SEBUAH PILIHAN

1953 Words
Akbar tampak memilah-milah dokumen yang disodorkan sekretarisnya, kemudian memberika coretan di atas nama yang tertera adalah dirinya. Pikirannya kalang kabut tidak focus dengan pekerjaannya, terngiang-ngiang ucapan papanya yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. “Rani, tolong schedule saya yang diatas jam tujuh malam diundur saja, saya ada acara.” Ucap Akbar seraya menyodorkan berkas yang sudah ia baca dan tanda tangani. “Kamu kenapa?” tanya Akbar melihat raut wajah Rani justru tersenyum samar padanya. Seperti curiga akan suatu hal. “Tidak seperti biasanya Pak Akbar membatalkan jadwal. Bapak mau tunangan sama Bu Maya kah?” tanya Rani tanpa sungkan, jelas saja Maya sudah beberapa kali datang menemui Akbar di kantor semua karyawan tahu Maya kekasih Akbar. Akbar hanya tersenyum kemudian mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Rani agar segera beranjak pergi. Begitu Rani hilang dibalik pintu ruangannya, raut wajah Akbar berubah menjadi senyuman miris. Dalam rencananya, jika hari ini datang adalah dimana acara pertunangannya dengan Maya bukan dengan sosok lain yang justru ia belum juga bertemu. Maya : kamu sudah makan siang? Pesan pop up menghancurkan lamunan Akbar, wanita yang sejak tadi ia fikirkan mengirimkan pesan untuknya. Tanpa ba-bi-bu Akbar segera meraih jas yang tergantung di sampingnya dan segera meluncur menghampiri Maya yang pasti sudah berada di restoran langganan mereka. Seperti dugaan Akbar, kekasihnya sudah duduk di meja yang mereka pesan seperti biasanya lengkap dengan satu porsi milik Akbar. Berhadapan dengan Maya membuat perasaan Akbar semakin gusar. Entah kenapa keyakinan yang sudah ia paksa untuk memilih kekasih yang sudah lama ia jalin justru kini mengambang dalam angan-angan. “Hei, kamu kenapa sih Bar?” tanya Maya melambaikan tangan mungilnya di wajah Akbar yang sejak tadi dalam pandangan kosong. “Aku? Aku baik-baik saja.” Ucap pendek Akbar kemudian memandangi satu persatu hidangan yang sudah dipesankan Maya untuknya. Disela-sela mengunyah makanan miliknya, Akbar mencuri pandang pada Maya yang tidak sadar jika tengah diperhatikan oleh Akbar. Apapun yang terjadi Akbar memang harus memilih, ia tidak mungkin mengecewakan papanya yang mungkin sudah membanggakan ia di depan rekan kerjanya dulu. “Maya, bagaimana jika nanti aku justru dijodohkan oleh orang tuaku?” tanya Akbar tampak hati-hati. Dan benar, Maya segera menghentikan acara makannya. Mata bulat itu menatap lurus mata Akbar yang kini juga sedang menatapnya. Mencoba menilisik dan berharap apa yang dikatakan lelaki di depannya adalah bohong. “Kamu bercanda?” tanya Maya mencoba memastikan jika ia tidak salah dengar. “Mengingat syarat yang diajukan ibumu, mungkin aku tidak bisa meminangmu tahun ini. Namun untuk tahun berikutnya mungkin aku bisa. “ ucap Akbar justru mengingat kembali syarat yang diajukan oleh calon ibu mertuanya cukup berat. Meski ia seorang CEO sebuah perusahaan besar namun itu bukan miliknya semua, sahamnya hanya beberapa persen disana dan sebagian besar milik keluarga besarnya. Beruntung saja dia dipercaya oleh papanya untuk memimpin perusahaan besar, namun mengingat syarat yang diajukan ibu mertuanya yang sangat materialistis membuatnya tak berani membawa Maya pulang. Sebut saja Akbar seorang pecundang yang cukup peritungan dalam hal bab uang. “Aku bisa membicarakan lagi pada ibu, jika kamu keberatan dengan syarat itu.” Tawar Maya dengan senyum lembut membuat teduh Akbar. “Tidak perlu.” Tolak Akbar. Mau ditaruh dimana wajahnya jika sampai Maya meminta keringanan agar ibunya tidak terlalu materialistis. Wajar jika ibu Maya materialistis toh siapa yang mau anaknya hidup susah meski dengan lelaki yang dicintainya bukan? Akbar mencoba berfikir positif, ia percaya jika apapun ia lakukan jika Maya yang menemaninya. “Kalok kamu dijodohkan bukan berarti kita tidak bisa bertemu bukan? Lagi pula kamu menikah pastinya juga butuh waktu lama tidak secepatnya. “ ucap Maya menenangkan, sepertinya wanita yang memakai kerudung maroon ini tak masalah jika Akbar dijodohkan. “Kamu benar-benar mengenalku.” Senyum Akbar pada Maya yang justru tersipu mendengarnya. Meski tidak luruh sepenuhnya, suatu yang mengganjal dihatinya. Setidaknya Akbar tak perlu mencemaskan bagaimana perasaan Maya jika ia dijodohkan atau nanti malam bertemu dengan putri rekan kerja papanya itu. *** Adam sedang mengemudi menuju rumah rekan kerjanya dulu sebelum ia memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan jabatannya kepada Akbar. Disampingnya duduk istri tercinta yang selalu tersenyum kala matanya menangkap gemerlap lampu jalan yang mengiringi sepanjang jalan mereka. Tiba-tiba Adam tersenyum geli tanpa sebab membuat semua penumpang mengerutkan kening mereka. Memang apa yang lucu terjebak lampu merah di antara deretan mobil lainnya. Dea, istri Adam dan juga Mama Akbar semakin tidak mengerti apa yang salah pada suaminya. Adelia saudara kembar Akbar juga ikuta berdecak kesal karena papanya tidak berbagi cerita penyebab ia tersenyum sendiri. “Papa kenapa sih?” ucap Adelia dengan sedikit jengkel Karena Adam justru masih tersenyum geli. “Papa semacam dejavu karena mengingat dulu juga di posisi Akbar seperti ini.” Jelas Adam pada mereka membuat Dea ikut tersenyum juga mengingatkan kembali bagaimana dulu mereka dijodohkan. “Pasti lagi nostalgia masa dijodohin dulu sama mama kan?” tebak Adelia melihat kedua orang tuanya kini juga tersenyum geli. Akbar menghela nafas panjang tidak berminat untuk mendengar celoteh keluarganya. Ditambah Adelia, saudara kembarnya yang sejak berangkat sampai sekarang terus mengejek Akbar karena menikah duluan. “Pa,Ma nggak liat muka bang Akbar udah kayak mau nelen kita bulet-bulet.” Ejek Adelia melihat Akbar yang memasang wajah muram seraya memandang jalanan yang tetap padat meski matahari sudah kembali dibalik malam. “Papa juga begitu cuman bedanya dulu, papa nggak pake tunangan jadi ketemu mama kamu langsung nikah.” Jelas Adam membuat Akbar sedikit menoleh mulai tertarik dengan cerita papanya. “Bohong banget.” Ucap Adelia dan Akbar serempak tak percaya sedang Dea dan Adam justru tertawa renyah memenuhi ruang mobil. “Nikah kan nggak segampang itu, butuh ngurus surat ini itu pa. Emang Akbar anak kecil yang gampang dikibulin.” Tukas Akbar yang sedikit kesal dengan cerita papanya yang terdengar mengada-ngada. “Iya benar kata bang Akbar.” Ucap Adelia mendukung pendapat Akbar mengenai cerita papanya. “Loh, kalian nggak percaya. Kakek kalian itu mereka hebat-hebat. Semua sudah diurus mama sama papa tinggal jalanin aja.” Ucap Dea membela Adam yang diserang anaknya sendiri. “Ya udah, yang penting nanti Akbar nggak juga sekalian nikah.” Ucap Akbar justru membuat tawa semuanya menggema memenuhi ruang seisi mobil. *** Fariza masuk ke dalam mobil Wisnu, hari ini ia pulang lebih awal sesuai dengan permintaan ibunya karena salah satu kakak tirinya akan menikah. Wisnu tersenyum membalas senyuman Fariza padanya yang tidak sengaja mata mereka bertemu. “Tumben nggak lembur?” tanya Wisnu tak biasanya belum pukul tujuh malam Fariza sudah meminta untuk dijemput. Beruntung hari ini Wisnu tidak tertidur. “Hari ini kakak aku ada yang tunangan kata bunda.” Jelas pendek Fariza sedikit aneh rasanya membahas kakak tirinya di depan Wisnu yang jelas tahu jika kedua kakak kekasihnya itu menyukainya, bukan sebagai kakak ipar tapi sebagai pria. “Mona? Sarah?” tanya Wisnu cukup terkejut mendengar tuturan Fariza, dalam hatinya bersyukur setidaknya tak perlu repot ia membuang rasa tidak enaknya untuk semakin serius dalam menjalin hubungan dengan Fariza. “Kak Sarah.” Ucap Fariza pendek. Ia tidak benci dengan kakak keduanya namun terkadang perilaku mereka membuatnya begitu muak dan ingin marah rasanya. Sampai di depan rumah Fariza sudah terparkir sebuah mobil diluar pagar rumahnya, Fariza yakin jika itu adalah tamu ayahnya. Ia buru-buru keluar dan melambaikan tanganya singkat pada Wisnu yang tersenyum karena melihat sikap Fariza yang jika sedang terburu-buru. Fariza masuk rumah melalui pintu menuju dapur yang dekat kamarnya, melihat jam arlojinya yang masih menunjukkan pukul jam tujuh kurang seperempat. Berarti memang tamu ayahnya yang datang lebih awal. Bukan Fariza yang telat. “Seneng dong kamu, aku tunangan kamu bisa bebas sama Wisnu.” Ucap Sarah menyapa adik tirinya yang sedang mengambil air es seperti biasanya. Sapaan pedas sudah biasanya Fariza terima, jika bukan Mona atau Sarah mereka akan bergantian begitu setiap harinya. Fariza sudah kebal dengan ucapan sarkatis, jika ibu tiri yang harusnya lebih jahat realita kakak tirinya tidak pernah bisa menerima keberadaannya. Padahal umur pernikahan Ayah dan Ibu tirinya sudah begitu lama. “Masa bodoh dengan celotehanmu.” Ucap Fariza dingin dan segera masuk ke kamar tak enak jika pertikaian kecil itu terdengar sampai ruang tamu. Fariza membersihkan badannya yang sudah lengket terlebih dahulu tak peduli mungkin tamu ayahnya sudah berkumpul semua dan santai. Ia juga mulai geram dengan kelakuan kedua kakak tirinya bagus jika salah satu sudah akan menikah, itu berarti berkurang beban dalam hidup Fariza. Suara di ruang tamu begitu riuh dengan gelak tawa ayah Fariza dengan tamu yang samar-samar terdengar bernama Adam. Akbar anak lelaki yang kini justru memandang satu persatu orang dalam ruangan yang sibuk dengan urusannya. Dan berhentilah pandangan Akbar pada perempuan yang sejak tadi memandangnya tanpa lepas. Tatapannya begitu aneh karena diiringi dengan senyuman manja membuat Akbar justru bergedik ngeri. Akbar tak bisa membayangkan jika dialah yang akan di jodohkan orang tuanya dengannya. Bayangan Maya yang begitu anggun, lembut dan menutup auratnya dengan jilbabnya. Senyumnya bisa meredakan amarah dan gelisah Akbar ketika lelaki itu suntuk dengan pekerjaannya. Akbar berdiri begitu sekilas melihat perempuan yang kira-kira berumur dibawahnya sedang menjalankan sholat di mushola rumah itu. Semua mata tertuju padanya, termasuk perempuan di hadapannya yang tampak terkejut. “Permisi, mau ke belakang boleh?” tanya Akbar sopan. Resti selaku tuan rumah hanya tersenyum kemudian mempersilahkan Akbar untuk berjalan sendiri menuju kamar mandi. Dan benar perempuan yang ia maksud sedang melipat mukenanya, Akbar yakin ia juga putri dari rekan kerja papanya juga. “Cari siapa ya?” tanya Fariza meski dengan nada sedikit dingin karena terlalu canggung. “ Ah, gue mau numpang ke kamar mandi.” Jawab Akbar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Fariza menunjukkan pintu kamar mandi yang di lorong tak terlihat dari mushola rumahnya, Akbar pun melesat segera pergi menuju kamar mandi. Suasananya mendadak canggung. “Jadi itu calon suami kak Sarah.” Batin Fariza memandang Akbar yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Fariza mendadak menjadi dingin dan tatapannya berubah tajam begitu matanya bertemu dengan saudara tirinya, Mona. “Kenapa kamu mau rebut calon suami kakak kamu sendiri?” sindir Mona dengan ucapan pedas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Kenapa memang? Salah bukankah itu yang saudara tiriku lakukan pada aku?” sarkas Fariza tak kalah pedas, dia benar geram dengan mulut saudara tirinya yang harus menjadi kakaknya padahal beda umur mereka hanya berjarak bulan kecuali dengan Mona berbeda dua tahun. Mona kesal karena setiap sindiran yang ia lemparkan pada Fariza selalu dapat dibalas. Justru Mona yang kalah telak karena adik tirinya yang jarang bicara namun sekali bicara membuat lawan tak berkutik. Fariza diam dan meninggalkan Mona yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Fariza mengantarkan kue dan juga minuman yang sudah ibunya siapkan kepada tamu malam ini. Akbar yang sejak tadi sudah keluar dari kamar mandi justru tak segera beranjak malah memilih mendengar adu mulut dua putri pemilik rumah. Lelaki itu tersenyum kala mendengar jawaban dari salah satu perempuan itu yang mampu membuat lawannya tak berkutik dan hanya bisa mengeram saja. “Akbar ini putri Om yang terakhir. Namanya Fariza.” Ucap ayah Fariza pada Akbar mengenalkan Fariza yang duduk di samping Sarah dan Mona. Akbar pun mengulurkan tangan dan langsung diterima Fariza, Fariza justru sengaja menatap mata Akbar agar kedua kakaknya menahan emosi yang menggebu. Akbar pun tak bisa lepas dari pandangan Fariza, baginya perempuan yang bernama Fariza ini cukup unik. “Kenapa wajah kamu gitu Bar?” bisik Adam menggoda putranya yang memperlihatkan gelagat aneh begitu putri terakhir dari Adi keluar. “Apa sih pa.” cetus Akbar kesal papanya benar-benar membuatnya malu saja. “ Ayo makan dulu di ruang makan, Ibu anak-anak sudah masak dari subuh tadi loh.” Ucap Adi sedikit menggoda Resti yang hanya tersenyum sambil menepuk pelan lengan suaminya yang membuat lelucon. “Bang inget lu dijodohin sama yang Sarah bukan Fariza.” Goda Adelia sengaja menarik Akbar agar sedikit belakangan berjalannya. “Lu mau gue apain hah ?” ancam Akbar sambil menikam kepala Adelia kedalam lengannya yang sudah lama tak ia manjakan dengan olahraga gym. “Ma, abang ma! Berantakin rambut Adel.” Bisik Adelia pada Dea yang langsung kena pukulan pelan dari mamanya. “Kalian itu tidak di rumah, di rumah orang rebut saja.” Ucap Dea gemas pada anak kembarnya yang masih saja bertingkah seperti anak kecil meski sudah berumur kepala tiga. To Be Continue---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD