Episode 6 - Menjalani Wajib Militer

1432 Words
Belum cukup dengan kesakitan aneh yang baru saja ia alami -- tentu saja aneh, teramat sangat aneh. Garlanda terlahir dengan gender laki-laki. Akta kelahirannya pun tertulis laki-laki. Dan ia juga straight, normal menyukai wanita. Tak pernah sekali pun ia melakukan perubahan jenis gender. Tapi baru saja ia mengalami sebuah kondisi di mana normalnya hal itu hanya dialami oleh para wanita. Mengandung dan melahirkan. Rasa sakitnya masih membuatnya trauma hingga sekarang. Membuatnya tak bisa membenci ibunya sendiri meski ia selalu diperlukan dengan buruk. Karena ibunya biar bagaimana pun telah mempertaruhkan nyawa dengan mengandung dan melahirkannya ke dunia. "Ya Tuhan ... tolong bangunkan aku, Tuhan. Tolong bangunkan aku sekarang juga. Aku tidak mau lagi seperti ini, Tuhan. Aku mau hidup seperti manusia normal lain. Merasakan sakit yang normal aku rasakan saja. Bukan kesakitan yang seharusnya tidak pernah aku rasakan." Garlanda terus memohon di antara transisi mimpi yang ia alami. Garlanda kini terbangun di sebuah negara asing. Korea Selatan. Ia kini berada dalam tubuh laki-laki yang sedang melakukan kewajiban menjalankan pelatihan militer. Di negara itu para laki-laki memang diwajibkan mengikuti wajib militer. Karena di sana adalah negara konflik yang sewaktu-waktu bisa perang. Garlanda kini bisa merasakan hal itu. Seketika memori-memori dalam otak laki-laki bernama Jungsoo ini, segera menjadi memori-memorinya juga. *** Mei 2013. Para soldier sudah berada di camp masing-masing. Mereka sedang antre mandi. Yah ... memang begitu kondisi di sini. Satu kamar untuk tujuh orang, dan hanya terdiri dari satu kamar mandi. Tapi untuk anggota boy band berjumlah besar seperti Jungsoo, suasana seperti ini sudah familier. Bedanya di sini ukuran kamarnya hanya sedikit lebih kecil dan sederhana. Kebetulan Jungsoo dan Yoon Hak tidur di kasur susun yang sama. Yoon Hak di atas, dan Jungsoo di bawah. Jungsoo berbaring nyaman di ranjang kecil itu. Tangannya mengulur mencari sesuatu di dalam laci nakas di sebelahnya. "Hyung, ambilkan PSP-ku!" seru Yoon Hak. Hyung adalah panggilan kakak antar sesama laki-laki. Karena berada di atas, ia selalu minta tolong Jungsoo untuk mengambilkan perabotannya di meja nakas. "Iya sebentar," jawab Jungsoo tanpa menoleh. Ia tetap melakukan aktivitasnya sebelum Yoon Hak minta tolong tadi. "Kau sedang mencari apa, sih?" Yoon Hak yang heran akhirnya melongokkan kepala ke bawah. "Aspirin. Sepertinya punyaku sudah habis," jawab Jungsoo. "Aspirin lagi? Ck ... kau sudah minum aspirin rutin selama seminggu. Baru juga berakhir 2 hari yang lalu. Sekarang kau minum lagi. Dasar!" Jungsoo terkekeh. "Kepalaku agak pening, Yoon Hak-ah!" Tambahan ah di belakang sering digunakan sebagai panggilan dari yang lebih tua pada yang muda, atau sepantaran. "Kau itu kenapa sering sekali pusing, sih? Ketemu atau tidak aspirinnya? Kalau tidak, Ambil saja punyaku. Tapi besok minta sendiri ke divisi kesehatan, ya?" "Ok, makasih, Yoon-ah!" Jungsoo merasa sedikit malu, namun juga bersyukur di saat bersamaan. Jungsoo mengambil aspirin di laci Yoon Hak dan segera menenggaknya dengan air. "Sudah, kan? Cepat ambilkan PSP-ku kalau begitu!" perintah Yoon Hak lagi. Jungsoo yang sudah biasa dibeginikan, hanya tersenyum. Ia mengambil PSP Yoon Hak dan memberikan pada empunya. "Kau itu leader juga Yoon-ah, sama sepertiku. Kau juga hanya setahun di bawahku. Tapi kau lebih kekanakan dari pada Kyuhyun ternyata," ucap Jungsoo seraya kembali berbaring. Kyuhyun adalah nama anggota termuda dalam grup-nya. Kyuhyun lima tahun lebih muda darinya. "Kesempatan, Hyung. Selama di sini, belum pernah aku sekamar dengan yang lebih muda dariku. Kebanyakan seumuran member EXO. Sampai Hyung akhirnya datang. Rasanya sungguh sangat menyenangkan memiliki seorang Hyung." "Gara-gara kelakuanmu, aku jadi kangen adik-adikku di dorm." Jungsoo mendadak melankolis dengan mengingat kebersamaannya dengan para anggota grup. "Ya Tuhan ... belum juga setahun. Asal kau tahu saja, Hyung. Aku juga sangat merindukan anak-anakku di sana." Yoon Hak tertawa miris. Meski grupnya tak seterkenal Super Junior, tapi ia dan adik-adiknya berhubungan dengan sangat baik. "Tapi sebentar lagi kau keluar kan." "Itu benar. Tapi, Hyung ...." "Tapi apa?" "Aku agak khawatir denganmu." "Kenapa?" "Selama di sini kau itu ... aduh ... aku bingung menjelaskannya. Hari ini obat batuk, besoknya obat alergi. Besoknya lagi aspirin. Besoknya lagi obat sakit perut. Kau itu memang sakit atau hanya takut sakit, sih?" Jungsoo tersenyum tipis. Memang begitu adanya sejak ia masuk sini. Tidak hanya di sini. Saat di dorm pun dulu ia juga seperti itu. "Hanya tidak ingin sakitku tambah parah Yoon-ah, makanya kalau aku merasa tak enak badan, aku langsung minum obat." "Apa semua anak-anakmu juga begitu?" "Tidak. Hanya aku, Kyuhyun, Jungwoon dan ... Sungmin. Dia punya anemia." "Oh ... apa mereka begitu dengan alasan yang sama denganmu?" "Tidak juga. Sungmin bisa benar-benar tumbang kalau tak minum obatnya. Kalau Kyuhyun, kondisinya memang gampang turun sejak kecelakaan dulu. Kalau Jungwoon ... dia memang ringkih. Kata ibunya sudah dari bayi dia begitu." "Oh ... kalau kau?" "Mungkin aku hampir sama dengan Jungwoon. Hehe ...." "Berarti kau terus minum obat karena benar-benar sakit?" "Tentu saja. Untuk apa aku minum obat kalau tidak karena sakit?" "Berarti sekarang ini kau sakit, dong." "Tentu saja, Bodoh!" "Aneh ... bukannya orang sakit itu harusnya istirahat. Kalau sakit pasti tidak akan terlihat sesehat dirimu. Ya memang sorot matamu tetap terlihat lelah. Tapi kau kelihatan terlalu sehat untuk dibilang sakit. Apa ini pengaruh didikan perusahaanmu, Hyung?" "Mungkin. Hanya saja ... aku merasa akan tahan dengan sakitnya. Makanya tak perlu istirahat berlebihan. Hanya tidur dengan baik saja." "Hah ... makanya itu." "Makanya itu apa?" "Makanya itu aku khawatir padamu." "Kau so sweet sekali, Yoon-ah." Jungsoo meledek. "YA! Aku serius tauuu ... kalau kau sebegini ringkih, kenapa kau lolos masuk soldier? Kenapa tidak dimasukkan ke pelayanan masyarakat?" Biasanya laki-laki dengan kondisi kesehatan kurang baik, saat waktunya wajib militer Memang hanya perlu melakukan pelayanan Masyarakat. Jungsoo tersenyum. "Aku sedikit memaksa dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin. Lagi pula riwayat kesehatanku tak terlalu serius. Ya meskipun sering sakit." "Ckckck ... dasar sok kuat!" "Aku memang kuat kok." Obrolan Jungsoo dan Yoon Hak terhenti dengan hadirnya beberapa orang lain di sana. Tentunya para penghuni kamar yang lain. Berarti sekarang tiba saatnya untuk Jungsoo dan Yoon Hak untuk mandi. Karena sejak tadi sejatinya mereka memang antre mandi. *** Juni 2013. Yoon Hak telah menuntaskan wajib militer. Jungsoo merasa agak sedih sebenarnya. Meski pun menyebalkan, tapi Yoon Hak adalah satu-satunya orang yang bisa diajaknya berbagi selama di sini. Selain karena sesama anggota boy band, juga karena mereka sama-sama leader. Tapi mau bagaimana lagi, memang harus begini. "Hyung, kotak obatku, untukmu saja. Terima lah," ucap Yoon Hak dengan sedikit bercanda. Tapi juga serius. Ia tulus ikhlas menyerahkan kotak obatnya untuk Jungsoo. "Haha. Okay. Makasih, Yoon-ah." "Aku akan merindukanmu, Hyung. Kuharap kapan-kapan kita bisa ngobrol sedekat saat kita di sini lagi. Jaga kesehatanmu!" Mereka berpelukan agak lama. Disaksikan oleh para 'anak kecil' yang ada di sana. Ada sedikit rasa sesak di hati Jungsoo. Ah ... dia memang sensitif. Meskipun tak sampai menangis. Suasana kamar hari ini agak beda. Kamar hanya tinggal dihuni 6 orang. Rasanya sepi tak ada Yoon Hak. *** Juli 2013. Jungsoo punya sedikit waktu senggang karena ia mendapat libur selama 3 hari 2 malam. Ini adalah saat yang menyenangkan. Ia segera pulang ke rumah ibunya. Hanya ada ibunya di sana. Tentu saja. Ayahnya? Pasti kalian juga sudah tahu kalau orang tua Jungsoo sudah cerai sejak dulu, kan? Sementara kakaknya bekerja di Bali, Indonesia. Dia long stay di sana untuk sebuah project. "Ibu." Jungsoo segera memeluk Ibunya. "Jungsoo!" Sang Eomma mengelus punggung anaknya pelan. "Ah ... kapan kau akan bertanggung jawab dengan tubuhmu sendiri? Kau panas sekali." Wanita itu menyentuh kening putra bungsunya. "Aku tak apa. Aku sudah minum obat." "Kau juga kurus." "Aku sudah makan dengan benar, Ibu." "Tidak bohong, kan?" "Tentu saja tidak." "Berarti kau harus menambah porsi makanmu. Mengerti?" "Mengerti." "Ya sudah kalau begitu. Kita langsung makan saja, ya." Jungsoo mengangguk dan segera makan bersama ibunya. Setelah berbenah, Jungsoo ikut ibunya ke Kona Beans. Kona Beans adalah sebuah cafe yang dibangun bersama oleh Jungsoo, Sungmin, dan Kyuhyun. Karena mereka sibuk, cafe itu dikelola oleh ibu mereka bertiga. Pasti ia akan bertemu dengan beberapa ELF di sana. Jungsoo sungguh sangat rindu pada para fans itu. Suasana Kona Beans agak pengap sesaat setelah Jungsoo datang, saking banyaknya ELF yang ingin melepas rindu dengannya. Dan mereka juga tertib untuk tidak mengambil gambar. Jika gambarnya tersebar di internet sedang tidak berada di camp militer, ia bisa terkena banyak hujatan dari para netizen. ELF memang yang terbaik. Sebenarnya Jungsoo punya rencana untuk jalan bersama dengan para member saat libur kali ini. Sayangnya, saat ia libur, para member justru sedang sibuk-sibuknya. Ia menelepon Jungwoon yang kini juga tengah menjalani wajib militer, namun tidak berada di camp yang sama dengannya. Karena Jungwoon bertugas di pelayanan Masyarakat. Syukur lah Jungwoon juga sudah selesai bertugas untuk pelayanan masyarakatnya. Mereka akhirnya bisa keluar dan setidaknya ngobrol bersama. Cukup untuk membuat Jungsoo senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD