Seperti biasanya Fariza pulang lebih dulu dibanding suaminya, diantar oleh Ridwan atasannya sendiri sekaligus sahabat karib suaminya. Hari ini pekerjaan cukup padat sampai tidak bisa makan diluar dengan Dini. Meski mereka berbeda perusahaan tapi tetap meluangkan waktu untuk makan bersama.
Akbar pulang membuka pintu, biasanya ia disambut dengan Fariza yang duduk di meja makan lengkap dengan hidangan makan malam. Pola makan laki-laki itu mulai teratur, sarapan, makan siang dan malam semuanya sudah disediakan oleh istrinya kecuali makan siang.
Akbar membuka pelan knop pintu kamar Fariza yang tersisakan lampu tidur yang menyala redup. Nampaknya istrinya cukup kelelahan malam ini, sampai tak menemani Akbar makan malam.
Akbar mengerutkan keningnya, biasanya Fariza membeli makan sambil jalan pulang tapi kali ini sepertinya dia masak. Akbar pun segera menyantapnya tak membiarkan makanan yang tampak lezat itu menganggur begitu saja.
Kalau dulu, ponselnya akan berisik setiap pulang kerja kini tampak hening kecuali para karyawan yang mengirimkan laporannya masing-masing. Entah sejak pertekaran hebat Maya dengannya, perempuan itu menghilang bak ditelan bumi. Tidak lagi menhubungi atau sekedar mengajak bertemu. Dan anehnya, Akbar bersyukur tentang hal itu.
Akbar selesai makan bergegas menuju kamar, bukan kamarnya yang ia tuju tapi kamar Fariza. Mereka masih tidur terpisah kecuali jika berkunjung atau bermalam di rumah orang tua masing-masing.
Fariza terusik tidurnya kala mendengar suara knop pintu dibuka dan langkah kaki menghampirinya. Ia pun tak segera membuka matanya ia fikir itu hanya halusinasinya saja. Lantas, matanya terperanjat terbuka ketika menyadari gerakan di tempat tidurnya begitu nyata.
Fariza menoleh mendapati suaminya yang sudah duduk bersandar di sampingnya. Nampaknya Akbar tak mengetahui jika Fariza terbangun karenanya. Fariza terduduk langsung, ia kaget bukan kepalang tidak biasanya Akbar tiba-tiba masuk kamarnya.
“Ngapain disini?” Tanya Fariza membuat Akbar menoleh dengan santai tanpa terkejut dengan sikap Fariza yang terbilang aneh itu.
Bukannya menjawab justru Akbar menarik tubuh Fariza mendekat, dan menuntun pelan-pelan kepala Fariza untuk tidur di bantal yang sengaja Akbar letakkan diatas pahanya. Tadinya bantal itu ia gunakan untuk menyangga kedua sikunya, namun ternyata beralih fungsi dalam sekejap.
“Kamu itu aneh, suami sendiri disampingnya kok ditanya ngapain.” Omel Akbar perlahan membelai rambut Fariza yang terurai dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya sibuk menscroll beranda akun media sosialnya.
Akbar tidak menyadari jika sejak tadi Fariza membeku di tempat karena perlakuan Akbar yang membuatnya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Akbar pun berfikir jika Fariza mungkin melanjutkan tidurnya karena ini juga sudah terlalu malam.
“Bar, Apa hubunganmu sama Maya sudah berakhir?” Tanya Fariza memainkan jari-jemarinya diatas bantal.
“Tentu, apalagi aku sudah menikah.” Ucap Akbar, dalam hatinya entah merasa aneh jika Fariza sudah menanyakan hal semacam itu padanya.
Fariza juga sudah tahu jika hubungan keduanya sudah berakhir, begitu juga dengan hubungannya dengan Wisnu juga sudah berakhir. Namun, melihat Maya yang terus mengusiknya, ia tiba-tiba merasa khawatir jika Akbar mungkin saja berbalik arah kemudian kembali ke pelukan Maya.
“Kenapa? Apa yang mengganggu fikiranmu?” Tanya Akbar tahu jika Fariza itu belum tidur dan sibuk dengan fikirannya meski Akbar menjawabnya tanpa rasa ragu.
“Tidak ada.” Jawab Fariza, ia juga bingung untuk menagtakan apa yang sebenarnya mengganggu fikirannya.
Entah naluri darimana tiba-tiba Fariza membalikkan badannya, menenggelamkan wajahnya diperut Akbar. Laki-laki itu bahkan terdiam, kejutan Fariza selalu dapat membuatnya mati kutu. Dia laki-laki dewasa harusnya terbiasa dengan tingkah perempuan yang menempel, bergelayut manja atau sekedar menggenggam tangannya.
Tapi anehnya setiap dengan Fariza, ia merasa menjadi sosok laki-laki yang baru tumbuh remaja. Sentuhan fisik membuat getaran aneh dalam dadanya bergejolak. Aneh bukan? Tentu saja tapi memang begitu adanya.
“Kamu mau menyewa ART?” Tanya Fariza mendongakkan wajahnya pada Akbar yang kini menunduk menatapnya.
“Kenapa? Kamu berubah fikiran? Ingin mengerjakan ART untuk rumah ini?” Tanya Akbar, ia masih teringat ketika Fariza bersikeras menolak mengerjakan ART. Perempuan itu mengotot untuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri saja.
“Aku ingin memperkerjakan untuk sekedar membersihkan rumah.” Ucap Fariza tersenyum.
Fariza tidak tahu bagaimana senyum singkatnya menyerang Akbar. Akbar meletakkan ponselnya perlahan mendekatkan wajahnya apda wajah Fariza yang masih di atas pangkuannya. Fariza tidak menghindar meski suasana canggung menghinggapinya.
Cupp…
Akbar mencium kening Fariza membuat Fariza melebarkan senyumnya tak disangka saja jika Akbar benar-benar menjadi laki-laki yang hangat. Fariza mengusap pipi Akbar mencurahkan segala perasaannya saat ini yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.
“Aku ingin memiliki keturunan dari rahimmu, Fariza!” celetuk Akbar mengelus pelan ramping Fariza yang terlampaui datar.
Fariza diam, ia tidak bisa berkata-kata. Ia senang dan begitu bahagia mendengar ucapan Akbar yang terdengar tulus dan terlihat sungguh-sungguh menginginkannya. Fariza terpejam membayangkan bagaimana aka nada malaikat kecil di kelaurga kecilnya nanti. Terlebih ia ingin memiliki anak kembar, yang peluangnya cukup besar untuk berkesempatan mempunyai anak kembar. Karena Akbar dan Adelia juga merupakan saudara kembar.
Fariza belum tertidur lelap, ia merasakan gerakan tangan Akbar yang pelan-pelan memindahkan kepalanya ke bantal. Fariza juga bisa merasakan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang, deru nafas Akbar begitu terasa di tengkuk Fariza.
“Selamat malam, sayang.” Bisik Akbar dengan mata terpejam yang ternyata sejak tadi sudah menahan kantuk.
***
Adelia menoleh kesana kemari mencari sang kakak ipar, Adelia jarang datang ke kantor jadi tidak heran jika banyak yang tidak mengenali Adelia kembaran dari Akbar ini. Mamahnya meminta untuk menjemput sang kakak ipar sekalian mengenalkannya dengan asisten rumah tangga yang baru.
“Ridwan! Kakak ipar gue mana?” Tanya Adelia menaruh lengannya di pundak Ridwan membuat seisi ruangan kantor tampak riuh membicarakan keduanya.
“Adel! Turunkan tanganmu itu!” titah Ridwan menyadari beberapa pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik keduanya.
“Iya, makanya dimana Fariza?” tanya Adelia kesal diluar saja, pada kenyataannya ia menaruh hati pada sahabat kembarannya itu. Ridwan tahu tapi ia pura-pura tidak tahu. Ditambah lagi, Adelia menyukai semasa ia masih kuliah.
Bukan cinta bertepuk sebelah tangan tepatnya, hanya saja Ridwan lebih memilih mengabaikan perasaan saudara kembar sahabatnya itu daripada jika ia mendengarkan kata hatinya akan membuat renggang hubungannya dengan Akbar.
“Adel! Ngapain disini?” Tanya Fariza yang menenteng sebuah mukena di tangan kirinya, nampaknya perempuan itu usai mengerjakan sholat maghrib di kantor.
“ Ah, kak Riza kata mama aku harus jemput kakak. Oh ya, Buk Yanti, asisten rumah tangga kakak sudah sampai disini.” Jelas Adelia mengalungkan tangannya ke Fariza meninggalkan Ridwan yang masih kesal sebab Adelia tidak takut jangankan takut, Adelia tidak pernah bersikap sopan padanya.
Fariza mengemasi barang-barangnya dan segera menenteng tas kerjanya, Adelia menunggunya didalam mobil. Adelia menatap perempuan yang bernotabene menjadi kakak iparnya itu. Tampak lebih ramah dari biasanya.
Fariza: aku pulang ke rumah mama Dea.
Fariza mengirim pesan pada Akbar yang mungkin saja barus selesai meeting bulanan, ia memberi tahu bila saja nanti akhirnya dia menginap di rumah Akbar yang dulu.
Akbar : Iya sayang J
Melihat balasan Akbar yang selain cukup kilat dalam hitungan detik juga begitu kekanak-kanakan. Sejak kapan Akbar memanggilnya dengan panggilan sayang, sedangkan Fariza? Hanya mengingat ucapan Dea sang ibu mertua untuk memanggil suaminya tidak hanya dengan nama panggilannya saja namun harus ada embel-embelnya juga.
“Oh ya siapa namanya art yang cariin mama?” Tanya Fariza sadar sejak tadi mengheningkan suasana dan membiarkan Adelia tampak sibuk dengan konsentrasi menyetirnya.
“Buk Yanti? Kayaknya dari kampong halaman nenek dulu sih. Nenek dari Mama.” Jawab Adelia mencoba mengingat-ingat kampong halaman neneknya.
“Emang nenek dari kota mana?” Tanya Fariza sepertinya ia belum mengetahui dengan pasti apapun tentang keluarga dari suaminya itu.
“Jogja mungkin? Aku juga lupa sejak nenek meninggal kita jarang mudik kesana.” Jawab Adelia dengan diiringi cengengesan rasa tanpa bersalah, Fariza tersenyum begitu mengingat senyuman Adelia itu sama dengan Akbar, sama-sama menggemaskan.
To Be Countinue---