TIDAK SESUAI

2136 Words
Maya terdiam di ruangannya, awalnya ia tak menganggap serius apa yang ia lakukan pada Fariza. Namun, respon Akbar kemarin setelah Maya sengaja mempermalukan Fariza di depan Akbar membuat Maya benar-benar terganggu dan tidak bisa tidur semalaman. “Kamu sengaja?” tanya Akbar setelah melihat Fariza menyapa mereka berdua lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja. Jujur saja, Maya tak mengira jika Fariza berani menyapanya padahal dalam bayangannya ia menginginkan Fariza mungkin akan terluka melihat suaminya di peluk wanita lain, ditambah ia mengenal siapa wanita yang memeluknya. “Iya, kenapa kamu marah?” tanya Maya mencoba menantang Akbar yang sangat jelas dari sorot matanya laki-laki itu emosi. “Aku peringatkan sama kamu, Maya. Kita tetap bisa bersama tapi jangan pernah ganggu Fariza.” Ancam Akbar dengan kilatan api yang membara membuat Maya terpaku tak bisa berkutik. Maya merenungkan apa yang sudah dia lakukan hanya akrena cinta butanya, Fariza yang mempunyai skill dan kompeten dalam bekerja harus menerima getah dari Maya. Maya tanpa pikir panjang merekomendasikan pemecatan karyawan pada bulan ini pada atasan dengan rekayasa kinerja yang buruk atas dasar pemikirannya. Maya menatap keluar jendela ruangannya yang langsung tertuju pada kantor karyawannya termasuk Fariza yang kini berkemas barang-barangnya tanpa ia rencanakan. Perempuan itu tampak biasa meski ia mendapat ketidakadilan dari manager perusahaan. “Lo kenapa sih Din?” gertak Fariza kesal melihat Dini yang tampak sedih dan tidak menyangka jika kemarin malam adalah terakhir kalinya ia habiskan waktu selarut itu dengan Fariza. “Za, bu Maya nggak adil banget.” Rengek Dini dengan linangan air mata yang ia biarkan luruh membasahi pipinya. “Udah deh stop Din!” gertak Fariza mulai tambah kesal melihat Dini yang bingung sendiri padahal Fariza yang dipecat begitu saja masih tegar. Ddrtttt…ddrttt… Wisnu is calling… Fariza mengabaikannya dan segera menonaktifkan ponselnya, ini bukan saatnya menanggapi panggilan suara orang lain. Padahal Fariza mengharapkan Akbar menghubunginya atau bagaimanalah. Tapi Fariza berubah pikiran, ia mungkin bisa meminta tolong Wisnu untuk membantunya berkemas dan membawa seluruh barang pekerjaannya ke rumah Adi, ayahnya. Akhirnya Fariza pun mengetikkan beberapa kalimat dan menekan icon pesawat kertas pada kontak Wisnu. Fariza: bisa bantu aku nggak Nu? Wisnu: okey, aku segera kesana. Fariza pun segera mengangkat satu persatu box yang berisikan dokumen-dokumen pentingnya. Menaruhnya di bagasi mobil, tanpa disadari barangnya cukup banyak juga. Sebenarnya, ia bisa mengangkutnya sendiri tapi pemikirannya dangkal. Ia merasa ini tidak adil, hanya karena suaminya ia bisa kehilangan pekerjaan. Dalam bayangan Fariza, ia mungkin bisa menanggung kebutuhannya sendiri tanpa meminta uang Akbar yang baru saja kemarin lelaki itu mengatakan jika alasan ia menikah dengan Fariza karena tidak ingin kehilangan saham. Jadi, Fariza yakin suatu hari nanti akan tiba dimana ia akan diceraikan oleh Akbar. “Lama nunggunya?” tanya Wisnu yang entah sejak kapan sampai di parkiran basement dan masuk mobil Fariza begitu saja. “Kamu mau kemana banyak banget barang kamu?” tanya Wisnu tak sengaja melihat barang-barang yang terletak di kursi penumpang belakang. “Aku di pecat!” ucapan pendek Fariza sukses membuat Wisnu terdiam sejenak mencerna maksud ucapan mantan kekasihnya itu. “Apa? siapa yang memecat kamu?” tanya Wisnu tak percaya begitu saja mendengar ucapan Fariza. “Maya, pacar presdir kamu itu!” tandas Fariza kesal. Tak bisa dipungkiri, Fariza kesal bukan main. Ternyata Maya selain tak tahu malu juga pemikirannya pendek dan picik, tidak bisa dewasa dan professional dalam bekerja. Fariza sangat dendam padahal hanya sekedar mengingat wajahnya. Wisnu tersulut emosi hampir saja ia membuka kaca mobil begitu matanya melihat Maya sedang berjalan menuju mobilnya. Namun berhasil Fariza cegah begitu perempuan itu menahan lengan Wisnu agar tetap di dalam. “Nu, aku nyuruh kamu kesini karena aku butuh bantuan kamu. Bukan malah memperkeruh suasana!”tegas Fariza kemudian segera tancap gas meninggalkan perusahaan yang telah lama tempatnya bernaung dan pelarian ketika rumah tak lagi menjadi tempat paling nyaman. “ Maaf Za, jujur saja aku nggak nyangka bu Maya berhijab dan aku pikir…” “Nggak ada isi hati orang jadi jangan protes penampilannya.” Potong Fariza meski ia bukan seorang wanita berhijab tapi bagaimanapun Fariza berprinsip untuk tidak menilai seseorang dari penampilannya. “Ini kita mau kemana?” tanya Wisnu panic, ia hafal kemana Fariza mengemudikan mobilnya. Sangat jelas, Fariza menuju rumah orang tuanya, memang tidak salah hanya saja kesalahan besar jika ia kesana bukan dengan Akbar melainkan Wisnu mantan kekasihnya. Fariza benar-benar diluar kendali, resiko seperti apapun nantinya akan ia terima. “Nggak! Za. Kamu nggak boleh begini. Nanti kamu akan dimarahi habis-habisan sama ayah kamu.” Ucap Wisnu memperingatkan agar Fariza tidak gegabah mengambil keputusan ketika dirinya terluka. “Kamu bilang selalu mau bantu aku kan Nu?” tanya Fariza mencoba mengorek-ngorek janji Wisnu yang akan tetap membantu Fariza dalam keadaan apapun. “Iya, tapi maksud aku bukan seperti ini.” Bantah Wisnu, ini benar-benar salah besar. Sampai di halaman rumah Fariza, Adi yang tadinya tersenyum sumringah begitu mobil yang snagat familiar baginya terparkir di hadapannya. Namun, senyumnya hilang begitu penumpang mobil dan menampilkan wajah Wisnu yang sedang berselimutkan rasa getir memenuhi seisi otaknya. “Fariza!” panggil Adi sangat dingin pada Fariza yang justru tampak tidak menghiraukannnya. Adi melangkahkan kakinya menghampiri Fariza dengan langkah lebarnya, namun berhenti begitu Fariza dan Wisnu mengeluarkan beberapa barang di bagasi mobil dan kursi penumpang. Adi sangat tahu barang-barang apa saja yang kini tertata di hadapannya. Wisnu tahu langkah apa yang akan ia ambil, begitu barang semua keluar dan ia bawa sampai masuk ruang tamu rumah itu. Wisnu pun tampak bingung dan gelisah untuk mengatakan jika ia pamit mengantar Fariza. “Wisnu, saya mohon sama kamu…” “Iya, Tante saya pamit dulu. Om, Tante.” Potong Wisnu begitu Resti menyadari keberadaannya. Adi melengos tak mau menanggapi Wisnu, bukan ia benci hanya saja ia malu dengan rekan kerjanya Adam jika ia mengetahui, menantunya justru masih berjalan dengan laki-laki lain selain Akbar. “Fariza, jelasin maksud kamu apa?” titah Adi tampak bersitegang menatap Fariza yang dengan jelas jika perempuan itu tengah menghindari kontak mata dengan kedua orang tuanya. “Apa? Ayah? Fariza harus jelasin bagian mananya?” tanya Fariza mulai menitikkan air mata kesal karena ayahnya tidak menanyakan secara baik-baik saja. Fariza menghapus air matanya kasar menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Sarah dan Mona yang melihat Fariza tampak kesal hanya diam tidak berani berkomentar yang tidak-tidak. Resti menatap sendu, anak tirinya tampak memendam sesuatu yang berat terlihat dari sorot matanya yang tak bisa membohongi jika ia terluka. Resti memilih menyusul Fariza yang mungkin mengunci pintu kamarnya. Fariza selalu tak bisa mengatakan dengan benar apa yang terjadi jika ia sedang kesal atau terluka. Resti tidak hanya satu tahun dua tahun hidup dengan anak tirinya, jadi tak heran jika ia begitu paham sosok seperti apakah Fariza. Tok…tok… Resti mengetuk pelan, pintu kamar Fariza yang dari sela-sela pintunya tampaknya Fariza tidak menyalakan lampu kamarnya. Tak berselang lama, terdengar Fariza membuka kamarnya yang terkunci dari dalam. “Fariza bunda masuk ya!” izin Resti kemudian ia masuk dan mendapati Fariza yang tengah duduk termenung menatap pemandangan kota Jakarta dari balkon kamarnya. Resti yang sudah duduk di samping anak perempuannya yang kini justru sedang melamun, entah apa yang membuatnya sampai terpukul seperti itu. “Ayah marah sama Fariza, Bunda?” Tanya Fariza tanpa mengalihkan pandangan kosongnya untuk sekedar membalas tatapan sendu bunda tirinya. “Tentu saja, Ayah marah! Fariza sadar kalok Fariza juga salah disini?” tanya Resti menjawabnya dengan lembut agar anaknya itu tidak salah paham. “Iya!” jawaban Fariza begitu singkat mengakui kesalahannya itu artinya emosinya sudah stabil dan bisa ia kendalikan tidak seperti tadi. “Maksud ayah itu tidak sepatutnya kamu masih berhubungan mantan kekasih kamu dengan keadaan kamu sekarang sudah bersuami.” Ucap Resti mencoba meluruskan jika maksud Adi adalah demi kebaikan anaknya itu sendiri. “Bunda, tidak tahu apa yang dilakukan Akbar dibelakang kita.” Gumam Fariza dalam hati tak berani mengatakan yang sebenarnya. “Fariza paham?” tanya Resti kemudian menarik Fariza yang tampak lelah untuk jatuh dalam pelukannya. Fariza tak menolak saat ini yang ia butuhkan hanyalah sandaran, belum genap setahun pernikahan Akbar dan Fariza terus mengalami masa-masa sulit. Yang tadinya tidak terpikirkan oleh yang bersangkutan. *** Akbar sepulang kerja dengan mengendarai motor besarnya menuju rumah ayah mertuanya begitu menerima telepon jika ia disana. Akbar pun demi menghormati ayah mertuanya tak peduli dengan jam arloji yang menunjukkan tengah malam bergegas menuju rumah Adi. Sampai disana, Akbar menyadari lampu ruang tamu masih menyala menandakan ayah mertuanya benar-benar menunggunya. Akbar pun dengan tas ransel di punggunya memasuki ruang tamu dan mengucapkan salam dengan sopan. “Ayah ngrepotin ya Bar?” sapa Adi basa-basi melihat wajah letih anak mantunya itu. “Nggak, jadi Fariza pulang kesini?” tanya Akbar menyadari mobilnya terparkir di garansi saat memasuki perkarangan rumah. “Bisa kita bicara di ruang kerja ayah?” tawar Adi spontan begitu menyadari Mona dan Sarah yang menguping dari ruang tengah yang dibatasi dengan tirai saja. Akbar pun mengangguk kemudian berjalan mengikuti ayah mertuanya yang masuk di sebuah ruangan samping kamar Fariza. Akbar dengan sopan meletakkan tas punggungnya yang lumayan cukup menjadi beban bahunya setiap harinya. “Ayah minta maaf, jika Fariza masih belum bisa menerima status kamu sebagai suaminya.” Ucap Adi memulai percakapan yang membuat Akbar belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. “Maksud ayah?” tanya Akbar mencoba menyakinkan keraguan jika ia paham ayahnya mengetahui satu hal. “Fariza jam delapan pagi datang dengan Wisnu membawa semua berkas-berkas kerjanya. Ayah tak sempat menanyakan apa yang terjadi, karena ayah memarahinya dan kini Fariza mengurung diri di dalam kamar.” Jelas Adi tanpa mengurangi atau menambahkan apa yang sebenanrnya terjadi. “Jam delapan pagi ? dengan Wisnu?” tanya Akbar di dalam hati mulai mengaitkan satu fakta dengan fakta lainnya. “A…. mungkin ayah belum tahu, Wisnu itu karyawan Akbar yah. Akbar yang menyuruhnya untuk membantu Fariza mengantarkan barang-barang ke rumah.” Ucap Akbar mencari aman dengan mengambil ide gila. “Jadi Wisnu itu salah satu karyawan kantormu?” tanya Adi tak percaya, sekilas ada sorotan menyesal dari matanya karena sudah emosi terlebih dahulu pada Fariza tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. “Kamu serius? Tidak terjadi apa-apa antara kamu dan Fariza?” tanya Adi mencoba memojokkan Akbar agar tak menutupi dan lebih terbuka bagaimanapun Adi adalah ayah mertuanya. “Iya, Akbar jamin. Akbar boleh menyusul Fariza yah?” Tanya Akbar mencoba mengakhiri percakapan yang jika tidak selesai akan menjadi semakin panjang lebar. Adi tak menjawab hanya senyum dan tangannya yang mengarahkan Akbar pada pintu ruang kerja. Akbar tak mau ambil pusing segera keluar, ia ragu akankah ia masuk kamar Fariza atau pulang saja tak ingin mengganggu Fariza. Persetan… Akbar segera masuk kamar dan mendapati Fariza yang sedang memainkan ponsel menatapnya terkejut dengan kedatangan Akbar tanpa terduga. Akbar meliriknya dingin, tanpa banyak bicara Akbar menyerobot handuk Fariza dan segera membersihkan badan. Mungkin dengan segarnya mandi di malam hari mampu membuat otaknya sedikit lebih dingin dan juga pikirannya lebih tenang. Akbar menyadari jika Fariza tidak masuk kerja hari ini, padahal tadi pagi ia masih baik-baik saja. Akbar keluar kamar mandi dan mendapati secangkir kopi sudah di atas meja samping sofa kamar. Akbar pun tanpa sungkan, meneguk pelan kopi yang hangatnya pas di lidah tidak terlalu panas atau dingin. Akbar melirik Fariza yang tetap betah memainkan ponsel dan tidak menganggap keberadaan Akbar. Akbar pun segera menjatuhkan dirinya di kasur, membuat Fariza hampir terkejut karena rambut basah Akbar menyentuh lengannya. “Kamu nggak masuk kerja?” tanya Akbar langsung tanpa basa-basi. “Aku dipecat.” Jawaban pendek Fariza mampu membuat Akbar terdiam, bibirnya terkatup rapat ternyata Maya tidak main-main soal akan menghancurkan hidup siapapun yang berdekatan dengan kekasihnya. “Kenapa?” tanya Akbar, Fariza hanya menatap tajam Akbar pertanyaan bodoh apa itu padahal Fariza yakin jika Akbar mengetahui semuanya. “Kenapa kamu ingin menertawakan aku kan ? Ayah pasti cerita soal Wisnu kan?” tanya Fariza dengan memojokkan Akbar membuat Akbar hampir saja kehabisan nafas karena tercekik dengan ucapan Fariza yang tajam. “Kamu lebih baik berterimakasih sama aku, karena aku membuat ayahmu tak salah paham soal kamu dan Wisnu.” Ucap Akbar mengingat jika ia menyuruh Wisnu membantu Fariza mengemasi barang, karena ia harus mengunjungi rapat penting dan begitu dadakan. “Kamu bilang apa?” Tanya Fariza penasaran, apa yang dilakukan Akbar sampai ayahnya tidak memarahinya. Bukan jawaban yang ia dapatkan namun dekapan hangat Akbar pada tubuh mungilnya, Fariza dengan tenaga kecilnya mencoba berontak karena terkejut jika Akbar berani memeluknya. “Akbar, aku akan berteriak jika kamu tidak mau melepaskan.” Ancam Fariza yang sudah lelah berontak namun sama sekali tidak bisa membuat pertahanan Akbar runtuh atau bahkan renggang sedikitpun. “Aku akan pastikan bulan ini kamu hamil jika masih mau melepaskan.” Ancam Akbar tak kalah tajam dari istrinya yang mampu membuat bibir Fariza terkatup rapat. Bagaimanapun ia benar-benar takut dengan ucapan Akbar, karena laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. To Be Continue----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD