Masuk istana

1243 Words
Semua barang-barang dan pakaian yang diperlukan Kim Yuna untuk seleksi ke istana sudah disusun rapi oleh Eun Hye di kamar Kim Yuna. Yuna menatap pakaian dan barang-barang yang telah disiapkan oleh Eun Hye sambil berdiri melipat kedua tangannya dan mengerutkan dahinya. "Apakah aku harus mengunakan ini semua saat akan pergi ke istana? Pakaian ini terlalu berlebihan untuk anak muda sepertiku dan mungkin saja aku akan tersandung saat menggunakan hanbok seperti ini," ujar Yuna. Eun Hye yang mendengar itu kembali menatap Kim Yuna dengan keanehan. "Nona, kau tidak akan tersandung menggunakan pakaian ini, karena Nona sudah sangat terbiasa dengan pakaian ini. Nona bahkan hanya mengenakan pakaian seperti ini setiap hari, memangnya Nona mau mengenakan pakaian apa, tidak ada pakaian selain Hanbok seperti ini." Yuna hanya bisa menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar. Ia sama sekali tidak bisa menjelaskan kepada Eun Hye bahwa jiwa yang ada di dalam dirinya saat ini adalah jiwanya di kehidupan masa depan, jika ia menjelaskan itu pun, itu akan menjadi hal yang sia-sia karena Eun Hye pasti tidak akan mempercayai itu semua. Namun, itu wajar saja siapa yang akan percaya bahwa reinkarnasi seseorang bisa kembali ke kehidupan sebelumnya dan mengulang waktu. "Baiklah aku akan mengenakan pakaian itu, tapi kenapa aku harus pergi ke istana dan seleksi apa yang kau bicarakan?" tanya Yuna yang belum mengetahui bahwa seleksi yang dimaksud adalah seleksi pemilihan calon putri mahkota yaitu calon istri untuk putra mahkota. "Hari ini adalah hari seleksi pemilihan putri mahkota calon istri untuk putra mahkota," ujar Eun Hye sambil membantu Yuna mengenakan Hanboknya. Bak petir menyambar di siang bolong, Yuna langsung terduduk ketika mendengar hal itu. "Habislah aku." Ia tidak menyangka bahwa ia akan mengikuti seleksi pemilihan calon istri untuk seorang laki-laki, baginya mengikuti seleksi seperti itu sama saja dengan mengejar seorang laki-laki agar bisa menjadi miliknya. Padahal selama ini laki-laki lah yang sering mengejarnya, bahkan ia yang selalu menolak mereka dengan berbagai cara untuk menghindari sebuah hubungan yang menurutnya terlalu rumit untuk dijalani dan sekarang ia harus melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan seorang laki-laki. Baginya itu adalah hal yang mustahil untuk ia lakukan. "Tidak! Aku tidak akan pergi ke istana, jika hanya untuk melakukan itu." Sambungnya. Tidak hanya itu. Aku juga harus sebisa mungkin untuk menghindari kehidupan istana, karena mungkin itu juga salah satu caraku memperbaiki kesalahanku di kehidupan ini, batin Yuna. "Nona, apakah kau tidak ingat? Bahwa sebelumnya kau lah yang meminta agar namamu ikut didaftarkan untuk ikut seleksi itu kepada Tuan besar. Jangan-jangan kau juga melupakan itu? Saat ini kau tidak bisa lagi menolak, Nona. Jika kau menolak datang Tuan besar yang akan menanggung malu," Eun Hye menasehati Nonanya. Apa? Aku yang meminta untuk mendaftarkan namaku. Sebenarnya apa yang aku lakukan di kehidupan ini sebelumnya? kenapa aku bodoh sekali. Bagaimana bisa aku menawarkan diri untuk seorang laki-laki dan bersedia hidup terkekang di istana, batin Yuna. "Argh … dasar wanita bodoh," Yuna mengacak-acak rambutnya dengan kasar bak orang yang sedang frustasi. Ia merasa bahwa dirinya di kehidupan ini sangat lugu dan polos mungkin karena hal itu lah dia membuat kesalahan di kehidupan ini dan membuatnya harus kembali untuk memperbaikinya. "Nona, kau tidak punya banyak waktu untuk melamun seperti ini, sebaiknya kita segera bersiap, aku yakin kau tidak mau membuat Tuan besar merasa malu karena kau terlambat datang," ujar Eun Hye menarik tangan Nonanya untuk berdiri kembali dan bersiap-siap. Yuna berpikir sejenak setelah mendengar ucapan Eun Hye, kemudian dia berdiri dan menuruti perkataan Eun Hye. Tentu saja ia tidak ingin membuat malu keluarganya di kehidupan ini, jadi mau tak mau ia tetap harus pergi ke istana. Tak lama kemudian Yuna dan Eun Hye selesai bersiap-siap. Di halaman rumahnya telah tersedia tandu yang akan mereka gunakan untuk pergi ke istana dan beberapa orang untuk mengangkat tandu itu. "Apakah kita akan berangkat menggunakan ini?" tanya Yuna. Jiwanya yang kembali dari masa depan merasa sangat asing dengan tandu seperti itu. "Tentu saja, ayo Nona silahkan naik!" ujar Eun Hye sambil membukakan pintu tandu itu. Yuna masuk ke dalam tandu itu dengan sedikit kecemasan di hatinya, bagaimana jika ia pergi ke istana justru menambah kesalahannya di kehidupan ini dan membuatnya tidak akan pernah kembali ke masa depan. Pokoknya setelah aku sampai di istana aku juga akan memikirkan cara agar tidak hidup di sana, batin Yuna. "Nona tenang saja, Nona pasti melakukannya dengan baik," ujar Eun Hye sambil tersenyum dan menatap wajah Nonanya yang terlihat gugup. "Kau benar, aku pasti melakukannya dengan baik, lagipula aku tidak tahu apa kesalahan yang harus aku perbaiki jadi aku akan menjalankan kehidupan ini sesuai dengan keinginanku dan aku tidak akan membiarkan diriku hidup terkurung dan terkekang di istana karena itu hanya akan menambah kesalahanku," ujar Yuna. "Memperbaiki kesalahan? Setahu saya Nona tidak melakukan kesalahan apapun," Eun Hye menatap Yuna dengan penuh rasa bingung. "Tidak ada, lupakan saja! Karena kau tidak akan pernah memahami ini semua," ujar Yuna sambil tersenyum kecil. Sementara di gerbang istana terlihat tandu-tandu dari putri-putri bangsawan telah memasukinya. Para dayang-dayang senior pun telah berbaris rapi menyambut kedatangan mereka dan bersiap untuk memberi arahan kepada mereka. Wanita-wanita cantik berpenampilan elegan dan Anggun dengan hanbok yang mereka kenakan satu persatu turun dari tandu-tandu itu. Tak lama kemudian tandu Yuna memasuki gerbang istana. Setelah turun dari tandu itu Yuna pun langsung mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitarnya. Ia merasa takjub saat melihat ukiran-ukiran indah di setiap sudut istana itu. "Ayo Nona," ujar Eun Hye sambil membawa barang-barang Nonanya. Yuna melangkah dengan penuh percaya diri menuju tempat wanita bangsawan itu berkumpul walaupun sebenarnya ia tidak ingin bersaing dengan mereka semua dan merasa sedikit gugup untuk mendekati mereka. Ketika Yuna berjalan memasuki barisan wanita-wanita bangsawan itu, wanita bangsawan lainnya langsung menoleh ke arahnya, kecantikannya yang memukau bak berlian membuat para wanita bangsawan lainnya merasa takjub. Yuna berdiri tepat di barisan paling depan tepat di sebelah anak Menteri perang yang bernama Choi yujin. Wanita itu menatap Yuna dengan tatapan sinis seakan tidak suka dengan kehadiran Yuna. Yuna yang menyadari tatapan itu memilih acuh tak acuh. Ia paham betul bahwa wanita ini takut kalah saing dengan dirinya. "Apakah kau putri menteri pertahanan?" tanya wanita itu dengan sedikit nada jengkel. "Ya! Aku adalah putri menteri pertahanan Kim young, apa ada masalah?" ujar Yuna. Wanita itu tersenyum sinis, "aku dengar anak perdana menteri Kim young sangat anggun dan elegan, tapi keanggunan dan keeleganan itu tidak terlihat sama sekali di dalam dirimu," ujarnya ingin merendahkan Yuna. Yuna yang mendengar itu tertawa kecil. "Wouw! Ternyata rasa takut akan kalah saing membuat dirimu sangat jeli sehingga mengetahui hal yang berbeda dariku dengan begitu cepat. Tentu saja aku berbeda dari yang dirumorkan karena jiwaku baru saja kembali dari masa depan." Yuna tidak akan tinggal diam jika ada orang yang ingin merendahkannya. "Cih… dasar wanita aneh, omong kosong apa yang dia bicarakan." celetuk Yujin. Tentu saja Choi yujin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yuna. "Kau tidak perlu merasa tersaingi olehku karena aku sama sekali tidak berminat untuk bersaing denganmu, bahkan aku tidak memiliki minat untuk menjadi putri mahkota di istana ini. Hidup di istana yang terkekang adalah hal yang membosankan," ujar Yuna sambil menaikkan salah satu alisnya. Mendengar itu Choi Yujin hanya menatap Yuna dengan tatapan sinis dan angkuh. Namun, didalam hatinya terasa sedikit lega karena Yuna mengatakan ia tidak berminat untuk menjadi putri mahkota yang artinya saingan terbesarnya sudah tidak ada lagi. Sebenarnya Yuna adalah kandidat terkuat di dalam pemilihan ini karena selain dia anak dari menteri pertahanan dia juga merupakan kerabat dari Ratu, ditambah lagi dengan parasnya yang luar biasa. Itulah yang membuat Choi Yujin merasa tersaingi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD