“ Ran, tolong pesankan gaun…”
Ucapan Akbar terpotong oleh tangan Fariza yang menariknya untuk tidak perlu memesankan gaun lagi, Akbar menatap Fariza yang menggeleng cepat agar Akbar menyudahi panggilan teleponnya itu.
“Kenapa? Kamu mau telanjang saja?” tanya Akbar sedikit tinggi membuat Fariza sedikit terkejut menapa justru Akbar yang marah padahal Fariza merasa janggal karena pernikahannya berjalan lancar sedangkan banyak orang disekitarnya yang membencinya.
“Aku punya gaun selain itu.” Ucap Fariza menenangkan Akbar yang sudah naik turun nafasnya tidak karuan.
“Apa mungkin ini perbuatan kakak tirimu?” tanya Akbar pelan dan hati-hati.
Fariza tidak menyangka jika Akbar berpikiran seperti itu. Fariza mungkin lupa jika Akbar mengetahui hubungan antara Fariza dengan keduanya kakak tirinya memang tidak baik. Tidak hanya tidak baik namun sangat buruk.
“ Mona? Sarah? Mereka memang membenciku tapi mereka hanya berani dengan ucapan tidak melakukan hal seperti ini.” Jawab Fariza, perempuan itu yakin ini bukan perbuatan kakak tirinya melainkan orang lain.
Mona dan Sarah memang sudah menjadi musuh sejak mereka kecil, tapi tidak pernah melakukan hal menyentuh fisik untuk menyakiti adik tirinya. Kalaupun ada itu pasti Fariza yang melakukannya kepada mereka.
Akbar pun percaya saja ucapan Fariza, ia pun kembali duduk sambil menghabiskan kopi buatan mamanya. Fariza segera mengambil gaun yang ia bawa menuju rumahnya Akbar, gaun navy dengan hiasan kupu-kupu di bagian pundaknya.
“Akbar!” panggil Fariza dari dalam kamar mandi membuat Akbar mengeryitkan keningnya untuk apa perempuan itu memanggilnya.
“Apa?” teriak Akbar membalas panggilan Fariza.
“Bisa bantu aku!” teriak Fariza dari dalam kamar mandi. Akbar segera menghampiri pintu kamar mandi yang masih tertutup itu.
Tok..tok…
“Kamu butuh bantuan apa?” tanya Akbar karena Fariza justru hanya membuka pintu sedikit membuat hanya kepalanya saja yang terlihat.
“Bisa bantu aku menutup resleting bajuku.” Ucap Fariza canggung, menggigit bibir bawahnya tak berani menatap Akbar yang tiba-tiba saja wajahnya memerah bersemu.
“Keluar!” ucap Akbar pendek berlagak dingin pasalnya ia juga canggung setelah mendengar permintaan Fariza.
“Hah?” tanya Fariza masih tak mengerti dengan ucapan singkat Akbar.
“Bagaimana aku menutup resletingmu kalok kamu tidak keluar.” Jelas Akbar berdecak kesal mengapa Fariza terlihat menggemaskan ketika tidak mengerti ucapannya(?).
Fariza segera keluar, dan berdiri membelakangi Akbar. Akbar menelan ludahnya menatap punggung mulus Fariza di hadapannya. Padahal ia biasa melihat punggung wanita saat dulu dia di club malam, acara pelelangan amal. Fariza menyikap rambutnya yang tergerai menutupi punggung, membuat nafas Akbar semakin tercekat karena punggung itu tak tertutup lagi.
“Kenapa lama sekali?” gumam Fariza yang tidak merasakan Akbar menyentuh resleting gaunnya.
Akbar terkesiap kemudian, menaikkan resleting pelan-pelan sampai diatas takut jika ada beberapa helai rambut yang tersangkut. Merasa resletingnya sudah tertutup, Fariza segera menjauhkan dirinya dari Akbar. Entah mengapa suasana menjadi sedikit panas, Akbar pun tanpa ba-bi-bu berjalan cepat keluar kamar.
Ddrrrttt…dddrrtttt…
Wisnu is calling…
Panggilan Wisnu sejak kemarin benar-benar mengganggunya, Fariza segera membalikkan ponselnya lebih memilih mengabaikan. Ia takut jika tak bisa melepas Wisnu sepenuhnya, karena hanya Wisnu yang tahu bagaimana cara menarik hati Fariza.
Tiba-tiba seorang masuk menghampiri Fariza yang betah sekali menatap dunia luar melalui jendela. Resti tampak heran mengapa Fariza tak segera mengganti pakaian yang sudah di siapkan oleh keluarga Bagaskara justru memakai gaun miliknya sendiri.
“Kenapa belum ganti pakaian?” tanya Resti mendekat pada Fariza yang belum juga menyadari kedatangannya.
“Gaunku rusak, Bunda. Seseorang menyiramnya dengan lumpur.” Jelas Fariza dengan suara parau. Tak bisa dipungkiri, sejak tadi ia membendung tangisannya setiap ia sedang sendiri.
“Siapa yang merusaknya? Apa ini perbuatan Mona atau Sarah? Benar-benar keterlaluan mereka.” Ucap Resti marah menghela nafasnya kasar.
Fariza menghamburkan dirinya ke pelukan ibunda tirinya. Ada kenyamanan disana, kehangatan yang tetap perempuan itu berikan dari awal pertemuan mereka yang Fariza kira jika Fariza luluh akan lenyap segala perhatian itu. Namun, dugaan Fariza salah besar. Segalanya sama sampai kapanpun meski Fariza sudah bisa menerima keberadaannya di keluarganya.
“Bunda,awalnya aku benar marah kenapa justru aku yang dijodohkan dengan Akbar bunda kenapa bukan kak Sarah.” Ucap Fariza memohon agar Resti tak menghindar seperti sebelumnya.
“Bunda, yakin Akbar bisa memberikanmu apa yang ayah dan bunda tidak bisa beri. Akbar bisa menjadi sandaranmu, bunda tidak kuat lama-lama kamu menjadi cemoohan oleh dua kakak tirimu. Berbahagialah, Fariza. Putri kesayangan bunda.” Ucap Resti dengan suara parau juga mengusap air mata Fariza yang sejak tadi mengalir.
Bertahun-tahun hidup bersama ini pertama kalinya, ia melihat Fariza menunjukkan sisi rapuhnya. Air mata yang tak pernah Resti lihat, kini justru luruh begitu derasnya di hadapannya.
“Jangan pernah berfikiran, kalok Ayah dan Bunda membuang kamu ya. Jangan pernah, bunda sayang banget sama Fariza.” Ucap Resti menarik Fariza ke pelukannya kembali. Ada sesuatu yang mencelos dalam hati Fariza begitu mendengar penjelasan Resti. Ia tidak menyangka meski ibu tiri, kebahagiaan Fariza sangat diutamakan.
***
Mona sedang mencicipi hidangan di resepsi pernikahan adik tirinya, siapa bilang jika ia sudah berbaikan dengan Fariza. Hubungan mereka masih saja seperti biasanya tidak ada yang berbeda hanya saja Mona memberikan jarak untuk Fariza bernafas.
“ Bukan perbuatan kamu kan?” tanya Resti yang sejak tadi lama mengamati putri sulungnya mencoba satu persatu hidangan manis, Mona adalah pecinta makanan manis. Tubuhnya yang tidak akan bertambah berat badan hanya karena mengonsumsi makanan manis, semakin mendukung hobbynya itu.
“Maksud Bunda?” tanya Mona tidak mengerti sambil terus melanjutkan aktivitasnya.
“Kamu kan yang lakuin itu sama Fariza?” tindas Resti tanpa memberitahukan yang sebenarnya terjadi membuat Mona semakin membuat lekukan beberapa di keningnya.
“Bunda tidak jelas !” sentak Mona pada Resti, jujur saja ia terluka ketika hal buruk yang terjadi pada adik tirinya selalu saja ia yang dicari terlebih dahulu.
Mona beranjak pergi meninggalkan Resti yang mematung melihat respon Mona yang tampak dingin padanya. Mona pun menghampiri Sarah yang sedang mengambil minuman jus. Sarah yang melihat kedatangan Mona segera menuangkan segelas lagi untuk kakaknya.
“Kamu tahu apa yang terjadi dengan Fariza?” tanya Sarah menarik kakaknya untuk menepi dari keramaian.
“Apa?” tanya Mona memutar bola matanya malas, dalam hatinya semakin menyimpan kesal untuk Fariza sudah berapa kali ia mendengar semua orang peduli pada adik tirinya.
“Gaunnya malam ini, dikotori penuh dengan lumpur.” Jawab Sarah dengan raut wajah begitu terkejut karena ia memastikan langsung, gaun itu begitu dipenuhi lumpur dalam kamar rias pengantin.
“…”
“Bukan kamu kan kak?” tanya Sarah hati-hati dengan rasa sungkan menyelimuti hatinya untuk menanyakan langsung pada Mona. Ditambah lagi, respon Mona yang tidak terkejut mendengar penjelasana Sarah.
“Semua mencariku hanya untuk menanyakan ini.” Tawa getir mengiringi ucapan Mona.
Siapa yang tidak terluka ketika dituduh sebagai inti dari permasalahan. Jika saja Mona yang benar-benar melakukannya mungkin ia tidak akan memasang wajah kecewa yang begitu dalam pada orang-orang terdekatnya.
***
“Bikinin kopi dong Za!” pinta Akbar memelas pada Fariza yang sudah mengganti pakaiannya, berbaring di tempat tidur Akbar.
Mendengar rengekan Akbar yang justru membuatnya jijik, Fariza membalikkan badannya memunggungi Akbar yang duduk di tepi tempat tidur. Melihat respon Fariza yang kesal, Akbar mengulum senyum senang. Dulu ia tidak mudah tersenyum, kini hanya untuk membuat senyum muncul ia tidak perlu jauh-jauh menjahili Adelia saudara kembarnya. Istri sahnya cukup membuatnya bahagia.
“Ayolah, Za!” mohon Akbar melihat Fariza yang justru memejamkan matanya untuk lekas tidur.
“Kamu tuh kenapa sih Bar? Selain bikin kesel juga suka banget ngasih perintah.” Bentak Fariza kesal sampai ia terbangun terduduk dari acara tidurnya.
“…”
“Jangan bawa-bawa jabatan kamu sebagai CEO di kehidupan nyata kamu yang suka memerintah sendiri. Bikin sendiri sana!” ucap Fariza kesal, sebenarnya ia tidak kesal sepenuhnya karena perinta dari Akbar tapi ia kesal karena belum menemukan siapa yang merusak gaun resepsinya mala mini.
“Za, aku ada kerjaan.” Ucap Akbar pendek, beranjak pergi duduk di meja kerjanya yang masih berada di satu kamar dengannya.
Melihat Akbar yang lebih memilih pekerjaannya daripada membuat secangkir kopi untuk dirinya, Fariza geram melihatnya alhasil dia juga yang bangkit keluar kamar. Akbar yang melirik sebentar mengulum senyum bahagia, ia tahu pasti jika Fariza itu tipe orang yang bermulut tajam tapi berhati lembut.
Fariza sendiri, keluarganya pulang setelah acara resepsi selesai. Ia menjadi anggota baru di keluarga Bagaskara. Meski begitu ia tidak sungkan, untuk ke dapur membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.
“Widih, pengantin baru malam-malam bikin kopi.” Goda Adelia kembaran Akbar yang kebetulan juga sedang di dapur mengambil minuman dingin di kulkas.
“Iya nih.” Jawab Fariza malu-malu entah mengapa ia bahkan tak merasakan perbedaan antara ia berstatus lajang atau sekarang sudah bersuami baginya sama. Mungkin, perbedaan besar hanya ketika harus satu kamar dengan orang asing yang harusnya kamar merupakan privasinya.
“Za, hubungan elo sama si Mona nggak baik ya?” tanya Adelia tak berniat memberikan sopan karena bagi Adel, ia dan Fariza berumur sama satu pantaran.
“Kenapa emang, Del?” jawab Fariza yang justru berbalik tanya pada Adelia, ia tidak ingin dalam hatinya jika Mona di kambing hitamkan karena masalah pagi tadi yaitu gaun resepsinya.
“Nggak papa deh. Gue duluan masuk kamar ya Za.” Ucap Adelia menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal, melihat respon Fariza yang tampaknya sedikit tertutup jika terkait dengan hubungan keluarganya.
Fariza naik membawa kopi hitam untuk Akbar yang sudah berkutik dengan beberapa lembar dokumen yang berserakan di sekitar laptopnya yang menyala. Fariza kemudian mengambil ponselnya dan ikut duduk di samping Akbar yang focus meneliti satu persatu dokumen di atas meja.
“ Kenapa nggak tidur?” tanya Akbar sambil memilah-milah dokumen tanpa mengalihkan pandangannya ke Fariza barang sebentar.
“Kenapa nggak tidur?” tanya Fariza mengulangi pertanyaan Akbar, membuat Akbar segera menoleh menatap heran pada Fariza yang kini justru membalas tatapan Akbar dengan seolah menantang.
“Kamu ditanya, malah balik tanya.” Gumam Akbar dengan wajah seriusnya seolah tidak berniat meladeni percakapan konyolnya dengan Fariza.
“Besok aku mau pulang…”
Mendengar kalimat Fariza, Akbar menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pada Fariza. Ia bahkan tak segan meletakkan kembali dokumen yang telah ia pilah dan memilih menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
“Pulang?” ulang Akbar, rasanya setelah menikah rasanya kata itu tidak pas untuk mewakili rumah.
“Aku mau ambil bajuku kerja yang mau aku bawa ke rumah kamu…. “
“Rumah ki..ta maksudnya.” ralat Fariza begitu menerima lirikan tajam dari Akbar.
“ Terserah kamu!” ucap Akbar kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat berhenti karena mendengarkan ucapan-ucapan nyeleneh istrinya.
“Ya, memang terserah aku. Aku cuman cerita nggak minta ijin.” Ucap ketus sengaja memperkeruh Akbar yang sejak tadi jujur saja tidak focus karena Fariza yang duduk di sampingnya.
“Dan, kalok kamu nggak ijinin aku tetap pergi.” Ucap Fariza terlihat menyebalkan di depan Akbar.
“Kamu!” ucap Akbar mulai gemas dengan tingkah laku Fariza yang sengaja membuatnya kesal.
“Weeek…” Ditambah Fariza menjulurkan lidahnya memancing kekesalan Akbar yang sudah berada di ubun-ubunnya. Alih-alih Fariza membujuk Akbar, justru ia segera memejamkan matanya meninggalkan Akbar yang mengulang memilah-milah dokumen lagi ulahnya.
***
Sarah yang tiba-tiba masuk ke kamar Mona, sebenarnya Mona juga tidak terkejut dengan kedatangan adiknya ke kamarnya. Sarah memang tak jarang meminta untuk tidur bersama mendengar segala curahan hati Sarah sebelum tidur itu adalah ruitinitasnya.
“Sarah, menurutmu laki-laki seperti Akbar apakah dia punya kekasih?” tanya Mona membuka percakapan.
“Entah, ada apa kau menanyakan hal yang tidak biasa?” tanya Sarah tak sabar karena sejak pulang resepsi pernikahan Fariza, Mona bersikap tidak seperti biasanya.
“Aku bertemu seseorang di pernikahan Fariza.” Ucap Mona mengingat kembali apa yang dikatakan wanita yang ia temui setelah ia menjauh dari kerumunan.
“Siapa?” tanya Sarah semakin penasaran karena wajah kakaknya kini berubah serius dan sangat terlihat jika dia sedang gelisah.
“Aku tidak tahu dengan pastinya dia siapa, tapi dia mengajakku untuk menghancurkan hidup Fariza.” Jelas Mona memandang Sarah bersamaan dengan akhir kalimat ucapannya.
“Apa?” pekik Sarah spontan menutup mulutnya.
Siapa yang tidak terkejut bukan kepalang, seorang wanita itu begitu berani mengajak kerja sama untuk menghancurkan hidup seseorang.
“Jadi dia?” tanya Sarah mulai paham dengan alur cerita yang diceritakan kakaknya.
“Iya, dia juga yang mengotori gaun Fariza. Tapi sebaiknya kau tutup mulutmu. Jangan sampai ayah dan bunda tahu.” Ancam Mona menatap lurus kedalam sorot mata Sarah yang tak menduga hal ini akan terjadi.
“Kamu menyetujui ajakan dia untuk menghancurkan Fariza?” tanya Sarah pelan-pelan, ia tahu jawabannya namun ia ragu ketika ia tak sengaja menangkap sesuatu asing dimata Mona.
“Bisa jadi.” Jawaban Mona membuat lagi-lagi Sarah terkejut bukan kepalang.
Tak menyangka jika perjodohan kolot yang baru beberapa hari terwujud mendatangkan banyak masalah terhadap keluarganya. Mendengar jawaban Mona, membuat Sarah mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih banyak hal lagi.
To Be Continue----