Hari ini mereka dipersatukan menjadi keluarga yang saling melengkapi. Menerima segela kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Dengan banyak doa dari keluarga besar,sanak saudara dan rekan-rekan kerja akhirnya hari yang ditunggu datang juga.
Fariza dengan balutan gaun pernikahan warna putih sedang dirias oleh ahli make up. Hari ini pelaksanaan ijab qabul di rumahnya, di dampingin ibu tirinya Fariza hanya diam menatap kosong ke lantai bawah. Resti sang ibu tahu persis bagaimana perasaan anaknya saat ini. Ditambah lagi ia menikah bukan karena kemauannya sendiri melainkan dorongan dari dua keluarga yang berharap menjadi satu keluarga besar nantinya.
“Fariza!” panggil seorang perempuan sebayanya berdiri di ambang pintu.
Merasa namanya dipanggil, Fariza menyikap lamunannya dengan kilat. Ia memandang pemanggil suaranya melalui cermin. Sudah berdiri Dini yang tersenyum menghampirinya. Beberapa rekan kantor datang, namun tampaknya hanya Dini yang lebih memilih mendatangi kamar rias milik Fariza dibanding menyantap hidangan yang ada.
“Sudah selesai tinggal menunggu pengantin pria datang nanti kita turun. Nak Dini temani Fariza dulu ya! Bunda mau menemui tamu dulu.” Ucap Resti dengan senyum ramahnya yang langsung dibalas oleh Dini.
“Za, aku pengen tahu bagaimana bisa kamu menikah dengan siapa itu di undangan tertulis nama lain bukan Wisnu?” tanya Dini mengenggam erat tangan perempuan yang kini menatap bayangannya sendiri di cermin, tampak sempurna dibalut riasan pengantin dengan bunga melati menjalar dari rambut ke bahunya.
“Entah, Din. Apakah ini merupakan pilihan aku yang tepat.” Ucap Fariza mulai parau sambil membalas tatapan sayu Dini kepadanya.
“Kamu nggak boleh gitu, Za. Bagaimana pun menikah itu adalah ibadah.” Ucap Dini mengusap pundak Fariza pelan memberikan kekuatan Fariza yang hampir saja menyerah.
“Kami dijodohkan Din, kamu harus tahu aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Wisnu.” Jelas Fariza pada Dini yang menatapnya tak percaya.
Banyak yang yakin jika Wisnu dan Fariza akan berakhir di pelaminan, namun kenyataannya jalan hidup mereka sudah ada yang menentukan baik rezeki, jodoh maupun mati. Dan inilah yang diyakini Fariza, jodohnya ternyata adalah Akbar Aninbagaskara bukan Wisnu Rizky, lelaki yang menemaninya bertahun-tahun.
“Dan kamu harus tahu calon suami aku yang bentar lagi sah ini adalah presdir di perusahaan Wisnu.” Timbal Fariza membuat Dini semakin ternganga mendengarnya.
“Oh My God!” umpat Dini tak percaya jika calon suami sahabatnya sudah pasti tajir melintir melihat dari posisi jabatannya di perusahaan.
“Dan, belum lagi kamu harus tahu…, Dia juga punya kekasih…” tambah Fariza yang mampu membuat Dini menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut bukan kepalang.
“Dan lagi, pacarnya adalah..”
“ Nak, Akbar sudah datang!” ucap Resti masuk memotong ucapan Fariza, Resti berniat menjemput Fariza yang sudah berdandan begitu cantic bak seorang Barbie.
Entah mengapa, mengetahui Akbar sudah datang. Detak jantung Fariza yang tadinya netral kini berdecak tidak karuan. Tangannya sedikit dingin, juga langkahnya hati-hati meski sudah dituntun oleh Resti dan Dini keluar kamar rias.
***
Saya terima nikah dan kawinnya Fariza Adinda binti Adi Purnama dengan mas kawinnya yang tersebut diatas tunai.
Masih tergiang bagaimana Akbar melantunkan lafadz ijab qobul dengan lancar tanpa mengulang beberapa kali. Begitu Akbar menyelesaikan prosesi ijab qobulnya, ada yang luruh lega dalam hati Fariza. Air matanya perlahan luruh membasahi pipinya, entah ia bahagia atau bersedih karena menikah demi menuruti kebahagiaan orang tuanya.
Setelah selesai, berganti pakaian resepsi pernikahan. Sepasang pengantin menyambut ucapan turut bersuka cita dari para undangan. Jika kalian menanyakan apakah Wisnu dan Maya datang ke resepsi? Tentu saja tidak, baik Akbar dan Fariza sepakat untuk tidak mengundang kekasih masing-masing.
“ Jadi, kapan mobilku datang?” tanya Fariza sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Akbar.
Akbar menjauhkan telinganya mendengar pertanyaan konyol dari Fariza, ia begitu heran dengan istri sahnya yang baru sah beberapa jam lalu. Baginya, sikap Fariza menggelikan untuknya bukan marah malah Akbar tersenyum simpul pada Fariza.
“Apanya yang lucu?” tanya Fariza mengerutkan keningnya melihat respon Akbar yang justru tersenyum padanya.
“Ayo berangkat!” ajak Akbar berdiri menggenggam tangan Fariza.
“Kemana?” tanya Fariza heran melihat tingkah Akbar.
“Katanya mau pilih mobil?” tanya Akbar sambil berdecak kesal yang sengaja dibuat-buat.
“Kamu gila!” umpat Fariza menarik tangan Akbar untuk duduk kembali, melihat sekeliling berharap tak ada tamu yang melihat tingkah keanehan mereka.
“Kamu juga aneh, resepsi belum selesai udah nagih mobil.” Gumam Akbar tak jelas membuat Fariza hanya memanyunkan bibirnya.
Pandangan Fariza teralihkan pada dua perempuan yang sibuk mencicipi hidangan penutup, tawa mereka begitu riang. Fariza menatapnya dalam diam sorot matanya begitu sendu. Kesedihannya mengingatkan ia semasa kecil dimana kedua kakak tirinya sibuk bermain dan mengabaikan Fariza yang berlarian kesana-kesini mengikuti kedua kakak tirinya yang sengaja membuatnya letih.
Setidaknya Fariza bahagia karena kedua kakak tirinya meski membencinya tidak mengacaukan pernikahannya dengan Akbar.
***
Acara berlangsung dengan lancar, hiruk pikuk memeriahkan pernikahan Akbar dan Fariza. Fariza mulai membersihkan badannya yang sudah lengket seharian penuh memakai gaun berat. Ia tidak berfikir jika resepsinya akan sederhana namun ternyata cukup begitu megah. Belum nanti aka nada resepsi di rumah mempelai laki-laki, membayangkannya saja Fariza sudah menyerah melambaikan bendera putih.
Fariza keluar kamar mandi, mendapati Akbar yang sudah memakai baju piyama yang dibawakan mamahnya kesini untuk baju ganti. Akbar bahkan tak menyadari jika Fariza sudah selesai dengan acara ritual mandinya, lelaki itu sibuk memantau perusahaannya yang tetap berjalan meski sang CEO menggelar resepsi.
“Bikinin kopi dong!” ucap Akbar tanpa memandang Fariza yang kini bersungut memanyunkan bibirnya.
“Kenapa?” tanya Akbar tanpa rasa bersalah melihat Fariza yang tak bergegas membuatkan kopi untuknya.
Fariza menatap malas Akbar kemudian beranjak keluar kamar, semua mata menatap Fariza dengan senyum tidak jelas sedangkan kedua kakaknya tirinya kembali sibuk dengan ponselnya begitu mengetahui siapa sosok yang menuruni tangga.
Keluarga sibuk bercengkrama saling melepas rindu, benar-benar gaduh dan tak kenal waktu. Semuanya bahkan tampak terjaga, keluarga dari ayah dan ibunya. Fariza membantu ibunya menata piring yang sudah dibilas Resti.
“Kamu kok belum tidur? Nggak capek seharian berdiri terus?” tanya Resti menatap heran seraya memberikan piring yang sudah ia bilas pada Fariza.
Fariza tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. Setelah membantu ibunya, ia meraih cangkir kopi memberikan sedikit gula dan kopi hitam milik ayahnya. Resti terdiam, tidak mungkin cangkir kopi itu untuk Fariza sendiri. Perempuan itu jarang sekali meminum kopi karena penyakit asam lambungnya yang tidak bisa diajak ekrja sama.
“Buat siapa Za? Buat ayah ya?” tanya ayahnya yang melintas berhenti berjalan melihat aktivitas anaknya yang baru saja lepas lajang.
“Eh! Bukan. Buat Akbar yah.” Ucap Fariza sungkan kemudian tergesa-gesa mengambil beberapa cake sisa resepsi tadi beberapa potong dan segera bergegas masuk kamarnya.
Adi dan Resti hanya terkekeh geli melihat tingkah Fariza yang tampak malu-malu. Begitu memasuki kamar raut wajah Fariza sudah berubah muram, menatap lurus pada sosok lelaki yang sudah berpindah ke sofa kamar. Mata hitam pekat Akbar tampak serius meneliti setiap barisan data yang ia baca.
“Lama!” cibir Akbar sengaja menyindir Fariza yang baru saja membaringkan tubuhnya yang sudah kaku di sekujur tubuh. Resepsi pernikahan benar-benar melelahkan.
“ Jadi, nggak selera.” Tambah Akbar sengaja memancing Fariza yang lekas memejamkan mata kembali membuka mata.
“Bagus, nggak usah diminum.” Ucap Fariza dengan nada ketus. Matanya sudah lengket tapi teman sekamarnya berisik.
Akbar terkekeh melihat tingkah Fariza yang berubah menjadi pemarah kepadanya. Padahal awal pertemuan mereka, Fariza hanya diam dan tidak banyak mengeluarkan suara. Baru saja, Fariza terpejam matanya kembali terjaga teringat satu hal.
“Kamu tidur di sofa aja.” Ucap Fariza sambil menaruh selimut dan bantal di samping Akbar yang kini sudah tidak memperhatikan laptopnya lagi.
“Yaelah, Za. Jangan kayak anak kecil.” Ucap Akbar menggelengkan kepala melihat tingkah Fariza yang kekanak-kanakan itu.
“Bodo amat! Kamu pulang saja juga nggak ada yang ngelarang.” Ucap Fariza kemudian berbaring memunggungi Akbar yang masih setia memperhatikan tingkah laku Fariza.
Ddrrttt…ddrrttt…
Maya is calling…
Sebuah panggilan telepon masuk, menampilkan benda pipih di samping Akbar menyala. Sebuah nama yang familiar, dan Akbar sudah hafal tanpa melihatnya terlebih dahulu terpampang nyata. Sudah beberapa kali menghubungi, dari Fariza mandi sampai kini mungkin sudah terlelap. Beberapa kali Akbar menolak panggilan tersebut, entah mengapa ia sedang tidak ingin berbicara dengan Maya yang pasti akan berujung bertengkar.
Maya: Kamu kemana Akbar?
Maya: aku tahu kamu baca ini?
Maya: jawab aku, apa benar kamu menikah hari ini?
Rentetan pesan terus masuk, meski pengaturan fitur laporan dibaca di nonaktifkan tetap saja Maya mengetahuinya jika Akbar membaca semua pesannya. Akbar memilih mematikan ponsel dan bergegaas berbaring di sofa yang ternyata lutut sampai kaki paling bawah mengambang diatas udara tak beralaskan sofa.
Akbar menatap Fariza yang tiba-tiba berbalik menghadap dirinya dalam keadaan sudah terlelap. Perempuan yang terpaut usia jauh di bawahnya itu punya emosi yang bisa meledak kapan saja. Dan juga, lidahnya begitu tajam dapat melukai siapa saja yang juga melukainya.
***
Perempuan yang masih terjaga di tengah malam, memilih menikmati udara segar diluar balkon kamarnya menatap gelisah ponselnya. Beberapa kali ia menekan tombol power ponselnya, dan sama saja tidak perempuan. Maya benar-benar gelisah, Akbar tidak dapat dihubungi.
Ia semakin resah mendengar jika Akbar tengah melangsungkan pernikahannya pagi tadi, Maya ingin meminta penjelasan mengapa ia tidak diperkenankan datang. Yang membuat perempuan itu semakin resah adalah Akbar justru berubah sikap tidak seperti awal pertama kali, lelaki itu memberi tahu Maya tentang penjelasan.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Heni, ibu Maya yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku anaknya dari ambang pintu kamar.
“ Mah, Akbar menikah hari ini.” Ucap Maya memandang mamahnya dengan mata memerah.
Tak bisa di pungkiri hatinya benar-benar terluka mengetahui Akbar benar-benar meninggalkannya. Heni tampak terkejut dengan pernyataan Maya.
“Dari dulu mamah itu tidak setuju sama hubungan kalian. Lihat apa yang sekarang dia lakukan sama kamu.” Ucap Heni naik pitam melihat Maya tampak memelas.
“Mah…” rengek Maya kemudian memeluk Heni, tangis Maya pecah malam itu entah untuk keberapa kian kali.
“Sudahlah kamu lepaskan saja dia. Tidak ada untungnya kamu mempertahankan dia.” Ucap Heni sambil menepuk pelan pundak Maya.
“Enggak, Maya nggak akan lepasin Akbar. Akbar itu milik Maya mah.” Ucap Maya langsung melepas pelukan begitu mendengar tutur kata mamahnya yang menyuruh meninggalkan Akbar saja.
“Lalu kamu mau apa? dia sudah menikah.” Jelas Heni, Maya yang di depannya seperti bukan anak semata wayangnya begitu dibutakan oleh yang namanya cinta.
“Maya bakal rebut apa yang jadi milik Maya.” Ucap Maya begitu yakin dengan tekadnya dan berniat menghalalkan cara agar Akbar tidak pergi dan memilihnya.
Begitulah cinta, ketika otak tidak bisa mengendalikan cinta. Maka cinta yang akan mengendalikan otak dengan kebutaannya yang tak bisa berfikir jernih.
***
Akbar lega bisa pulang ke rumah orang tuanya, dia bisa meluruskan kakinya ketika tidur tidak seperti malam-malam pertama pernikahannya. Akbar harus meringkuk seperti orang kedinginan karena tidur di sofa. Fariza bahkan tak segan mengusirnya jika Akbar menyentuh barang sedikitpun tempat tidurnya.
Akbar menghampiri Fariza yang justru melamun menghadap jendela luar di kamarnya, Akbar belum bisa memahami apa yang dilakukan perempuan itu. Padahal resepsi segera dimulai bahkan para tamu undangan sudah datang.
Meski tidak memakai make up khusus namun resepsi di rumah mempelai pria juga tak kalah besar. Karena, Akbar mengundang seluruh karyawan perusahaan untuk hadir. Termasuk Wisnu, mantan kekasih istrinya. Namun nampaknya laki-laki itu tidak hadir karena tidak terlihat batang hidungnya.
“Akbar ! sepertinya aku tidak bisa.” Ucap Fariza terbata masih enggan mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Apa maksudmu?” tanya Akbar menghapus jarak antara dirinya dan Fariza.
“Gaunku…”
“Gaunku…” Akbar menunggu kalimat selanjutnya namun Fariza tak bisa melanjutkan kata-kata, justru kini matanya memerah. Air matanya berlinang di pelupuk mata, Akbar terkejut melihat raut wajah Fariza.
Tanpa menunggu kelanjutan penjelasan Fariza, Akbar menuruni tangga rumah menuju kamar tamu yang digunakan sebagai kamar rias. Langkah Akbar terhenti, melihat gaun yang tergantung itu berubah warna sangat kotor, banyak lumpur yang menempel di permukaannya. Bahkan tetesan air masih menetes dari ujung gaun.
“Siapa yang melakukan ini?” gumam Akbar tak mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya.
To Be Continue-----