Dwi kembali masuk keruangan berusaha santai meski gugup. Banyak mata yang memandangnya, namun terdiam karena tak berani dengan gebetan Bos mereka.
Dwi berkerja dan berusaha fokus. Ia berusaha menghindari Pak Bimo.
Ia berusaha keras mengerjakan pekerjaannya agar tidak lembur. Ia tak mau harus berurusan dengan Pak Bimo hari itu. Saat pulang kerja ia buru-buru pulang ke kosnya.
Sesampainya di Kos barulah ia menumpahkan kekesalan dan perasaannya.
"Aaaaaaaaa....
Why... Why... Why....
Sebal sebal sebaaaaaaaaal" Ia memukul-mukul guling yang selalu jadi pelampiasannya. Guling tak berdosa itu hanya terdiam menerima perlakuan majikannya itu.
"Apa berhenti kerja saja!" Setelah puas melampiaskan amarah, ia menghela nafas dengan putus asa.
Sisi lain Bimo berada apartemen nya. Ia kembali melihat sosmed Dwi. Seperti biasa ia memandangi Foto Dwi sambil membayangkan tingkah Dwi selama di kantor yang terkadang lucu dan konyol.
"Aku akan terus berjuang mendapatkan mu. "
Kemudian Bimo menaruh handphone di tangannya sambil memejamkan mata.
Keesokan harinya....
Dwi dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya dengan Busway. Setiap 2 minggu sekali ia pergi kesana untuk melepas kangen bertemu ayah dan ibunya.
Dwi berjalan menuju rumahnya membuka pintu.
Seketika ia terkaget melihat seseorang yang sedang ada di ruang tamu bertemu ayahnya.
"Astaga... Ke ke kenapa... Bapak ada disini???" Tanya Dwi terbata.
"Nak Bimo ini sudah jadi teman ayah. Dia membawakan Baso Aci Arief Muhammad yang lagi Viral itu. Hari ini kita sudah janji main catur bareng. " Kata Ayah Dwi sambil tersenyum tertawa.
Dwi melongo kemudian ia melihat ke arah Pak Bimo, seakan tak percaya.
"Hai Dwi, selamat hari minggu." Kata pak Bimo tersenyum manis.
"Sejak kapan ayah berteman dengan orang yg jauh usianya dengan ayah."
Dwi bertanya sambil masih berdiri didepan pintu.
"Sejak hari pertama Nak Bimo kesini. Sudah lama Ayah tak mengobrol. Kalau kau merasa tak nyaman, kamu bisa pulang lebih dahulu. " Kata Ayah dengan santai.
"Ayah. Aku ini anak ayah, Aku baru saja sampai. Seharusnya Ayah menyuruh nya pulang bukan aku. " Sambil menunjuk Bimo kemudian Dwi kesal langsung masuk ke dapur.
Di dapur ada Ibu Dwi yang sedang membuat minuman.
" Bu.. masa ayah nyuruh aku pulang. " Kata Dwi kesal.
"Ayah gak bermaksud seperti itu. Mungkin dia takut kamu tak nyaman dengan keberadaan Bos kamu itu. Bukankah katanya kamu sebal sama dia." Kata Ibu Dwi yang sedang mengaduk teh bersama gula.
"Kok bisa sih bu, Pak Bimo kesini lagi. Ibu gak usah baik-baik deh sama dia. Nanti dikira kita ada maksud tertentu sama dia." Kata Dwi denga suara lirih dan sangat kesal.
"Dia kan tamu dan dia juga bos kamu. Masa mau ibu usir. Lagian Ayah kamu itu sejak pensiun, jarang bergaul dan bertemu teman ngobrol jadi wajar dia senang bertemu orang yang se frekuensi dengan dia. Kamu bisa bawa minuman ibu kedepan? " Kata ibu Dwi menyodorkan minuman.
"Gak ah... " Dwi kemudian keluar dapur menuju kamarnya diatas.
Ibu Dwi tersenyum kemudian mengantarkan sendiri minuman tersebut ke ruang tamu.
Diruang tamu Bimo dan Ayah Dwi main catur sambil ngobrol sangat seru. Ibu Dwi membawa minuman sambil tersenyum seakan bertemu calon mantu idamannya.
Sedangkan Dwi dikamar merasa kacau. Ia kembali memukul-mukul bantal guling untuk meluapkan kekesalannya itu.
Seperti biasa bantal guling tak bersalah itu hanya terdiam.
Dwi seakan ingin menangis tapi tak mengeluarkan air mata. Ia kesal bingung dan marah.
Ia tak habis pikir Pak Bimo masih saja mengganggu nya.