Sejak pertengkaran itu Wisnu seakan menghilang ditelan bumi, sudah beberapa hari Fariza pulang dengan jasa online. Lelaki itu tak menghubunginya sama sekali, bahkan nomornya tidak aktif. Fariza khawatir? Tentu saja Wisnu adalah kekasihnya, jika semuanya baik-baik saja mungkin perempuan itu tidak dihantui rasa gelisah. Hanya saja, pertemuan terakhirnya beberapa hari yang lalu tidak baik-baik saja karena ulah Akbar, calon suaminya itu.
Fariza pun banyak diam di rumah, bahkan Mona dan Sarah yang sering mencibirnya hanya Fariza diamkan. Dunianya seakan sedikit goyah hanya karena datangnya Akbar di hidupnya. Libur yang biasanya Fariza habiskan untuk jalan-jalan bersama Wisnu, kini ia habiskan di kamar mengurung diri.
Tok…tok…
Sebuah ketukan pintu membuat Fariza terbangun dari lamunannya, Fariza beranjak berjalan menuju pintu kamarnya. Namun tak segera membukanya, ia menunggu seseorang diluar untuk mengeluarkan suara.
“Fariza!”
Suara ayahnya, rupanya ayahnya yang sedang menunggunya diluar. Fariza pun segera membukakan pintunya, menyambut ayahnya dengan senyuman sayunya.
“Boleh ayah masuk?” tanya Adi ramah, ia tahu jika putri semata wayangnya pernikahannya dengan istrinya yang meninggal sedang terpuruk. Jika biasanya Resti adalah yang menenangkan, tapi istrinya tidak berani mengusik Fariza setelah melihat kemarahan besar Fariza beberapa hari yang lalu.
“Fariza, apa kamu marah dengan yang dilakukan Akbar? Salah Akbar dimana?”
“Ayah, dia…”
“Karena dia mengatakan semuanya pada Wisnu? Bukankah seharunya lebih awal. Ayah yakin jika Akbar tak melakukannya. Mungkin sampai menikah beberapa bulan ke depannya. Kamu masih menjalin hubungan dengan Wisnu.” Ucap Adi memotong bantahan Fariza, ia menjelaskan pada Fariza mencoba jika ada baiknya apa yang dilakukan calon menantunya itu.
“Ayah benar!” tambah Fariza, semua yang dikatakan ayahnya benar.
“ Apa sekarang sudah benar-benar putus? Kamu sudah berangkat dan pulang kerja sendiri?” tanya Adi begitu perhatian agar Fariza tetap tenang tidak tersulut emosi.
“Belum, Wisnu tidak bisa dihubungi beberapa hari yang lalu. Fariza mungkin akan ke rumahnya, yah.” Jawab Fariza menggeleng lemah.
“Ayah, bisa membatalkan perjodohan ini Fariza. Kalau Fariza memilih Wisnu daripada Akbar.” Tawar Adi pada putrinya yang kini menatapnya lurus namun kali ini ia tak bisa membaca sorot mata putrinya.
Fariza diam, entah mengapa jika ia disuruh memilih antara Akbar dan Wisnu, pastinya dia memilih Wisnu yang sudah lama menjalin hubungan dengannya. Tapi hatinya entah mengapa tidak bisa menolak kala Akbar mengatakan untuk menikahinya bukan dengan saudara tirinya itu.
Fariza menggeleng, menolak agar ayahnya tidak perlu membatalkan perjodohan ini. Ia percaya pilihan orang tuanya tidak pernah salah. Dan Fariza yakin ayahnya mengharapkan keduanya bahagia. Entah dengan ibu dan saudara tirinya.
***
Akbar terbangun dari tidurnya yang tidak teratur itu, meski hari libur ia hanya menghabiskannya dengan tetap bekerja di apartemennya. Lagi pula, ia juga tidak berencana untuk ke rumah papa mamanya.
Maya: Sudah sarapan?
Ting… tong..
Sebuah bunyi bel beberapa kali, membuat Akbar mengurungkan niatnya untuk membalas pesan pop up yang baru saja ia terima. Akbar mengerutkan keningnya mungkinkah Maya sudah berdiri dibalik pintu apartemennya pagi-pagi seperti ini.
“Tumben udah bangun, bang!” ucap Adelia menyelonong masuk begitu pintu terbuka.
Akbar menatap adiknya yang berjalan masuk sambil melepas maskernya. Di tangan kirinya membawa sebuah tas bekal yang Akbar yakin jika itu adalah buatan Mamanya untuk dirinya.
“Nih, Mama suruh Adel bawain rending.” Ucap Adelia seraya membuka satu persatu kotak yang berisikan sarapan untuk abangnya itu.
“Kamu dandan begini mau kemana?” tanya Akbar melihat Adelia yang memakai dress selutut sepagi ini.
“Kepo!”
TAAAKKK…
Pukulan mendarat di keningnya malam ini, karena ulah Akbar tentunya siapa lagi jika bukan kakaknya yang berbeda enam menit setelah Akbar lahir. Adelia memandangnya sengit karena pukulan kakaknya semakin terasa panas di keningnya.
“Bang, Fariza ternyata bekerja di perusahaan Maya?” tanya Adelia baru tahu dari Rani sekretaris Akbar. Rani, adalah teman sebaya Adelia. Adelia pula yang menrekrut Rani sebagai sekretaris kakaknya itu.
“Darimana kamu tahu?” tanya Akbar sambil mengambil sepotong roti bakar diberi selai nanas.
“Berarti Rani tahukan kalau gue mau nikah?” tanya Akbar lagi begitu melihat Adelia yang justru menjawab pertanyaan Akbar dengan cengiran kuda.
“Lama-lama mereka semua karyawan elo juga tahu kalau Abang aku yang paling tampan ini bakal nikah.” Ucap Adelia manja yang sengaja dibuat-buat.
“Dih! Tapi Maya belum bisa gue lepasin.” Ucap Akbar, hampir semua orang terdekatnya Akbar ceritakan jika ia belum bisa melepaskan Maya.
Adelia memutar bola matanya malas, soal Maya kakaknya itu benar-benar lemah dan akan berfikiran dangkal. Meski kedua orang tuanya belum tahu jika Akbar sudah memiliki kekasih, Adelia selalu menjadi orang pertama yang diberi tahu.
“Halah, bang. Abang tuh kapan sih sadar persyaratan lamaran adalah rumah mewah itu cuman orang matrealistis yang minta. Itu baru sebuah lamaran sudah meminta itu.” Ucap Adelia menohok secara tidak langsung ia mengatakan jika keluarga Maya sangatlah matrealistis terlebih ibunya yang memberikan syarat konyol.
“Adel!” ucap Akbar memperingatkan Adelia untuk tidak sembarangan berbicara tentang Maya, kekasihnya itu.
“Terserah, gue muak sama elo!” ucap Adelia kemudian menarik tasnya di sampingnya dan beranjak pergi. Selalu begitu, setiap membahas soal Maya mereka akan bertengkar. Membuat Akbar tidak yakin mengenalkan Maya pada orang tuanya.
“Oh ya! Jangan lupa lusa kamu menikah. Tanggung jawab sama pilihan elo kemarin.” Tandas Adelia kemudian menghilang dibalik pintu apartemen Akbar.
Akbar terdiam, iya besok lusa Akbar menikah pantas saja mamanya memasak rendang hari ini. Akbar yakin sekarang di rumahnya sedang sibuk membuat makanan persiapan resepsi.
***
Fariza sedang duduk di ruang tamu bercat abu-abu terang itu, akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah Wisnu. Orang tuanya tidak dirumah, hanya ada Wisnu yang sedang mandi. Fariza memandang keliling rumah yang masih terasa asing untuknya. Fariza tersenyum miris mengingat ini pertama kalinya ia singgah di rumah Wisnu, dan untuk terakhir kalinya.
“Maaf lama!” ucap seseorang dari tangga mengejutkan Fariza tentunya.
Fariza hanya mengangguk canggung. Padahal ia sudah terbiasa menghadapi sikap Wisnu yang berkali-kali marah tapi kali ini berbeda, Fariza benar-benar tak nyaman dengan situasi sekarang ini.
“Za, akum au ngomong sama kamu.” Ucap Wisnu setelah menatap Fariza yang hanya diam memandang kosong lantai rumahnya.
“Aku juga mau ngomong, kamu duluan aja.” Ucap Fariza kemudian tersenyum hambar, terlihat dipaksa.
“Apa kamu nggak bisa sabar sebentar aja. Aku sangat mencintai kamu, Fariza.” Ucap Wisnu menggengam kedua tangan Fariza.
Sedang Fariza terdiam, sepertinya ucapannya tepat karena mendahulukan Wisnu berbicara. Seolah-olah jawaban, Fariza yang tadinya sebagai ungkapan justru sebagai jawaban permintaan Wisnu. Wisnu mulai khawatir kala melihat respon Fariza yang tidak menatapnya namun tampak bingung.
“Wisnu, aku benar-benar nggak bisa lanjutin hubungan kita ini. Aku tinggal menghitung hari untuk menikah.” Ucap Fariza sambil memberanikan diri menatap Wisnu yang dari matanya tampak kecewa mendengar jawaban Fariza yang tidak sesuai dugaannya.
“Tapi, Za!”
“Nu, aku nggak tahu jika sampai aku batalin pernikahan yang udah di depan mata ini. Mau ditaruh dimana muka keluargaku, aku juga nggak mau semakin diinjak-injak kakak tiri aku.” Penjelasan Fariza mampu membuat Wisnu terdiam.
“Za, dari tadi kamu cuman bilang pernikahan dan keluarga kamu, kamu nggak mengungkit perasaan kamu. Aku percaya aku masih yang paling dalam di hati kamu.” Tolak Wisnu seolah belum terima jika Fariza memilih mengakhiri hubungan keduanya.
“…”
“Aku benar kan Za!” ucapan Wisnu mencoba menyakinkan dari Fariza yang mulai terpancing Wisnu. Fariza tampak menggigit bibir bawahnya menandakan jika ia mulai ragu dengan pilihan dan ucapan Wisnu ada benarnya juga.
“Kamu tahu Za! Pak Akbar itu sudah punya wanita lain.” Ucapan Wisnu mampu membuat Fariza mendongak sedikit terkejut.
“Pacar Pak Akbar itu Bu Maya, manager atasan kamu.” Ucap Wisnu semakin membuat Fariza terkejut bukan kepalang.
Ia sudah bisa membayangkan bagaimana nasib posisinya di perusahaan sebagai karyawan biasa jika atasannya tahu dia adalah yang dinikahi kekasihnya. Tidak, Fariza tidak boleh goyah dan termakan oleh ucapan Wisnu.
“Wisnu, aku sayang banget sama kamu. Orang yang benar-benar di samping aku selama bertahun-tahun. Tapi aku nggak bisa menepati janji kita dulu, aku benar-benar jahat lebih memilih perjodohan kolot yang direncanakan ayahku dan rekan kerjanya.” Ucap Fariza tersenyum perih, air matanya memenuhi matanya yang masih sanggup ia bending di pelupuk matanya.
Wisnu mengepalkan kedua tangannya, entah mengapa ia justru menyalahkan Akbar yang membuat Fariza kini memutuskan pergi darinya. Mungkin jika presdir perusahaannya itu tidak muncul dan merusak suasana, hubungannya dengan Fariza tetap berjalan lancar sekalipun berpisah masih dapat mengulur waktu.
***
Sepulang dari rumah Wisnu, Fariza disambut sebuah motor gede yang terparkir di depan halaman rumahnya, dan Fariza sudah pasti tahu siapa pemiliknya. Fariza masuk rumah tanpa salam atau apapun sekedar menyapa Akbar yang terduduk sendiri di ruang tamu.
“Za, temenin Akbar gih! Ayah masih sholat.” Ucap Resti meminta Fariza untuk menemani calon suaminya yang sedang berkunjung entah untuk siapa.
Fariza akan luluh ketika sang ibu tirinya yang menyuruhnya. Dengan berat hati, ia menghampiri Akbar kemudian duduk satu sofa namun memberikan jarak yang cukup jauh. Akbar sedikit menggeser duduknya menghapus jarak antara keduanya, Fariza melihatnya hanya memutar bola matanya malas.
“Darimana kamu?” tanya Akbar menyadari baju Fariza yang memakai kemeja polos warna biru tua.
“Bukan urusan kamu!” ketus Fariza bersikap tidak peduli lebih memilih mengotak-ngatik ponselnya yang sejak tadi ada pesan masuk dari Wisnu semuanya.
“Berisik banget sih ponsel kamu!” gumam Akbar menyadari ponsel Fariza yang sejak tadi bergetar meski sudah di genggaman pemiliknya.
“Pulang aja sana!” usir Fariza entah mengapa tidak ada yang salah dari Akbar namun selalu saja keberadaan Akbar di sekitar Fariza membuat suasana hati Fariza tidak menentu.
Fariza melirik jam dinding yang tertempel di dinding ruang tamunya, menunjukkan pukul satu siang dan dia belum sholat dhuhur. Niat hati menunggu ayahnya selesai sholat, dan Fariza akan kabur untuk tidak menemani Akbar.
Namun nampaknya Fariza harus mengurungkan niatnya karena ayahnya tampak sengaja tidak datang ke ruang tamu. Fariza melihat ke dalam, ayahnya justru masuk kamar membiarkan Fariza berlama-lama dengan Akbar di ruang tamu.
“Mau kemana?” tanya Akbar berhasil mencekal lengan Fariza yang beranjak pergi meninggalkan dirinya sendiri di ruang tamu.
“ Ke kamar mandi!” gertak Fariza mencoba melepaskan cekalan Akbar yang ternyata lumayan erat.
“Bohong!” ucap Akbar berhasil menarik tangan Fariza dan membuatnya terduduk kembali dan kini mereka duduk tanpa ada jarak diantaranya.
“Aku mau minta sesuatu sama calon suami aku.” Ucap Fariza yang terderngar dibuat-buat dan memberikan penekanan ketika menyebut tiga kata ahir disetiap katanya.
“Apa?” tanya Akbar menatap Fariza yang kini menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
“Kamu bisa memenuhinya?” tanya Fariza terdengar meremehkan, padahal Fariza yakin laki-laki di depannya bisa memberikan berlipat-lipat melebihi yang Fariza minta.
“Aku mau kamu belikan aku mobil.” Ucap Fariza dengan sinis, ia tidak peduli dengan pandangan Akbar yang memandangnya rendah. Baginya sejak awal memang Akbar sudah memandangnya rendah.
“Oh, cukup gampang. Aku bisa belikan kamu lebih dari satu.” Tandas Akbar terdengar menyindir Fariza. Pandangannya terhadap Fariza kini berubah, awalnya ia terkesan dengan sosok tegar Fariza. Namun kini dalam pandangannya, Fariza tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya yang menerima dijodohkan dengannya tidak lain karena matrealistis.
“Oh, tidak. Aku hanya butuh satu saja.” Ucap Fariza seolah-olah ia tidak tahu jika Akbar memandangnya sebelah mata kini.
“Kamu sama saja ternyata dengan mereka diluar sana.” Gumam Akbar sambil melihat arlojinya.
Meski obrolan keduanya tampak bersinggungan, tampak berperang dingin namun Akbar tak ingin ini berakhir padahal Fariza sudah terlihat watak aslinya di depan Akbar. Fariza melihat Akbar yang tampak biasa meski ia mengatakan hal yang merendahkan Fariza setelah mendengar permintaan Fariza yang tidak wajar karena mereka saling mengenal juga baru beberapa hari yang lalu.
“Pacar pak Akbar itu bu Maya, atasan kamu.”
Ucapan Wisnu terngiang begitu mendengar ucapan Akbar yang jelas merendahkannya meski tatapan matanya tidak sejalan dengan ucapannya. Fariza tersenyum hambar, lalu siapa yang b***t disini? Fariza yang terang-terangan meminta sesuatu Akbar yang harganya tidak terbilang murah? Atau Akbar yang bersikeras menikahi seseorang namun diluar sana menjalin hubungan dengan wanita lain?
To Be Continue----