I'M FALLING IN LOVE

942 Words
Akbar memandang rumah mewah di seberang jalan, rumah dimana terakhir kali dia kesini membuat keributan. Rumah yang ia pikir beberapa minggu yang lalu terakhir kali datang ternyata dia akan kembali lagi, membawa masalah yang akan diributkan. fikirannya kalut, ia takut tapi berusaha ia sembunyikan dibalik wajahnya yang dingin dan angkuh, begitu kira-kira kata mereka yang tidak mengenal AKbar dengan baik.  Akbar bimbang akan masuk atau tidak, akhirnya ia memutuskan masuk perkarangan rumah. Ia benar-benar dendam soal bagaimana Fariza dipermalukan di depan banyak orang. Meski kenyataannya, Fariza sampai sekarang tidak mengungkit masalah itu. Akbar menekan bel pintu utama, ia benar-benar kesal mengingatnya membuatnya ingin mengumpat rasanya. Sampai pintu itu akhirnya terbuka menampilkan wanita yang memakai kerudung yang sudah begitu familiar menurutnya. “Akbar!” Ucap Maya terkejut dengan kedatangan Maya. Tidak bisa dipungkiri wajah Maya memang banyak berbeda dari biasanya ia bertemu, lingkaran hitam dimatanya dan wajahnya tampak lebih tirus. Baru saja Maya ingin mempersilahkan Akbar untuk masuk namun langkahnya berhenti ketika Mamahnya berdiri dari ambang pintu ruang tengah. “Mau apa kamu kesini?” tanya Hani dengan nada penuh sarkatik. Hani mengakui nyali Akbar yang begitu berani menginjakkan kakinya di rumah ini, apalagi dia yang melukai anak semata wayangnya. Ditambah terakhir kali ia berkunjung harus ada pertengkaran yang berujung ia mendapatkan tamparan yang begitu nyata di pipinya. “ Saya ingin tegaskan saja, anda sama sekali tidak berhak menyentuh Fariza, istri saya apalagi sampai menamparnya dua kali.” Tegas Akbar memandang Hani dengan tatapan emosi yang tertahan. “Mamah menampar Fariza?” Tanya Maya terkejut bukan kepalang, ia mengira beberapa hari yang lalu ibunya keluar dengan emosi meledak karena tidak bisa bertemu dengan Akbar. “Kenapa apa salah? Saya membela putri saya yang kamu sakiti? Kamu tinggal begitu saja.” Tandas Hani kilatan kesedihan yang terlihat langsung ia hilangkan begitu memutuskan kontak mata dengan Akbar. Akbar tercengang tidak menyangka saja jika ibu dari mantan kekasihnya bisa menitikkan air matanya. Semua memang berawal dari kesalahannya Akbar mengakui itu, tapi yang ia sayangkan mengapa Fariza yang tidak tahu apa-apa harus terkena imbasnya. “Sebelumnya saya minta maaf, karena menyakiti anak ibu. Tapi bukan berarti ibu menglampiaskannya ke istri saya yang tidak tahu apa-apa.” Ucap Akbar kesal menatap Maya dan Hani bergantian. “Dia pantas mendapatkannya.” Celetuk Maya dari lamunannya, memandang dingin Akbar. Hani yang melihat Maya yang akhirnya menanggapi ucapan Akbar dengan dingin hanya tersenyum sinis. Maya muak dengan apa yang diucapkan Akbar yang semua memojokkannya membela Fariza, perebut kekasihnya. Ia fikir kedatangan laki-laki itu untuk memperbaiki hubungan keduanya ternyata justru semakin memperkeruh suasana. “Kenapa kamu membela dia terus Akbar. Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Kamu membuangku begitu saja.” Bentak Maya dengan isakan di sela-sela kata yang ia ucapkan. “Maya! Kamu bilang aku tidak memikirkan perasaanmu? Lalu apa aku juga masih menjalin hubungan dengan kamu padahal harusnya aku harus melepasmu. Aku tidak membuangmu tapi sikapmu yang membuat aku muak dan meninggalkanmu.” Jelas Akbar dengan rahang mengeras, tangannya mengepal dengan kuat menahan emosi agar tak meledak. Jika saja dua manusia di depannya ini adalah laki-laki mungkin dia tidak perlu menguras tenaga untuk beradu mulut dengan mereka. Cukup saja Akbar layangkan sebuah pukulan, namun ia ingat perkataan Adam jika laki-laki sejati tidak akan memukul seorang wanita. “ Aku jijik dengan caramu, Fariza juga sama menjadi korban denganku. Kamu pikir aku nggak tahu akal bulusmu, yang mendepak keluar Fariza dari kantornya. Yang merusak gaun Fariza dengan menyuruh karyawanku melakukannya. Aku tahu!” Bentak Akbar akhirnya melepas semua keganjalan dalam hatinya. Keganjalan yang ia simpan rapat-rapat, terlupakan ketika Fariza di sampingnya. Teringat ketika dipenhujung malam menghampirinya, membuat laki-laki itu tidak bisa tidur lelap karena dihinggapi rasa bersalah. “Bukan aku.. aku …” “Kamu adalah wanita rubah yang pernah aku temui. Tunggu saja apa yang bisa kulakukan untuk membalas perbuatan licikmu itu.” Ancam Akbar dengan penuh penekanan sampai akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan Hani yang tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Akbar. “Akbar…Akbar tunggu…” “Akbar.. aku akan menjelaskan…” “AKBAR!!!” Teriakan Maya begitu lantang ketika Akbar justru menancap gas motor gedenya dan meninggalkan rumah. Maya benar-benar frustasi, ia tidak menyangka jika akhirnya justru begini. Ia kalang kabut, sedang Hani memandang sayu putrinya yang seperti orang gila itu. “Maya, sudah! Lepaskan Akbar, dia sudah beristri.” Ucap Hani membujuk Maya agar melepas Akbar, tak sepatutnya mencintai seorang yang sudah beristri. “Mamah? Mamah memihak Akbar sekarang?” Tanya Maya dengan tatapan nanar tak menyangka jika akhirnya justru Hani termakan oleh omongan Akbar. “Mamah tidak memihak siapapun, Maya kamu sudah besar. Kamu tahu mana yang benar dan yang salah.” Ucap Hani dengan kelembutan agar Maya tidak salah paham dengan ucapannya. “Tapi Mah!” Bantah Maya yang tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk Hani menumpahkan segala air matanya yang terus mengalir dengan deras setiap kedatangan Akbar yang ujung-ujungnya meninggalkan luka yang mendalam. “Sudah lepaskan Akbar ya!” bujuk Hani pada Maya yang masih terisak dalam pelukannya, tak berapa lama Maya mengangguk pelan mengiyakan permintaaan ibunya. “Aku tidak akan kalah! Aku akan merebut apa yang menjadi milikku.” Batin Maya yang ternayata bertolak belaka dengan apa yang diucapkan. Nampaknya ia belum bisa ikhlas begitu saja dengan kepergian Akbar, dengan Akbar yang sudah menjadi suami Fariza. Padahal mungkin jika Maya berhasil merebut Akbar dari Fariza akan berbeda dengan ketika awal mereka mengenal sampai menjalin hubungan asmara. Akbar yang ia kenal sekarang berbeda, bukan Akbar beberapa tahun silam. Akbar yang sekarang adalah akbar yang seperti sudah ditaklukan oleh Fariza padahal tidak ada hal special yang dilakukan Fariza padanya, semua mengalir begitu saja tanpa ada paksaan. Fariza adalah candu bagi Akbar. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD