WIFE'S TIME

3200 Words
Fariza terjaga dari tidurnya begitu sinar matahari masuk melalui celah-celah jendelanya, matanya berkali-kali terkejap. Tangan kekar Akbar melingkar di tubuh Fariza namun sepertinya perempuan itu belum menyadarinya. Akbar pun masih terlelap belum terbangun, ini pertama dirinya tidur begitu nyenyak setelah sekian lama ia bergelut dengan pekerjaannya yang ternyata begitu menguras waktunya. Merampok jam tidurnya yang hari demi hari semakin terkuras habis. Fariza mulai terbangun dan menatap wajah damai Akbar dengan wajah terpejam. Tidak dipungkiri dekapan hangat Akbar membuatnya tak bisa merasakan dinginnya angina malam karena jendela kamar yang terbuka sedikit. Fariza memindahkan tangan Akbar pelan-pelan. Agar gerakannya tak membangunkan suaminya. Fariza mencuci mukanya terlebih dahulu kemudian turun menuju dapur untuk membantu ibunya mamasak. “Sarah punya kucing?” Tanya Fariza begitu melihat saudara tirinya tengah bermain dengan kucing Persia berwarna abu-abu terang. “Iya, Mona yang belikan.”Ucap Resti tersenyum menatap Sarah yang tampak gemas dengan peliharaan barunya. “Bunda, masak apa?” Tanya Fariza melihat masakan yang sudah matang itu, mencoba mengalihkan topik pembicaraan melihat Sarah begitu tertawa tanpa beban membuat Fariza iri karena hidupnya penuh dengan kepalsuan. ‘Kenapa? Bukannya kamu mau sarapan disini?” Tanya Resti melihat Fariza justru mengambil kotak bekal yang biasa ia pakai dulu di kantor. “Fariza mau pulang, Fariza minta untuk bekal Akbar.” Jawab Fariza mulai menuangkan nasi dan beberapa lauk yang sengaja Resti buat dengan porsi banyak. Resti tersenyum getir ada kesedihan yang terselip mendengar pernyataan Fariza tentang pulang padahal dulunya ini juga rumah Fariza, tempat ia tumbuh besar. Mona keluar kamar, seperti biasa tatapan Mona selalu tajam bak pembunuh bertemu dengan korbannya. Fariza mengabaikannya dan memilih membawa bekal masuk kamarnya, ia yakin jika Akbar sudah bangun. Dan benar, Akbar tengah memakai pakaian yang dulunya sengaja ia tinggal di lemari milik Fariza. “Itu apa?” Tanya Akbar memicingkan matanya menyadari Fariza masuk membawa sesuatu. “Ini buat sarapan kamu, kalaupun tidak mau bisa kamu tinggal biar aku yang makan. Itu bukan masakanku itu masa…” “Aku bawa!” penjelasan Fariza terpotong dengan dua kata Akbar yang mampu membuat Fariza bungkam karena terlalu banyak bicara mencari alasan-alasan. “Aku nggak jadi minta mobil.” Celetuk Fariza seraya merapikan dokumen-dokumen Akbar yang masih berserakan di atas mejanya. “Kenapa? Uangku masih cukup membelikan mobil kamu sebanyak 3 mobil.” Tanya Akbar memamerkan asetnya, ia tidak mau dipandang remeh oleh wanita, termasuk Fariza yang bernotabene sebagai istrinya. “Sebagai gantinya, aku mau kamu masukan aku ke perusahaanmu.” Ucap Fariza licik menatap Akbar yang tercengang mendengarnya. Akbar terdiam cukup lama sambil memandang bayangan dirinya di cermin, bukan tentang dirinya dalam fikirannya namun tentang istrinya yang meminta satu kantor dengannya. Akbar senang sebenarnya namun ada alasan membuatnya berfikir dua kali lagi. “Kenapa? Kamu ingin lebih sering ketemu dengan Wisnu pacar kamu itu.” Ucap Akbar terdengar begitu sarkatik membuat Fariza tersenyum remeh mendengar pikiran dangkal suaminya. “Kamu pintar sekali!” puji Fariza dengan senyum yang dibuat-buat, padahal sejujurnya ia tidak terbesit sama kali untuk memiliki waktu yang lebih intens untuk bertemu dengan Wisnu. Akbar sedikit kasar membanting ponselnya ke kasur, ia tersulut emosi mendengar jawaban Fariza yang membenarkan pemikiran Akbar tentangnya. Akbar juga tidak habis fikir bagaimana bisa sekarang emosinya tergantung sikap dna tingkah laku istrinya yang benar-benar menarik perhatiannya. “Aku serius, Fariza!” Tegas Akbar pada Fariza yang sengaja menggodanya. Fariza hanya mengedikkan kedua bahunya, ia begitu senang melihat Akbar yang gampang terpancing emosi jika sudah menyangkut Wisnu, sepertinya ada kesalahpahaman diantara Akbar dan Fariza. Suami Fariza sepertinya berpikiran jika Wisnu masih menjalin hubungan dengan istrinya layaknya dia yang masih menjalin hubungan dengan Maya. “Bukankah imbang, kamu masih bisa dengan Maya begitu juga sebaliknya dengan aku yang masih bisa dengan Wisnu.” Tandas Fariza akhirnya bisa mengucapkan kata-kata yang akhir-akhir ini mengganggu fikiran dan terasa ganjal dalam hatinya. Akbar menarik pinggang Fariza untuk berdiri begitu dekat dengannya membuat Fariza hampir terpekik karena ulah suaminya. Belakangan, mereka sering kontak fisik ada yang tidak beres memang. “Jangan pernah memancing emosiku, Za!” ancam Akbar dengan kilatan api kemarahan yang terpancar dari mata hitam pekatnya. Akbar melepaskan pelukannya dan membuat Fariza yang tadi menahan nafas bernafas lega. Akbar keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa, beruntung ia tidak berpapasan dengan orang-orang rumah sehingga dia tidak perlu untuk berpura-pura bertegur sapa.  Fariza menatap Akbar dari jendela balkonnya, lelaki itu bergegas menaiki motor besarnya dan menghilang begitu saja. Entah mengapa rasanya ia ingin marah dengan ketidakadilan yang ia alami selama menikah dengan Akbar. Fariza masih menatap luar jendela, masih enggan berpindah tempat. Matanya memincing begitu matanya menangkap hal familiar dari Mona yang sedang berada di depan rumah. Fariza sangat emosi kemudian keluar kamar dan berlari menuruni tangga menghampiri Mona yang hampir terkejut karena kemunculan Fariza. “Kembalikan itu baju aku!” Ucap Fariza dingin menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Kamu teliti banget ya!” cibir Mona yang justru tak merasa bersalah memakai barang adik tirinya tanpa izin. “Kamu nggak perlu banyak bicara, aku bilang kembalikan!” teriak Fariza berusaha menghentikan Mona yang justru berjalan masuk ruang tengah tak menghiraukan Fariza yang masih berdiri di depan. “Kenapa? Kamu bisa minta sama suami kamu barang yang lebih bagus.” Ucap Mona setelah menghela nafas membalas tatapan tajam Fariza dari mata yang dipenuhi air mata yang sengaja Fariza tahan agar tak luruh. “…” “Oh, aku tahu. Karena barang ini pemberian Wisnu jadi kamu tidak rela aku memakainya kan?” ucap Mona yang sengaja dilantangkan suaranya begitu Ayah dan Bunda keluar kamar mengamati pertikaian Mona dan Fariza dari lantai dua. “Kamu! Memang picik Mona!” teriak Fariza mendengar cemoohan kakak tirinya yang semakin hari semakin menjadi membuatnya ingin mencakar wajah wanita penyihir di depannya itu. “Kenapa bukannya kamu menerima Akbar hanya untuk uang…” cibir Mona tak mau kalah pada Fariza yang sudah terbawa emosi. “Kamu benar-benar!” “FARIZA!” teriak Ayah dari atas begitu melihat tangan Fariza yang sudah menganyun di udara dan siap mendarat di wajah mulus Mona. Fariza terkejut mendengar teriakan ayahnya, akhir-akhir ini ia sering mendengar ayahnya emosi kepadanya. Fariza kesal dan akhirnya ia masuk kamarnya, seperti biasa jika perempuan itu sedang terbakar emosi ia akan menyendiri di kamar dengan menguncinya dari dalam. “Apa kamu tidak keterlaluan?” tanya Resti yang sejak tadi melihat raut wajah Fariza yang lelah menahan kepedihan yang Resti sendiri tidak tahu kebenarannya. “Biarkan! Dia terlalu keterlaluan pada kakak tirinya.” Ucap Adi kemudian masuk kamar kembali dengan wajah dingin membuat Resti menyesal menanyakan. Mona pun termenung duduk di ruang tengah, melihat dengan jelas mata adiknya yang membara karena ulahnya, ada alasan mengapa ia menggunakan baju adik tirinya untuk pertama kalinya. *** “Tumben elo berangkat siang Bar?” tanya Ridwan yang sudah berada di ruangan Akbar. “Semalem gue tidur di rumah mertua gua.” Jawab Akbar santai sedangkan Ridwan yang tadinya ingin meneguk secangkir kopi hampir tersedak dengan ucapan Akbar. “Lo udah nggak sama Maya?” tanya Ridwan hati-hati pada Akbar yang sibuk berkutik dengan tas ranselnya. Akbar menghentikan aktivitasnya mendengar pertanyaan Ridwan, ia tidak bisa menjawab karena yang ia pikir rasanya dengan Maya perlahan memudar begitu saja dan lebih cenderung perhatian dengan Fariza. Tapi, ia tidak mau disebut pecundang karena hanya memberi harapan palsu untuk Maya sedangkan Fariza tampaknya juga tak mempunyai perasaan untuknya. “Gue masih sama Maya, gila apa elo tanya kayak begituan.” Jawab Akbar tegas, seraya mengeluarkan bekal yang dibawakan Fariza untuknya. “Sejak kapan elo bekal?” tanya Ridwan tersenyum aneh melihat sekotak sedang warna biru dengan kotak-kotak kecil di sampingnya. “Mertua gue!” Bohong Akbar tak mau menjadi lawakan bagi Ridwan yang sejak tadi dari sorot matanya seperti menyelidiki. “Dari Fariza kan? Mantannya Wisnu karyawan elo!” Cibir Ridwan yang membuat Akbar terkejut bukan kepalang yang seingatnya Akbar belum memberitahu dengan pasti sosok apa istrinya yang berjarak umur 7 tahun dibawahnya itu. “Tahu darimana elo?”Tanya Akbar heboh sedangkan Ridwan hanya menggedikkan kedua bahunya bersamaan seolah bungkam tak mau memberi tahu siapa yang memberi tahunya tentang Fariza. Ddrrttt…ddrrrtttt… Maya : Nanti ketemu di Café biasanya ya? Sebuah pop up muncul setelah getaran ponsel Akbar di atas meja, Akbar telihat santai dan mengabaikannya. Ridwan yang melirik mengeryitkan keningnya, tidak biasanya Akbar tidak menghiraukan pesan singkat dari Maya. Siapa yang tidak tahu Maya? Karyawan Akbar semua tahu jika Maya adalah wanita Akbar yang diperlakukan bak seorang ratu. “Elo serius masih sama Maya?” tanya Ridwan mencoba menyakinkan Akbar jika banyak berbeda dengan sahabatnya itu. “Iya, jelas gue milih Maya. Secara agama, Maya lebih paham. Dia berhijab juga, dia juga mapan apa yang kurang dari Maya. Soal dewasa juga lebih dewasa Maya dibanding Fariza.” Jelas Akbar sedikit tersulut emosi ketika Maya disandingkan dengan Fariza. “Masalahnya bukan soal siapa yang jadi kekasih elo Bar. Tapi siapa yang jadi istri elo sekarang.” Tandas Ridwan tak habis fikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Akbar terdiam ada benarnya juga perkataan Ridwan, bagaimanapun pernikahan ini terjadi karena ulahnya sendiri jikapun ia menolak papanya tidak akan marah. Dan satu lagi, disini Akbar hanya memikirkan perasaan Maya dan Maya sedangkan seakan Akbar lupa jika Fariza juga seorang perempuan yang mempunyai hati. “Besok lo datang di pernikahan Doni?” Tanya Ridwan mencoba mengalihkan topik pembicaraan ia tidak mau Akbar akan meluapkan emosi disini. Terlihat dari Akbar yang terdiam dengan rahangnya yang mulai kaku dan sorot matanya menajam. “Datang sama Maya.” Ucapan singkat Akbar benar-benar membuat Ridwan geleng-geleng biasanya ia paham sahabatnya itu meski ia tak bicara secara langsung namun Akbar yang di depannya benar-benar berbeda. “Elo gila, karyawan tahu elo udah nikah Bar dan lo masih punya wajah mau jalan sama Maya. Dimana urat malu lo?” tanya Ridwan entah kenapa ia tersulut emosi. “Gue malu lah Wan, biasanya gue datang sama Maya dengan pakaian tertutupnya lah sekarang gue suruh ajak Fariza pasti gue jamin dia pakai pakaian terbuka.” Jawab Akbar dengan nada tinggi tak kalah dengan Ridwan. “Elo emang gila Bar, jangan bandingin Maya sama Fariza!” Tegas Ridwan beranjak berdiri. “Elo nggak kenal mereka berdua jadi mendingan elo pergi jangan meracau disini!” usir Akbar yang sejak tadi merasa dihakimi. Ridwan pun tanpa kata-kata beranjak pergi, meninggalkan Akbar yang terduduk sibuk mengatur nafasnya yang tak beraturan naik turun. Dia menghela nafas berkali-kali mencoba meredakan emosi yang sejak tadi membakar fikiran dan hatinya. Akbar terdiam beberapa kali mencoba melupakan pertikaiannya dengan Ridwan, namun beberapa kalimat yang terasa menohok dirinya terus berkeliaran berkeliling di kepalanya. Akbar mencari-cari dokumen yang semalam ia pilah di rumah Adi, mertuanya. Namun tampaknya tertinggal. Akbar pun langsung meraih ponselnya dan mencari kontak Fariza untuk minta tolong dibawakan ke perusahaannya lagi pula istrinya sudah tidak bekerja pastinya dia tidak sibuk. Akbar: Za! Bisa minta tolong bawakan dokumen aku ketinggalan di rumah ayah. Fariza: aku titipkan sama sekretarismu. Jawaban Fariza membuat Akbar melotot lebar, berarti Fariza datang ke kantornya tadi. Tapi mengapa dia tak masuk ke ruangan dan hanya menitipkan ke Rani. Akbar mulai berprasangka yang tidak-tidak pada istrinya, mungkin saja Fariza mau repot-repot mengantarkan agar bertemu dengan Wisnu. “Pak Akbar!” Sampai kedatangan Rani, sekretarisnya belum juga menyadarkan Akbar dari lamunan yang terasa panjangnya itu.  Rani merasa sejak presdirnya menikah, banyak melamun setiap tidak ada pekerjaan berbeda dengan dulu saat masih lajang, lebih banyak menyuruh Maya datang ke kantornya. “Pak Akbar, ini bu Fariza menitipkan ini katanya dokumen penting.” Ucap Rani begitu Akbar menyadari keberadaannya. “Jam berapa dia kesini?” Tanya Akbar yang justru tidak menjawab tentang dokumen itu. “Sekitar lima belas menit yang lalu. Dia sudah berada di depan ruangan bapak tadi tapi kembali lagi dan lebih memilih menitipkannya ke saya. ” Jawab Rani begitu tangan Akbar melambai menyuruhnya meninggalkan ruangannya. Akbar semakin resah, ia yakin Fariza pasti mendengar pembicaraan Akbar dengan Ridwan tadi. Meski Fariza tidak membahasnya di pesan singkatnya. Akbar takut melukai Fariza dengan ucapannya yang kasar dan kelewat batas tadi saat marah dengan Ridwan. *** “Huffttt…” Fariza menghela nafas kala mobilnya sudah sampai di sebuah perkarangan rumah megah. Ia pun juga tak lekas turun, ia sibuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan detak jantungnya tidak normal. Baru saja, ia sampai rumah tadi setelah pulang dari kantor Akbar tiba-tiba ibu mertuanya menyuruhnya datang ke rumah. Tok…tok… Ketukan di kaca mobil membuatnya semakin gugup, dia menghela nafas lega ternyata Adelia kembaran suaminya yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. Adelia tersenyum begitu Fariza membuka mobil dan turun. Fariza tidak punya mobil untuk sekarang, tapi ia pernah mengendarai mobil saat ia menginjak bangku SMA sampai akhirnya ia tidak menggunakannya lagi karena dipakai oleh kedua saudara tirinya untuk pulang pergi kerja. “Udah ditunggu Mama didalam.” Ucap Adelia sambil menggandeng tangan kakak iparnya. Fariza hanya tersenyum samar, ia tidak bisa langsung akrab dengan seseorang terlebih dengan keluarga suaminya sendiri. Jadi, Fariza tidak banyak bicara. Adam yang sedang membaca koran tersenyum menyambut kedatangan menantunya, Fariza lekas mencium tangan mertuanya itu dan bergegas masuk menuju dapur menghampiri Dea yang sedang berkutik dengan aktivitas memasaknya. “Mama dengar kamu sudah nggak bekerja ya makanya mama suruh kesini.” Ucap Dea menyadaro kedatangan Fariza di sampingnya. “Iya.” Jawab Fariza singkat kemudian membantu mencuci piring kotor di wastafel membuat Adelia mencegah tangan Fariza yang baru saja akan menyalakan kran air. Adelia menggeleng menyuruh kakak iparnya untuk bergeser. “Akbar kerja kak?” tanya Adelia mencoba membuat Fariza tidak membantu aktivitas lainnya. “Iya, aku habis dari kantornya memberikan dokumennya yang ketinggalan.” Jawab Fariza yang dibalas dengan anggukan Adelia. “Mama nggak mau basa-basi, Fariza jujur Akbar masih menjalin hubungan dengan Maya?” Tanya Dea menatap lurus mengunci pandangan Fariza, Fariza tampak sedikit gugup jika mengalihkan pandangan takutnya ia disangka tidak sopan. “Ya jelas masih lah!” Ketus Adelia yang sejak dulu awal pacaran Akbar dan Maya tak pernah suka dengan sikap Maya baik dari segi tingkah laku maupun sifat. “Fariza nggak tau Ma, lebih baik tanya Akbar saja.” Ucap Fariza dengan senyum ramah. Meski ia tahu pasti penyebab Akbar menyetujui perjodohan yang direncanakan papanya. Fariza tahu pasti penyebab ia dikeluarkan dari perusahaan meski ia mempunyai nilai kinerja yang baik setiap harinya. Tapi ia lebih memilih bungkam, bagaimanapun ini juga bukan urusan dia biarkan Akbar saja yang menjelaskannya. Itung-itung ini sebagai balas jasa Akbar yang berbohong pada ayahnya soal Wisnu agar ayahnya tak marah besar pada Fariza. Meski ada luka yang tak terlihat dan mencoba Fariza tepis karena Akbar. Ia terus menyakinkan hatinya jika ia tidak ada rasa untuk suaminya yang masih menjalin hubungan dengan perempuan lain itu. “Kak Iza takut Akbar marah?” Tanya Adelia mengajak Fariza untuk berkeliling menikmati senja di sore hari di belakang dapur. “Nggak! Hanya saja itu urusan kakakmu.” Jawab Fariza tersenyum seolah ingin membuat Adelia tidak membenci kembarannya demi dirinya. “Lagi pula, Maya belum pernah dibawa pulang sama Akbar.” Gumam Adelia membuat Fariza mengerutkan keningnya, ia mengira Maya sudah pernah berkunjung di rumah Akbar. “Lalu bagaimana kalian bisa tahu?” Tanya Fariza penasaran, jika memang keluarga Akbar belum pernah bertemu dengan Maya secara langsung bagaimana mereka bisa saling mengenal. “Siapa yang tidak tahu, lagipula Akbar dan Maya kerap sekali bertemu di tempat umum wajar jika papa dan mama tahu.” Bohong Adelia, karena pada kenyataannya ada orang yang memang ditugaskan oleh papanya untuk memantau Akbar. Hanya saja sampai sekarang Akbar tidak menyadarinya, orang tua Akbar tahu sudah berapa lama anaknya menjalin hubungan dengan perempuan itu. Tapi melihat Akbar yang tak kunjung mengajak Maya dan keluarganya bertemu muncullah rencana akhirnya Akbar dijodohkan. Fariza tahu Adelia sedang berbohong, tetapi Fariza juga tidak memaksa Adelia untuk menceritakan yang sebenarnya. Fariza mulai paham jika hidup seorang dengan harta melimpah bisa membuat tahu menahu seseorang termasuk dengan membayar pemantaunya. “Kak Iza kenal Maya?” tanya Adelia hati-hati karena sejak tadi Adelia langsung menuju point dengan menyebut nama Maya tanpa mengatakan latar belakangnya terlebih dahulu. “Dia atasan aku di kantor dulu.” Jawab Fariza dengan senyum berusaha sebisa mungkin menutupi kebenciannya pada Maya karena perempuan itu ia harus kehilangan pekerjaannya. Membuatnya benar-benar berperan menjadi seorang Ibu rumah tangga dan istri seorang CEO kaya raya. Ddrrttt…ddrrrttt.. Akbar Is Calling… Getaran ponsel Fariza yang sejak tadi digenggam membuat keduanya terkejut, terlebih Fariza yang masih menatap heran nama yang tertera di layar ponselnya. Tak biasanya sore begini, Akbar menghubunginya. Dimana? “Kamu udah pulang?” Tanya balik Fariza yang justru tidak menjawab pertanyaan suaminya itu. Udah. “Di rumah mama.” Jawab Fariza mencembikkan sudut bibirnya karena Akbar menajwab singkat, bukankah jika begini terkesan Fariza yang menghubunginya lebih dulu. Kemarin dari sana? Sekarang disana lagi? “Di rumah mama Dea, Akbar!” Tegas Fariza mulai kesal dengan Akbar yang tidak ada lembut-lembutnya ketika berbicara dengannya. Ya udah, jam berapa pulang? “Nggak tau.” Jawab Fariza lebih singkat dengan nada kesal. Tak peduli dengan Adelia yang mengulum senyum mendengar pasangan yang sedang melakukan panggilan suara itu. Akbar terlihat menyebalkan dan Fariza terlihat kesal. Tutt… Fariza mematikan ponselnya, ia kesal dengan Akbar yang sekarang berbeda. Sedikit-sedikit menghubunginya dan menanyakan hal tidak penting sama sekali. Adelia memandang Fariza yang masih memanyunkan bibirnya padahal sambungan telepon sudah berakhir. “Apa setiap hari kalian seperti ini?” tanya Adelia tersenyum tak bisa menahannya. Fariza tersenyum yang terkesan dipaksakan. Ia lupa juga Adelia masih di sampingnya. Lagipula Akbar itu mungkin saja mengalami ingatan lupa atau memang tidak menyadarinya. Jujur saja, ucapan Akbar yang tak sengaja Fariza dengar membuatnya sakit hati. “Akbar itu paling takut sama papa. Dulu aja ia sering merokok padahal umurnya masih smp tapi papa nggak pernah kasar papa puny acara buat naklukin itu bocah.” Ucap Adelia tertawa renyah mengingat bagaimana Akbar dulu begitu nakal semasa sekolah. Fariza hanya mengangguk membayangkan bagaimana nakalnya Akbar membuatnya tertawa. Dia tidak mengenal dengan baik bagaimana Akbar yang sebenarnya, ia benar-benar tidak tahu bagaimana sikap Akbar yang sesungguhnya. “ Sepertinya aku harus pulang, kakakmu benar-benar menyebalkan.” Ucap Fariza sungkan mengingat jam arloji sudah menunjukkan waktu dimana senja mulai berkeliaran di atas langit, membiarkan sang mentari tenggelam dalam gelapnya malam. Fariza masuk ke dalam rumah dan mendapati beberapa tas kecil berisikan berbagai camilan olahan mama mertuanya yang katanya favorit suami Fariza, si Akbar. Adelia memandang teduh kakak iparnya ada pancaran berbeda dalam perempuan itu yang membuat Adelia tak sungkan meracau tidak jelas kesana kemari. “ Kamu benar-benar mau pulang?” tanya Adam melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore. “Iya, pa. Akbar sudah menunggu.” Jawab Fariza dengan senyum lembutnya membuat Adam mengangguk-ngangguk mengerti. “Fariza, Akbar itu suami kamu. Kamu harus menghormatinya tidak sopan memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel.” Nasehat Dea, ia teringat ketika dulu ia beberapa kali ditegur oleh mendiang neneknya yang selalu marah jika hanya memanggil suaminya dengan nama tanpa embel-embel meski mereka seumuran. “Iya, Fariza belum terbiasa ma.” Ucap Fariza sungkan sendiri karena ditegur mama mertuanya secara langsung. Fariza menyalami mertuanya dan masuk mobil, ia mulai memikirkan panggilan apa yang cocok untuk Akbar ketika mereka masih dipantau oleh orang tua Akbar atau Fariza. “Mas?” Gumam Fariza, ia saja mengucapkannya dengan kaku kemudian tertawa geli membayangkan memanggil Akbar menggunakan embel-embel tersebut. To Be Continue----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD