Sabar

1474 Words

Kuceritakan masalah Ririn si pembohong itu pada Mas Lutfi, tapi anehnya pria itu terlihat biasa saja, tak cemas atau pun kesal sepertiku. "Ada-ada saja adikmu itu." Mas Lutfi malah bicara begitu, kukira ia akan marah lalu kami pulang kampung untuk menghajarnya. "Kok Mas ga marah?" tanyaku dengan pandangan aneh, awas saja kalau dia suka Ririn! "Mau gimana lagi." Mas Lutfi mengembuskan napasnya. "Mas suka 'kan sama adik tiriku? makanya ga marah dengan kelakuan liciknya itu," selidikku. "Astaghfirullah, engga gitu, Yang." Mas Lutfi melirikku. "Lah terus?" "Gini, Yang, anggap aja itu sebagai pembersihan dosa kita, lagian cuma dua juta ikhlaskan aja ya, kamu mau ga dosa-dosanya dihapus sama Allah." "Kita sekarang lagi dizalimi sama si Ririn, doa kita bakal terkabul langsung menembus lan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD