4- AWAL PETAKA

1361 Words
*** Kata orang, ketemu cowok ganteng itu jackpot. Tapi dia itu pengecualian. Dia pembawa sial. - Shanly ***   “Anda yakin ingin bekerja sebagai sekretaris?”seorang pria yang berusia kepala tiga menatap Shanly dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia adalah manager HRD diperusahaan itu. Shanly sedikit risih dipandang seperti itu saat wawancara, tapi karena ini adalah perusahaan ketiga yang memanggilnya interview pada hari ini, dia pun tidak terlalu memusingkan hal itu. Shanly mengangguk penuh keyakinan, sementara sang manager terlihat menghela napas. Dari gelagat sang manager, Shanly punya firasat akan mendapat penolakan untuk yang ketiga kalinya pada hari yang sama. “Saya minta maaf karena Anda tidak memenuhi kualifikasi yang diinginkan oleh perusahaan kami untuk mengisi posisi sebagai sekretaris.” “Lho, bukankah semua persyaratan sudah saya penuhi,Pak? Saya lulusan S2 terbaik dari universitas ekonomi ternama di ibu kota, lulusan c*m laude.Saya menguasai lima bahasa dengan baik, saya mempunyai pengalaman magang selama satu setengah tahun di Almoz Group, saya punya ingatan yang baik dan jadwal saya buat selalu terstruktur. Lantas syarat apa lagi yang belum saya penuhi?” Sang manager HRD tersenyum palsu sembari menunjukkan iklan online dari ipad miliknya pada Shanly. “Coba Anda baca point ketiga di iklan ini,”tunjuk manager itu. Shanly menatap sederet tulisan yang tertera di layar ipad, lalu membacakannya dengan wajah masam. “Berpenampilan menarik.” Sang manager tersenyum mendengarnya. “Karena posisi ini adalah mencari sekretaris untuk direktur, maka kami tidak bisa main-main. Mungkin Anda berminat dengan posisi lain?” “Memangnya ada posisi lain yang cocok dengan saya, Pak?” Shanly terlihat sedikit tertarik. Manager itu mengangguk. “Kebetulan bagian promosi sedang kosong, Anda bisa mengisi posisi itu.” “Memangnya apa tugas bagian promosi,Pak?” “Tugas anda sangat mudah. Hanya perlu menghitung barang yang masuk, merencanakan kapan Anda harus memesan barang sebelum stok benar-benar habis, Anda juga bertugas menyusun barang di gudang, dan masih banyak lagi. Saya akan memanggil kepala bagian produksi untuk menjelaskan lebih lanjut jika Anda merasa tertarik.” Dahi Shanly berkerut. Dia pernah melihat staf promosi dikantor ayahnya. Tugas mereka tak hanya menghitung hadiah promosi, tetapi juga menerima barang yang masuk kegudang.  “Apa mengangkat barang juga termasuk tugas saya nanti?” “Ehm, ya hanya sedikit. Tak banyak, kok,”kelit sang manager. “Sialan!” maki Shanly dalam hati. “Saya tidak berminat mengisi posisi lain selain sekretaris, pak. Jika bapak tidak mau menerima saya, tidak apa-apa. Saya permisi,”usai berkata demikian, Shanly pun bergegas keluar dari ruangan manager HRD tersebut. Ketika Shanly baru keluar dari perusahaan itu, sebuah jaguar perak berhenti tepat didepan kakinya. Shanly menghela napas, lalu mengetuk jendela mobil itu dengan tidak sabar. Jendela mobil dibuka dari dalam, seorang pria paruh baya menunduk sopan saat melihatnya. “Tahu darimana Bapak kalau saya ada di sini?”tanyanya kesal. Pria berpakaian sopir itu adalah sopir pribadi keluarga Moz. “Bapak mengikuti saya?” “Maafkan saya, Nona. Saya hanya mengikuti permintaan Tuan Max untuk tidak membiarkan Nona pergi kemanapun seorang diri.” Mendengar nama ayahnya disebut, Shanly hanya geleng-geleng kepala. “Baiklah, jika itu mau ayah!” Shanly membuka pintu mobil, lalu duduk dijok belakang. “Saya mau ikut Pak Fandi,”ucap Shanly. Sopir itu menatap sang majikan dari balik kaca tengah mobil. Awalnya wajah Shanly terlihat datar, namun sedetik kemudian wajahnya terlihat berubah serius. “Tapi jika sampai ayah tahu kemana saya pergi, saya akan marah besar.” Pak Fandi mengangguk patuh, dia tahu sekali tabiat majikannya yang satu ini jika sedang serius. Dulu dia pernah melaporkan Shanly pada Maxim Andreas Moz—ayah Shanly—kalau Shanly pergi melamar menjadi pekerja magang di perusahaan asing. Tentu saja Max marah besar pada putrinya dan menghukumnya tidak boleh keluar kemanapun selain kekampus. Tapi apa yang terjadi? Shanly kabur dari rumah diam-diam, dan menginap di rumah Ellena selama tiga hari, membuat sopir paruh baya itu terkena amukan sang majikan karena dianggap lengah menjaga putri majikannya. “Anda bisa percaya pada saya, Nona. Asalkan Anda tidak pergi ketempat asing seorang diri, rahasia aman.” Shanly mengangguk. “Kalau begitu, Anda mau kemana lagi?” Tanya Pak Fandi. Shanly memeriksa jadwal yang sudah dia tulis diponsel. Sebenarnya, ada satu perusahaan terakhir yang memanggilnya wawancara hari ini. Mengingat sudah tiga perusahaan yang menolaknya mentah-mentah dengan alasan yang hampir sama, yaitu: ‘kurang ramping’, jujur saja dia mulai lelah untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Sepertinya dia memang sudah ditakdirkan untuk tidak bisa jauh dari naungan Almoz Group. Setelah menimbang-nimbang, Shanly berpikir tidak ada salahnya mencoba untuk memenuhi panggilan wawancara yang terakhir itu. Siapa tahu kali ini ia beruntung. “Kita ke Lawrence Group, Pak.” Walaupun Shanly tahu kalau perusahaan ini mungkin tak ada bedanya dengan perusahaan lainnya yang lebih mementingkan memiliki sekretaris bahenol ketimbang yang cerdas, yang terpenting adalah dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencoba.   ***   “Anda benar-benar tipe orang yang antusias,” puji manager HRD Lawrence Group yang bernama Debby. “Anda bahkan menguasai lima bahasa dengan fasih? Dari mana Anda mempelajari itu semua?” Shanly tersenyum mendengarnya. Baru pertama kali kepribadian dan bakatnya dipuji tanpa memandang bentuk badannya. “Dari kursus, Bu. Dari kecil, saya sangat tertarik dengan bahas sehingga saya dikursuskan orang tua saya untuk belajar bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Mandarin, dan Jepang.” Wanita itu tersenyum kagum. “Dari kecil, ya? Hebat sekali.” “Terima kasih,”lagi-lagi Shanly tersenyum. Sesungguhnya, dia bukan sengaja dikursuskan oleh orang tuanya, tapi sejak kecil dia memang sering diajak orangtuanya berkeliling kelima negara pemilik bahasa-bahasa tersebut sehingga dia mahir dengan sendirinya. Dan tentu saja, di lembar riwayat hidupnya, Shanly hanya mencantumkan bahwa dia pernah bekerja sebagai pegawai magang di Almoz Group dan juga tidak menambahkan embel-embel nama keluarga Moz dibelakang namanya. Bisa gawat jika ada yang tahu bahwa dia adalah putri dari keluarga Moz pemilik Almoz Group yang tersohor itu. Dan masalah kartu indentitas? Itu masalah mudah. Dengan sedikit editing, Shanly sudah bisa menghilangkan tulisan nama keluarga ‘Moz’ dari fotokopi kartu identitas miliknya. “Kami membutuhkan sekretaris yang cerdas, dan sepertinya Anda memenuhi kualifikasi untuk mengisi posisi sekretaris CEO kami. CEO kami sangat menyukai sekretaris yang cerdas,” Debby tersenyum menatap Shanly. “Karena Anda akan menjadi sekretaris pribadi CEO kami, saya akan membawa Anda menemuinya langsung.” Debby terlihat menghubungi pimpinannya sebentar, setelah panggilan berakhir, dia pun beralih menatap Shanly. “Beliau ingin bertemu secara langsung dengan Anda. Mari ikut saya,” Debby tersenyum ramah, lalu membawa Shanly menuju lift. Lift berhenti tepat dilantai 10, tempat ruang CEO yang dimaksud berada. Mereka berdua berjalan melewati ruang staff dan menyelusuri koridor dilantai itu sampai akhirnya langkah Debby terhenti disebuah pintu besar berwarna cokelat dengan papan nama dari besi bertuliskan Chief Executive Officer tertempel dimuka pintu. Debby mengetuk pintu ruangan itu dengan santun. Setelah terdengar sebuah seruan kata “masuk!” dari dalam ruangan, barulah Debby membuka pintu dan masuk ke ruangan yang diikuti Shanly. Ruangan CEO itu cukup besar, dan besar ruangannya hampir menyaingi ruangan ayah Shanly di Almoz Group. Hanya saja yang menjadi perbedaan adalah desain ruangannya yang didominasi oleh kaca dan jauh lebih simple, seakan pemilik ruangan itu masihlah muda. Mata Shanly mengedar keseluruh ruangan, mengamati seisi ruangan yang terlihat sangat nyaman. Saat matanya tertuju pada satu-satunya meja kerja di ruangan itu, dia melihat sebuah papan nama bertuliskan nama CEO perusahaan tersebut. Wilson Lawrence. Sesosok pria yang duduk dibelakang meja terlihat membelakangi mereka berdua. Pria itu terlihat seperti baru saja mengakhiri pembicaraan via telepon. “Permisi, Pak. Saya sudah membawa calon sekretaris Anda,” Debby mengawali pembicaraan. “Benarkah?”suara bass itu terdengar. Mata Shanly membesar saat mendengar suaranya. Dia mengenali suara itu, suara itu sangat familiar. Tiba-tiba saja pria bernama Wilson Lawrence itu berbalik, bertepatan dengan Debby memperkenalkan keduanya. Mata keduanya bertemu. Wilson terkesiap, Shanly tak kalah kagetnya. Bagaimana tidak? Pria yang Shanly nyatakan cinta, yang membuatnya malu setengah mati di Mal tiga hari yang lalu, tak lain dan tak bukan adalah calon atasannya. “Ini Shanly Dromicia. Calon sekretaris Anda yang saya ceritakan, Pak. Dan Shanly, ini CEO perusahaan kita: Bapak Wilson Lawrence.” Setelah selesai memperkenalkan keduanya, Debby pun pamit untuk kembali keruangannya dan meninggalkan mereka berdua saja. Shanly sudah pucat pasi. Dia tak bisa bergerak sedikitpun, meskipun dia sudah mencoba menggerakkan sendi-sendinya. Tangan dan pundaknya gemetar. Wajahnya sudah tak berbentuk lagi, dia hanya bisa menunduk demi menghindari tatapan menghujam milik Wilson. “Kamu…,” Wilson memicing menatap Shanly. Dalam hati, Shanly berharap semoga Wilson terkena amnesia atau mungkin kepalanya terantuk meja sehingga dia melupakan wajah Shanly. “Kamu…,”kali ini Wilson menunjuk Shanly. Tamatlah riwayatku! jerit Shanly dalam hati. “Kamu... Gadis sampah yang menyatakan cinta pada saya di Mal waktu itu, bukan?” GUBRAK! Jantung Shanly seakan langsung jatuh kemata kaki. Ucapan Wilson terus berputar didalam benaknya layaknya kaset rusak. Gadis sampah? GADIS SAMPAH KATANYA? Sehina itukah Shanly sampai yang diingat pria itu tentang dirinya adalah adegan dia jatuh terduduk di atas tempat sampah, sampai dia dipanggil gadis sampah? “Dari sekian ribu CEO yang ada dimuka bumi, kenapa harus dia yang menjadi calon atasanku?ARGGGHHHH!!! Apa yang harus aku lakukan??? Siapa saja, tolong aku!” Hari itu ternyata menjadi hari paling buruk yang pernah ada. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD