“Jadi Akbar ingin segera menikah saja daripada berlama-lama tunangan?” tanya Adi dengan senyuman yang merekah. Siapa yang tidak bahagia ketika perjodohan yang ia rencanakan dengan rekan kerjanya dulu berbuah manis. Akbar, calom menantunya ingin mempercepat pernikahannya.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Adam memandang Akbar yang sejak tadi diam dengan santainya.
“Tentu saja, memang menunggu apa lagi? Aku dan Fariza bisa saling mengenal nanti setelah menikah. Satu bulan juga terlalu lama, jika surat-surat bisa tuntas dalam seminggu mungkin bisa langsung dilaksanakan.” Ucap Akbar menyakinkan seisi ruangan yang tidak percaya apa keiinginan Akbar.
Fariza yang sejak tadi memilih diam, tanpa sengaja kedua tangannya bertaut saling menggenggam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dana pa yang harus ia katakana. Ucapan Akbar di balkon ternyata benar-benar lelaki itu sampaikan.
Sarah dan Mona terdiam, wajah mereka sulit untuk diartikan. Mereka memandang dalam diam Fariza yang sejak tadi menunduk tak mengangkat kepalanya barang sebentar pun. Resti, ibu tiri Fariza tampak menahan air matanya entah mengapa ia begitu bahagia.
“Satu minggu? “ tanya Resti tak percaya cara Akbar mengambil keputusan benar-benar berani dengan resiko yang ada.
“Menurut Fariza bagaimana?” tanya Dea pada Fariza yang sejak tadi menunduk dengan fikiran yang kosong.
“Aku ikut saja tante, gimana baiknya.” Senyum Fariza yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang yang baru ia kenal membuat keluarga Fariza sedikit terkejut. Padahal biasanya perempuan anak bontot di rumah itu, sangat mahal senyum.
***
“Kamu gila? Seminggu lagi menikah?” ucap Maya sedikit lantang, sampai memenuhi seisi ruangan Akbar.
Awalnya Maya begitu bahagia ketika Akbar menghubunginya terlebih dahulu untuk diajak bertemu. Namun, semuanya musnah kebahagiaan di matanya. Akbar seminggu lagi akan menikah, lalu bagaimana dengannya.
“Memang salahnya dimana?” tanya Akbar santai sambil meminum kopi buatan sekretarisnya.
“Salahnya dimana? Akbar ! kamu anggap aku apa sebenarnya.” Bentak Maya hilang kesabaran pada Akbar yang justru menurutnya seperti bukan Akbar yang ia kenal.
“…”
“ Nggak! Aku nggak mau kita putus begitu aja. Aku akan lakukan apapun sampai kamu meninggalkan calon istri kamu itu.” Sumpah serapah Maya membuat Akbar terkejut.
Maya berlalu begitu saja, belum sempat Akbar menanggapi ucapan perempuan itu. Maya membanting pintu ruangan Akbar dengan cukup keras. Tak peduli pandangan karyawan yang juga berlalu lalang. Berpapasan dengan keadaan Maya yang sekarang, wajah sembab dan tampak air mata terus keluar membasahi pipi meski ia usap beberapa kali.
Tak berapa lama, muncul seorang lelaki memakai jas berwarna hijau tosca bergantian masuk ke ruangan Akbar setelah Maya. Akbar mencebikkan begitu tahu siapa kini yang berada di ruangannya, menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“ Udah balik lo?” tanya Akbar pada lelaki yang cuman mengendiikan kedua bahunya mendengar sapaan Akbar.
“Tadi, Kenapa tuh si Maya nangis kejer?” tanya Ridwan dengan santai. Seketika wajah Akbar berubah begitu mendengar pertanyaan Ridwan.
“Gue bakal nikah.” Ucapan Akbar begitu pendek namun mampu membuat Ridwan melotot sampai bola matanya nyaris keluar.
“Bagus dong. Terus kenapa cewek elo nangis kejer?” tanya Ridwan yang selalu tak bisa mengontrol ucapannya itu.
“Gue nikah, tapi bukan sama Maya.” Ucapan Akbar kemudian meneguk kasar kopi yang sudah hampir habis itu.
Ridwan terdiam mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan Akbar. Sekarang ia paham mengapa Maya berpapasan dengan keadaan berantakan dan tak seperti Maya yang selalu menyapanya.
“Gila, elo mau nikah sama wanita lain? Sama siapa Bar? Elo pasti nghamilin dia kan lo? Ngaku …”
Ucapan Ridwan terputus begitu bantal melayang ke wajahnya, Akbar tak habis fikir bagaimana ia bisa mempunyai sahabat seperti ini dulu. Setiap diajak bicara serius selalu tidak bisa.
“Dijodohin sama bokap gua.” Jawab Akbar seraya mengusap tengkuknya yang entah mengapa setiap laki-laki itu ragu atau malu selalu gerakan tangan kebiasaannya itu muncul.
“Bhuaaa… masih jaman ya Bar?” gelak tawa Ridwan tidak bisa ia tahan meledak begitu saja. Akbar memandangnya datar, seakan salah jalan jika bercerita dengan sahabat di depannya ini.
“Nyesel banget gue cerita sama elo!” ucap Akbar kesal melihat respon Ridwan yang selalu cengengesan itu.
“Sorry bro, jadi gimana elo dijodohin sama siapa?” tanya Ridwan dengan serius sedikit mendekatkan wajahnya pada Akbar yang sudah terlanjur tak ada mood untuk bercerita pada sahabat karibnya itu.
“Temen bokap gue, lebih tepatnya bawahan bokap waktu dia menjabat presdir di perusahaan dulu.” Jelas Akbar pada Ridwan yang hanya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Akbar.
Akbar kembali berperang dengan egonya antara memilih mengikuti kata hatinya yang ingin masih setia dengan Maya atau mengikuti permintaan papanya untuk menikah dengan Fariza. Lagi pula terlalu pecundang bukankah mereka sudah memaklumi keinginan Akbar untuk menikah dengan Fariza saja daripada dengan Sarah.
“Gue rasa elo harus bener-bener pertimbangin. Nggak mungkin kalok elo jalanin keduanya secara bersamaan.” Ucap Ridwan pada Akbar yang sedang mendengarkan dengan seksama.
“Pastinya gue lebih milih Maya daripada dengan yang baru gue kenal beberapa hari lalu. Tapi gue gak berani nolak permintaan bokap gua, Wan!” ucap Akbar terlihat frustasi dan tak bisa menutupinya lagi jika sudah dihadapan Ridwan.
“Gue kenal elo udah lama, Bar. Dan gue tahu sebenarnya apa yang bikin elo nurutin permintaan om Adam.” Ucap Ridwan pada Akbar yang sedikit gugup ketika Ridwan mengatakan apa yang ia lihat dari Akbar.
“Jangan sok tahu lo!” sarkas Akbar pada Ridwan, mendengar balasan Akbar yang sangat cepat membuat Ridwan tersenyum karena itu emenandakan jika tebakannya benar.
“Elo takut kan jabatan elo di perusahaan ini terancam jika elo nggak nuruti kata bokap elo!” cibir Ridwan dengan senyuman sinis.
Akbar hanya menggeleng cepat seolah Ridwan hanya berbicara ngasal dan tak sesuai dengan tebakannya. Akbar diam-diam mengiyakan jika hal yang ia khawatirkan adalah posisinya di perusahaan ini. Jika jabatan sebagai CEO dicabut begitu saja lalu darimana ia akan menggapai sesuatu sebagai syarat ia dapat menikahi Maya.
***
Fariza baru saja keluar dari ruangan Managernya setelah mendapatkan tanda tangan dari atasannya itu. Beban di bahunya seakan terangkat begitu saja, begitu ia lebih awal selesai dari deadline yang ditetapkan. Sampai jam istirahat kantor, Fariza selesai dengan proyek perusahaan yang ditugaskan kepadanya.
“Makan siang sama siapa Za?” tanya Dini rekan kerja samping mejanya.
“Wisnu?” tanya Dini hafal dengan balasan Fariza yang hanya tersenyum itu.
Wisnu : aku tunggu di kedai, samping kantor aku ya!
Fariza sengaja tidak membalas dan hanya membacanya saja. Kemudian dia mengambil dompetnya untuk menuju kesana. Ia yakin Wisnu sudah datang lebih awal daripada waktu biasanya.
Dan benar, disana Wisnu sudah melambaikan tangan begitu melihat Fariza datang menghampirinya. Fariza duduk di hadapannya sudah tertata rapi hidangan sederhana yang telah dipesankan kekasihnya untuknya.
“Banyak banget!” omel Fariza begitu pelayan datang dengan makanan penutup yang baru mereka antar.
Fariza terdiam begitu pandangannya lurus menatap sosok familiar yang ternyata juga sedang menatapnya dari kejauhan. Dia tahu betul siapa yang sedang bergurau dengan rekan sesama laki-lakinya itu.
“Kamu lagi liatin siapa sih?” tanya Wisnu penasaran membuatnya mengikuti arah pandangan . kekasihnya yang sejak tadi belum menyentuh hidangan yang ia pilihkan.
“Oh, kamu tahu dia siapa? Dia CEO di perusahaan aku. “ ucap Wisnu begitu Fariza terang-terangan saling pandang pada Akbar yang sudah selesai makan dan melintas di sampingnya.
“Iya, tahu.” Jawab Fariza singkat kemudian mulai menyantap nasi yang sudah lumayan dingin itu.
“Kok kamu tahu?” tanya Wisnu dengan alis tebalnya yang saling bertaut itu, mendengar Fariza yang mendadak menjadi dingin dengannya.
“Dia yang dijodohin sama Sarah.” Lagi-lagi jawaban Fariza begitu pendek, entah bertemu Akbar diluar tidak hanya di rumahnya membuat suasana hatinya menjadi memburuk.
“Tapi akhirnya aku yang dinikahinya.” Lanjut Fariza dalam hatinya, entah mengapa mulutnya tertutup rapat untuk mengatakan yang sebenarnya padahal cepat lambat ia harus menerima resiko jika sampai Wisnu tahu sebentar lagi Fariza akan melepas masa lajangnya.
“Bukannya Pak Akbar itu sudah mempunyai kekasih, dia Manager Keuangan di perusahaan kamu.” Ucap Wisnu menatap Fariza dengan wajah kebingungan.
“Bu Maya maksud kamu?” tanya Fariza begitu hafal dengan atasannya yang bernama dengan Mayadilla itu, satu-satunya atasannya yang memakai hijab.
Wisnu mengangguk yakin, seingatnya jika Akbar menjalin hubungan itu belum berakhir. Jikapun sampai berakhir, rekan-rekan kerjanya pasti menjadikan berita hot topic. Fariza mengangguk berlagak tidak peduli, padahal dalam hatinya ia berfikir jika Akbar adalah lelaki yang baik namun ternyata cukup pecundang untuk ukuran CEO. Bersikeras untuk mempercepat pernikahan namun diluar masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Lalu bagaimana dengan Fariza yang masih belum berani terus terang pada Wisnu untuk mengakhiri hubungan.
***
Seperti biasa, rutinitas akhir Fariza dari aktivitasnya setiap hari adalah diantar pulang oleh Wisnu setelah makan malam bersama. Namun, ada yang aneh di depan rumah terparkir sebuah motor besar entah milik siapa. Wisnu memicingkan matanya, tak yakin yang dilihatnya bertemu dengan atasannya di rumah kekasihnya.
“Sarah ada yang mengunjungi rupanya.” Gumam Wisnu begitu mobil berhenti tepat pada seseorang yang baru keluar dari dalam rumah.
Fariza memutar bola matanya malas, seakan-akan semesta tak memihaknya bagaimana bisa hari ini dia bertemu dengan spesies manusia yang sengaja ia hindari. Fariza mulai gugup kala Wisnu turun mobil untuk menyapa atasannya itu.
“Selamat malam pak Akbar!” sapa Wisnu kemudian menjabat tangan Akbar yang tampak terkejut dengan Wisnu yang sengaja menghampirinya untuk menyapanya.
“Malam!” balas Akbar namun matanya menatap Fariza yang menatapnya datar kemudian mengalihkan pandangannya segera begitu pandangan mereka bertemu.
Entah apa yang membuat Akbar melakukan hal diluar kendalinya, tiba-tiba saja tangannya menarik tangan Fariza untuk berdiri di sampingnya. Wisnu yang melihatnya cukup terkejut juga melihat apa yang terjadi sekarang? Mengapa Akbar mendekatkan Fariza padanya.
“Terima kasih sudah mengantar calon istri saya.” Ucap Akbar ramah tanpa melepas genggaman tangannya pada tangan mungil Fariza tidak peduli jika perempuan di sampingnya sejak tadi sudah berusaha untuk melepas tangannya dari Akbar.
“Maksud Pak Akbar?” tanya Wisnu tidak mengerti sedang berada di situasi apa mereka sekarang.
“Oh, Fariza tidak bercerita, saya dan Fariza akan menikah dalam jangka waktu dekat bulan ini.” Jelas Akbar sengaja memamerkan kemesraan dengan memeluk pinggang Fariza.
Fariza memandang Akbar dengan terkejut tak menyangka lelaki yang dinilainya pendiam adalah seorang iblis berwajah manusia. Ia pun membeku di tempat, ia berniat menjelaskan jika waktunya pas pada Wisnu. Namun sekarang apa yang terjadi, semuanya hancur gara-gara lelaki di sampingnya.
“FARIZA!” bentak Wisnu yang mampu Fariza terlonjak kaget, ini pertama kalinya melihat kekasihnya membentaknya.
Matanya merah padam, tangannya mengepal siap menyerang kapan saja jika emosinya tidak bisa ia tahan. Bagimana tidak? Sejak kemarin, hubungannya masih baik-baik saja dengan Fariza. Terlebih ia tidak bisa untuk memukul lelaki yang sejak tadi menggenggam tangan Fariza.
“Dia benar.” Ucapan Fariza menunduk terdengar begitu pasrah tak berani menatap mata Wisnu yang kini bisa menusuknya kapan saja sangking tajamnya.
“Ada apa ini?” suara Adi dari dalam membuat semuanya kembali terkejut, hal itu dimanfaatkan Fariza untuk melepas genggaman Akbar yang mulai kencang itu. Wisnu segera membungkukkan tubuhnya kepada Adi, ayah Fariza setelahnya masuk ke mobil dan menancap gas begitu kencang.
“Puas kamu?” tandas Fariza pada Akbar, bisikannya begitu tajam ketika Fariza sengaja menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Fariza masuk begitu saja, membiarkan Akbar memandangnya dari belakang. Adi melambaikan tangannya pada Akbar yang akan memakai helm full face miliknya. Adi memutuskan untuk mengikuti Fariza yang masuk dengan langkah gusar.
Membuka lemari es di ruang makan dengan kasar, kemudian sedikit membantingnya ketika menutupnya. Resti yang melihat sikap Fariza yang tidak seperti biasanya mencoba menanyakan pada Adi dengan tatapan matanya. Adi hanya mengendikkan kedua bahunya tak memberi jawaban.
“Bagus! Akbar ! Wisnu semua diajak pulang!” sindir Mona dari depan kamarnya.
Fariza berhenti berjalan, memejamkan matanya mendengar cemoohan kakak tirinya. Cemoohan yang selalu berhasil ia abaikan dulu, tapi entah mengapa sejak kedatangan Akbar dalam hidupnya emosinya tak terkontrol dan membara. Bukan Akbarnya hanya saja keputusan ia menerima perjodohannya saja.
“Tentu lebih memilih yang sebagai CEO dong. Adik tiriku memang hebat.” Timbal Sarah menambah emosi Fariza bergejolak. Ia masih diam memejamkan matanya.
“ Wisnu dibuang be…”
“TUTUP MULUTMU!”teriak Fariza akhirnya membuka suara sambil menatap tidak kalah tajam pada Mona dan Sarah yang mengedipkan matanya berkali-kali. Bukan hanya saudara tirinya namun keduanya juga terkejut mendengar teriakan kasar Fariza.
“Ini hidupku, bisakah tidak campur, Sampah!” umpat Fariza sambil memandang satu persatu saudara tirinya, Fariza menekan kata sampah penuh dendam.
Setelah melihat seisi rumah terpaku padanya, Fariza melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dimana kamarnya terletak. Setelah teriaknya penuh emosi, ada sesuatu yang luruh dari hatinya. Meski matanya tanpa ia sadari sudah mengalir dengan derasnya air matanya.
Hari ini cukup mengejutkan, Fariza terduduk di depan meja riasnya menatap wajahnya yang sudah berantakan. Ia fikir ia masih bisa bernafas lega sebelum menghadapi hari pernikahan dengan Akbar.
Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kerjanya, muncul notifikasi berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Wisnu. Bahkan sudah beberapa puluh pesan chat dari Wisnu juga. Fariza jengah justru mematikan ponselnya dari membaca satu persatu pesan dari kekasihnya yang sudah tertebak oleh Fariza apa isinya.
To be Continue---
Hai terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Jangan lupa yang bingang kejoranya, aku benar-benar terimakasih sama vote yang kalin beri untuk semangatku menulis.
See you.....