TEMAN HIDUP II

2265 Words
Akbar mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai, Maya memandang Akbar yang sejak pulang dari pernikahan Doni tampak lebih banyak diam. Maya memejamkan matanya mencoba memendam emosinya yang sejak tadi juga ia tahan setelah melihat bagaimana Akbar memeluk Fariza. “Aku nggak masuk ya!” Ucap Akbar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal hanya untuk mengurangi kecanggungan yang sejak tadi menyelimuti dirinya sendiri. “Sampai kapan kamu nghindari mamah aku, Bar?” Tanya Maya begitu marah, ini sudah kesekian kali Akbar menolak undangan mamahnya untuk makan malam. “Fariza menungguku di rumah.” Jawab Akbar menjadikan istrinya sebagai alasan padahal jelas ia tahu dengan pasti jika Fariza tidak pernah mengusik hubungannya dengan Maya. Semua yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulah Akbar sendiri yang selalu mengakibatkan Fariza ikut campur dalam masalahnya dengan Maya. “Fariza lagi, Fariza lagi.” Teriak Maya kesal setiap Aknbar menyebut nama istrinya itu. “…” Akbar hanya diam, jujur saja ia termakan oleh omongannya sendiri. Kini ia tak pernah betah menghabiskan waktu lama-lama dengan Maya. Sedangkan Fariza yang tidak pernah membuat Akbar bicara baik-baik selalu mengusik fikirannya. Itu alasan, mengapa ia selalu membawa pulang pekerjaan kantornya yang belum selesai. “Akbar, kamu sudah basah dan lebih baik kamu meneruskannya sampai akhir. Aku tidak akan membiarkan Fariza hidup tenang jika kamu mulai berpaling dariku.” Ancam Maya tak main-main membuat Akbar membisu. “Kamu mengancamku? Huh? Aku menuruti segala permintaan kamu tapi mengapa kamu belum juga berhenti mengusik hidup Fariza.” Bentak Akbar kehilangan kesabarannya, ia benar-benar tak suka dengan Maya yang sejak dulu ia kenal sebagai perempuan yang ramah, lemah lembut dengan segala tutur katanya. “Kamu belum menceraikan Fariza!” Teriak Maya dengan api kemarahan beserta dengan air mata yang memenuhi kantung matanya. “…” “ Aku tidak akan menceraikan Fariza.” Tegas Akbar menekan setiap kata yang ia ucapkan membuat Maya tercengang, ia benar-benar tak mengenal sosok Akbar di hadapannya. Lelaki ini begitu asing, bukan lagi Akbar yang mempunyai sejuta cara meluluhkan hatinya. Akbar turun dari mobil, ia yang awalnya berniat untuk segera pergi dari kediaman Maya justru kini menuju pintu utama rumah mewah itu. Maya terkopoh-kopoh mengikuti Akbar yang sudah menekan bel berkali-kali. Maya memang menginginkan Akbar bertemu dengan mamahnya untuk membicarakan hubungan ke jenjang serius. Tapi, mengingat pertengkaran beberapa menit lalu, Maya mulai berprasangka buruk akan terjadi. “Akbar!” Sapa Hani yang membukakan pintu begitu mengetahui calon menantu yang ia idamkan akhirnya datang berkunjung. “Mari masuk!” Ucap Hani mempersilahkan Akbar untuk masuk. Akbar hanya tersenyum, setelah beberapa kali ia menarik nafas panjang Akbar akhirnya masuk dan menunggu mamah Maya menyajikan kopi untuknya seperti terakhir kali ia berkunjung. Maya yang sejak tadi bungkam menatap Akbar was-was. Pikirannya kalang kabut menerka-nerka hal buruk apa yang akan terjadi. “Jadi ada niat apa Akbar kesini?” Tanya Hani duduk lalu tersenyum, ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya akhirnya datang ke rumah. “Sebelumnya, Akbar minta maaf karena selalu menolak undangan dari mamah untuk kesini. Dan hari ini Akbar datang untuk meminta maaf tidak bisa menepati janji untuk menikahi Maya, putri mama.” Ucap Akbar panjang lebar begitu hati-hati menata setiap rangkaian kata agar mamah Maya mengerti. “Kenapa? Kamu membatalkan apa karena syarat mamah yang terlalu matrealistis atau karena Fariza istri kamu?” Tanya Hani dengan nada dingin. Sikap ramah,lemah lembutnya hilang tertelan kekecewaan mendalam pada Akbar yang berani membatalkan pernikahannya dengan Maya. “Dua-duanya.” Jawaban Akbar begitu tegas menatap lurus sorot mata mama Hani yang sudah jelas menahan amarah. PLAAAKK…. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Akbar, Maya yang melihatnya terdiam dan membisu tanpa kata-kata. Hani melampiaskan amarahnya dengan tamparan di pipi Akbar, ia benar-benar marah karena merasa anaknya dibuang begitu saja oleh kekasihnya. “Kamu pikir anak saya barang yang bisa kamu kembalikan sesuka hati kamu! Kalau tidak berniat serius kenapa dulu kamu mengiyakan persayaratan yang mamah buat? Kenapa?” teriak Hani tak sampai hanya menampar pipi kiri Akbar yang memar akibat tamparan keras darinya. “Maafkan Akbar, mah!” ucap Akbar menunduk mengucapkan permintaan maaf yang tulus. Sudut bibirnya perih karena memar, sepertinya Hani menamparnya dengan sekuat tenaga. “Pergi dari sini! Saya muak melihat muka kamu!” Bentak Hani menyuruh Akbar untuk pergi. Ia benar-benar lepas kendali. “Mah!” Rengek Maya akhirnya membuka suara setelah sejak tadi hanya mengamati perserturuan akibat bendera perang yang dikibarkan oleh Akbar. “Kenapa? Kamu mau membela laki-laki b******k ini?” Ucap Hani bengis benar-benar tak mengontrol emosinya yang meledak-ledak begitu saja. Akbar pun berdiri beranjak pergi keluar ruang tamu, ia diam ini memang resiko yang harus ia tanggung. Maya menahan lengan Akbar dengan air mata yang bercucuran mengalir membasahi kain kerudung yang menjadi pipinya. “Akbar! Aku mohon kita masih bisa lanjutkan hubungan ini.” Ucap Maya bercampur dengan isakan memohon agar Akbar tetap tinggal. Akbar menepis pelan tangan yang melingkar di lengan kirinya. Laki-laki itu tersenyum getir menatap wanita yang kini menangis tersedu-sedu di hadapannya. Akbar menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengalir. Jika dulu ia benar-benar tak ingin air mata Maya jatuh barang setetespun, namun kini perasaannya hanya sebatas simpati karena membuat Maya kecewa. “Maya, kamu wanita hebat! Kamu terbaik, tapi Allah berkehendak lain. Kita tidak berjodoh. Aku harap kamu menemukan laki-laki yang sepadan dengan kamu.” Ucap Akbar kemudian melangkah cepat meninggakan Maya yang akan mengejarnya namun ditahan ibunya. Dari kaca helm full facenya, Akbar melihat kilatan api kemarahan dan kebencian terpancar jelas dari sorot mata mamah Hani. Ia menyalakan motor gedenya yang sengaja ia tinggal di rumah Maya agar mereka berangkat bersama ke pernikahan Doni. Akbar tersenyum hambar, menertawakan dirinya yang tampak menyedihkan. Rasa ngilu di sudut bibirnya hampir saja ia lupakan jika hari ini ia mendapatkan tamparan di wajah tampannya. Satu hal yang Akbar tahu, ada sesuatu yang luruh dari hatinya membawa pergi keresahan,kegelisahan dan ketakutan yang membebani relung hatinya sejak ia bertekad untuk menjalin hubungan dengan dua wanita. Ternyata, masalah tak selesai sampai situ. Mata Akbar memincing kala melihat Wisnu menatapnya dari dalam mobil padahal Akbar baru saja keluar dari perkarangan rumah Maya. Akbarpun berhenti dan menatap lurus laki-laki yang menatapnya dingin dari dalam mobil. “Mau apa elo?” Tanya Akbar dingin turun dari motornya dan menghampiri mobil yang kacanya mulai terbuka dari dalam. “Bisa bicara sebentar?” pinta Wisnu yang membuat Akbar sedikit terkejut. Tak biasanya Wisnu terlihat lebih tenang berbicara dengan Akbar. Akbar pun mengangguk menuruti ajakan Wisnu untuk berbicara. Laki-laki itu kembali ke motornya dan mulai menancap gas mengikuti mobil Wisnu yang sudah berjalan di depannya. Akbar tidak focus jujur saja, ia sibuk kira-kira hal apa yang akan dikatakan oleh Wisnu. Karyawan di perusahaan dan lelaki yang mengejar- ngejar istrinya, ah ralat lelaki yang dicintai oleh istrinya. *** Fariza sedang menata baju suaminya yang sudah ia setrika, tidak semuanya hanya baju yang digunakan di kantor setiap harinya. Sepulang dari kondangan di rumah kakak temannya membuat dirinya lelah dan tertidur di apartemen Dini. Ia mengira bisa jadi Akbar sudah sampai rumah duluan tapi begitu sampai dirumah motor gede milik suaminya belum terparkir di garansi. Fariza berfikir mungkin saja Akbar sedang dengan Maya, dan Fariza tetaplah Fariza yang tidak peduli dengan hal itu. Mata Fariza memincing tas ransel Akbar ada di rumah itu berarti Akbar tidak berangkat ke kantor dan Fariza semakin yakin jika suaminya tengah bersama Maya. Fariza mengingat Maya yang tampak menyimpan dalam rasa kepada suaminya, Fariza benar-benar tidak tega untuk memisahkan mereka. Terlebih Akbar yang tidak pernah melarang bahkan menegurnya ketika menemui Wisnu. Suara pintu terbuka, Fariza pun tahu mungkin Akbar baru pulang. Perempuan itu tetap melanjutkan aktivitasnya menata baju Akbar ke lemari, sekilas matanya menatap jam dinding di kamar Akbar menunjukkan pukul sebelas malam. Cukup malam melebihi jam Akbar biasanya pulang kerja. Greppp… Akbar memeluknya dari belakang membuat Fariza tak bisa berkutik, perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak di atas garis normal. Nafasnya saja tercekat untuk mengeluarkan barang sepatah kata. “Kamu baru pulang?” Tanya Fariza menanyakan hal tidak penting untuk mengusir kegugupannya. “Hm.” Akbar menjawab dengan deheman saja sibuk mencari kenyamanan pada Fariza yang sudah dalam dekapannya. “Jalan dengan Maya?” Tanya Fariza pelan matanya lurus memandangan tangan Akbar yang melingkar erat di pinggang kecilnya. Akbar menggeleng dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya di bahu Fariza yang menonjolkan tulang pundaknya itu. Akbar menyadari satu hal, aroma tubuh Fariza begitu membuatnya candu tanpa harus menggunakan parfum. “Aku bertemu Wisnu!” Tiga patah kata mampu membuat Fariza segera melepaskan pelukan Akbar dengan sekali hentakan dan berbalik badan menghadap suaminya. “Untuk apa kamu bertemu de… Ada apa denganmu?” pertanyaan Fariza yang tadinya marah karena lagi dan lagi Akbar dan Wisnu terlinat pertengkaran. Belum selesai luka di sudut bibir Akbar mengalihkan pertanyaan Fariza. “Perbuatan Wisnu?” Tanya Fariza pelan menyentuh luka lebam di pipi kiri Akbar yang membiru membuat Akbar meringis sedikit merasa ngilu dan perih. Akbar hanya menggeleng, menarik tangan Fariza yang masih bertengger di pipi kirinya. Akbar kembali memeluk Fariza menunduk menenggelamkan wajahnya ke bahu mungil istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma khas Fariza berharap menemukan ketenangan. “Akbar!” Panggil Fariza pelan, tidak seperti biasanya Akbar terlihat lemah di depannya. “Sebentar saja!” Ucap Akbar membiarkan ia merasa tenang begitu Fariza dalam pelukannya. Fariza pun diam menuruti permintaan Akbar yang ingin berlama-lama dengannya. Tak sering Fariza mengusap pelan punggung Akbar, entah mengapa malam ini wajah Akbar tampak lebih menyedihkan. Apakah terjadi sesuatu hal yang besar atau bagaimana. “Apa perlu kita menyewa ART?” Tawar Akbar menyadari akhir-akhir ini semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri oleh Fariza, sangat berbeda dengan Akbar yang membersihkan seisi rumah dengan menyewa jasa pembersih. “Tidak apa, kapan aku masuk ke kantor?” Tanya Fariza menagih permintaan ia masuk ke kantor Akbar sebagai ganti mobil. “Apa harus ke kantorku?” tanya Akbar menawar, Akbar tidak meragukan soal skill yang dimilki istrinya itu hanya saja, Akbar yakin akan selalu terjadi komunikasi yang lancar antara Fariza dengan Wisnu. Fariza tersenyum menang, ia mengerti kenapa setelah ia keluar dari kantor Maya, Akbar tak juga merekrut dirinya sebagai karyawan baru. Suaminya itu khawatir rupanya jika dia mungkin akan kembali bersama dengan Wisnu melihat peluang yang ada. “Kamu bisa memasukanku di departemen berbeda dengan Wisnu.” Usul Fariza meredam kekhawatiran suaminya. Akbar pun diam menatap mata Fariza yang tampak berbinar mencoba menyakinkan dirinya jika hal yang ditakutkan Akbar tidak akan terjadi. Akbar pun mulai memikirkan departemen mana yang sedang membutuhkan karyawan kembali. *** Hari ini tampak berbeda, biasanya Fariza masih berkutik di dapur menggunakan baby doll sekarang ia sudah menggunakan seragam kantor karena hari ini ia mulai bekerja di kantor suaminya sendiri. Meski satu perusahaan, Fariza meminta menjadi karyawan biasa saja yang sedikit peluang relasinya dengan Akbar nantinya. “Kamu mau ngapain?” Selidik Fariza begitu suaminya mengambil kunci mobil di atas kulkas. “Berangkat kerjalah. Kamu tuh aneh!” Celetuk Akbar kesal jelas-jelas ini rutinitas kerja mengapa masih di pertanyakan. “Maksud aku, ngapain ngambil mobil. Emang mau berangkat bareng?” Tanya Fariza masih saja ngotot menanyakan suatu hal yang jelas ia tahu jawabannya. “Yaiyalah emang kenapa?” Tanya Akbar yang sudah sabar mentok di ubun-ubun menanggapi sederet pertanyaan Fariza. “Nggak mau ah, aku nungguin kamu pulang dong ntar!” Tolak Fariza membayangkan betapa membosankan dirinya nanti pulang justru harus menunggu suaminya selesai pekerjaannya. Fariza sudah menghitung perbedaan jam kerja suami dengan dirinya. “Kamu kan tinggal ke ruanganku Fariza! Lagian irit BBM mahal.” Ucap Akbar tidak terima acara protes memprotes Fariza yang tidak mau berangkat bersama. Akhirnya Fariza mengalah dan menuruti ucapan Akbar untuk berangkat bersama. Perempuan itu mungkin lupa jika suaminya adalah sosok paling peritungan menurutnya. Fariza membiarkan Akbar yang mengemudi, sesekali ia ingin merasakan menjadi penumpang yang bisa menikmati luar sepanjang jalan. Bukan berarti ia bernostalgia semasa dulu dengan Wisnu, mantan kekasihnya. Sampai mereka tiba di kantor, semua mata memandang kedatangan Akbar dengan perempuan di belakangnya yang sengaja tidak mau berjalan beriringan. Fariza lupa jika suaminya mempunyai jabatan penting disini pantas saja jika kedatangan Akbar selalu menjadi pusat perhatian karyawan-karyawannya. Fariza diam kala Akbar masuk ke dalam sebuah ruangan dan menyuruh Fariza menunggu diluar. Setiap karyawan berlalu lalang mereka tersenyum menyapa Fariza, jujur saja Fariza merutuki permintaannya kepada Akbar untuk bekerja satu kantor dengannya. Bagaimana tidak semua karyawan Akbar mengenalnya. “Tumben loe pagi datang ke ruangan gue!” Sapa Ridwan menyadari kedatangan sahabatnya ke ruangannya sepagi ini, biasanya jika ada perlu Ridwan akan disuruh naik ke lantai atas tepatnya ruangan Akbar. “Gue bawa temen buat dimasukin ke departemen elo!” Ucap Akbar menjatuhkan pantatnya ke sofa, serta menjelaskan maksud kedatangannya di pagi buta ini ke ruangan Ridwan. “Widih, demi apa elo! Cewek apa cowok? Cantic kagak nih?” tanya Ridwan langsung mengintrogasi begitu tahu ada sosok diluar yang sedang menunggu. “Cantiklah orang cewek.” Jawab Akbar sedikit nyolot. “Temen apa nih? Nggak biasanya elo deket banget sama temen cewek sampe elo mau repot-repot.” Tanya Ridwan sambil menyeruput nikmatnya kopi hitam mengawali hari kerjanya. “Temen hidup.” BYURRR… Jawaban singkat Akbar membuat Ridwan menyemburkan kopi yang penuh di mulutnya, beruntung Akbar di hadapannya terpisah dengan meja panjang sehingga cipratan jorok kopi tidak mengenai dirinya. Ridwan benar-benar terkejut mendengar ucapan Akbar, ia sudah menaruh curiga ketika Akbar mengatakan temen yang di rekomendasikan untuk direkrut adalah seorang perempuan. “Maksud elo Fariza?” Tanya Ridwan tak percaya jika Akbar merekrut istrinya sendiri sebagai karyawan biasa. “Za, masuk!” Teriak Akbar membuat Fariza yang sejak tadi menunggu diluar masuk dan menyapa Ridwan yang tercengang ia masih sangat terkejut dengan perempuan yang menyapanya dari ambang pintu kemudian berjalan duduk di samping Akbar. To Be Continue---- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD