Akbar berjalan masuk menuju ruangannya, ia sangat emosi begitu mengetahui Anggina yang memotong gaun resepsi Fariza. Dia juga baru tahu jika Anggina adalah mata-mata Maya, pantas saja mantan kekasihnya itu selalu mengetahui apapun yang terjadi di kantor. Termasuk dengan resepsi pernikahan yang sengaja Akbar sembunyikan.
“Rani, siapkan berkas Anggina untuk pemecatannya!” Perintah Akbar pada Rani yang terkejut dengan ucapab Akbar yang tidak seperti biasanya.
Fariza keluar dari lift begitu sampai di lantai tempat ruangan Akbar berada. Ia melihat Rani yang akan mengantarkan beberapa dokumen, Rani yang menyadari adanya seseorang lain selain dirinya menoleh dan mendapati Fariza, istri presdirnya.
“Itu yang kamu bawa apa?” Tanya Fariza menunjuk sebuah map yang langsung diberikan oleh Rani padanya.
Fariza terkejut melihat apa isi map tersebut yang tak lain adalah dokumen-dokumen Anggina dan surat pemecatannya. Fariza langsung menerobos masuk ke ruangan Akbar tidak peduli Akbar yang sedang mengotak-ngatik laptopnya.
“Ada apa?” Tanya Akbar melihat wajah Fariza yang merah padam.
“Kamu gila? Mau memecat Anggina.” Ucap Fariza kesal melihat Akbar yang tanpa rasa bersalah.
Akbar menghela nafas, beranjak berdiri menghampiri Fariza yang duduk di sofa. Entah mengapa sesuatu yang mendesak di d**a itu keluar begitu matanya bertemu dengan mata Fariza yang terlihat dingin tapi teduh.
“Dia merusak gaunmu Fariza.” Ucap Akbar mengingatkan jika memecat Anggina adalah jalan keluar dan merupakan resiko yang harus ditanggung oleh Anggina karena perbuatannya.
Fariza menghela nafas menatap mata tajam Akbar dalam diam, Akbar pun juga menatap mata Fariza menunggu kata apa yang akan keluar dari bibir tipis itu. Fariza memberikan kopi yang ia buat di dapur kantor yang sudah perlahan dingin.
“Akbar, kalau kamu memecat Anggina itu berarti kamu sama saja dengan Maya. “ tandas Fariza menohok membuat Akbar menghentikan aktivitasnya meneguk kopi buatan istrinya.
“ Sama darimana?” Protes Akbar tidak terima bagaimanapun ia tidak mau disamakan dengan mantan kekasihnya itu.
“Kamu memecat seseorang bukan masalahnya dalam kinerja tapi karena masalah pribadinya dengan kamu.” Ucap Fariza lembut pada Akbar.
Sadar atau tidak, Fariza perlahan lembut pada Akbar. Selalu siaga menyiapkan apa yang diminta oleh suaminya dalam beberapa hal tak peduli masalah sepele contohnya secangkir kopi mungkin. Fariza melakukannya dibawah alam kesadarannya, tak menyadari semua berjalan begitu saja.
“…”
“ Lagipula kita hargai keberanian dia mengatakan semuanya tak peduli resiko yang mungkin akan dia terima. Pernikahan kita tetap berjalan walaupun aku tidak memakai gaun itu.” Ucap Fariza perlahan meraih tangan Akbar menggenggamnya mencoba meredakan emosi suaminya yang membuatnya tak bisa berfikir jernih sampai salah melangkah. Membawa masalah pribadinya dalam kinerjanya.
Akbar hanya mengangguk, mulai mengerti jalan fikiran Fariza yang coba dia curahkan pada Akbar. Akbar banyak berubah lebih mengutamakan pandangan orang lain, terlebih ia begitu takluk jika Fariza sudah mengendalikan emosinya. Hanya hangatnya sebuah genggaman tangan mampu meredakan segalanya salah satunya ego.
“Nanti makan siang sama aku?” Ajak Akbar menahan lengan Fariza begitu perempuan itu akan beranjak.
“Aku mau makan sama temen-temen kantor biar lebih kenal.” Tolak Fariza tersenyum melihat wajah masam yang pada wajah suaminya.
“Terserah!” Ucap Akbar dengan nada ketus.
Wajah Akbar kembali seperti semula ketika Fariza menghilang dari balik pintu ruangannya. Lelaki itu berjalan mendekati jendela ruangannya, menatap suasana jalanan yang padat dan manusia semua beraktivitas. Akbar tersenyum mengingat Ridwan yang menyadari perubahan dalam dirinya. Mungkin benar kata Ridwan jika Akbar jatub cinta sendiri dengan istri berkat pernikahan perjodohan yang direncanakan orang tuanya itu.
***
“Kak Riza nggak pulang?” Tanya Anggina melihat Fariza yang masih bersantai memandangi layar monitornya.
“Oh, udah jam lima sore ya ternyata.” Ucap Fariza melihat jam di arlojinya ternyata sudah waktunya pulang. Perempuan itu terlalu focus menatap layar monitornya,sampai tidak menyadari jam dinding itu menujukkan jam lima kurang.
Ddrrttt..dddrrttt….
Akbar : bikini kopi dong.
Membaca pesan singkat yang muncul di layar ponselnya membuatnya memutar bola matanya malas. Fariza merasa suaminya itu menjadi sangat merepotkan sekali, padahal di depan ruangannya ada Rani yang siap melayani apapun keinginan Akbar.
Fariza memilih mengabaikannya saja dan akan beralasan jika ia tidak melihat pesan yang Akbar kirim. Ia ingin segera pulang saja, daripada disuruh-suruh Akbar. Ah bukan lebih tepatnya suaminya itu sengaja membuatnya kesal.
“ Pura-pura nggak lihat.” Ucap seseorang yang baru datang yang kini berdiri di ambang pintu membuatnya menjadi pusat perhatian.
Fariza merasa ia dan Akbar menjadi pusat perhatian pura-pura tidak mendengar suara Akbar. Hal itu pastinya membuat Akbar geram dan melangkah menghampiri Fariza dengan wajah dingin.
“Adinda!” Panggil Akbar dengan suara sedikit lantang membuat para karyawan yang sedang menunggu lift terbuka semua menoleh.
“Akbar, ada Rani yang selalu stand by di depan ruangan kamu. Kenapa justru kamu repot-repot turun ke lantai bawah?” Tanya Fariza mulai geram. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik ketika Akbar memanggilnya dengan nama belakangnya.
“Nanti pulang sendiri aja ya? Aku ada rapat, Ridwan juga nggak bisa ngantar.” Ucap Akbar mengutarakan maksud ia turun ke satu lantai di bawahnya.
Fariza mengangguk, mengerti. Ia tidak perlu bingung untuk pulang lagipula sekarang sudah marak teknologi transportasi melalui aplikasi. Akbar pun kemudian pergi meninggalkan Fariza yang mulai memberesi dokumen kerjanya, mematikan lampu meja kerjanya.
Fariza berjalan menuju lobi perusahaan, sudah mulai sepi para karyawan sudah pulang sebagian dan sebagian lagi sedang lembur. Langkah Fariza terhenti begitu matanya menangkap Wisnu yang juga berjalan keluar lobi. Dan, sialnya lelaki itu menoleh dan mengetahui keberadaan Fariza membuat Fariza mengutuk keberadaannya sendiri.
“Mau pulang, Za!” Sapa Wisnu menghampiri Fariza yang duduk di lobi ingin memesan jasa mobil.
“Iya nih.” Jawab Fariza tersenyum membuat hati Wisnu sedikit bergetar melihat senyum lembut Fariza yang sangat jarang perempuan itu tampilkan.
“Nggak sama pak Akbar?” Tanya Wisnu sambil celingukan mencari keberadaan presdir perusahaan tempat lelaki itu bekerja.
“Dia rapat.” Jawab Fariza singkat mencoba jaga jarak.
Jika dulu ia akan santai dan nyaman berbicara dengan Wisnu dimanapun tempatnya kini berbeda Fariza tampak menjaga jarak dan berjaga-jaga jika ada orang yang mengenalnya. Jika ada yang berpendapat jika ia dikatakan takut akan kemarahan Akbar jika lelaki itu mengetahui. Jawabannya salah, Fariza hanya berusaha menjaga image sebagai istri seseorang tidak baik rasanya bercengkrama hanya berdua dengan laki-laki lain, terlebih mantan kekasihnya dulu.
“Aku mau ke acara amal? Kebetulan satu arah dengan rumah pak Akbar mau sekalian?” tawar Wisnu teringat ada acara lelang amal yang akan ia datangi.
Fariza tampak bingung antara mengiyakan atau menolak, jujur saja ia sangat malas menggunakan jasa taxi online. Kebetulan Wisnu menawarkan, tapi ia teringat bagaimana wajah Akbar ketika mengetahui Fariza dan Wisnu pulang bersama. Fariza menggaruk tengkuknya menandakan jika ia sedang berada dalam situasi bimbang.
“Atau kamu mau ikut serta datang ke acara itu?” Tawar Wisnu melihat keresahan Fariza.
Fariza langsung menggeleng mendengar tawaran Wisnu yang terakhir. Mengantar pulang saja cukup beresiko apalagi datang ke sebuah acara bersama bisa mati muda Fariza dimarahi Akbar, suaminya.
“Aku ikut sampai rumahku aja ya, Nu!” ucap Fariza menerima ajakan Wisnu untuk pulang bersama.
Ketika Fariza mengatakan rumahku. Menganggap rumah Akbar sudah sebagai rumahnya sendiri membuat hati Wisnu sedikit sakit. Bayangannya dulu seolah-olah terputar jika ia akan membelikan rumah baru Fariza setelah menikah. Kini kenangan hanya kenangan layaknya waktu dapat mengalami, mengingatnya namun tak bisa mengulanginya kembali.
“Oke.” Jawaban singkat Wisnu mengakhiri ajang tawar menawar, kemudian mengantar Fariza menuju mobilnya yang terparkir di basement perusahaan.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang mengawasi mereka berdua dengan wajah merah padam dan deru nafas yang naik turun. Niat hati ingin menemani Fariza menunggu taxi online datang namun kedahuluan oleh Wisnu yang cepat membaca kesempatan yang ada.
“Dasar pembangkang!” Gumam Akbar sambil memandang kepergian Fariza.
To Be Continue----