Mata cantik perempuan itu tiba-tiba saja terbuka, ia terjaga dari tidurnya. Pelan-pelan ia mengerjapkan matanya mencoba mendengarkan dengan seksama seperti ada suara bising diluar. Dan benar, mala mini hujan mengguyur kota Jakarta memberikan sentuhan teduh di garis batas kota. Memberikan suntikan kelu di setiap tulang yang tertusuk hawa dingin.
Fariza bangun, ia sepertinya tidur lebih awal sampai Akbar pulang ia tidak tahu. Fariza keluar kamar melihat Akbar tengah berkutik di dapur rumah mereka. Fariza menghampiri suaminya sambil beberapa kali mengucek matanya.
“Ih beli ketoprak. Cuman satu doing nih.” Gerutu Fariza mengetahui Akbar membeli ketoprak dilangganannya. Dan bibir Fariza manyun mengetahui cuman ada satu porsi, benar-benar suaminya sangat pelit.
“Kamu bikin apa?” Tanya Fariza pada Akbar yang sejak tadi berkutik dengan kompor di hadapannya.
Tidak ada jawaban, Akbar tampak dingin mala mini seperti sedang marah pada Fariza. Fariza memutuskan mendekati dan melihat apa yang sedang direbus Akbar. Bibirnya mencembik mengetahui hanya air yang ada di panci yang mulai mendidih itu.
“Kamu itu kenapa sih?” Tanya Fariza berdiri di samping Akbar yang sangat ketara mendiamkan dirinya.
“…”
“Akbar!” Teriak Fariza di telinga Akbar membuat wajah Akbar semakin bersungut kesal pada Fariza yang tiba-tiba berubah menjadi sangat bawel.
“Tadi pulang diantar siapa kamu?” Tanya Akbar dingin menatap lurus mata Fariza yang juga memandangnya.
“Jangan bohong, jangan bohong.” Ucap Akbar di dalam hati, berharap Fariza jujur tanpa menutupinya. Tanpa mengurangi dan melebihi yang sebenarnya terjadi.
“Sama Wisnu.” Jawab Fariza dengan santai.
Akbar yang mendengar kemudian mengalihkan pandangannya memasang wajah benar-benar masam. Fariza mengulum senyumnya, sekarang ia paham mengapa laki-laki yang menikahinya beberapa bulan yang lalu itu sangat galak padanya.
Akbar berjengit kaget begitu dua tangan melingkar di depan perutnya, Akbar benar-benar terkejut begitu Fariza memeluknya dari belakang. Fariza tertawa melihat respon suaminya begitu ia melingkarkan tangannya di pinggang Akbar.
“Dia bilang mau ke pelelangan amal yang searah sama rumah kita.” Ucap Fariza pelan mengecup pundak suaminya.
Akbar benar-benar dibuat membeku dengan tingkah Fariza, lelaki yang sejak tadi menahan gejolak di dadanya untuk tidak marah. Tidak mendapat respon Akbar, Fariza melepaskan pelukannya dan memilih mengambil beberapa suapan ketoprak di atas piring.
“Kamu beli masa satu aja sih?” Gerutu Fariza kesal menatap Akbar yang membawa secangkir kopi dan duduk di sampingnya.
“Aku belikan kamu.” Ucap Akbar santai dan mulai membuka laptopnya, kembali ke ruitinitasnya yang meluangkan waktunya untuk mengecek setiap laporan yang dikirim bawahannya via email. Ia melakukannya agar setiap weekend tidak perlu lembur dan akan menjadi hari benar-benar dimana ia istirahat.
“Loh kamu udah makan ?” Tanya Fariza yang pasti perempuan itu tahu jika suaminya belum makan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan kafein dari kopi dan rokok. Meski Akbar tak pernah merokok di depan Fariza secara langsung.
Akbar menggeleng pelan, ia meneguk kopinya beberapa kali selagi hangat. Semilir angin membawa hawa dingin ke dalam ruangan dapur dari sela-sela jendela. Fariza memakan ketoprak yang kerupuknya sudah mulai tidak renyah karena bercampur dengan sambal. Fariza memberikan sepotong tahu di atas sendok dan memberikan pada Akbar. Bukannya segera melahapnya, justru Akbar masih memandang sendok Fariza dan Fariza secara bergantian.
“Kita makan berdua.” Ucap Fariza membuat Akbar akhirnya menerima suapan Fariza.
“ Kamu mau minta apa ? tumben banget meluk sama nempel mulu sama aku.” Ucap Akbar menyelidik sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
“Otak isinya kalok nggak curiga nggak ada.” Gumam Fariza memanyunkan bibirnya benar-benar kesal padanya.
“Kamu sama Wisnu udah lama pacaran?” Tanya Akbar, ia benar-benar ingin Fariza benar-benar terbuka padanya.
Fariza menghela nafas panjang, di depannya seperti bukan Akbar yang pertama ia kenal. Sekarang disampingnya adalah Akbar yang curiga, manja,merepotkan dan benar-benar posesif terhadapnya.
“Akbar,Aku juga nggak pernah marah kamu keluar sama Maya beberapa kali.” Ucap Fariza mengatakan satu hal yang ingin sekali ia beberkan di depan suaminya agar suaminya tidak selalu menaruh rasa curiga pada istrinya sendiri.
“Itu Beda!” Bantah Akbar jika situasinya sungguh berbeda antara dia dengan Maya dan Fariza dengan Wisnu.
“Sama! Tapi aku percaya sama kamu. Jadi aku tidak pernah berfikiran negative sekalipun itu benar. Kamu melanggar batas, itu urusan kamu dengan Tuhanku.” Ucap Fariza menjelaskan alasan mengapa ia tidak pernah menanyakan hubungan Akbar dan Maya.
Akbar bungkam, sekarang kini ia tahu mengapa istrinya tampak tak peduli dan lebih memilih diam padahal beberapa kali selama mereka menikah, Akbar lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Maya. Seakan buta dengan tembok besar sebagai batas keduanya yang harusnya tidak bosa bersama kembali.
***
Seorang ibu yang membawa nampan berisikan makanan untuk anak semata wayangnya yang sudah beberapa hari mengurung diri di kamar. Tampaknya kehilangan seorang mantan kekasih membuatnya seperti kehilangan segalanya. Ibunya benar-beana terluka dengan keadaan anaknya yang setiap keluar kamar, wajahnya berantakan, mata lembab, dan juga tubuhnya yang lemas.
“Maya, buka pintunya nak?” Bujuk Hani mencoba membujuk Maya untuk membuka kamarnya meski sekedar untuk makan tidak apa.
Cukup lama tidak ada sahutan dari dalam, tidak ada tanda-tanda Maya keluar dari kamar. Hani menghela nafas panjang ia sudah tak tahan dengan keadaan seperti ini. Beberapa kali terlintas untuk datang ke kantor Akbar dan membuat perhitungan dengan mantan calon menantunya itu. Ia tidak terima hidup Maya rusak hanya disakiti seseorang seperti itu.
“Kalok Mamah nggak boleh masuk, Mamah mau ke kantor Akbar.” Ancam Hani mulai geram dengan anaknya yang benar-benar kehilangan separuh jiwa raganya karena laki-laki b******k seperti Akbar.
Ceklek…
Pintu terbuka menampilkan putri semata wayangnya yang seperti mayat hidup. Hani memutuskan untuk mengajak Maya ke kantor Akbar saja biar mereka menyelesaikan masalah mereka berdua.
“Antarkan Mamah ke kantor Akbar.” Ucap Hani membuat Maya mengangkat kepalanya yang ia tekuk dengan wajah yang berubah terkejut.
“Mamah mau apa?” Tanya Maya terkejut mendengar permintaan mamahnya yang sangat ingin bertemu dengan Akbar.
“Sudah jangan banyak bicara. Cepat siap-siap.” Suruh Hani tak sabar melihat Maya yang justru tampak terdiam dan seperti orang linglung sekian lama meratapi nasibnya ditinggal oleh pujaan hatinya.
Akhirnya Maya menuruti permintaan ibunya untuk mengantarkan menuju perusahaan Akbar. Butuh waktu satu jam setengah dari menunggu persiapan Maya sampai mereka sampai di kantor perusahaan Akbar yang menjadi gedung pencakar langit karena tingkatan gedung yang semakin tinggi.
“Mah, Maya nggak ikut masuk ya!” Ucap Maya tiba-tiba suasana hatinya tidak membaik dan enggan bertemu dengan Akbar.
Bertemu dengan Akbar bukan melepas rindu yang membelenggu namun justru menambah goresan luka yang semakin menyayat hati. Bahkan ia tak sanggup menatap perhatian Akbar yang semakin menjadi hari demi hari kepada istrinya, Fariza.
Hani berjalan menuju lobi perusahaan dan meminta diantarkan menuju ruangan Akbar, karyawan Akbar tampak ramah dan mengantarkan sosok ibu paruh baya ke lift dan menekankan lantai tujuh. Hani pun menghela nafas, mencoba menyembunyikan emosinya yang sengaja ia tahan agar tidak meledak sebelum bertemu dengan Akbar.
“Kak Fariza enak ya bisa ketemu sama suami tiap hari.” Ucap sosok berkacamata bundar pada seseorang yang berada di sampingnya yang sedang menikmati bubble tea yang ia beli saat dibawah dengan rekan kerjanya.
“Nggak ada enaknya.” Ucap perempuan yang dipanggil Fariza itu.
“Enak lagi, apalagi pak Akbar punya jabatan penting di sini.” Goda perempuan yang sejak tadi membuka obrolan dengan perempuan yang lebih focus ke monitornya.
Hani menghentikan langkah begitu mendengar laki-laki yang sejak tadi ia cari disebut dalam obrolan dua perempuan itu. Terlebih dari obrolan dua karyawan itu, salah satu dari karyawan itu merupakan istri Akbar. Hani mengamati sosok perempuan yang focus dengan monitor komputernya tanpa menyadari jika sejak tadi ada orang yang menatapnya dari atas sampai bawah.
“Ibu itu daritadi mandangin kak Riza. Kakak kenal?” Tunjuk Anggina pada Hani yang masih setia berdiri tanpa berniat mengalihkan pandangannya dari Fariza.
Fariza menoleh mengikuti pandangan Anggina, Fariza memicing mencoba mengingat barangkali ia lupa dengan ibu itu. Tapi sekeras apapun, Fariza yakin jika tidak mengenal ibu-ibu yang perlahan menghampirinya.
Fariza segera berdiri begitu Hani berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan. Fariza tersenyum mencoba menyapa sosok ibu paruh baya yang kira-kira seumuran dengan Resti, ibu tirinya.
PLAKK…
Tamparan mendarat keras di pipi kanan Fariza, membuat Fariza membeku mati rasa belum menyadari apa yang baru saja terjadi. Fariza memandang panik sosok ibu yang tatapannya berubah begitu tajam menusuk menembus retina mata Fariza.
“Jadi kamu istri Akbar. Perebut laki Maya, anak saya.” Tandas Hani pada Fariza yang belum juga sadar siapa yang berdiri di depannya.
Tamparan yang dilakukan di tempat ramai, semua karyawan departemen Fariza melihatnya. Mereka terkejut bukan kepalang jika seseorang yang berani menampar istri presdir adalah ibu Maya, mantan kekasih Akbar.
PLAAKK…
Tamparan kedua membuat Fariza sadar. Sakitnya tamparan pertama saja belum juga reda kini sudah bertambah. Fariza benar-benar malu,kecewa dan merasakan sakit campur aduk menjadi satu. Perempuan itu segera berlari menekan tombol lift, berusaha menghindar agar karyawan seisi ruangan tak melihat air matanya yang tidak tahu kapan terbendung sudah luruh begitu saja membasahi pipinya yang masih merah dan ngilu bukan main.
“Hey.. Kamu…”
Teriakan Hani terpotong, ketika tubuhnya yang akan mengejar Fariza dihadang oleh seorang pria yang ia tidak kenal. Membuat Hani semakin marah, karena ia merasa seolah-olah satu kantor melindungi perempuan itu.
“Siapa kamu? Minggir!” Usir Hani mencoba mendorong lengan laki-laki yang menghadangi jalannya untuk mengejar Fariza.
“Saya Wisnu, karyawan disini. Lebih baik ibu pergi daripada membuat kegaduhan disini.” Ucap Wisnu dengan sopan mencoba mengusir Hani. Tidak peduli semua perhatian karyawan tertuju padanya.
Menyadari semua mata tertuju padanya, Hani memutuskan segera pergi melupakan niatnya datang kesini untuk bertemu dengan Akbar. Ia pun keluar lobi dengan hati puas setidaknya dia sudah membalaskan apa yang mmebuat anaknya terluka.
Wisnu segera mencari kemana perginya Fariza, tidak mungkin jika Fariza menghampiri Akbar. Entah mengapa firasatnya mengatakan jika Fariza pasti berada di atap. Dia menaiki lift dan begitu lift terbuka menampilkan sosok perempuan yang menangis segugukan.
Bahkan langkah kaki Wisnu tidak terdengar olehnya, sampai ketika Wisnu mengulurkan sapu tangan untuknya. Faria mendongak dan menerima sapu tangan Wisnu untuk mengusap air matanya yang tak mau berhenti justru semakin deras.
“Dulu, ketika kamu menangis aku adalah orang yang memelukmu dan menenangkanmu. Tapi sekarang aku tidak berhak. Aku hanya bisa menjaga dirimu dari jauh.” Ucap Wisnu tanpa memandang wajah sayu Fariza yang menyimak ucapan lak-laki yang duduk di sampingnya.
“Maaf!” satu kata yang sanggup Fariza ucapkan kepada Wisnu, ia merasa menjadi seseorang yang jahat karena melukai hati orang yang tetap selalu ada untuknya.
“Bukan salah kamu Fariza! Tapi memang kita tidak ditakdirkan bersatu hanya kita saling bertemu.” Ucap Wisnu tersenyum pada Fariza yang semakin menangis di depan Wisnu.
“Jangan beritahu Akbar ya!” pinta Fariza pada Wisnu agar tidak memberitahu suaminya tentang apa yang terjadi hari ini.
Wisnu memandang Fariza dengan senyum, Fariza mengalihkan pandangannya tak mau beratatapan lama dengan Wisnu. Perempuan itu khawatir jika aka nada suasana canggung jika bertatapan dengan Wisnu. Tidak bisa dipungkiri, Wisnu begitu dewasa karena meski sudah dilukai oleh Fariza tetap saja ia bisa menjadi sahabat yang baik untuk saat ini.
TING…
Lift terbuka menampilkan Akbar yang sedang menahan emosi, raut wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras. Ada kelegaan menemukan sang istri di atap. Ia benar-benar terkejut begitu Ridwan mengetahui jika ibu Maya kesini dan menampar Fariza sampai dua kali.
Wisnu yang melihat Akbar melangkah dengan tergesa-gesa segera menjauh dan pergi agar tidak terjadi kesalahpahaman di antaranya. Cukup malam itu sebagai waktu damai untuk mereka berdua, malam setelah Akbar bertengkar hebat dengan Maya dan ibunya. Malam dimana ia menerima tamparan dari orang yang sama yang juga menampar istrinya hari ini.
Akbar memandang Wisnu yang melintas di hadapannya, Wisnu tidak takut ia membalas tatapan Akbar. Ia merasa jika ia tidak melakukan kesalahan apapun dengan presdirnya itu.
“Wisnu bilang sama Rani rapat hari ini ditunda dulu saja.” Ucap Akbar pada Wisnu yang menunggu pintu lift terbuka.
“Baik pak!” Jawab Wisnu tegas dan kebetulan lift terbuka cepat.
Segera Wisnu masuk, hatinya belum siap melihat kemesraan Akbar dan Fariza dimana hari demi hari semakin menjadi.
Akbar menghampiri Fariza yang beranjak berdiri setelah Akbar berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangan Akbar spontan mengusap pelan pipi Fariza yang tampak memar dan sudut bibirnya yang berdarah.
“Aku harus bikin perhitungan dengan mamahnya Maya.” Ucap Akbar geram beranjak pergi kalau saja tangan Fariza menahannya untuk pergi.
Akbar memandang Fariza yang justru menangis tersedu-sedu di hadapannya. Sampai isakan-isakan itu semakin kencang terdengar, Akbar menarik Fariza dalam pelukannya mencoba menenangkan istrinya yang tak mampu berkata-kata karena apa yang baru saja menimpanya.
“Akbar… hikss.. “
Akbar yang menunggu Fariza melanjutkan ucapannya harus mengurungkan niatnya. Karena isakan dan air mata Fariza semakin kencang berlomba membasahi jas warna hitam milik Akbar. Ternyata Fariza tidak ingin berbicara, perempuan itu hanya sekedar memanggil suaminya.
Akbar mengencangkan pelukannya, mengusap punggung Fariza memberikan ketenangan dan kenyamanan agar tangis istrinya segera terhenti.
Beberapa waktu tak cukup lama. Akbar melepas pelukan, begitu tak merasakan sesuatu mengalir di bahunya. Akbarpun tak sungkan mendongakkan wajah Fariza menghadapnya. Fariza diam, tangisnya mulai reda meski isakan kecil tak jarang masih terdengar.
Cupp…
Akbar mengecup pelan luka di sudut bibir Fariza membuat terkejut sampai matanya membulat tak percaya apa yang dilakukan suaminya itu. Fariza memberanikan diri menatap mata Akbar yang ternyata memejamkan matanya.
“Akbar kamu…” Ucapan Fariza terpotong begitu Akbar menempelkan bibirnya disudut bibir Fariza kembali. Fariza memejamkan mata membiarkan mereka bertahan di situasi ini.
To Be Continue---