13. Bunga Bougenville

2026 Words
 Menghilang bukan berarti tidak ada alasan yang buruk. Rien nekat mengikuti Zaro yang ingin menemukan Darmuroi sendirian. Zaro bahkan meninggalkan semua prajuritnya di perbatasan timur bersama Hunara.  "Katakan kita akan kemana!" ujar Rien masih menyimpan kesal karena Zaro bersikap cuek tidak membalas satu pertanyaan pun darinya.  Rien sadar jika dia kembali ke jalan sungai berbatu kuning. Karena jalan yang sangat tergesa-gesa membuat Rien melupakan wajah Zaro yang selalu membuatnya penasaran. Sekarang bisa melihatnya dengan jelas, tetapi Rien kehilangan seleranya lantaran geram.  "Kakiku pendek. Satu langkah kakimu itu dua langkah kakiku. Guru mendadak, jangan menyiksaku seperti ini!"  Rien masih bersikeras membuat Zaro bicara. Rien berdecak berulang kali karena sorotan tajam yang Zaro berikan.  'Kaku sekali! Sebenarnya tuan Darmuroi ada dimana? Apa dia tau sesuatu?' batin Rien.  Hanya mendengus dan terus mengoceh menanyakan hal yang sama sampai Zaro berhenti dia juga ikut berhenti. Tidak disangka asa banyak bunga bougenville di tepi sungai. Cukup jauh dari gubuk.  "Wahh, ada bunga seperti ini juga. Cantiknya!" Rien kagum melihat sekeliling. Lain dengan Zaro yang waspada, "Perhatikan langkahmu. Ini jebakan."  Rien menoleh, "Jebakan?"  Tiba-tiba pisau terbang menuju Rien sangat cepat. Dengan sigap Zaro membelokkan pisau itu menggunakan pedangnya. Rien memekik kaget dan berlindung di belakang Zaro.  "Apa itu tadi?" Rien takut, napasnya mulai memburu.  "Jangan ikut kalau takut, bodoh!" desis Zaro tidak suka. Rien berdecak dan Zaro mulai gelisah lagi. Dia tidak suka perasan bersama Rien.  "Konyol!" gumam Zaro bisa didengar Rien.  "Iya, kau yang konyol! Aku ingin menemukan tuan Darmuroi, bukan bersamamu yang sangat menyebalkan!" balas Rien.  Zaro membuat Rien berada di depannya seperti tameng.  "Aaaa, jangan buat aku mati! Siapapun kau yang melempar pisau cepat keluar! Guru mendadakku akan menghajarmu! Dia hebat, baik hagi, dan tidak menindas orang. Jadi... Guru, lindungi aku!" Rien tersenyum bodoh lalu kembali sembunyi di belakang Zaro.  Tanpa sadar Zaro mengukir senyum tipis. Segera kembali datar saat melihat dua pisau terbang lagi. Kecepatan Zaro menyelamatkan mereka.  "Tangkisan yang cukup nyaring."  Seseorang bersuara berat berbicara tanpa menampakkan diri. Sumber suaranya tidak jelas. Rien dan Zaro celingukan mencarinya. Kemudian muncul dua orang yang sangat Rien kenali. Mereka adalah peserta lomba sekaligus yang mengikat Rien di gubuk.  "Kalian?" Rien muncul dari balik Zaro. Heran karena dua temannya seperti dipaksa berjalan. Tangan mereka terikat di belakang dan mulut dibungkam. Meronta seolah meminta bantuan Rien.  "Ke-kenapa dengan kalian?" Rien ingin mendekat dan menolong mereka, tetapi suara tadi kembali terdengar menghentikan langkah Rien.  "Gadis baik tidak seharunya membantu mereka. Dua orang ini punya niat jahat padamu. Mereka yang sudah mengurungmu."  Rien menganga menatap dua temannya yang menggeleng ketakutan. "Kalian yang membiusku? Tapi kenapa?"  "Bodoh! Mereka ingin kau dikeluarkan dari lomba Karen menganggapmu ancaman besar," kata Zaro masih diam di tempat.  Rien menatap Zaro dan dua temannya bergantian. "Benarkah? Apa kalian juga yang menyembunyikan tuan Darmuroi agar lomba ditunda?" tanya Rien mulai mengerutkan dahi.  Mereka semakin menggeleng kuat. Sesuatu tak bisa dilihat memaksa mereka untuk berlutut. Rien terkejut lagi. Tiba-tiba saja suara misterius itu membuat banyak pohon bunga bougenville bergerak dan berputar-putar sampai Rien dan Zaro tidak bisa melihat apapun di depan.  "Kenapa tumbuhannya berpindah-pindah? Semua ini sihir atau apa?" Rien tidak bisa menahan penasarannya.  Rambut dan pakaian Rien tertiup angin cukup kencang. Pertama kali Rien menghadapi hal aneh seperti ini, tidak disangka Zaro beralih ke depannya dan melindunginya. Rien memperhatikan punggung Zaro heran.  Saat pohon bunga bougenville yang berputar sudah berhenti di tempat sebelumnya, Darmuroi mendadak ikut berlutut bersama dua peserta itu.  "Tuan Darmuroi!" Rien dan Zaro kompak berseru.  "Anak payah! Kenapa bisa sampai di timur kerajaan Rurua? Cepat lari!" Seru Darmuroi. Dia juga terkejut karena ada Zaro. Tidak ingin mengungkapkan identitas Zaro di depan Rien.  Zaro pun meremas pegangan pedangnya. "Pengecut! Apa itu kau?"  Tidak perlu berteriak untuk membuat musuhnya gentar. Zaro berpikir itu perbuatan Rezain yang tak puas dengan bayangan dan sekarang menggunakan angin buatan.  "Hei, kau kenal pelakunya? Cepat tangkap dia dan bebaskan mereka!" Rien berbisik halus. Zaro melotot, tidak tahu kapan Rien sudah ada di sampingnya.  Tidak menjawab Rien, Zaro mendorong Rien agar menjauh. "Tidak ada kesempatan untuk menjelaskan ini, tuan Darmuroi. Aku hanya akan bicara pada pengecut itu,' batin Zaro.  "Rien, tetap di belakangku." sangat tenang Zaro mengatakannya. Melirik Rien yang tak kunjung berpindah posisi. Rien langsung mengerti jika Zaro akan melakukan sesuatu.  "Apa yang mau hingga menjebak sedemikian rupa? Kekalahan perang masih belum cukup?" tanya Zaro menatap tajam pusaran angin yang ada di belakang Darmuroi.  "Tinta putih," jawab suara itu.  "Lomba masih berlanjut. Pemiliknya belum jelas," balas Zaro santai. Rien mengernyit karena Zaro hanya memandang ke depan. "Bagaimana dia bisa yakin orangnya ada di depan? Suaranya menggema diantara bunga bougenville," gumamnya.  "Pembuat tinta putih saja tidak bisa turun tangan. Dua orang bodoh ini hanya takut gadis di belakangmu menjadi pemenang. Apalagi yang harus kupikirkan?"  Zaro semakin mempertajam penglihatannya. 'Dia bukan Rezain, tapi orang suruhan Rezain. Pangeran kerajaan Aru tidak akan meninggalkan Nisawa kesulitan di medan perang,' pikirnya.  "Kau salah sangka. Dia tidak bisa apapun. Lepaskan mereka." Zaro memasukkan pedangnya. Rien tidak terima, telinganya sudah berasap dan bibirnya gemetar ingin menceramahi Zaro.  "Mezira Rien, menghebohkan tempat lomba sejak hari pertama. Bawakan tinta putih padaku, kalau tidak mereka dan pembuat tinta ini... Mati."  "Tidak! Jangan bunuh mereka! Hantu suara, keluar dan hadapi aku kalau berani! Jangan main petak umpet. Tidak seru!" Rien menantang berkacak pinggang sambil menatap langit.  Zaro segera berbalik, "Diam!" mengira Rien sangat gegabah dan tidak tahu apapun.  "Jadi serahkan saja," suara itu kembali bicara.  "Aku tidak mau. Kalian berdua dengar? Suara itu saja mengira aku pelukis legendaris. Jadi kalian tidak perlu lagi berlomba denganku. Tuan Darmuroi, kukira kau pergi ke perbatasan timur, tidak menyangka kita bertemu di sini dengan keadaan lucu." awalnya Rien menantang dua peserta dan suara itu, mendadak lemas dan menunduk saat membicarakan Darmuroi. Dia sedih Darmuroi diancam.  "Lucu?" Zaro menggeleng tidak habis pikir dengan Rien.  Rien mengerling sok pintar, "Tentu saja. Aku kira sedang tersesat malah berakhir seperti ini. Haish, ini lucu tau!" kerlingannya semakin menjadi.  Zaro membuang pandangan lagi tidak mau menatap Rien. Rien terkikik berhasil membuat Zaro kesal. Dia kembali menatap langit dan mencari sumber suara. Rien menghela napas panjang.  "Tidak di masa depan, tidak juga di masa lampau. Sepertinya merebut, mengancam, dan memaksa itu sesuatu yang menyenangkan. Dengar, Tuan suara misterius. Aku Mezira Rien, walaupun buta senjata bukan berarti aku bodoh."  Seketika Rien lari menuju Darmuroi dan membuka telapak tangannya yang sudah menggenggam tanah berdebu dan melemparnya ke udara. Sontak suara itu berteriak karena matanya kesakitan lalu menampakkan wujudnya. Rien meringis takut, kembali pada Zaro saat orang itu memakinya.  "Guru, serang dia!" suruh Rien mendorong Zaro tanpa ragu.  Zaro berdecak, tetapi tidak ingin berdebat. Dia segera menghajar orang itu yang seumuran dengan Darmuroi. Dugaannya benar jika itu orang suruhan Rezain.  'Aku tidak bisa menolong tuan Darmuroi dan yang lainnya, mereka terikat dengan tali tak terlihat. Hanya dengan cara mengalahkan orang itu baru bisa membebaskan mereka,' batin Rien.  Semangat membara menyaksikan duel antara Zaro dan orang jahat itu. Rien tidak berkedip sama sekali. Mencoba memahami ilmu pedang dari gerakan Zaro membuat kepalanya pusing.  "Parah-parah. Ini lebih sulit dari belajar sastra," gumam Rien sembari menggeleng dan memukul kepalanya.  Belum ada dua menit Zaro sudah berhasil membuat orang itu kalah dan melepaskan tawanannya. Tanpa basa-basi orang itu melarikan diri setelah berubah menjadi pusaran angin. Menurut Rien orang itu menjadi tidak terlihat lagi, dia tidak tahu pusaran angin seperti yang dilihat Zaro.  'Ilmu apa yang Rezain pelajari? Jika begini terus tinta putih harus segera dijinakkan. Rien kunci utamanya,' ucap Zaro dalam hati.  "Orangnya pergi sangat cepat. Dia punya sihir?" tanya Rien tepat di samping Zaro.  Zaro terjingkat kesekian kalinya. Merutuki dirinya sendiri yang selalu tidak fokus saat Rien mendekatinya. "Jangan dekat-dekat denganku dan jangan memanggilku guru!" tegasnya.  Rien melengos tidak mau berdebat. Rasanya Zaro ingin meremas kepala Rien dari belakang. Hanya bisa mengelus d**a setelah dipermukaan begitu banyak oleh Rien.  Darmuroi tersenyum mengalir tangan dua pesertanya yang bertindak curang. Rien tersenyum senang menghampiri Darmuroi begitu juga dengan Zaro.  "Tuan, kau tidak apa-apa? Hari ini lomba diundur sampai besok karena kau tidak ada. Aku mengkhawatirkanmu," kata Rien terlaku terbuka.  Zaro mengernyit menatap Rien. "Cukup bersimpati," gumamnya mirip mendesis.  "Hahaha, kau anak yang baik, Rien. Musuh bisa melakukan apapun bahkan membuatmu sampai kemari adalah rencananya. Sekarang, kita tanya dua anak ini." Darmuroi melirik dua peserta itu.  "Tidak-tidak. Tuan, kami hanya diberi surat peringatan," kata yang perempuan sudah sangat berkeringat dingin dan memohon agar tidak disakiti.  Rien mengetuk dagunya, "Bukannya kau yang berdebat denganku tadi pagi? Sshh, katakan yang jelas surat peringatan apa?"  "Setelah kau pergi dari arena lomba, ada panah yang jatuh di depan kami. Tentu saja kami mengambilnya, ada surat yang tertulis jika kau menuju ke perbatasan timur. Kami harus menahannya selama sehari agar kau dieliminasi besok. Karena ide ini, kami mengikutimu dan menahanmu di gubuk. Sungguh, Nona Rien, kita tidak berniat buruk sebelumnya. Kami juga tidak tabu surat panah itu datang dari mana." jawab perempuan itu menggeleng tak karuan begitu juga yang laki-laki.  Deg!  Rien tersentak, mulai berpikir keras, 'Apa mungkin orang itu tau aku curiga pada tuan Darmuroi yang akan ikut berperang? Sshh, Tuan Darmuroi berperang itu tidak mungkin, seharusnya dia juga tau. Kenapa dia bisa tau tujuanku? Menjadikan dua rivalku sebagai bonekanya, berarti dia mengikuti perjuanganku dari awal. Dia mengincarku.'  Zaro menjentikkan jarinya membuat Rien mengerjap sadar.  "Ah, Tuan, ini orang misterius yang membantuku semalam. Sekarang tidak memakai jubah hitam dan penutup wajah, tapi baju zirah. Kurasa dia prajurit yang kabur dari peperangan, hahaha." Rien tergelak sendirian. Mereka hanya diam tanpa ekspresi.  'Rien sangat polos.' batin Darmuroi sambil tersenyum.  "Pe-perang? Apa ada perang?" tanya perempuan itu takut lagi.  Rien berhenti tertawa, "Jelas tidak ada. Aku hanya bercanda." mengibaskan tangannya cepat.  Zaro melengos dari Rien, "Semua sudah selesai. Aku permisi dulu."  Tanpa basa-basi pergi berlari dan hilang di antara pohon bunga bougenville.  "Guru mendadak, terima kasih, ya! Kau hebat!" Seru Rien melambaikan tangan.  Darmuroi cukup tenang reaksi Rien dan Zaro saat bertemu cukup baik. Tidak tahu kedepannya jika Rien tahu Zaro adalah seorang pangeran. Setidaknya sudah pernah bertatap muka.  "Tuan, kumohon beri kami kesempatan terakhir untuk ikut lomba. Aku butuh tinta itu untuk menyembuhkan penyakitku," rengek laki-laki yang hanya melihat ya saja Rien sudah kesal.  "Tutup mulutmu! Kau memberiku makanan tapi membiusku. Apa itu tidak membuatku sakit?" sindir Rien.  "Tuan, aku butuh tinta putih untuk kesejahteraan keluargaku. Usaha kami bangkrut, hanya keajaiban tinta putih yang bisa membuatku kaya," kata perempuan itu terlalu jujur.  "Haha, kalau ingin kaya, ya, bekerja! Bukan bertindak curang." Rien menyindir lalu melipat tangannya.  "Rien, sudah lupakan. Karena kalian mencelakai peserta lain, kalian akan dikeluarkan," ucap Darmuroi tenang.  "Apa?!" bukan hanya mereka berdua, tetapi Rien juga berteriak.  "Bagaimana bisa? Nisawa yang terang-terangan saja masih diberi kesempatan. Kenapa mereka tidak? Kau tidak adil, Tuan!" Rien yang membantah. Merek terheran-heran sampai mulutnya ternganga.  "Iya, benar! Tuan, aku yakin tinta itu bukan ditakdirkan untuk Rien. Kita masih punya kesempatan, 'kan?" bujuk yang laki-laki.  Darmuroi nampak bimbang meskipun tersenyum. Dia membuat Nisawa bertahan hanya untuk menemani Rien dalam menguji ketangkasan dirinya dalam bela diri. Namun, dua peserta ini tidak memiliki kriteria apapun untuk melawan Rien.  "Huft, baiklah. Ini kesempatan terakhir kalian." kata Darmuroi tanpa menghilangkan senyum.  Mereka tertawa senang, "Haha, benarkah? Kau memang terbaik, Tuan!"  Rasa senang membuat mereka melupakan apa yang baru saja dilihat. Pangerannya datang menyelamatkan dan begitu dekat dengan Rien. Seharunya menjadi tanda tanya dan rumor keesokan harinya. Ternyata, mereka benar-benar lupa. Karena Darmuroi meminta tolong pada temannya untuk menghapus ingatan mereka tentang Zaro.  Bodohnya Rien yang tidak bisa keluar dari banyaknya bougenville padahal Darmuroi dan dua rivalnya sudah pergi. Dia asik menikmati pemandangan sampai tertinggal. Sekarang bingung tak tahu arah. Hari semakin gelap. Cerah hanya bisa terlihat dari bunga bougenville yang berwarna merah muda. Tepi sungai pun tidak terlihat. Rien menduga tempat itu seperti kebun tanpa batas.  "Siapapun tolong aku!" teriak Rien untuk yang ke sepuluh. Menggema bagaikan bunga-bunga itu memantulkan kembali suaranya.  "Hah, sial! Harusnya aku tidak terlena." menendangi debu untuk melampiaskan kebodohannya.  Baru dia ingat rupa guru dadakannya saat ini. Rien terdiam lalu duduk lemas. Matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka, angin meniup pelan anak rambutnya, dan dingin mulai menjalar. Rien menyadari sesuatu yang lembut seperti sehelai bulu yang membelai pipinya. Sangat halus walaupun kasar. Mata tajam dan paras rupawan itu bukanlah orang biasa. Rien terpana dalam diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD