang berair. Saat aku memeriksanya, sepertinya itu hanyalah sebuah kubangan air. Sial- harusnya aku tidak melepaskan sepatuku tadi. Kalau saja aku setidaknya sekali saja tidak mematuhi ucapan gadis itu. Saat ku tajamkan telingaku, samar-samar aku bisa mendengar suara tetesan air yang sangat lemah. Sepertinya aku tahu darimana asal tetesan air itu. Meskipun begitu, aku tetap berjalan menyusuri lorong itu dalam diam. Dalam hatiku, aku terus menerus mengatakan kalau semua ini tidak nyata dan tidak akan bisa benar-benar membuatku sakit. Itu adalah keyakinanku, karena bagaimanapun juga, tubuhku masih berada di sana, terikat dengan rantai di atas kursi yang dingin. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Dan pertanyaan yang paling penting, sampai kapan aku berada di sini? Gadis itu lupa memberitahu durasi hukuman yang aku terima dan aku pun mengutuknya dalam otakku. Sial- sial- dari awal seharusnya aku tidak mendapatkan hukuman ini. Buang-buang waktuku saja. Ssshhhhhhhhhhh… Hembusan angin. Entah darimana asalnya, hembusan angin dingin itu tiba-tiba melewatiku dan membuatku merinding seketika. Saat kembali ku pertajam telingaku sembari menutup kedua mataku, sayup-sayup aku bisa mendengar suaranya—
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD