Dwi pulang ke Kosannya dengan wajah yang penuh kesal. Dia membanting tas kemudian mengingat-ngingat apa yang dia katakan kepada bosnya itu.
"Berlebihan gak sih tadi?
Kalau aku beneran dipecat gimana?!
Mana cari kerjaan susah.
aaaahh... gimana donk!
Aku gak mau kehilangan pekerjaan ini.
Semua gara-gara bos gila itu." Dwi pun merasa campur aduk. Ia memukul-mukul batal guling untuk meluapkan kekesalannya itu.
Sisi lain Bimo mandi dengan sowernya. Seakan ia ingin mendinginkan isi kepalanya yang penuh dengan beban pikiran. Meski ia sedang galau dia lebih tenang seperti biasa.
Ia berpakaian dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Kemudian duduk disofa sambil membuka layar handphone nya.
Kemudian ia membuka sosmed dan terlihat di pencarian the one & Olny Dwi Suhita. Ternyata selama ia selalu stalking akun sosmed Dwi. Ia melihat foto-foto Dwi yang selalu tersenyum dengan kegiatan nya sehari-hari dikantor & dirumah.
"Apa aku terlalu buru-buru. Aku hanya tak ingin menyesal dikemudian hari." Dalam hati Bimo.
Kemudian ia mengingat ketika suatu hari Dwi diantar lelaki dengan sepeda motor. Sejak saat itu Bimo selalu kepikiran dan merasa takut sosok Dwi yang penyendiri itu bahagia dengan lelaki lain.
Maka dari itu Bimo tanpa pikir panjang melamar nya saat rapat waktu itu.
Bimo kemudian berbaring di Sofa empuknya masih memandangi Foto Dwi sambil tersenyum.
Keesokan harinya Dwi berangkat kerja dengan was-was. Takut kalau-kalau dia dipanggil dan dipecat.
Sesekali ia menengok kanan kiri mencari keberadaan Bosnya. Meski kesal ia juga penasaran dengan reaksi Bosnya setelah Dwi marah-marah saat itu.
"Nyari sapa sih Dwi. Pak Bimo ya? " Tanya Silvy yang diam-diam selalu memperhatikan Dwi.
"Ah... Enggak ngapain juga nyari orang itu. " Dwi mengelak.
"Pak Bimo katanya mau ketemu klien. Pagi-pagi dia langsung pergi. " Kata Silvy seakan tau isi hati Dwi.
"Aku gak nyariin dia kok." Dwi jadi kesal.
Silvy tersenyum melihat temannya itu.
"Sebenarnya aku juga tau kok Dwi. Dari dulu pak Bimo udah perhatiin kamu. Tapi kamu gak pernah sadar. Pak Bimo tak akan pulang jika kamu belum pulang. Dia juga selalu nyuruh CS buat kasih camilan kalau kamu lembur. Dan setelah perhatiin Pak Bimo selalu nyuruh kamu lembur saat malam minggu. " Silvy terkekeh.
Dwi kemudian mengingat-ngingat apa yg dikatakan Silvy. Setelah difikir-fikir benar juga, bahkan gara-gara itu Dwi sering absen saat diajak temannya kumpul-kumpul.
Saat menyadari nya Dwi makin kesal sambil menggenggam tangannya.
"Oh iya pas malam minggu saat reuni itu. Kamu inget gak kamu meminta ijin pada pak Bimo saat lembur. Lalu kamu dijemput sama Leo temen kamu itu. Aku liat kayanya Pak Bimo cemburu deh. " Kata Silvy seakan sangat peka dengan apa yang terjadi dengan Dwi. Sedangkan Dwi bagai bayi polos yang tak tau apa-apa.
Dwi pura-pura bekerja dengan laptopnya. Padahal ia mendengarkan dengan seksama.
"Apa karena itu ya Pak Bimo langsung lamar kamu saat rapat waktu itu? " Kata Silvy lagi.
"STOPP" Dwi kemudian memberi kode pada Silvy untuk diam.
"Ayolah.. Vy..... Aku gak mau bahas itu lagi. Kamu gak tau, aku lagi was-was banget. Aku punya firasat bakal dipecat. Kemarin kayanya aku berlebihan. Apa aku harus minta maaf ya." Dwi berbicara lirih kemudian memegangi kepalanya sambil menutup mata selang beberapa lama....
"Saya gak akan memecat kamu kok." Ternyata Pak Bimo ada didepan meja kerja Dwi. Kemudian dia menaruh Ice Coffe Late dimeja Dwi.
Dwi membuka matanya shok dan menganga. Kemudian Bimo membalas Dwi dengan senyuman. Semua karyawan di ruangan melihat sambil tersenyum-senyum.
Pak Bimo kemudian masuk kedalam ruangan sambil melempar senyum pada orang yang melihatinya.
Seakan semua dibikin Speaclees dengan tingkah Bosnya itu. Kemudian dengan terburu-buru Dwi menuju kamar mandi.
"Astaga... Astaga... " Dwi menepuk-nepuk dadanya yang masih shok dengan kejadian tadi. Ia menghela nafas untuk menenangkan. Bahkan ia kehabisan kata-kata.