Semenjak keluar rumah keluarga Bagaskara, Fariza hanya diam menikmati setiap pandangan yang ia tangkap ketika melintas jalanan dengan lampu-lampu jalan raya yang menerangi sepanjang jalan. Akbar yang mengemudi mobil pun hanya diam enggan membuka percakapan yang ia yakini jika pun ia mengajak ngobrol akan tetap canggung.
Baru beberapa hari mereka menikah, belum saling mengenal satu sama lain. Fariza yang masih tertutup siapa dirinya sebenarnya dan juga Akbar yang masih diam-diam menghubungi Maya, kekasih yang belum ia akhiri hubungan mereka meski sudah menikah.
“Kamu nggak belanja sekalian?” tanya Akbar begitu mobil melintasi sebuah supermarket yang kebetulan berada di kiri jalan.
“ Aku harus masak?” tanya Fariza dengan datar seperti seolah tidak terima menurut pandangan Akbar.
“ Tidak perlu, aku juga tidak sudi memakan masakanmu.” Ucapan Akbar yang tiba-tiba sarkatik membuat Fariza yang sejak tadi memandang luar jendela kini beralih memandang Akbar dengan fikiran heran.
“Aku akan belanja besok, setelah kamu belikan aku mobil.” Ucap Fariza membalas ucapan sarkatik Akbar. Akbar semakin tak habis fikir dengan fikiran Fariza yang seperti anak kecil meminta mainan baru, dimana jika belum terkabulkan akan terus merengek.
“Mobil, mobil terus! Matrealistis banget ya!” cibir Akbar dengan tatapan tajam tak suka dengan sikap Fariza yang tidak sabaran itu.
“Oh, jelas!” ucap Fariza menantang kesabaran Akbar yang masih bisa dikendalikan oleh laki-laki itu.
Sampai mobil memasuki perkarangan rumah yang tidak terlalu luas pun mereka masih saling diam tidak ingin membuka percakapan baik Akbar maupun Fariza. Sepertinya mereka tidak bisa mengobrol santai kecuali obrolan panjang yang penuh dengan argument.
Akbar pun segera turun dan membuka bagasi mobil yang berisikan koper Fariza. Fariza pun membawa koper yang dikeluarkan Akbar. Sedangkan Akbar? Laki-laki itu hanya menenteng tas kecil beberapa camilan yang dibawakan mamanya.
Fariza yang pertama kali masuk ke dalam rumah, hanya mengikuti langkah Akbar. Rumah ini yang akan menjadi rumah Fariza juga nanti akhirnya, sampai Akbar yang berjalan ke dapur untuk meletakkan camilan pun Fariza ikuti dengan tak lupa menarik kopernya.
“Kamu ngapain ngikutin?” tanya Akbar ketus melihat Fariza yang sejak tadi membututi langkahnya.
“Kamu belum menunjukkan kamarku.” Ucap Fariza polos seperti anak kecil yang sedang tersesat di pusat pembelajaan.
“Kamu mau lantai atas apa dibawah?” tawar Akbar karena memang rumah yang minimalis ini mempunyai tiga ruang kamar yang salah satunya merupakan kamar Akbar.
“Bawah.” Ucap Fariza pendek.
Mendengar jawaban Fariza, Akbar menuntun istrinya masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak di samping ruang tengah. Pandangan Fariza tak lepas dengan keadaan kamar yang begitu terjaga kerapiannya dan warnanya cukup unik tidak terlalu mencolok.
Ruangannya begitu unik dengan design yang simple tidak terlalu ramai cukup menyegarkan karena penuh ketenangan. Ditambah cahaya matahari dapat masuk secara langsung melalui celah-celah jendela membuat ruangan tidak terlalu pengap.
***
Setelah menata beberapa barang-barang yang dibawa Fariza ke rumah suaminya, ternyata ia cukup kelelahan sampai tertidur di sofa kamar. Fariza membuka matanya pelan, ia mulai terjaga dari tidurnya. Matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak sia-sia ia mengambil cuti menikah, ternyata beberapa hari yang lalu cukup melelahkan.
Setelah membersihkan badannya dengan keadaan rambut tergulung handuk Fariza keluar kamar. Terdengar suara dari dapur, Fariza mendatangi dapur dan benar Akbar sedang menyeduh secangkir kopi untuknya. Sebuah rutinitas yang tak bisa terlewatkan rupanya.
“Kamu bisa pesan aplikasi jika lapar.” Ucap Akbar kemudian meninggalkan Fariza yang tak menjawab ucapannya justru memandangnya datar.
Fariza membuka lemari es yang ternyata berisikan minuman kaleng, dari soda sampai s**u. Tidak ada makanan yang bisa diolah kecuali makanan ringan sedangkan beberapa bagian kosong. Fariza pun cukup tahu jika rumah seorang lelaki tidak akan sepenuh dengan rumah seorang perempuan meski keduanya berstatus lajang.
Fariza mengeluarkan camilan yang dibawakan ibu mertuanya dan menatanya di atas meja ruang makan. Ia mengambil s**u dan juga sepotong kue berselimut cokelat. Fariza memilih bergabung dengan Akbar yang lagi-lagi berkutat dengan dokumen kantornya.
“Hidup kok monoton!” cibir Fariza sambil meneguk s**u kotak rasa strawberry itu.
“Maksud?” tanya Akbar pendek sambil mengangkat salah satu alisnya tak paham dengan ucapan Fariza yang terdengar mengejeknya.
“Iya, di kantor kerja di rumah kerja. Apalagi jika tidak monoton?” tanya Fariza dengan wajah tanpa dosa ikut memilah dokumen yang berserakan di meja ruang tengah.
“Terserah kamu. Kamu tidak mau pesan sesuatu?” ucap Akbar mengalihkan topik pembicaraan yang memicu pertengkaran kecil dengan istrinya.
“Aku mau minta uang bulanan, besok aku masih cuti dan aku mau belanja.” Ucap Fariza dengan mengadahkan satu tangannya pada Akbar yang kini memandangnya tercengang. Ia mulai paham, Fariza memang menyebalkan sejak kecil dan blak-blakan adalah sifat dia.
“Kamu bisa pakai uangmu nanti aku ganti.” Ucap Akbar mengalihkan pandangannya ke dokumen begitu Fariza bertingkah genit yang dibuat-buat.
“Nggak mau, enak aja. Pokoknya besok aku mau ke pasar buat ngisi isi kulkas kamu yang udah kayak kulkas punya warung sebelah komplek.” Omel Fariza tak rela jika uangnya harus ia gunakan.
“Lagian aku kan bilang kamu nggak perlu masak. “ ucap Akbar mengingatkan jika Fariza tak perlu repot memerankan statusnya sebagai istri.
“Aku nggak bilang mau masak buat kamu. Aku masak buat aku sendiri.” Bantah Fariza tak mau kalah.
“Oke, besok pagi aku kasih kamu atm aku.” Ucap Akbar setelah menghela nafas panjang dan memejamkan mata tak kuasa jika harus beradu argument dengan istrinya.
“Bagus!” ucap Fariza menyetujui kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Akbar yang sejak tadi mengamati sikap Fariza hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala tak bisa membayangkan jika sampai kapan ia satu atap dengan perempuan yang tak pernah ia temui sebelumnya.
Ddrrtt…ddrrttt…
Maya is calling…
Hening.. begitu sebuah nama yang ditampilkan layar ponsel Akbar membuat suasana menjadi canggung. Tak bisa dipungkiri Fariza juga tertarik dengan siapa Maya sebenarnya, karena tidak satu dua kali ia memergoki perempuan itu menghubungi suaminya.
Akbar yang tidak enak hati jika mengangkat telepon dari kekasihnya yang akhir-akhir ini ia lupakan karena adanya Fariza yang di sampingnya. Akbar membalikkan ponselnya dan membiarkan beberapa kali panggilan tak terjawab.
“Angkat deh, Bar! Nggak kasian sama pacar kamu itu.” Ucap Fariza yang jujur saja ia merasa rishi dengan dering telepon yang sengaja diabaikan Akbar.
“Entar kamu cemburu?” Goda Akbar mencairkan suasana agar tidak canggung.
“Idih, besar kepala banget ya!” ucap Fariza sewot merasa dia dituduh oleh suaminya.
Ddrttt…ddrrttt…
Wisnu is Calling…
Maya berhenti kini bergantian Wisnu yang juga sejak kemarin menghubungi Fariza dan sengaja Fariza abaikan. Akbar menyilangkan kedua tangannya, memandang sinis Fariza yang justru jadi canggung seakan ia merasa termakan omongannya sendiri.
“Kenapa nggak diangkat?” cibir Akbar melihat Fariza terdiam memandang ponselnya yang masih menyala karena panggilan telepon dari Wisnu, mantan kekasihnya.
“Angkat dong! Sorry aja nih jangan cemburu.” Balas Fariza berlalu setelah menjulurkan lidah pada Akbar.
“Halo!” ucap Fariza menempelkan benda pipihnya itu ke telinganya dan masuk ke kamarnya. Akbar hanya memandangnya dengan bengong, tak menyangka perempuan yang ia goda maksud agar tak mengangkat panggilan justru menerima tantangannya dengan mudahnya.
***
Fariza bangun pagi dan membuat menu sarapan yang begitu simple, diakibatkan bahan yang tidak ada jadi ia hanya membuat apa yang bisa diolah dari kulkas Akbar. Sebuah roti bakar yang berselai nanas, ditambah dengan kopi hitam pekat pesanan Akbar sebelum ia mandi.
Fariza bukan seorang kopi maniac, ia hanya menyeduh segelas s**u hangat menyambut pagi harinya di rumah barunya dengan suasana berbeda dibanding dengan di rumah Adi, ayahnya. Setiap hari dipenuhi dengan adu mulut ia dengan serangan kedua kakak tirinya, usapan ibu tirinya setiap membangunkannya tidur di pagi hari.
Akbar dengan setelan baju kantor menuruni tangga dengan tas ransel di punggungnya, rambutnya sudah ditata rapi dan tak akan goyah diterpa badai, mungkin. Akbar terdiam melihat di hadapan Fariza segelas s**u hangat dan roti bakar sedangkan di hadapannya hanya secangkir kopi.
“Kamu serius cuman bikin satu porsi?” tanya Akbar tercengang melihat tingkah laku Fariza yang tak main-main jika tak akan memasak untuk suaminya.
“Kamu juga serius sarapan kopi saja?” tanya balik Fariza dengan senyum yang justru terlihat memainkan Akbar.
“Fariza jangan mulai!” Peringatkan Akbar.
Lelaki itu tanpa sungkan menarik roti bakar milik Fariza dan menggigitnya kasar. Jujur saja, ia kesal dengan perempuan di sampingnya yang kini tersenyum menggodanya dengan sengaja. Akbar hanya menggeleng-geleng merasakan di sekitar Fariza membuatnya pusing kepala.
Akbar teringat sesuatu, kemudian ia merogoh saku celana belakangnya. Mengambil sebuah kartu atm dari dompetnya dan menyodorkan pada Fariza. Fariza pun menerimanya dengan muka datarnya tanpa rasa sungkan.
“Jangan boros!” Ucap Akbar memperingatkan Fariza, bagaimanapun ia hanyalah perempuan biasa yang akan lupa waktu ketika belanja.
Fariza hanya mencebikkan sudut bibirnya mendengar ucapan Akbar yang baru ia sadari jika suaminya meski dengan posisi tertinggi di perusahaan cukup perhitungan. Fariza terdiam, ia teringat sesuatu dan memutuskan diam memandang Akbar.
“Mau ngomong apa?” tanya Akbar memasukkan roti suapan terakhir ke dalam mulutnya.
“…”
“Bilang aja!” titah Akbar menyadari sejak tadi sorot mata Fariza tak lepas darinya.
“Aku mau ngajak bunda Resti belanja juga.” Izin Fariza ia bimbang mengajak bundanya untuk belanja kebutuhan apalagi memakai uang suaminya.
“Oke! Tapi jangan lupa kasih Mama juga ya.” Ucap Akbar yang langsung dibalas anggukan Fariza. Akbar hanya menanggapinya dengan jempol kemudian memakai tas ranselnya. Memakai helm fullfacenya dan berangkat ke kantor.
Satu lagi, Akbar tak mempunyai mobil ia kemana-mana menggunakan motor gede miliknya. Mobil yang ia bawa adalah milik papanya yang sengaja dia pakai atau kadang dipakai Adelia ketika sedang libur semester di kuliahnya.
***
“Mau pamer kalau bawa mobil nih?” ucapan Mona menyambut kedatangannya Fariza yang baru saja menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.
Fariza memutar bolanya malas, malas menanggapi manusia satu ini yang tak pernah tinggal diam melihat Fariza. Fariza lebih senang untuk mendatangi Resti, ibu tirinya yang sedang menikmati suasana pagi hari di samping rumah dengan panas matahari menyengat kulit menyalurkan vitamin D.
“ Masih cuti?” tanya Adi yang baru saja keluar kamar begitu menyadari putrinya datang.
“Iya, Akbar masuk kerja hari ini.” Jawab Fariza kemudian mengulurkan tangan pada Adi untuk mencium tangan ayahnya yang mulai keriput itu.
“ Oh, ya! Aku mau ngajak bunda belanja pakai ini.” Ucap Fariza sumringah begitu Resti tampak bahagia melihat Fariza yang sejak tadi ia perhatikan gerak geriknya.
“ Punya Akbar?” tanya Resti yang langsung dibalas anggukan Fariza tanpa rasa sungkan.
Adi memandang dalam putri bontotnya itu, ada suatu yang tak bisa ia gambarkan melalui sorot matanya pada anaknya itu. Fariza merasakan perubahan suasana yang tadinya saling melepas rindu seperti berapa bulan tidak bertemu kini menjadi tegang.
“Ayah santai aja, Akbar bilang nggakpapa ngajak Bunda belanja asal jangan lupa kasih mama Dea juga.” Ucap Fariza menenangkan agar orang tuanya tak salah paham.
“Matre!” Umpat Mona menanggapi penjelasan Fariza.
“ Terserah, suami-suami gue!” balas ketus Fariza menjulurkan lidahnya, pandangan matanya sinis.
Sadar atau tidak, baru beberapa hari pernikahannya. Juga baru beberapa hari Fariza keluar dari rumah itu sudah banyak perubahan yang terlihat dari Fariza. Fariza menjadi terbuka, banyak bicara dengan orang tuanya dan tak memasukan hati perkataan Mona. Mona tak menyukai itu, sangat jelas terpancar kebahagiaan dari mata Fariza meski berusaha perempuan itu sembunyikan.
“Fariza sangat bahagia ya?” tanya Resti tak bisa memungkiri perubahan pada putri tirinya.
Ddrrttt…ddrrrttt..
Akbar is Calling…
Getaran ponsel Fariza di atas meja, menampilkan nama Akbar yang tercantum disana. Membuat kedua orang tuanya semakin yakin jika sudah ada kemajuan hubungan Akbar dan Fariza meski belum ada rasa special yang menghinggapi kedua hati masing- masing.
Halo… Za, sekalian ntar ambilin beberapa baju aku di rumah Mama ya!
“Baju? Di rumah Mama Dea?” tanya Fariza yang tampak heran dengan perintah suaminya itu. Ia belum terbiasa datang ke rumah mertuanya sendiri tanpa Akbar di sampingnya.
Iya, udah dicuci mungkin sama Mama.
“Iya.” Jawab Fariza kemudian memutuskan panggilan telepon.
Di seberang sana, Akbar kesal karena Fariza dengan seenaknya memutuskan panggilan. Akbar menyadari sepasang mata sedang menatapnya tajam, tanpa berkedip barang sekalipun. Maya memanas hatinya melihat cara Akbar berbicara dengan istrinya terlihat santai.
“Udah, bikin aku cemburu?” Tanya Maya manja bergelayut manja pada Akbar yang sungkan dengan Maya.
“Aku biasa aja sama dia, kamu tenang saja.” Ucap Akbar menenangkan tak dipungkiri dalam hatinya masih berharap jika suatu hari nanti ia akan menjadikan Maya sebagai tujuan hidupnya.
“Aku nggak bisa tenang, Akbar kamu satu atap sama dia.” Tegas Maya jelas memperlihatkan tidak sukanya ia pada istri Akbar.
Siapapun perempuan tidak akan sudi berbagi laki-laki yang ia cintai dengan perempuan lain. Maya yakin cinta dia tetap suci, tidak ada yang salah dalam percintaan. Maya benar-benar tidak bisa membedakan Akbar yang sekarang jelas berbeda dengan Akbar yang dulu hanya miliknya.
“Kamu mau menceraikan dia kapan?” Tantang Maya, emosi perempuan itu membara dan siap meledak kapan saja.
Deggg…
“ Secepatnya.” Jawab Akbar pendek, ia tak berfikir dahulu dengan ucapan yang ia katakan. Baru saja hari penting, hari dimana Akbar dan Fariza disatukan namun sudah ada kata perceraian dalam beberapa hari ini.
“Bagus! Aku harap aku bisa memegang janjimu itu.” Ucap Maya kemudian mengambil tas di sampingnya dan keluar menenteng tas mewahnya meninggalkan Akbar.
Lagi-lagi Akbar dibuat pusing dengan Maya, jika dulu kedatangan Maya membuatnya bisa melepas rindu karena kesibukan masing-masing namun justru kini, kepergian Maya karena pertikaian kecil yang terjadi setiap Maya sendiri yang memancing emosinya sendiri.
Akbar mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya, ia tak bisa menolak perjodohan karena orang tuanya. Hatinya tak bisa melepaskan Maya, perempuan yang denganya menjalin hubungan dalam kurun waktu yang cukup lama. Bayangan akhir tahun, ia bisa meminang wanitanya namun takdir mendatangkan sosok baru yang harus ia sebut dengan takdir.
“Pak…”
“Pak.. Pak Akbar!”
“Iya?” tanya Akbar terkejut dengan Rani, sekretarisnya yang sudah berdiri di hadapannya.
Rumitnya permasalah yang ia perbuat sendiri membuatnya kehilangan focus dan tidak professional dalam rapat pemegang saham atau dinas diluar kota.
“Rapat segera dimulai!” Ucap Rani mengulang perkataan yang ternyata tidak terdengar oleh Akbar.
“Oh, Iya!” jawab Akbar singkat memijat keningnya yang sebenarnya tidak terlalu pening.
“Apa perlu buatkan kopi pak?” tanya Rani menawarkan secangkir kopi yang biasanya selalu diminta Akbar sebelum rapat dimulai,
“Oh, tidak perlu. Saya sudah minum di rumah tadi.” Tolak Akbar mengingat Fariza sudah membuatkan kopi yang menurut Akabr mempunyai rasa yang berbeda jika yang membuat Fariza.
“Bapak mau sarapan dulu? Masih ada waktu setengah jam.” Tawar Rani ia bisa memesankan makanan seperti gado-gado kesukaan atasannya itu.
“Tidak usah, Ran. Saya juga sudah sarapan di rumah tadi.” Tolak Akbar mengingat satu porsi roti bakar milik Fariza yang ia makan.
Rani tersenyum, ia teringat atasannya itu sudah mempunyai istri yang siap siaga melayaninya. Mungkin akan menjadi awal yang indah atau hanya jalan berliku yang mengantarkan ke jurang kegelapan kesedihan dan kepedihan menemani.
To Be Continue---