6. Surat Pengunduran Diri

525 Words
Saat berpamitan dengan orang tuanya untuk pulang, Pak Bimo juga ikut berpamitan dengan orang tua Dwi. Hal itu membuat Dwi makin kesal saja. Saat sedang menuju Halte Bus, Bimo mengejar. "Dwi tunggu." Pak Bimo setengah berlari mengejar Dwi yang berjalan dengan cepat. "Apalagi Pak? " Dwi menatap Bimo dengan malas. "Kamu pake Busway? Kita searah bagaimana kalau kamu naik mobil bareng saya. " Kata Bimo yang masih sadar juga. "Pak!!! Bapak sadar gak sih... kalau aku tuh sebel sama bapak?! Bapak maunya apa sih?? " Tanya Dwi dengan penuh kesal seakan muncul tanduk merah. "Mau saya. Kamu ikut saya naik mobil, pulang bareng." Kata Bimo tersenyum masih saja kebal muka. "Astaga pak." Dwi kemudian memegangi kepalanya, kemudian tanpa menghiraukan Bimo. Dwi tetap berjalan menuju halte Busway dan berlalu begitu saja. Bimo seakan tak perduli dengan apa yang Dwi katakan dan rasakan tetap tersenyum dan masuk ke mobil. "Apasih... maunya. DASARRR BOS BRENGS*****KKKKK" Kata Dwi setengah menjerit membuat orang yang naik busway melihat kearahnya. Kemudian Dwi sadar lalu meminta maaf. "Maaf.. maaaf.. maafff" Ia kemudian melihat ke arah luar jendela agar tidak merasa malu. Setelah sampai dan malam telah tiba Dwi akhirnya bertekad untuk mengundurkan diri. Ia tak ingin harinya makin kacau dengan tingkah laku bos nya dikantor. Dia tak ingin lagi berurusan dengan Bosnya itu. Ia ingin membuktikan bahwa sikap Pak Bimo Sudan keterlaluan. "Selama 2 tahun ini, aku merasa nyaman kerja dikantor. Gak nyangka bakal mengundurkan diri karena masalah seperti ini. Tapi gak ada cara lain, jika terus menerus disana pasti Pak Bimo bakal ganggu aku terus." Kemudian Dwi menitikan air mata, ia mengingat betapa ia berjuang diposisi nya saat itu. Kemudian Silvy menelpon, seakan ia punya telepati mengetahui bahwa temannya sedang tidak baik-baik saja. "Hallo Vy" Tanya Dwi. "Kok lemes sih. Kenapa biasanya semangat. " " Kayanya aku gak bisa deh terus kerja dikantor." "Gara-gara masalah dengan pak Bimo? " "Siapa lagi. " "Emangnya ada masalah apalagi. " "Masa tadi siang dia kerumah orang tua ku. " "wah keren bangettt" "kok keren sih?" "Kamu tau gak aku pacaran 3 tahun dan pacarku itu gak pernah mau main kerumah. Aku sadar dia belum mau serius sama aku. " "Terus pak Bimo kerennya dimana? " "Keren donk. Bagi aku tuh, cowo yang mau berkomitmen dan bertanggung jawab itu keren. Berati dia tak main-main dengan perasaannya itu. " "Tapikan aku gak suka sama dia Vy. Jangan samain dong. " "Kenapa gak dicoba dulu. Siapa tau pelan-pelan kamu suka sama Pak Bimo. Dia baik, ganteng, pinter, kaya & terpenting mau serius. Kurang apa coba." "Emang hubungan sebatas itu apa???? " "Iya donk. Itu yg terpenting. Kamu mau, cinta setengah mati lagi sama cwo terus ditinggal pergi gitu aja, tanpa komitmen?" "Aulah... aku pusing." "Yaudah.... Kamu istirahat ya. Jangan terlalu dibawa emosi. Siapa tau kamu pelan pelan bisa suka sama Pak Bimo. " "GAKKKK!!! " "Wkwkwkkw" Silvy terkekeh Kemudian Dwi menutup teleponnya. Ia berbaring dan menatap layar ponselnya. Ia membuka akun Sosmed nya. Kemudian ia melihat pemberitahuan yang sudah lama tak pernah ia tengok. Kemudian ia melihat akun Bimo Suseno menyukai foto Dwi. Dwi melongo, ia baru menyadari bahwa Bos nya selama ini men stalking nya di sosmed.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD