3. Sangat Marah

583 Words
"Yang bener bu itu Pak Bimo? " Tanya Dwi dengan suara pelan agar tak dengar orang. "Iya katanya namanya Bimo. Dia temen sekantor kamu ya Nak? " Tanya ibu tersenyum sumringah. "Ya ampuuun Bu, Dia itu bos Dwi. Kenapa kok bisa sampe ke rumah? " Dwi masih tak menyangka. "Jadi itu Bos kamu. Rendah hati sekali. Udah ganteng, sukses dan gak sombong." Ibu Dwi tersenyum bahagia sambil melirik Bimo yang ada diruang tamu. "Dia mau apa sih Bu? " Dwi bertanya dg perasaan yg tak tentu. "Katanya ingin berkenalan dengan kita. Sepertinya dia suka kamu. " Ibu terseyum bebas, tak paham dengan perasaan Dwi saat itu. "Apa sih Bu! Dwi itu gak ada hubungan apa-apa sama Pak Bimo. Bahkan aku sebel sama dia. Udah ah... aku mau telepon dia dulu" Dwi menutup telepon kemudian menelpon Bimo. Handphone Bimo berbunyi dan meminta maaf pada ayah Dwi untuk mengangkat telepon dulu sembari keluar dari ruangan. "Iya hallo. " Bimo menjawab santai. "Hallo Pak Bimo. Pak kok bisa sih bapak ada dirumah saya???? Aku kan gak enak Pak sama orang tua saya Pak. Nanti dikira kita ada hubungan." Dwi dengan nada tegas. "Semalam bilang mau tanya dengan orang tua dulu. Jadi saya sekalian kesini untuk berkenalan. " Jawab Bimo santai tanpa dosa. "Ya ampun Pak????!!!! Bapak kenapa sih Pak. Tiba- tiba bersikap gini. Saya tuh gak punya perasaan sama Bapak. Harusnya bapak paham dong! " Dwi dengan nada kesal. Bimo terdiam. Ia terlihat sedih dengan kata-kata Dwi. "Tapi saya udah terlanjur suka sama kamu." Kata Bimo "Apaa??? " Dwi gak percaya dan masih merasa kesal. "Nanti kita ketemu setelah kamu pulang kantor ya. Aku gak enak sama orang tua kamu. " Kemudian Bimo menutup telepon nya dan kembali masuk kedalam ruangan. Dwi masih tak habis pikir, dia masih berdiri di tangga darurat. "Kenapa sih itu orang. Bisa-bisanya main kerumah. Aku harus bilang apa coba. Kalo mama papa ngarep dia beneran jadi mantu gimana? GAK GAK GAK... GAK AKAN.!!! " Dwi menghela nafas kemudian kembali masuk ke dalam ruangan. Dwi bekerja kurang fokus, sesekali ia melihat jam dinding dan melirik pesan w******p nya. Saat pulang kerja Dwi masih diruangan, meski kerjaannya telah selesai. Kemudian Bimo masuk ke dalam ruangan kerjanya. Lalu Dwi masuk kedalam ruangan Bimo. "Gak usah bertele-tele deh pak. Saya mau tanya apa alasan bapak kerumah saya dan saya pengen tau kenapa bapak bersifat seperti ini. " Dwi berdiri didepan meja Bimo berbicara dengan nada marah. "Saya gak suka membahas masalah pribadi di kantor. Sebaiknya kita keluar sambil makan. Saya juga lapar, kamu udah makan belum? " Bimo masih santai dan tak menghiraukan Dwi yang marah. "Bapak bilang gak suka membahas urusan pribadi di kantor. Kok bapak kemarin ngomong sembarangan pas rapat???? " Dwi dengan nada tinggi. "Saya minta maaf. Cara saya salah. " Kata Bimo sedikit menciut. "Ya iyalah bapak harus minta maaf. Sejak saat itu bapak mengacaukan hari-hari saya Pak. Terlebih hari ini, ngapain bapak kerumah saya? Nanti orang tua saya berpikiran macam-macam. Saya belum ada niatan untuk nikah & saya sedang menikmati kesendirian ku saat ini. Saya gak mau orang tua saya jadi berharap saya memiliki pendamping. Jadi Pak saya mohon stop. STOP. Saya gak mau bapak berbuat lebih jauh. " Dwi kemudian keluar ruangan dengan menutup pintu dengan kencang. Kemudian dia kembali masuk kedalam ruangan. "Oiya Pak... jika bapak memecat saya karena hal ini. Saya siap, karena saya juga udah muak kerja sama bapak. " Dwi kembali keluar. Bimo terdiam sambil ia terlihat santai walaupun dalam. hatinya ada shok dan bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD