THE RIGHT CHOICE

1911 Words
Adam meneguk teh yang dibuatkan oleh Dea, seraya menatap lurus tepat pada Akbar yang sejak tadi menunggu jawabannya. Adam sejak tadipun juga berusaha membaca fikiran anak lelakinya itu. Dea yang tadi memasak kini memilih menghampiri Adam dan Akbar yang sedang bercengkrama. “Kamu serius Bar?” tanya Adam menanyakan keseriusan Akbar sekali lagi. “Iya, Aku serius. Aku mau menikah tapi dengan Fariza bukan dengan Sarah.” Jawab Akbar santai menyesap kopi hitam yang perlahan dingin itu. “Memang ada yang salah dengan Sarah?” tanya Dea tak habis fikir bagaimana Akbar justru memilih siapa yang akan dijodohkan dengannya. “Tidak ada, hanya saja Aku nggak suka aja.” Jawab Akbar kemudian menutup mulutnya tak sadar ia keceplosan suatu hal. Sebelum orang tuanya menyadarinya, Akbar segera mencemot roti bakar dan kunci motornya. Adam dan Dea saling pandang kemudia tersenyum menyadari Akbar keceplosan jika tidak menyukai Sarah. Itu sama saja jika alasan ia memilih Fariza sebagai calon istrinya adalah karena Akbar menyukainya. Akbar merutuki apa yang barusan ia ucapkan, ia juga tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Padahal baru juga kemarin ia bertemu dengan Fariza mengapa justru dunia mengalihkannya dari Maya yang sudah ia kenal bertahun-tahun daripada Fariza yang Akbar kenal dengan itungan jam. Drtt…ddrrttt… Rani is calling… Akbar segera mengangkat sambungan telepon dari sekretarisnya itu. Akbar bisa menebak apa yang akan Rani katakana padanya jika ia menelepon saat pagi hari seperti ini. “ Bu Maya sedang menunggu di ruangan Pak.” Ucap suara wanita yang Akbar tahu itu suara dari sekretarisnya. “Iya, saya tahu.” Balas Akbar mematikan sambungan ponselnya dan menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai ke kantornya. *** Maya berdiri menyambut kedatangan kekasihnya yang masih berjalan menuju ruangan dan terlihat sangat tergesa-gesa. Akbar tersenyum seraya melonggarkan dasinya yang mengikat lehernya terlalu kencang. “Sudah lama?” tanya Akbar pada Maya yang masih tersenyum padanya. Maya hanya menggeleng dan membantu Akbar membenarkan dasinya. “Kemarin malam aku bertemu dengan rekan kerja papa…” “Iya terus?” tanya Maya mulai tak sabar menunggu penjelasan Akbar. “Dan papa mengenalkan aku dengan putri rekan kerjanya itu.” Akbar sengaja menghentikan ucapannya. Ternyata menceritakan hal yang ia anggap sepele itu tidak semudah membalikkan tangan. Beberapa kali ia harus menghela nafas, mencoba siap menerima reaksi Maya yang tidak ia duga. Maya pun tidak menyela kembali namun juga sudah enggan melanjutkan acara minum teh yang dibuat oleh Sekretaris Rani. “Dan aku menerimanya.” Ucapan Akbar cukup pendek namun mewakili segalanya. Maya hampir menjatuhkan cangkir tehnya mendengar ucapan terakhir Akbar. “Kamu akan menikah ?” tanya Maya pelan hampir terbata-bata. Kemarin ketika mereka membicarakannya mereka tampak biasa saja, terlebih Maya tampak santai dan seolah ia tidak mengira jika hal yang ia anggap takkan terjadi justru sudah di depan mata. Ada beban yang terlepas dari pundak Akbar entah mengapa, tapi ia juga benci dengan situasi seperti ini. Akbar yakin nanti akan terjadi dimana ia tetap menjalin hubungan dengan Maya namun takkan melepaskan Fariza barang sebentar pun. “Cepat atau lambat.” Jawab Akbar singkat. “Dan kamu tetap menjalin hubungan denganku?” tanya Maya tak habis fikir dengan sikap Akbar yang terlihat santai padahal kedepannya nanti masalah pasti semakin rumit. “Iya, aku tahu. Memang harusnya aku memilih salah satunya tidak mempertahankan dua-duanya.” Jawab Akbar seolah membuat Maya semakin tak mengerti dengan jawaban Akbar yang menyuruhnya terka menerka. Tok..tok… “ Pak Akbar rapat segera dimulai.” Ucap Rani kemudian menghilang begitu saja dibalik pintu. Akbar kemudian memandang Maya lekat, ada sesuatu yang mengusik setelah Akbar menceritakan segalanya pada kekasihnya itu. Haruskah sekarang? Tapi jika ia tetap melanjutkan akan tetap sama saja justru masalah akan semakin rumit. “Maya, mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini sampai disini.” Ucap Akbar kemudian menarik jasnya yang tergantung di samping kursi kerjanya. “Apa? nggak! Aku nggak mau Akbar.” Bantah Maya langsung berdiri berharap Akbar menghentikan langkahnya. “Akbar…! Akbar…!” panggilan Maya mulai menggunakan nada tinggi karena lelaki bernama Akbar itu tak menggubrisnya justru langkahnya berburu dan menghilang dibalik pintu ruangannya. Maya terdiam, ia menjatuhkan badannya terduduk kembali. Nafasnya bergemuruh tak beratur, ia meneguk kasar the buatan sekretaris Akbar. Menenangkan emosinya yang hampir meledak mendengar ucapan kekasihnya yang tak disangka memberikan reaksi meledak dalam hatinya. Tangisnya pecah, air matanya luruh begitu saja. Dadanya benar-benar sesak, lidahnya saja kelu dan juga tenggorokannya benar-benar sakit. Hubungan yang ia jalani tak sebentar harus hancur hanya karena perjodohan orang tua Akbar. “Nggak, aku nggak akan melepas apa yang sudah menjadi milikku.” Ucap Maya bangkit seakan energi dalam dirinya kembali. Ia bergegas meninggalkan ruangan Akbar setelah bercermin, jika saja air matanya merusak make up wajahnya. *** Seperti biasanya, rutinitas Fariza adalah makan malam dengan Wisnu sebelum sampai rumah. Kali ini mereka berhenti di sebuah kedai bakso, yang lumayan dekat hampir sampai dengan rumah Fariza. Menu andalan Fariza adalah mie ayam dengan dua ceker ayam diatasnya. Sedangkan Wisnu selalu mengikuti pesanan Fariza, memudahkan waktu memesan katanya. Sampai mereka menyantap makanan suasana begitu hening hanya suara hiruk pikuk pembeli lainnya. Fariza sibuk dengan makanannya, dia tidak terbiasa makan sambil berbicara. Sedangkan Wisnu sejak tadi menatap Fariza seperti ada yang akan di sampaikan. “Ada apa?” tanya Fariza sembari meneguk es jeruk yang belum berkurang itu. Ia paham sejak tadi Wisnu memperhatikannya, itu berarti dia sedang memikirkan sesuatu. Fariza memilih berlagak tak tahu dan menikmati mie ayam di hadapannya. “Jadi kemarin acaranya lancar?” tanya Wisnu hati-hati takut menyinggung Fariza karena menyangkut kakak tirinya. “Lancar, namanya Akbar kalok nggak salah.” Jawab Fariza pendek memang tidak ada yang special dari calon kakak iparnya itu. “Ayo pulang!” ajak Fariza begitu dikiranya sudah cukup kenyang malam ini. Wisnu pun tidak menjawab, ia hanya mengikuti Fariza yang mulai beranjak dari tempatnya. *** Seperti biasa rutinitas keluarga Adi makan malam bersama dengan ala kadarnya masakan Resti. Ditemani dengan dua putri mereka Sarah dan Mona. Jangan tanyakan kenapa Fariza tidak ikut, anak itu memang tidak pernah ikut makan malam bersama keluarganya dengan alasan kerjanya lembur padahal itu hanyalah alasannya tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama dengan saudara tirinya. “Akbar menerima perjodohannya kata Adam.” Ucap Adi mulai pembicaraan setelah makanan sudah selesai. Mona memberikan tepukan pelan pada pundak seolah ikut berbahagia dengan keberuntungan pada saudaranya, Resti pun memberikan senyuman pada anaknya. Tak terbayang jika salah satu putrinya akan melepas lajang secepat ini. “Tapi bukan dengan Sarah, tapi dengan Fariza.” Ucap Adi melanjutkan agar orang-orang di hadapannya ini tidak senang karena kesalahpahaman. “Maksud Ayah?” tanya Sarah tak paham dengan ucapan ayahnya. “Iya, Akbar memang menerima perjodohan yang direncanakan Ayah dengan Om Adam tapi Akbar ingin menikahi Fariza bukan Sarah.” Jelas Adi pelan-pelan, ia tahu ini akan membuat keluarganya semakin berantakan namun melihat respon Resti, istrinya tampak tenang namun mengangguk seolah paham. Adi berfikir jika Resti sependapat dengannya. “Oh, bagus dong bisa secepatnya menendang Fariza agar keluar dari rumah ini.” Ucapan Mona begitu santai namun membuat semua orang tercengang terlebih Adi benar-benar geram. Dia sedikit tak suka pada anak tirinya satu ini. Benar-benar terlihat jika membenci Fariza secara terang-terangan. “Mona!” bentak Resti tak terduga semakin membuat suasana tegang malam ini. “Kenapa? Bunda juga terlihat lebih sayang Fariza dibandingkan dengan kita anak Bunda. “ tukas Sarah membela kakaknya, Mona. Adi semakin bingung, haruskah ia membatalkan perjodohan ini. Tapi tampaknya Mona dan Sarah tidak mempersalahkan jika Akbar menolak perjodohan. Tapi tak terima jika sudah menyangkut dengan Fariza anak semata wayangnya dulu. Mona dan Sarah berdiri meninggalkan ruang makan begitu saja, menendang kursi sedikit kasar. Sedangkan Resti hanya memandang sayu pada suaminya yang kini justru duduk berfikir keras. “Apa sebaiknya Ayah batalin perjodohan ini saja?” tanya Adi pada Resti yang mengusap pelan tangan Adi yang sudah mulai keriput itu. “Jangan. Bunda berprasangka baik akan hal ini.” Ucap Resti dengan senyuman yang selalu dapat menenangkan Adi setelah mendiang ibu Fariza. *** Lagi dan lagi Fariza yang baru tiba di rumah, badan lengket dan dihadang oleh dua saudara tirinya yang berdiri di depan kamarnya dengan wajah tidak bersahabat. Sepertinya ada masalah besar jika mereka sampai menunggu kepulangan Fariza. Fariza memilih mengabaikan berjalan ke dapur mengambil segelas air putih dan beberapa potongan buah yang sudah ibu tirinya siapkan. Fariza pun tetap dengan wajah dinginnya menghampiri Mona dan Sarah yang menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Minggir, kamu berdua nghalangin pintu kamar aku!” ucap Fariza tanpa rasa takut berdiri di tengah kedua kakak tirinya. “Kenapa? Mentang-mentang Akbar Presdir di perusahaan Wisnu. Kamu memaksa dia untuk minta dijodohkan sama kamu.” Cibir Sarah yang dibalas Fariza dengan kerutan keningnya. “Hah?” tanya Fariza tak mengerti arah pembicaraan Sarah yang tidak jelas untuknya. “ Akbar menerima perjodohan tidak dengan Sarah tapi sama kamu. Puas kamu?” tanya Mona tidak sabar sambil mendorong bahu Fariza. Fariza terdiam ia mulai mengaitkan ucapan Sarah dan Mona. Jadi Akbar itu presdir di perusahaan Wisnu. Tidak heran semuda itu bisa menjadi CEO mungkin dia adalah pewaris dari presdir sebelumnya. “Kenapa diem? Kamu ngrasa bersalah ?” bentak Sarah menampik mangkuk Fariza yang berisikan potongan buah-buahan itu. Fariza tersenyum sinis mendorong kedua kakaknya untuk minggir, Mona dan Sarah saling pandang tak mengerti. Fariza membuka pintu kamarnya dan masuk, sebelum menutupnya ia memandang satu persatu kakak tirinya dengan pandangan meremehkan. “ Bagus dong, Akbar membuat pilihan yang tepat. Tidak memilih iblis kayak kalian berdua.” “HEH!” BRAAAKKKK! Bentakan kedua kakaknya serentak dengan Fariza yang membanting pintu kamarnya. Ia terjatuh tak menyangka, sesuatu hal yang menyambutnya pulang dari kerja tak terduga. Fikirannya berantakan, ia berfikir Wisnu adalah satu-satunya jalan Fariza menuju kebahagiaan terlepas dari rumah ini. Tapi, Akbar? Lelaki yang baru ia kenal kemarin malam sudah memporak-randakan keluarganya, buktinya suara denting mangkuk jatuh yang nyaring di depan kamarnya tak membuat ayah dan bundanya untuk sekedar melerai pertikaian antara Fariza dengan kedua kakak tirinya. Fariza menangis tersedu-sedu, mengusap air matanya kasar. Beruntung kamarnya kedap suara, jadi tidak akan ada yang mendengar suara isakan Fariza. Fariza merasa ia satu-satunya yang merasa terlantar di keluarga ini. Ayah kandungnya menganggap pertengkaran setiap hari yang terjadi dianggap hal yang maklum. Resti, bunda tirinya memang baik, penuh perhatian kepada Fariza meski tersembunyi. Sedangkan Mona kakak tertuanya selalu menyalahkan Fariza apapun situasinya. Sarah yang seumuran dengannya, dulu adalah teman sepermainannya dan sekarang wataknya sama dengan Mona. “Fariza!” panggilan pelan dari luar kamarnya membuat Fariza terdiam menghentikan tangisannya sebisa mungkin. Siapa lagi jika bukan bunda tirinya, berusaha menenangkannya. Mungkin tidak disengaja, bisa jadi Resti sedang membersihkan buah-buahan yang ia potong berserakan di lantai karena ulah anak kandungnya. Tok…tok… “Fariza!” panggilan Resti sedikit keras mungkin suaranya terlalu pelan hingga Fariza tak mendengarnya, padahal perempuan itu masih berdiri di balik pintu. Fariza menghela nafas kemudian membuka pelan pintunya, membuka sedikit hingga hanya dia yang terlihat. Resti terdiam melihat wajah berantakan anak tirinya, ada bekas air mata yang mengering di pipinya. “Bunda ganti ini ya!” ucap Resti menyodorkan potongan buah yang baru. Fariza tersenyum haru karena Bundanya selalu memperlakukan dirinya masih seperti anak kecil. Fariza menerimanya kemudian menutup kembali pintunya tak enak hati jika bundanya melihat kesedihannya. Resti memasuki kamarnya dengan perasaan berantakan, hanya masalah perjodohan semakin mampu memperkeruh suasana yang sejak dulu sudah tak bisa bersatu. Terlebih dengan kedua putri kandungnya yang tak pernah bisa menerima keberadaan Fariza sebagai adik mereka. “Bagaimana?” Tanya Adi penasaran apa yang dilakukan Fariza setelah mengetahui jika Akbar memilihnya. “Dia menangis sepertinya, terlebih Mona dan Sarah yang keterlaluan sama Fariza.” Ucap Resti tak enak hati karena sikap putrinya pada putri suaminya itu. “Jangan begitu, mungkin mereka berhak marah. Apa perlu aku batalin saja biar besok ayah ke rumah Adam?” tanya Adi sekali lagi, karena belum tentu Fariza menerima perjodohan ini. “Jangan, Ayah harus percaya sama Bunda kalok ini pertanda baik untuk keluarga kita.” Tegas Resti seolah ia benar yakin jika Fariza menikahi Akbar akan membawa hal baik untuk keluarga baiknya. To Be Continue----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD