JEMBATAN

2182 Words
Hari ini rutinitas kembali seperti semula hanya saja Akbar tidak datang ke rumah. Akbar sudah membeli sebuah rumah minimalis yang cukup di tinggali untuk seorang diri, sejak umur 29 tahun lelaki putra sulung keluarga Bagaskara itu sudah menyicil satu persatu untuk membangun rumah itu. “Menurut Adel, Bang Akbar serius nggak sama perjodohan yang papa rencanakan?” tanya Dea pada Adelia yang sedang membantunya mencuci peralatan makan yang baru selesai digunakan. Dea menolak usulan Adam untuk menyewa jasa asisten rumah tangga, Dea beralasan kegiatan rumah sebagai pengisi kesibukan waktu luangnya setelah memilih resign dari pekerjaannya. Dea sudah resign cukup lama setengah anak kembarnya lulus kuliah. “Nggak tau Ma. Akbar…” “Bang Akbar maksud Adel nggak kayak biasanya.” Sempat memberi jeda karena Adelia yang tak terbiasa memanggil saudara kembarannya itu memakai embel Bang,Mas atau Kakak. Padahal Adam dan Dea terlebih Nenek mereka selalu menegur Adel agar sedikit segan memanggil Akbar dengan embel-embel tersebut. “Jadi aku perlu ke rumah Adi lagi atau enggak Ma?” tanya Adam muncul dari pintu belakang setelah mendengar obrolan anak dan istrinya. “ Entah Adi yang kesini, atau Papa yang kesana yang jelas masalah seperti ini tidak bisa di rundingkan via telepon.” Ucap Dea memberi saran. “Iya, Pa. Adel setuju harus bertatap muka.” Tambah Adelia kepada Adam yang justru mencebikkan kedua sudut bibirnya. “Kamu itu tahu apa sih Del? Tukang nghabisin lauk Mama.” Cibir Adam sambil menyeruput sisa kopi pagi tadi. “Tuh kan, Ma! Papa tuh selalu ngeselin. Buat Adel bete.” Rengek Adelia pada Dea yang hanya tersenyum setiap Adam menggoda putri semata wayangnya ditambah Akbar selalu menjadi kompor Adam untuk semakin menjahili Adelia. “Ya udah nanti ajak Akbar kesana lagi.” Ucap Adam kemudian menghilang setelah memasuki ruang tengah yang terhalang dinding dapur. *** Akbar baru saja memarkirkan motor besarnya di parkiran dan segera masuk ke dalam ruangannya. Drtt…drrtt… dddrrttt…ddrttt… Papa is Calling… Baru saja melangkah suara dering telepon beberapa kali membuatnya menghentikan langkahnya, ia mengecek siapa yang menghubunginya pagi-pagi. Tertera kontak papanya di layar pipih ponselnya. “Halo…” kata Akbar setelah menggeser warna hijau di layarnya. Halo Akbar, nanti kita ke rumah Om Adi lagi ya. Ucapan Papanya membuat Akbar mengerutkan keningnya. Untuk apa beberapa kali datang kesana. Padahal juga baru kemarin dia pergi kesana. Kamu jangan berlagak lupa. Kalok bukan karena syarat kamu papa juga nggak ngajak kamu kesana. Penjelasan Akbar mengangguk, ia mengingat harus kesana karena untuk menyelesakan perjodohannya. “Jam berapa Pa?” tanya Akbar sambil menatap arloji di tangannya, mencoba mengingat jika nanti malam ia tak ada jadwal bertemu atau rapat di perusahaan. Jam tujuh saja, jangan seperti kemarin terlalu awal. Tutt… panggilan ditutup begitu saja padahal Akbar juga belum mengiyakan, Akbar sedikit kesal jika ditelepon oleh Papanya, sudah seperti kekasih yang sedang marah karena menutup telepon sebelum obrolan selesai. Akbar pun melanjutkan lagi jalannya, ia menyapa Rani sebentar kemudian ia mendapati ruangannya sedikit terbuka membuat dia memicingkan sedikit matanya seolah sedang berfikir. Sekretarisnya memberikan isyarat jika ada orang yang menunggunya di ruangannya, Akbar tahu siapa lagi yang menunggunya jika bukan Maya. Padahal baru saja mereka bertengkar dan juga tak saling menghubungi. Akbar memasuki ruangan mendapati Maya yang memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Akbar menyeruput kopi yang sudah disediakan Rani sebelum ia datang, menyadari Akbar sudah datang Maya menghampiri Akbar dan menggenggam tangan kekar milik lelaki yang berjabatan sebagai CEO di perusahaan itu. “Akbar, aku bener-bener nggak bisa hubungan kita berhenti begitu saja.” Ucap Maya menatap lurus kedalam mata Akbar yang hitam pekat dan tak bisa ia tebak fikiran lelaki di hadapannya itu. “Tapi aku akan menikah, May.” Kilah Akbar semakin erat menggenggam tangan mungil kekasihnya itu. Akbar begitu mencintainya sampai syarat berat dari ibu Maya ia sanggupi supaya bisa memiliki Maya sepenuhnya. Namun, ternyata perjuangannya tak hanya mencapai syarat yang diberi Ibu Maya. Ia juga harus melalui di persimpangan antara ia memilih egonya atau menuruti permintaan Adam untuk pertama kali. “ Aku yakin Akbar, kamu masih ada kamu di hati kamu kan?” tanya Maya memastikan dengan kepercayaan jika Akbar hanya menginginkannya. “Maya, aku juga dalam gelisah yang tidak bisa aku katakan. Papa tidak pernah meminta ini itu sama aku. Aku tak sampai hati jika harus menolak permintaan papa aku untuk pertama kali. “ jelas Akbar entah alasannya terlihat payah atau klasik tapi memang itu yang ia rasakan sejak kemarin. “Kamu masih mau hidup denganku kan, heu?” tanya Maya menangkupkan kedua tangannya pada wajah Akbar yang kini menatap Maya yang sudah berkaca-kaca. Hati Akbar merasa teriris belati melihat mata Maya yang sudah membendung penuh air mata, entah kapan pasti akan luruh. Akbar benar-benar menyimpan harapan besar pada perempuan di depannya itu. Akbar menarik Maya ke dalam pelukannya, mengusap pelan punggung Maya mencoba menenangkan wanita dalam dekapannya. Maya memejamkan mata, membiarkan air matanya luruh membasahi jas Akbar. Ia benar-benar tak bisa membohongi dirinya jika ia benar-benar membutuhkan laki-laki yang memeluknya sekarang. “ Tapi, May. Aku nggak bisa janji jika suatu hari bisa menikahimu.” Ucap Akbar sedikit pelan tepat di telingan Maya yang tubuhnya kembali membeku di tempat mendengar ucapan Akbar seolah perjodohan kolot ini meruntuhkan keteguhan Akbar untuk memerangi badai apa saja yang akan menghalangi dirinya. “Tidak, Akbar kamu harus percaya kita bisa hidup bersama. “ ucap Maya setelah melepas pelukannya. “…” “Aku akan memikirkan cara bagaimanapun agar kita tetap bisa bersama.” Ucap Maya menggenggam kedua tangan Akbar yang kini menatapnya penuh arti. Akbar hanya mengangguk beberapa kali, ia tidak bisa berkata-kata bagaimana bisa ia meninggalkan perempuan yang baik. Perempuan yang takut jika sampai kehilangan dirinya. *** Sejak Akbar berbicara soal perjodohannya kepada Maya, perempuan itu benar-benar kalut fikirannya. Logika dan hati tak sejalan, setiap mengingat ucapan Akbar satu patah kata saja membuatnya seperti digores belati. Aku akan menikah… Aku akan menikah… Kita sampai disini saja… Maya terisak di dalam mobil yang sudah terparkir di garansi rumahnya, perempuan itu menangis dalam diam membiarkan air matanya berjatuhan menelusuri pipinya. Nyatanya meski menangis berkali-kali, sesak di dadanya tetap saja datang dan pergi setiap ia mengingat ucapan kekasihnya itu. Sampai seorang wanita paruh baya keluar dari rumahnya, membuat Maya dengan cepat mengusap air matanya yang tersisa dan mulai mengering. Wanita itu tampak memandang gelisah mobil yang masih ada Maya di dalamnya. Maya menarik nafas mencoba meminimalisir nafasnya yang tidak beraturan. “Kamu darimana? Pulang lebih awal?” sapa Heni, ibu Maya sambil menunggu anaknya yang berjalan menghampirinya. “Kamu menangis lagi?” tanya Heni begitu memperhatikan wajah anaknya dari dekat. “…” “Maya, jawab Mamah kamu kenapa?” tanya Heni sekali lagi menahan lengan Maya yang melangkah mengabaikannya. “Bicara di dalam, Mah.” Ucap Maya seraya melepas pelan genggaman Mamahnya dari tangannya. Heni pun menuruti ucapan Maya, menutup pintu dan lebih baik menunggu Maya berbicara sendiri saja daripada memaksa anak itu untuk membuka mulutnya sendiri. Maya diam, ia menghela nafasnya berkali-kali seraya menuangkan air putih di gelas kosong yang terletak di atas meja makan. “Mah, Akbar…” “Akbar kenapa dia? Dia nyakitin kamu? Sampai kamu menangis dari kemarin?” tanya Heni memotong Maya yang baru saja membuka suara. Heni membungkam mulutnya menyadari rentetan pertanyaan yang keluar begitu saja, padahal Maya baru mengatakan dua patah kata. “Akbar mau menikah dengan wanita yang dijodohkan Papanya.” Ucap Maya tak bisa menahan isak tangisnya. “…” “ Padahal Akbar dan Maya sudah lama menjalin hubungan, baru terpikir akan ke jenjang serius tapi justru Papa Akbar menjodohkan dia dengan perempuan rekan kerjanya. Akbar meminta mengakhiri hubungan… hiks… tapi Maya nggak mau, Mah…. Hiks… Maya nggak mau….” Ucapan Maya semakin tidak jelas karena tangisannya semakin kencang. Sedang Heni menatap sendu putrinya, ia tak bisa berkata-kata melihat air mata bercucuran mengalir dengan derasnya membasahi kerudung putrinya. Wanita itu diam dengan mata berkaca-kaca, meratapi anaknya yang sudah kehilangan control. Diamnya Heni menyimpan emosi yang membara pada Akbar, calon menantunya. “Tapi Maya berhasil yakinin Akbar, kalok Akbar sama Maya bakal tetap bersama apapun yang terjadi.” Ucap Maya mencoba menenangkan emosi mamahnya yang sudah mau meledak terlihat dari matanya. “Tetap saja, Akbar tidak bisa menolak perjodohan itu?” tanya Heni tak sabar. “Katanya dia tidak sanggup menolak permintaan papanya untuk pertama kalinya, Mah.” Ucap Maya teringat ucapan Akbar tak bisa menolak perjodohan kolot yang direncanakan orang tuanya. “ Terus, kamu mau apa?” tanya Heni dingin. “Maya ingin tetap sama Akbar mah.” Ucap Maya berhambur memeluk mamahnya. Heni terdiam sambil menepuk pundak anaknya pelan, mencoba menenangkan. Yang terfikir olehnya sekarang adalah menyuruh Akbar datang ke rumahnya. “Undang Akbar makan malam disini besok.” Ucap Heni melepas pelan pelukan Maya, menatap tajam lurus mata sembab Maya. *** Fariza menghampiri bundanya yang sedang mempersiapkan makan malam namun Fariza merasa porsi untuk saat ini cukup banyak. Ditambah semuanya tampak bersih-bersih rumah, ayahnya sampai membantu mengganti lampu yang cahayanya mulai redup. “Ada yang datang lagi ya Yah?” tanya Fariza sambil memberikan bolam lampu yang baru ayahnya beli. “ Om Adam akan kesini lagi.” Ucap Ayahnya sambil menunduk tersenyum pada anaknya yang mendongak menatapnya tak mengerti. “Untuk?” tanya Fariza mencoba menepis pemikirannya. Mengingat ucapan Mona kemarin malam padanya. “ Gak usah berlagak bego deh.. kamu…” “Mona!!” bentak Resti dari ruang makan begitu mendengar ucapan Mona yang terlalu kasar. Mona berdecak, ia kesal setiap ia akan meluapkan emosinya terhadap Fariza selalu saja Bundanya menegurnya. Mona sangat benci dengan keadaan seolah dia yang jahat, entah mengapa setiap melihat Fariza yang tegar ia merasa kesal. Ia kesal dengan muka topeng yang Fariza tampilkan. “Jadi benar? Akbar ingin menikah dengan Fariza bukan dengan Kak Sarah?” tanya Fariza pada Resti. Resti terdiam, dia tak mungkin salah dengar. Suara Fariza seperti menahan tangis, dan ini pertama kalinya Fariza memanggil kakak tirinya dengan embel-embel “Kakak”. Mona sampai terpaku mendengar pertanyaan Fariza pada bundanya, padahal Mona hafal betul bagaimana sikap Fariza yang selalu tidak mau dikalahkan meski ia tindas. “Fariza bukannya kemarin tidak masalah?” tanya Adi menghampiri Fariza yang duduk menatap Resti yang membersihkan dapur ketika semua hidangan sudah siap. “euungghh…” Fariza bergeming tak bisa menjawab padahal kemarin ia berbicara hanya untuk membalas cibiran Mona yang menggores relung hatinya. Tinn..tin… Suara klakson mobil terdengar dari luar, Adi segera membukakan pintu utama kemudian terdengar suara renyah Ayah dan Om Adam. Fariza segera berlari ke kamar untuk ganti baju, karena ia tidak mengira jika akan tamu maka sehabis mandi tadi ia hanya menggunakan piyama bergambar kelinci sebagai motifnya. “Bolak balik kesini, jadi nggak enak sama Resti sibuk di dapur.” Ucap Adam basa-basi melihat hidangan yang disajikan semakin banyak dari yang kemarin. “Tidak apa-apa sama calon besan.” Ucap Resti kemudian menggenggam tangan Dea yang langsung dibalas Ibu dari anak kembar. Mona dan Sarah tak bisa lepas dari pandangannya ke Akbar yang justru menunduk memainkan arloji yang bertengger di tangan kirinya. Adelia hanya tersenyum melihat respon saudara kembarnya ketika berhadapan dengan dua gadis. “Jadi begini, Di, Akbar menerima perjodohan ini dengan syarat.” Ucap Adam tak berniat melanjutkan justru melempar pada Akbar yang menatapnya kebingungan. “Ah.. iya, jadi Akbar mau menikahi putri om Adi tapi dengan Fariza bukan dengan Sarah.” Jelas Akbar dengan senyum sungkan. Karena menolak di hadapan orang banyak itu terasa aneh baginya. “Sarah keberatan nggak?” tanya Dea akhirnya membuka suara melihat tatapan Sarah kepada Akbar tak bisa dipahami. “Iya, Tante. Sarah nggak pa-pa, kalaupun Akbar ini jodohnya adik Sarah.” Ucap Sarah sopan meski matanya tak sengaja bertemu dengan mata Adellia yang tampak memandangnya sarkatik. “Dasar penjilat!” umpat Fariza dalam hati mendengar jawaban Sarah yang terkesan dibuat-buat di depan Akbar. “Fariza ajak Akbar keliling rumah, nanti jadi rumah Akbar juga kan?” tanya Adam dengan senyumnya yang masih terbilang manis untuk seumurannya. Fariza sedikit canggung, fikirannya mendadak kosong. Mengapa justru sekarang ia yang mengalami perjodohan kolot ini? Fariza pun tak bisa berucap apapun, namun segera berjalan begitu Akbar berdiri menatapnya. Fariza mengajaknya untuk menaiki tangga rumah menuju lantai dua. Akbar hanya mengikuti Fariza yang hanya diam berjalan pelan-pelan di depannya sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sampai di balkon dimana bisa menyaksikan perkebunan kecil di samping dapur milik Ayah Fariza. “Fariza!” panggil Akbar dengan pertimbangan yang cukup lama untuk membuka percakapan dengan gadis di depannya yang pendiam sejak di ruang tengah meski bersama keluarganya. “Menurutmu Kenapa aku memilihmu?” tanya Akbar yang langsung mengutuknya mengapa pertanyaan bodoh yang ia lontarkan pada Fariza yang hanya memandangnya datar padanya. “Entah!” jawaban kilat Fariza yang begitu tak peduli menimbulkan Akbar semakin penasaran dengan gadis di depannya ini. “Aku juga tidak tahu.” Ucap Akbar kemudian tersenyum ambigu menatap sang rembulan yang kini berbentuk lingkaran sempurna. Fariza hanya tersenyum simpul, ia juga tak mengerti hatinya begitu diam ketika kemarin kedua kakaknya memberi tahunya jika lelaki di depannya memilihnya untuk menikah. Padahal Fariza tahu benar jika Sarah lebih siap segalanya dibandingkan dengannya. Yang sekarang menghantuinya, apakah ini pertanda menuju sebuah kebahagiaan yang katanya pasti akan tiba waktunya tanpa kita rencanakan. Atau justru inilah penderitaan dibalik hidup yang sebenarnya. “Za, satu lagi yang kamu tidak tahu.. “ “…” Fariza tidak bertanya, justru lebih memilih menunggu Akbar mengatakan sesuatu padanya. Fariza menatap Akbar penuh tanya, apa yang akan disampaikan lelaki di depannya yang terlihat mengalihkan pandangannya ketika mata mereka bertemu. “ Selain memilih kamu sebagai calonku. Aku juga mengusulkan ke Papa untuk segera digelar pernikahan ini secepatnya. Ku kira 1 bulan untuk persiapan sudah cukup matang.” Jelas Akbar panjang lebar sambil masih setia menatap sang rembulan di cakar langit. “APA?” ucap Fariza terkejut bukan kepalang dengan yang diucapkan Akbar yang tak terduga itu. To Be Continue----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD