15. Final

2208 Words
 Wajah tegang saling berhadapan masih tetap mempertahankan diri. Nasib sial Rien yang terbaring di bawah dengan ancaman pedang menebas lehernya. Tangan Rien gemetar berusaha mencegah pedang itu dengan pedangnya.  "Kau akan tamat," desis laki-laki itu menyeringai di atas Rien. Jarak pandang mereka hanya dua jengkal. Rien dapat merasakan hasrat membara dari lawannya yang begitu ingin darahnya.   "Dasar tidak tau malu!" maki Rien hampir tidak didengar.   Semakin lama semakin Rien tak kuasa menahan pedang. Dia menutup mata takut sesuatu yang buruk terjadi. Seketika mendapat ide, matanya kembali terbuka. Memandang bagian bawah laki-laki itu. Tanpa pikir panjang Rien menendang s**********n musuhnya sampai laki-laki itu teriak tertahan. Berguling ke samping melepaskan senjata memilih melihat kondisi pusaka dirinya.  Rien mendesah panjang. Perlahan berdiri tanpa malu menyeringai. "Bagaimana? Nikmat, bukan?"  Mendadak luka di kakinya berdenyut tanda sakit susah dirasakan kembali. Rien segera menodongkan pedang tepat di wajah laki-laki itu yang masih merasa ngilu.  "Sebelum penentuan, aku ingin membalas dendam. Kau pengecut!" Rien akan menggores pipi musuhnya. Laki-laki itu sudah menutup mata rapat seakan pasrah, akan tetapi pedang Rien berhenti di udara.   Semua orang heran dengan tindakan Rien. Mereka yang ikut ngilu karena pusaka laki-laki itu ditendang menjadi kebingungan karena Rien membuang pedangnya dan mengulurkan tangan. Senyum merekah tidak ada wajah bengis ingin balas dendam. Laki-laki itu pun heran saat membuka mata.  "Bangun, Kawan. Apa aku keterlaluan?" senyum Rien bagaikan secercah cahaya harapan.  Mereka berbisik riuh memuji kebaikan Rien meskipun sudah disakiti. Setelah hanya memandang, laki-laki itu menerima uluran tangan Rien dan bangkit seraya mendesis. Begitu juga Rien yang lukanya terbuka.  "Kau...," perkataan laki-laki itu menggantung.  Rien tersenyum bodoh, "Apa? Haha, lupakan saja. Ini lomba, yang terpenting tidak ada luka perasaan walaupun terluka fisik. Sshh, kau sangat hebat. Aku bisa saja mati tadi."  Laki-laki itu tertegun. Menatap Rien dari atas sampai bawah. Penampilan Rien tidak lagi seperti perempuan, lebih mirip korban perang yang berantakan. "Berarti kau tidak dendam?"  Rien menggeleng. Memukul pelan pundak lawannya, "Jangankan dendam, aku tidak sakit hati, Teman. Kau melakukannya murni karena bersaing. Aku pun begitu." masih bisa menggoda dengan mengedipkan sebelah mata.  Laki-laki itu tersenyum salah tingkah. Dalam hati merasa malu melawan seorang gadis yang berhati baik, "Kau sangat bijaksana. Tinta putih layak berada di tanganmu."  Semua bersorak termasuk panitia dan seniman. Sebagian penonton terharu dengan sikap Rien. Sayang sekali Nisawa tetap memasang wajah dingin. Rien resmi dinyatakan pemenang dari pertarungan ke dua-nya. Dari semua peserta hanya Rien yang menjadi pusat perhatian.  "Bagus! Sangat bagus! Ini yang dinamakan pejuang berhati suci. Mezira Rien, kau telah membuktikan jika tidak ada musuh dalam hatimu. Aku kagum padamu!" Darmuroi teriak mengatakan hal itu di seberang sana.  Tepuk tangan masih memenuhi lapangan. Rien berdiri di panggung dengan senyum merekah meskipun tangan memegang luka lengannya. Panitia segera mengobati Rien dengan cepat. Namun, tahap ke tiga harus tetap dilaksanakan tanpa ditunda.  "Sebentar lagi matahari akan tepat di atas kepala. Tidakkah memberi sedikit waktu untuk istirahat?" pembawa acara mempunyai usul yang membuat peserta bernapas lega.  "Lomba tetaplah lomba. Peraturan sudah ditetapkan bahwa tidak ada masa istirahat," balas salah satu juri.  Pupus sudah harapan peserta untuk melepas lelah. Tersisa empat orang untuk maju ke tahap ke tiga yaitu duel maut. Rien mengernyit memandang langit yang begitu cerah. Tabib sudah selesai memperban lukanya. Kaki dan tangan Rien semakin berat dan pegal saat digerakan.  "Nona, kau tidak apa-apa? Yakin masih ingin lanjut?" tanya sang tabib.  Rien menoleh lalu menggeleng. "Tidak, Tuan. Aku harus menang," suara Rien terdengar lirih.  "Aku kagum padamu. Kami semua mendukungmu. Ngomong-ngomong, kalau berhadapan dengan Nona dari kerajaan Aru, hati-hati. Dia yang paling ahli di antara kalian," tabib itu berbisik.  Rien mengangguk kuat. Duel maut di siang yang terik. Rien dan empat peserta berdiri di tengah-tengah arena. Tanpa senjata, tanpa perintah, hanya berdiri saling memandang dan mengatur napas.  "Nona Nisawa, kalau bisa mengalahkanku maka aku akan memberi seluruh hartaku padamu," kata pelukis paling kaya.  Rien terbelalak, "Nona, ini bukan ajang taruhan. Jangan bicara sembarangan." Rien memperingati dengan nada bercanda.  Pelukis paling kaya itu justru tersenyum miring, "Kau? Jangan sok suci!"  Rien mengernyit, "Ck, dikasih tahu malah menghina. Terima kasih." mengangguk-angguk.  Membiarkan Nisawa dan pelukis paling kaya itu berseteru dalam tatapan. Di depan Rien adalah satu-satunya laki-laki yang tersisa. Terlihat gagah menggunakan pakaian serba putih seperti Rien. Namun, dia diam tanpa sepatah kata. Rien juga tidak pernah bicara dengannya.  "Tuan, kau tidak mau menyapaku? Mengancamku juga mungkin?" tawar Rien. Nisawa dan pelukis paling kaya itu pun menoleh. Laki-laki itu terus memandang Rien lekat. Rien mendesah pasrah, tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangan.  "Eh?" heran Rien.  "Nona, kuharap kau memaafkanku untuk kedepannya. Aku tidak akan segan melawan," kata laki-laki itu serius.  Rien melongo, "Wahh, sangat percaya diri dan jujur. Aku suka!" segera menerima uluran tangan laki-laki itu. Pertama kalinya laki-laki itu tersenyum dalam perlombaan. Lalu, melirik Nisawa sambil mendekati Rien. "Aku tidak masalah kalah untukmu. Aku percaya sepenuhnya padamu. Hanya saja, Nona Nisawa itu memiliki kekuatan mistis. Aku takut kau tidak sanggup menghadapinya," bisiknya membuat Rien merinding.   "Ehehe, kalau dia begitu aku juga punya kekuatan, yaitu kelicikan. Mau bagaimanapun juga aku hanya orang biasa yang harus bertahan sampai menang. Terima kasih, kau sangat baik." Rien ikut berbisik.  Gong ditabuh beberapa kali memberitahukan peringatan tahap ke tiga telah dimulai. Mereka bisa saling menyerang sampai hanya tersisa dua. Sebelum ada yang gugur, mereka berhak menggunakan berbagai cara termasuk senjata. Rien merasa kehilangan nyali. Tiga orang dalam satu lingkaran bersamanya sangat akurat dan tidak kenal ampun. Rien hanya bisa lari dan mengelak. Tidak ada celah baginya untuk menyerang apalagi menang. Untuk itu, saat mereka sibuk bertarung tanpa aturan, Rien hanya diam dan memprovokasi mereka. Tidak ada yang menghentikan Rien karena sesuai peraturan yang berhak menggunakan berbagai cara. Meskipun mereka kesal dan menyerang Rien, Rien selalu menghindar tanpa bisa disentuh sekalipun. Dia tergelak mempermainkan mereka.  Sampai akhirnya pelukis paling kaya itu gugur dan mendapat luka di wajah sampai memuntahkan darah, Nisawa dan laki-laki tangguh itu kompak menatap Rien.  "Ih, mengerikan!" Rien mendelik.  "Jangan curang, Rien!" bentak Nisawa.  Rien terjingkat, "Aku tidak curang sepertimu!" balasnya tanpa takut.  "Aku curang apa? Kau yang curang!" Nisawa tidak terima menunjuk Rien.  "Heh! Aku melihatmu menggunakan tenaga dalam yang besar untuk menyingkirkan pelukis paling kaya tadi! Kau bahkan mau menggunakan kekuatanmu untuk menyakiti dia!" Rien menunjuk laki-laki itu.  "Cih! Semua bisa dilakukan. Aku tidak salah." Nisawa melipat tangannya di d**a.  "Kalau begitu aku juga tidak salah. Mau aku berkelahi atau diam, aku tidak salah. Melakukan segala cara, bukan?" Rien ikut melipat tangan sombong.  "Kau!" Nisawa meremas udara.   Laki-laki itu langsung menyerang Nisawa membuat Nisawa sedikit menjauh dari Rien. Rien kaget merasa tidak enak. Dia ingin masuk, tapi takut badannya remuk. Dia tidak akan bisa mengimbangi pertarungan mereka.  "Bagaimana ini? Masuk atau tidak?" gumam Rien bingung.   Terlalu lama berpikir membuat Rien mengambil dua pedang sekaligus. Dia menyerang asal dengan dua tangan tanpa tahu arah membuat dua lawannya hanya menghindar.  "Rien, berhenti mempermalukan diri sendiri!" seru Nisawa.  "Siapa yang peduli malu di tempat ini? Aku hanya tau menang!" jawab Rien keras tanpa berhenti mengayunkan pedangnya.  "Nona Rien, ayo bertarung!" tawaran yang terlalu mendadak tanpa mendengar persetujuan Rien. Laki-laki itu menyerang Rien tiba-tiba.  Nisawa tidak mau kalah menyerang Rien, tetapi laki-laki itu selalu menjauhkannya dari Rien.   'Laki-laki ini terlalu berambisi ingin menyelamatkan Rien atau hanya ingin menyerangku?' batin Nisawa.   Meskipun Rien memegang dua senjata dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa. "Ini apa? Duel maut yang bagaimana?" melihat Nisawa dan laki-laki itu menjadi pusing. Menjatuhkan pedangnya dan duduk.   "Apa yang dilakukan Rien? Dia duduk begitu saja." Hunara menepuk dahinya. Kakinya sudah gatal ingin masuk ke arena.   Pertarungan sengit antara Nisawa dan lawannya begitu seru karena mereka sama-sama kuat. Rien hanya melongo ingin menangis jika berhadapan dengan salah satu dari mereka. Sampai Nisawa menggunakan tenaga dalamnya dan memukul perut lawannya hingga terpental menabrak panggung.   Aww!!!  Semua penonton meringis.   Cedera lumayan parah dari laki-laki itu sehingga Nisawa yang menang. Permainan keji ini tidak sanggup Rien hadapi. Dia merangkak ingin keluar, tetapi sinar tinta putih mengelilingi otaknya.   'Tidak. Apapun yang terjadi aku harus melawan Nisawa,' batin Rien.  Meskipun gemetar Rien kembali ke posisi semula. Melihat laki-laki itu yang dibawa pergi seraya memberi salam lewat mata agar Rien semangat. Rien tersenyum pahit menyayangkan sakit yang diterima laki-laki itu.  Nisawa sudah siap, dia mempersilahkan Rien untuk menyerang.  "Aku dari tadi tidak berbuat apapun. Apa masih bisa ikut?" tanya Rien agak ragu. Bola matanya berputar-putar.  "Itu salahmu sendiri. Sekarang hadapi Nona Nisawa. Terima apa yang ada." kata pembawa acara sambil tersenyum prihatin.  Rien menganga, menoleh pada Nisawa yang memasang pertahanan kuat. Rien meringis melambaikan tangan. "Hai! Kau hebat! Kalau memukulku jangan keras-keras, ya," pintanya.  Nisawa segera maju tanpa menjawab. Rien menghindar tidak bercanda seperti sebelumnya. Dia bahkan tidak berteriak apalagi memekik. Selalu menghindar dengan wajah tegang. Rien sedang membaca pergerakan Nisawa.  'Tunggu sampai dia kesal dan mengeluarkan tenaga dalamnya. Tidak-tidak, bukan tenaga dalam tapi sihir jeleknya. Pasti orang yang mengeluarkan banyak tenaga tubuhnya jadi sedikit lemah. Saat itu aku harus menyerangnya,' pikir Rien.  Gerakan cepat Nisawa bisa Rien hindari meskipun sering mendapat pukulan. Lukanya sampai terbuka berkali-kali. Dugaan Rien benar, Nisawa tidak tahan dia permainkan. Akhirnya mengeluarkan tenaga dalam yang tidak bisa ditolak Rien. Tepat di pusar perut Rien menerima pukulan telak. Rien muntah darah. Rasanya ada yang bermasalah dengan organn dalamnya. Sampai keluar arena, punggungnya terantuk pilar yang sengaja dibuat di samping panggung.  Semua orang menepi takut saat Nisawa menghampiri Rien. Rien kesusahan untuk berdiri. Nisawa kembali menyerang dengan tenaga besar. Rien berguling cukup jauh akhirnya pilarnya runtuh.  Pertarungan benar-benar serius di mata Nisawa. Rien terluka parah. Menyeka sisa darahnya di bibir, kakinya sangat bergetar.   'Aku... Tidak kuat,' batin Rien.  Darmuroi ingin sekali menghentikan lomba, tetapi tidak bisa kecuali salah satu dari mereka menyerah. Orang-orang mulai berkomentar jika Nisawa memang hebat, tetapi lebih kejam dari laki-laki tidak kenal ampun yang melawan Rien. Hunara juga ingin menggunakan kekuatan nada serulingnya untuk melemahkan kekuatan Nisawa, tetap tidak bisa lantaran Rien berkata akan berusaha sekuat tenaga.  "Rien, ayo bangun!" teriak Hunara mengundang perhatian semua orang. Mereka juga ikut bersorak. Pelukis aneh itu mendadak disayangi banyak orang.   "Iya, Rien. Bangun! Tinta putih menunggu." Nisawa tersenyum remeh sembari mendekati Rien.  "Si-sial!" hanya itu yang dikatakan Rien.  Berkali-kali dia mencoba bangun, tanah licin terkena keringatnya menghentikan Rien.  "Tuan, Nisawa bukan lawan Rien. Lebih baik hentikan saja," pinta salah satu seniman lukis yang mengapresiasi Rien.  Darmuroi menggeleng, "Dia masih belum menyerah. Akan menyakiti hatinya jika kita menghentikannya."  "Tapi, Tuan, ini sangat kelewatan!" seniman itu terus merayu.  Darmuroi menghela napas panjang, "Kita hanya bisa berharap agar bukan Nisawa pemilik tinta putih."  "Lalu, bagaimana kalau Rien juga bukan pemiliknya?"  "Maka kita harus menunggu pemilik yang tepat datang." jawab Darmuroi masih menatap nanar ke depan.  "Sampai kapan?" seniman itu sungguh tidak sabar.  "Sampai waktunya tiba. Aku merasakan hal baik saat ini."  "Tuan, Nona Rien disiksa habis-habisan apanya yang baik?" seniman itu gelisah.  Darmuroi tersenyum, "Hal baik yang sangat baik. Percayalah, tinta putih sudah memberi pertanda." baru dia menoleh ke seniman itu.  "Apa?" seniman itu mengangkat kedua alisnya. Darmuroi mengangguk walau senyumnya berubah pahit.  Selanjutnya suara pilar runtuh terdengar lagi. Habis sudah panggung remuk karena pukulan Nisawa. Rien bisa berlari tertatih demi menghindarinya. Tiba lagi di arena, napas Rien tersenggal. Tenggorokannya terasa penuh darah. Pandangan semakin memburam. Dia ambruk tidak sadar.  "Rien!" Hunara berteriak paling keras di antara orang-orang. "Kau pengecut, Nisawa! Kalau Rien mati aku tidak akan membiarkan hidupmu damai!" sambung Hunara ingin masuk ke arena. Semua orang di sekelilingnya menahannya.  "Pengecut? Dia yang tidak punya kualitas." kata Nisawa setelah tiba di samping Rien. Dengan tega dia menendang kaki Rien yang terluka agar Rien bangun. Namun, Rien masih menutup mata. Darmuroi melarang panitia yang akan membantu Rien sekaligus menghentikan lomba. Dia percaya Rien tidak akan membiarkan harapannya musnah.  'Bangun, anak nakal! Bangun!' batin Darmuroi kesakitan.  Nisawa menggunakan sihir bayangannya untuk memeriksa denyut nadi Rien. Dia tidak ingin susah payah duduk dan mengotori tangannya. Wajah lemas tak berdaya penuh bercak darah itu mendapat seruan bangun dari semua orang. Nisawa kesal, tetapi senang bisa memusnahkan Rien. Saat bayangannya mencapai d**a kiri Rien, tidak di sangka tangan Rien meraih cepat pedang yang ada di sampingnya dan menusuk bayangan Nisawa tepat di d**a kiri.  "Aaargghh!" Nisawa menjerit kesakitan. Mundur beberapa langkah dan memegang dadanya. Sekuat tenaga Rien tidak melepaskan bayangan Nisawa. Dia mencongkel dan memutar-mutar pedang di bayangan itu membuat Nisawa heboh mengitari arena.  Rien mendongak menampilkan raut serius, "Luka tak berdarah lebih menyakitkan, bukan?"  Suara lirih itu mengundang tangisan hati semua orang yang mengiranya sudah tiada. Rien tersenyum penuh kemenangan saat Nisawa jatuh dan tidak sadar. Dia tetap menancapkan pedang itu di bayangan Nisawa. Mencoba berdiri kesusahan, akhirnya panitia datang menolong.  "Rien! Kau sadar! Dasar bodoh! Membuatku jantungan saja! Kau pintar! Aku tau kau tidak mudah dikalahkan!" Hunara menerobos orang-orang yang juga ingin melihat Rien lebih dekat.  Rien terkekeh lemas. Memandang Nisawa sedih, "Demi ambisi bisa melakukan apapun. Sayang sekali merasa diri lebih hebat itu tidak baik. Aku terus berpikir sejak tadi. Membiarkan diriku remuk. Sampai merasa meminum darahku sendiri. Kemudian menemukan cara jika kelemahan Nisawa ada di kekuatannya. Aku pura-pura pingsan agar Nisawa mengeluarkan jurus bayangannya. Dia sangat membenciku, jadi tidak akan menyentuhku apalagi dalam keadaan kotor. Perkiraanku tepat, segera menyerang bayangannya saat mendekatiku. Sekarang, Nisawa hanya bisa sembuh dengan orang yang memberinya kekuatan itu." terang Rien dalam keheningan. Semua mendengar perkataannya.  Air mata luruh begitu saja pada mereka yang punya hati nurani. Pengorbanan serta perjuangan Rien sungguh memikat emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD