***
Personal assistant = Babu Elit
Tertanda,
Para bawahan teraniaya
***
“Mau kemana kamu, Shan?”tanya Ellena.Wanita mungil yang berusia setahun lebih muda dibanding Shanly itu masuk ke apartemen Shanly dan mendapati Shanly sedang sibuk berkemas-kemas, memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Shanly menoleh sekilas, lalu kembali sibuk dengan pakaiannya. “Singapore.”
“Kamu mau liburan ke Singapore, huh? Kok aku nggak diajak?” Ellena menghempaskan tubuhnya duduk di tepi tempat tidur dengan wajah tertekuk yang dibuat-buat.
“Aku bukan pergi liburan, Len,” Shanly menatap Ellena yang tampak terkesiap,“aku pergi kesana untuk bekerja pada ayahku.”
Sorot mata Ellena berubah serius, diraihnya kedua pundak Shanly. “Kamu serius, Shan? Kamu mau bekerja di Almoz Group? Di kantor pusatnya? Singapore?”
Shanly mengangguk. “Memangnya aku punya pilihan apa lagi selain menerima tawaran ayahku untuk mengurus perusahaan kami?”
“Bukankah kamu paling anti jika diminta mengurus perusahaan sendiri? Kamu pernah bilang ingin mencari pengalaman kerja diperusahaan lain sebelum menggantikan posisi ayahmu sepenuhnya di Almoz. Kenapa sekarang…,” Ellena terdiam sejenak, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dia lantas menatap sahabatnya dengan tatapan menyesal.
“Shanly,”panggil Ellena lirih,“jangan bilang kamu pindah ke Singapore karena kamu masih marah padaku?”
Mendengar itu, Shanly meletakkan semua pakaian yang dipegangnya diatas tempat tidur, lalu duduk menatap Ellena sambil tersenyum tipis. “Apa yang kamu katakan?”
“Kamu masih marah padaku karena seminggu yang lalu aku memintamu menyatakan cinta pada pria tampan di Mal itu yang berakhir mengenaskan? Jujur, Shan. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa hal seperti itu akan terjadi. Kamu boleh membalasku dengan meminta hal yang sama, asalkan kamu tidak pergi ke Singapore.”
“Ya ampun, Ellen. Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Sungguh!”
“Benarkah?”mata Ellena berbinar mendengarnya. “Kalau begitu, kamu akan tetap berada disini, bukan?”
“Sayangnya tidak. Aku sudah berjanji pada ayah,”jawab Shanly.
Ellena merenggut kecewa.
Shanly menghela napas. “Semua perusahaan yang memanggilku wawancara sudah menolakku.”
Ellena menatapnya dengan prihatin.
Shanly meneruskan perkataannya. “Tadinya ada sebuah perusahaan yang mau menerimaku tanpa memandang aku akan menjadi sekretaris paling bongsor yang pernah ada.”
“Lalu?” Ellena terlihat tertarik,“bukankah itu bagus,Shan?”
“Memang,” Shanly menghela napas untuk yang kesekian kalinya, kemudian menatap langsung mata sahabatnya. “Sayangnya pemilik perusahaan itu adalah pria itu.”
“Pria yang mana maksudmu?” Ellena bingung.
“Pria yang kunyatakan cinta seminggu yang lalu di mal.”
Ellena membelalak. “Hah? Serius?”
“Entahlah, aku juga tidak mengira kalau akan ada kebetulan yang aneh semacam ini,”jelas Shanly.
Dia pun memulai ceritanya…
***
FLASHBACK
Tak ada yang Shanly lakukan selain menunduk demi menghindari tatapan maut dari pria tampan yang ada dihadapannya. Mereka berdua duduk berhadapan. Sang calon atasan duduk didepannya dengan bertopang dagu dan menatapnya dengan tatapan menghujam yang sama seperti saat pertama bertemu dengan Shanly.
“Aku tahu apa yang tengah dia pikirkan,” batin Shanly, “hinaan tempo hari pasti belum cukup. Dia akan menambah hinaan lain untukku hari ini karena disini dia adalah bosnya. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?”
Disaat Shanly sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Wilson justru tampak berpikir keras. Dia hanya tak habis pikir bahwa wanita yang diceritakan Debby memenuhi kriterianya sebagai partner kerja ternyata adalah wanita aneh yang ditemuinya tiga hari lalu.
Pria itu kemudian membuka map berisi identitas diri Shanly dan mulai membacanya, sementara Shanly hanya bisa menyiapkan mental dan menunggu sang atasan menghinanya kembali dengan hati berdebar.
Saat mata Wilson menangkap sederet tulisan yang menarik perhatiannya, dia melirik Shanly.
“Kamu pernah magang di Almoz Group?”tanyanya tanpa ekspresi.
Shanly mengangguk cepat dengan wajah tegang, bagaikan maling yang sedang diinterograsi polisi.
“Sebagai apa?”tanya Wilson lagi.
“Sekretaris junior,” jawab Shanly cepat.
“Oh, okay...,"Wilson mengangguk tanda paham dan bersandar pada kursi putarnya. “Perusahaan besar seperti Almoz Group bisa mempertahankanmu sebagai pekerja magang selama satu setengah tahun, tandanya kamu cukup kompeten.”
Entah itu pujian atau hinaan, Shanly hanya bisa diam. Otaknya sedang tidak bisa diajak kompromi saat ini. Kejadian tiga hari lalu membuatnya sangat malu untuk sekadar menatap wajah Wilson.
“Saya sudah selesai bertanya,” ucap Wilson sambil menutup map biru ditangannya. “Segala tentang kamu sudah sangat jelas di CV itu. Hanya saja, ada yang ingin saya tanyakan langsung pada kamu, jadi saya harap kamu bisa menjawabnya dengan jujur. Karena jawabanmu kali ini yang akan mempengaruhi penilaian saya terhadap kamu,” Wilson menatap Shanly yang masih tertunduk dengan serius.
Jantung Shanly sedang berkonser ria didalam dadanya. Ruangan Wilson ber-AC, namun dinginnya AC ternyata tetap tidak mampu membekukan ketegangan Shanly. Wanita itu berkeringat dingin sambil menunggu Wilson menyelesaikan kalimatnya.
“Mungkinkah dia akan mempertanyakan kejadian tiga hari lalu?” batin Shanly.
“Pertanyaan saya simple saja. Apa alasan kamu menyatakan cinta terhadap orang asing seperti saya di public place?”
“Mati aku!”
Sontak saja mata Shanly membelalak. Dia spontan menundukkan kepalanya karena merasa malu. Karena tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa diam meskipun hatinya terus menjerit-jerit merutuki kesialannya.
“Apakah kamu tidak pernah belajar etika untuk menatap lawan bicara secara langsung?’tanya Wilson sarkastis yang kontan membuat Shanly menegakkan kepalanya. Mata mereka bertemu kembali. Melihat Shanly masih diam, Wilson kembali buka suara.
“Saya menanti jawaban, Miss,” Wilson melipat tangan di depan d**a dan menatap Shanly tajam.
“Apa yang harus kulakukan?”
Shanly pusing sendiri. Kali ini dia benar-benar bagaikan makan buah simalakama. Apapun yang dia jawab entah jujur apa pun bohong, dia pasti akan terkena masalah.Pada akhirnya, Shanly memutuskan untuk jujur saja. Jujur memang jauh lebih baik, meskipun akibat yang ditanggung selalu jauh lebih besar.
“Saya tidak bermaksud. Saya dan teman saya membuat sebuah kesepakatan kecil dan saya kalah dari taruhan itu,” Shanly memulai ceritanya dengan ragu sementara Wilson masih mendengarkan ceritanya dengan dahi berkerut.
“Jadi maksudmu, kamu melakukannya karena kalah taruhan?”sebelah alis Wilson terangkat. Sepasang mata elangnya menatap Shanly dengan tatapan kurang senang.
“Kami hanya bercanda. Jadi, saya minta maaf sekali mengenai kejadian itu,Pak," Shanly menatap Wilson dengan sungguh-sungguh, berharap wilson bisa melihat betapa dia menyesali perbuatan bodohnya beberapa hari yang lalu.
Wilson terdiam cukup lama. Shanly juga tidak berani mengeluarkan suara barang sepatah kata pun. Hingga pada akhirnya, manusia tampan dihadapannya kembali buka suara. Raut wajahnya berubah menjadi kurang bersahabat. Shanly punya firasat bahwa ini tidak akan berakhir baik.
“Wawancaranya sudah selesai,”kata Wilson tiba-tiba.
“Tapi, Pak?” Shanly hendak bertanya, namun nyalinya langsung ciut saat melihat Wilson melayangkan tatapan membunuh.
“Kamu tidak pantas untuk menjadi sekretaris saya,”tukas Wilson to the point.
Mata Shanly melebar karenanya.
“Tapi alasannya apa, Pak? Bukankah tadi Bu Debby bilang bahwa saya memenuhi kriteria seperti yang Bapak cari? Barusan Bapak juga bilang bahwa saya kompeten, lalu kenapa-”ucapan Shanly yang belum sempat terselesaikan itu langsung disela Wilson.
“Memang kamu memiliki semua kriteria yang saya harapkan,” Wilson menggantungkan ucapannya,“tapi, di sini saya mencari partner kerja yang bisa menyesuaikan diri dengan saya dan kamu bukan orangnya.”
Shanly menggigit bibirnya. Emosinya langsung terpancing karena sikap angkuh Wilson. “Jika hanya karena kejadian beberapa waktu lalu, bukankah saya sudah minta maaf Pak? Kejadian yang waktu itu tidak akan mempengaruhi kinerja saya.”
Alis Wilson bertaut. “Hanya katamu?” Dia tertawa sinis dan menatap Shanly. “Orang yang cerdas bukan hanya cerdas dalam pekerjaan, tapi juga cerdas dalam berpikir, bertindak, dan bertutur kata.”
Ucapan yang mengandung sindiran itu, membuat kedua Shanly terkepal menahan rasa kesal yang sudah membuncah.
Wilson menyeringai sinis melihat perubahan pada raut wajah Shanly. Dengan tenang pria itu menautkan jemarinya menjadi satu, membentuk sebuah piramid didepan bibirnya.
“Orang yang menjadikan hal kecil sebagai taruhan, tak menutup kemungkinan bahwa dia akan mengulangi hal yang sama dalam sebuah keputusan besar. Silakan keluar. Kamu tahu kan dimana letak pintunya?” tukasnya sambil menunjuk pintu keluar, mempersilakan Shanly keluar saat itu juga.
END OF FLASHBACK
***