AS YOUR EMPLOYE

2729 Words
“Ini Ratna, asisten manager bagian distribution.” “Ini Raka, distribusi supplier.” Ridwan mengajak Fariza berkeliling kantor mengenal Fariza Adinda sebegai asisten dirinya sesuai dengan permintaan Akbar pada Ridwa. Ridwan tidak mempermasalahkan tapi Fariza justru tak nyaman dengan posisinya sekarang yang pasti akan lebih banyak kontak langsung dengan Akbar dan juga… Wisnu. “Apa tidak ada posisi yang kosong lagi?” Tanya Fariza sedikit sungkan pada Ridwan yang juga bingung menjawab. Sebenarnya banyak posisi kosong di departemen yang ia pimpin hanya saja orang yang direkrut secara langsung oleh presdir membuatnya tak enak hati untuk berbuat semaunya. “Tidak!” Jawab seseorang membuat Fariza dan Ridwan menoleh secara bersamaan. Siapa lagi jika bukan Akbar dengan wajah menyebalkan sedang berdiri di ambang pintu ruangan. Fariza yang mengetahui itu adalah suaminya memutar bola matanya malas, padahal baru saja beberapa jam yang lalu ia naik ke atas untuk rapat sudah turun dan menampakkan batang hidungnya. “Kenapa? Kamu mau satu departemen dengan mantan kekasih kamu?” tandas Akbar dengan nada sarkatis membuat Fariza justru mencembikkan kedua sudut bibirnya. Bagaimana tidak kesal, Akbar sedikit posesif menurutnya semua tingkah lakunya dikaitkan dengan Wisnu. Ridwan yang melihat kecanggungan terjadi di ruangannya baru saja akan keluar didahului Fariza yang berjalan menghampiri Akbar. “Aku nggak mau nungguin kamu pulang, aku pulang sendiri.” Ketus Fariza menatap mata suaminya yang memasang wajah dingin padanya penuh curiga. “Iya, kamu bareng sama mantan kekasih kamu itu.” Tantang Akbar melihat betapa keras kepalanya istrinya itu, yang sama sekali tidak takut dengannya. “Dengan senang hati raja.” Ucap Fariza dengan wajah berbinar menatap mata Akbar yang tampak menahan emosi melihat respon perempuan di depannya yang sengaja menguji kesabarannya. “Jangan coba-coba Fariza!” Teriak Akbar yang justru hanya direspon Fariza menjulurkan lidahnya. Ridwan melihat dengan jelas Akbar sangat berbeda ketika bersama dengan Maya dan juga Fariza. Menjadi dua kepribadian Akbar, siapa yang mengetahui antara keduanya siapa yang mampu jadi diri Akbar. Di depan Maya, Akbar tampak tenang dan berwibawa mencerminkan bagaimana ia bersikap sebagai seorang presdir perusahaan. Sedangkan di depan Fariza, laki-laki itu menjadi dirinya sendiri sangat santai tanpa sungkan. “Jadi ada yang jatuh cinta disini?” Goda Ridwan menghampiri Akbar yang belum mengalihkan pandangannya dari Fariza yang berjalan menjauh dan menghilang dibalik pintu ruangan karyawan. “Diam!” Ketus Akbar yang masih kesal dengan Fariza yang selalu mampu membuatnya tak habis fikir dengan sikap istrinya yang selalu memancing kesabarannya. “Nanti tolong anterin Fariza pulangnya ya Wan.” Pinta Akbar pada Ridwan yang mengangguk cepat mendengar permintaan Akbar. “Kenapa nggak elo aja sih?” Tanya Ridwan penasaran mengapa harus ia yang mengantarkan sedangkan ada aplikasi jasa yang sudah banyak beroperasi pada zaman modern penuh dengan teknologi. “Elo budek? Dia nggak mau nungguin gue.” Ketus Akbar kemudian beranjak pergi ketika pintu lift yang sudah ia tekan naik terbuka. Ridwan berjalan kembali ke ruangannya, ia tersenyum. Teka-teki yang tadinya sulit terpecahkan, kini ia sudah temukan jawabannya. Bagaimaana Akbar mengerahkan segala perhatian untuk istrinya meski secara tidak langsung karena masih gengsi. *** Fariza melihat sekilas arloji yang bertengger di tangan kirinya menunjukkan pukul enam sore, banyak karyawan yang sudah berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan sosok perempuan berambut di kepang yang masih berkutik dengan dokumen membuat Fariza mengerutkan keningnya karena sejak tadi gadis yang masih muda itu beberapa kali meliriknya. “ Kamu baik-baik saja?” Tanya Fariza menghampiri gadis ber-tag name bertuliskan Anggina. Anggina tampak terkejut dengan kedatangan Fariza di sampingnya, gadis itu membernarkan kacamata yang bertengger di hidungnya. Angina hanya tersenyum sungkan, ia takut dengan tatapan lurus mata tajam Fariza yang menampilkan betapa tegasnya istri presdir itu. “Bu Fariza tidak pulang?” Tanya Anggina gemetar mencoba menetralkan kegugupan yang tampak terlihat darinya. “Kita rekan kerja kamu tidak perlu memanggilku seperti itu. “ Jawab Fariza sungkan, tidak biasa ia dipanggil dengan embel-embel seperti itu. “Bukankah bu Fariza istri pak Akbar?” Tanya Anggina berhati-hati dengan canggung menanyakan hal yang pasti sudah diketahui semua karyawan. “Ya, Akbar suamiku. Tapi sekarang aku rekan kerja kamu. Jadi tolong panggil Fariza saja.” Ucap Fariza mencoba membenarkan pada Anggina yang tampak senyum senang dengan ucapan Fariza meski wajah Fariza tidak lemah lembut seperti dirinya. “Za, ayo gue anter pulang!” Ajak Ridwan yang sudah mengemasi barang-barangnya untuk segera pulang. Tadinya ia mencari Fariza bisa jadi masih di ruangannya ternyata sedang bercengkrama dengan Anggina, karyawan training paling muda di departemennya. “Nggak usah kak, aku nunggu Akbar aja ya!” tolak Fariza dengan senyum canggung. Fariza berlalu dengan menepuk pelan pundak Anggina dan menghampiri Ridwan yang masih menunggunya di ambang pintu. “Wah, jangan gitu dong Za! Gue bisa dibunuh laki elo!” Ucap Ridwan tak enak hati karena Akbar sendiri yang menyuruhnya untuk mengantar istri sahabatnya itu. Namun, Fariza tetap menolak dan justru menekankan lift untuk Ridwan agar cepat pulang. “Nggak papa, Akbar di lantai atas kan?” Tanya Fariza tersenyum agar Ridwan tidak tampak gelisah, tampaknya sahabat suaminya itu begitu takluk dengan Akbar. Ridwan mengangguk sebelum pintu lift yang ia gunakan hampir tertutup. Fariza mengemasi barang-barangnya, ia sekilas menengok dalam ruangan memastikan apakah gadis yang bernama Anggina itu sudah pulang. Dan benar, seluruh lampu di atas meja kerja sudah mati. Fariza bergegas menuju lift untuk menyusul Akbar yang menurut tebakannya suaminya sedang memilah-milah dokumen. Tak butuh waktu yang lama-lama, begitu lift terbuka Fariza disambut dengan senyum sekretaris Akbar. Fariza menunjuk ruangan sebagai isyarat apakah Akbar ada di dalam, Rani mengerti maksud Fariza dan segera membukakan pintu untuknya. “Lain kali biarkan saya membuka sendiri.” Ucap Fariza dengan senyum merekah yang begitu murah untuk semua orang yang tak eprnah ia perlihatkan kepada keluarga dan terlebih Akbar. Fariza menghela nafas menemukan Akbar yang masih sibuk dengan laptopnya tidak menyadari kedatangan istrinya. Fariza tidak menghiraukan dan lebih memilih duduk di sofa menunggu Akbar yang masih sibuk. “Kamu tidak pulang?” Tanya Akbar begitu menyadari ternyata Fariza yang datang ke ruangannya, ia sempat mengira Maya atau Rani namun mengapa justru tak kunjung membuka pembicaraan. “Ayo pulang!” Ajak Fariza menghampiri Akbar yang masih duduk di kursinya, bedanya kini tangannya sudah tidak di atas keyboard laptopnya. Dan justru menghadap Fariza yang duduk di mejanya. Bukan lebih tepatnya Fariza hanya menyenderkan tubuhnya di meja itu. “Aku tadi menyuruh Ridwan mengantarkanmu.” Ucap Akbar meraih tangan Fariza dan membawanya ke pundaknya. Entah mengapa tiba-tiba saja ia ingin Fariza sedikit saja meringankan beban di pundaknya. Fariza hanya diam dan memulai memberiakn pijatan lembut di pundak suaminya. Matanya melihat data-data yang ditampilkan monitor laptop, Akbar pun kembali mengotak ngatik datanya. Ah ralat, Akbar hanya meneliti adakah kekurangan dalam laporan yang disetorkan bawahannya padanya. “Bar, kita lanjut di rumah. Ayo pulang!” Ajak Fariza sambil mulai mengemasi dokumen yang masih berserakan di meja Akbar. Akbar pun diam namun menuruti ucapan Fariza, ternyata ia tetap kalah untuk memaksa Fariza agar menunggunya sebentar saja agar Akbar tidak perlu bekerja ketika sampai di rumah. Tanpa mereka sadari sejak tadi Rani, sekretaris Akbar mengamati gerak-gerik sepasang suami istri itu. Rani: kamu yakin abang kamu masih ada hubungan dengan Maya? Ternyata Rani adalah sebagai mata-mata bagi Adelia agar mengetahui gerakan abangnya selama di kantor. Sebenarnya masih ada orang yang juga menjadi mata-mata untuk Adam, pemilik perusahaan adalah Ridwan hanya saja kurang efektif karena mereka berbeda ruangan. Adelia : Kenapa? Apakah ada hal special antara Akbar sama Fariza? Rani : besok saja aku beritahu, aku mau pulang dulu. Rani bergegas keluar terlebih dahulu karena dua orang didalam juga sudah berjalan menuju pintu ruangan. Fariza membantu membawakan dokumen yang sengaja tidak dimasukkan ke ransel Akbar. Akbar yang sejak tadi tak mau beriringan justru sibuk mengamati rambut Fariza yang digulung, menampilkan leher jenjang Fariza dengan kalung yang melingkar disana. “Besok jangan dinaikin gitu rambutnya.” Larang Akbar membuat Fariza menoleh menatap Akbar malas. Lagi dan lagi ia merasa Akbar sangat posesif dengannya. Fariza sampai berpikiran apakah Maya berpakaian seperti itu Karena larangan dan perintah Akbar yang selalu harus dituruti. Baru beberapa langkah mereka sampai basement bawah, langkah Fariza terhenti mendapati Maya yang sedang berdiri di depan mobil mereka. “Akbar!” panggil Fariza pelan pada Akbar yang sejak tadi berjalan di belakangnya sambil mengotak-ngatik ponselnya. “Hm?” Tanya Akbar mendongak dan membeku di tempat mendapati Maya yang menatapnya begitu dingin. “Oh, Jadi kamu gunain Akbar biar bisa dapat posisi yang lebih tinggi setelah kamu di pecat?” Tanya Maya berjalan menghampiri Fariza yang memandangnya datar. Kalau dulu ia menghormati wanita di hadapannya ini karena dia adalah atasannya, tapi sekarang Fariza tidak akan sudi menghormati Maya, wanita yang membuat ia kehilangan pekerjaan. Maya yang melihat respon Fariza cukup angkuh menanggapi ucapan Maya membuat perempuan mengangkat tangannya menganyunkannya ke wajah Fariza. Akbar yang melihatnya berlari segera melindungi Fariza, namun berhenti ketika tangan Fariza berhasil menepis tangan Maya dengan kuat. Kini justru Maya yang merasa kesakitan, rupanya Fariza cukup bertenaga padahal hanya sebuah tepisan ringan. “Itu anugerahku menikah dengan seorang presdir, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari muka para atasan untuk naik jabatan.” Sindir Fariza begitu menohok membuat Maya semakin emosi.Maya mengejar Fariza yang berjalan untuk masuk mobil namun tidak kesampaian karena tangannya ditahan oleh Akbar yang sejak tadi hanya berperan sebagai penonton. “Akbar!” Panggil lembut Maya merasakan tangan Akbar yang menggenggam tangannya. Air matanya selalu tak bisa dibendung ketika matanya tak bisa menemukan lagi mata teduh Akbar untuknya. Fariza yang melihat tangan Akbar yang belum terlepas dari tangan Maya membuatnya memutar bola matanya malas. “Jadi kamu yang mendepak keluar Fariza dari kantornya?” Tanya Akbar melepaskan genggaman tangannya. Akbar, lelaki yang dicintai Maya bertahun-tahun kini benar-benar berubah. Bagaimana tidak? Pandangan lembut yang selalu ia berikan kini musnah, tatapan sendu kini berubah bak belati menggores hati, pelukan hangat tak lagi ia dapat. Benar-benar Akbar kekasihnya hilang tertelan kegelapan. “Akbar, aku bisa jelasin.” Ucap Maya mencoba meraih tangan Akbar yang langsung laki-laki itu hindari. Tak peduli dengan air mata yang kini bercucuran membasahi kain penutup kepalanya, Maya benar-benar terlihat menyedihkan, Akbar segera masuk tak mau menunggu Fariza terlalu lama di dalam mobil. Fariza terpaku melihat betapa dinginnya Akbar pada mantan kekasihnya itu, ia benar-benar tak menyangka Akbar melakukan itu pada Maya. “Kamu lihat apa?” Tanya Akbar dingin begitu Fariza menatap iba pada Maya yang kini menatap belas kasih Akbar yang justru mengalihkan pandangannya. Begitu Maya menepi dari mobilnya segera dimanfaatkan Akbar untuk menancap gas dan meninggalkan Maya yang tersungkur menyesali apa yang akhir-akhir ini ia lakukan demi bisa mendapatkan Akbar kembali. “Akbar aku pengen ketoprak yang di pojok perempatan jalan itu loh.” Ucap Fariza berharap Akbar akan mampir membeli. Akbar hanya mengangguk, ia masih terbawa suasana emosi pada Maya. Ia benar-benar tak habis fikir jika Maya lah yang membuat Fariza keluar dari kantornya. Tidak butuh waktu lama, Akbar menyalakan lampu sen kiri kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan tepat penjual ketoprak itu berjualan. Fariza segera turun, dan memesan dua porsi untuk mereka berdua tidak lupa es jeruk favorit Fariza ketika semasa kuliah. “Makan disini? Kerjaan aku belum beres.” Ucap Akbar teringat kerjaannya yang masih menumpuk. “Aku bantuin deh. Sesekali santai nikmati malamlah.” Rayu Fariza padahal dalam hati ia merutuki tidak teringat dengan kerjaan Akbar yang dibawa pulang. Padahal Fariza sendiri yang menyarankan untuk Akbar bawa pulang. “Kamu sering kesini sama Wisnu?” Tanya Akbar dingin, ia merutuki dirinya yang cenderung negative thinking setiap apa yang dilakukan Fariza. “Oh, aku awal kesini tuh sama Dini pas awal kuliah gitu. Terus berlanjut pas sampai sekarang jadi seringlah sama Wisnu.” Ucap Fariza panjang lebar sekalian membuat jengkel hati Akbar yang memanas setiap Fariza menyebut nama mantan kekasihnya, Wisnu. “Ini neng Riza, loh pacarnya ganti ya? Bukan sama bang Wisnu lagi.” Ucap penjual ketoprak pada Fariza yang sudah mengenal Fariza sejak Fariza menjadi langganannya. Fariza mengulum tersenyum, melirik respon Akbar yang tampak sedikit kesal karena ucapan penjual ketoprak. “Iya, Mang. Ini suami saya.” Ucap Fariza mengenalkan Akbar yang langsung menyambut uluran tangan penjual ketoprak yang bernama Asep itu. “Oh udah menikah? Maaf ya pak saya nggak tau.” Ucap mang Asep pada Akbar yang mengangguk memberikan senyum ramah padanya. Begitu penjual ketoprak meninggalkan mereka berdua, Fariza segera memberikan sendok dan garpu untuk Akbar. Menyodorkan es jeruk yang sudah ia beri sedotan untuk suaminya itu. Akbar hanya diam dan menerimanya. “Kepedasan nggak sih?” Tanya Fariza karena memesan porsi yang sama dengannya dan ia tidak tahu selera makanan Akbar. “Pas kok.” Jawab Akbar sambil menyantap kerupuk yang ditaburkan di atas sambal. “Setiap hari dianter sama Wisnu?” Tanya Akbar mencari topik pembicaraan agar tak terlihat canggung saja. “Iya, dulu aku kuliah bawa mobil sekarang dipake Mona sama Sarah untuk kerja.” Jawab Fariza tetap santai menjawab pertanyaan Akbar. Sebenarnya ia sedikit kesal, namun melihat sorot mata Akbar yang santai, ia pun menganggap sedang bercerita saja dengan suaminya. *** Hari kedua, Fariza masuk kerja sebagai asisten Ridwan sahabat suaminya. Satu kantor membuat Akbar memuseumkan motor gedenya dan menggunakan mobil agar dapat berangkat bersama Faiza. Biasanya ia akan berangkat lebih siang dari karyawannya namun kini harus berangkat lebih awal karena ya Fariza termasuk karyawannya. Fariza turun dari mobil bersamaan dengan Anggina, gadis muda yang sudah bekerja di perusahaan ini berkat prestasinya semasa kuliah. Angina melihat Fariza yang baru tiba, gadis itu menghentikan langkahnya berharap Fariza akan berjalan bersamanya. Fariza yang baru saja akan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu justru terdiam, bagaimana tidak gadis itu lari begitu menyadari seseorang yang turun dari pintu bagian pengemudi adalah Akbar, presdir perusahaan. “Aku nggak mau berangkat bersama lagi.” Ucap Fariza kesal memandang Akbar. “Ada apa denganmu? Tadi kamu baik-baik saja.” Gumam Akbar menanggapi istrinya yang tadi di dalam mobil diam saja kini tiba-tiba merengek padanya bak seorang anak kecil yang kesal karena tidak dibelikan mainan. “Karyawanmu jadi sungkan sama aku.” Gerutu Fariza mengingat sejak kemarin ia tidak bisa beradaptasi dengan baik karena karyawan memperlakukanku dengan aneh. Setiap Fariza melintas, semua tampak tersenyum menyambut kedatangannya. Padahal berbicara masalah posisi, banyak yang lebih tinggi daripada posisi Fariza. Itu semua karena Fariza adalah istri dari presdir mereka. “Memangnya kalau kamu berangkat sendiri? Mereka tidak mengenal kamu.” Tanya Akbar kesal, siapa tidak hanya masalah berangkat bersama membuat karyawan sungkan. Mau berangkat sendiripun mereka akan tetap begitu karena masalahnya ada di Fariza sendiri yang menjabat sebagai karyawan biasa dan berstatus istri seorang Akbar Aninbagaskara menantu dari Adam Bagaskara pemilik perusahaan. Fariza menghentakkan kakinya ke tanah setiap kakinya melangkah, ia benar-benar kesal setiap hari harus bertengkar yang tidak penting dengan suaminya itu sendiri. Fariza berhenti di dapur kantor melihat Anggina sedang menyeduh kopi. Fariza tersenyum dan menghampiri gadis berkacamata itu. “Pagi, Anggina!” Sapa Fariza tersenyum membuat Anggina terkejut dengan kedatangan istri presdir itu. “Pagi, bu Fa… maksud saya Fariza.” Jawab Anggina dengan senyum manisnya membuat Fariza gemas sendiri. Fariza terpikir menyeduhkan kopi untuk Akbar, yang semalam bergadang karena membereskan pekerjaannya. Fariza yang janji akan menemani justru diusir oleh Akbar untuk segera pergi tidur. Angina yang menatap Fariza dengan perasaaan resah membuat Fariza justru semakin penasaran. “Kamu kenapa ada masalah?” Tanya Fariza menyadari Anggina sepertinya sejak tadi ingin berbicara dengannya. “Akum au ngomong sesuatu sama Fariza.” Jawab Anggina menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Fariza yang mungkin kini sedang berubah menjadi hitam pekat menyelidik. “Iya?” Ucap Fariza tidak sabar karena yang dilakukan Anggina hanya memutar-mutar gelas ditangannya tak kunjung berbicara. “Sebenarnya… Sebenarnya…” Ucapan Anggina terbata, ia masih dalam keadaan bimbang antara harus memberitahu segalanya atau bagaimana? Fariza masih sabar menunggu kata selanjutnya yang keluar dari mulur mungil Anggina. “Ayolah Anggina! Aku tidak akan marah denganmu.” Bujuk Fariza mengusap pundak Anggina setidaknya memberikan kekuatan agar gadis itu tidak tampak bingung dengan tingkah lakunya sendiri. “Sebenarnya, yang merusak gaun pernikahanmu adalah aku.” Ucap Anggina sambil memejamkan mata, tak kuasa melihat respon Fariza. Fariza hanya tersenyum mendengar ucapan Anggina yang sangat jelas dia ketakutan. Angina membuka matanya perlahan melihat Fariza yang tampak biasa dengan pengakuannya. Perempuan itu tetap tenang dan sama sekali tidak tersulut emosi. Baru saja, ia bernafas lega kini wajahnya justru pucat pasi bak orang melihat hantu, diam membeku di hadapan Fariza membuat perempuan itu heran mengapa Anggina mempunyai banyak ekspresi. Sampai Fariza yang mengusap rambutnya tak mampu membuat Anggina bisa bergerak. “Pak.,..Ak..Bar!” To Be Continue—
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD