Dini masih mengingat dengan jelas bagaimana senyum Reksa yang tidak biasa. Oh, jangan salahkan nalurinya sebagai penggemar jika tidak bisa membedakan mana senyum ramah sebagai bentuk rasa hormat dan mana yang menununjukan rasa ketertarikan. Dia bisa melihatnya, tatapan itu berbeda, senyum serta perlakuanya berbeda namun sayang obyek yang menerima bukan dirinya melainkan Ana, sahabat dekat yang menurutnya perempuan biasa yang tidak suka berdandan, mengikuti perkembangan fashion, memburu barang branded meskipun dia lebih memilih kualitas KW dibanding asli setidaknya ia merasa tidak ketinggalan gaya up to date.
Dan kenapa harus Ana, Dini membanting boneka banana miliknya dengan kasar hingga membentur pintu kamarnya. Ia tidak rela jika orang itu adalah Ana, meskipun statusnya adalah sahabat. Tapi masalah hati, Dini akan merebutnya meski dengan cara terkeji sekalipun. Ia merasa lebih pantas mendapat semua perlakuan manis Dokter Reksa dibanding perempuan biasa yang dianggapnya tidak standar mengimbangi seorang Reksa Hadi.
Malam yang harusnya ia habiskan untuk beristirahat karena esok ia harus berangkat pagi ternyata ia habiskan hanya untuk menyusun rencana merebut hati Reksa Hadi. Dan ia akan mendapatkanya, segera.
***
"Kenapa sih?" tanya Ana bingung melihat Radit yang membolak-balik sebuah buku di tanganya tanpa kesabaran sama sekali, masih duduk diatas motornya.
Radit menjemputnya seperti biasa dan lelaki itu menunggu di parkiran.
"Nyari bookmark" jawab Radit. Matanya tetap fokus pada lembaran halaman demi halaman hingga ia berhenti pada lembaran kesekian.
"Ah ketemu juga" desah lega Radit melihat apa yang dicarinya sudah ketemu. Disitu memang ada sebuah bookmark yang terbuat dari kertas origami dengan bentuk wajah kelinci. Ana ingin tertawa melihatnya mengingat Radit memakai pembatas buku dengan desain lucu dan berwarna kuning cerah sungguh bukan pilihan yang sesuai. Namun senyumnya hanya mampu ia tahan.
"Selera anak-anak banget" cibir Ana. Reksa mendengus dengan tuduhan tersebut.
"Ini punya keponakanku, ketinggalan didalam bukuku, ayo!" Ana segera memposisikan dirinya duduk dibelakang Radit. Motor melaju seperti kendaraan lain disekitarnya. Mendung mulai menggelayut membuat Ana sedikit khawatir jika hujan mengguyur sebelum sampai di rumah.
"Bawa jas hujan Dit?" Tanya Ana sedikit berteriak karena desau angin mengaburkan suara.
"Bawa" balas Radit juga berteriak.
Motor masih bergerak namun arah yang dituju bukan ke rumah Ana seperti biasa. "Loh Dit kemana nih kok lewat sini?" Tanya Ana bingung.
"Mampir ke sekolah keponakanku dulu Na, dia nangis nyariin bookmark nya" Sekolah keponakan Radit memang membagi jam masuknya menjadi dua bagian. Kelas satu sampai tiga masuk pagi hari pukul tujuh hingga pukul dua belas, sedangkan kelas empat sampai enam masuk dari pukul satu siang hingga lima sore. Jangan bayangkan pukul lima sore hari sudah hampir gelap, malahan masih terasa panas dengan sinar matahari yang seakan lambat merangkaki senja. Perbedaan waktu memang mempengaruhi hal ini.
"Ya udah tapi buruan keburu hujan" Radit mengangguk senang karena Ana tidak rewel sebagai penumpangnya.
Melewati satu lampu merah lagi, sudah sampai ke sekolah tersebut. Radit memarkirkan motornya didepan gerbang dengan Ana yang menungguinya sedangkan dirinta berjalan tergesa kearah pos satpam sekolah untuk meminta izin memasuki area sekolah. Namun dari gerakan Pak Satpam seakan menolak permintaan Radit entah karena apa. Melihat itu Ana menghampiri keduanya. Setelah menjelaskan alasan tidak diperkenankanya Radit masuk adalah karena ( KBM ) Kegiatan Belajar Mengajar tengan berlangsung.
"Ya udah deh Dit daripada ribut, mending titipin aja sama bapaknya. Yang penting barangnya bisa sampai ke orangnya" saran Ana yang kemudian diangguki pasrah oleh Radit setelah berpikir sejenak.
Setelah menyerahkan titipan kepada Satpam, keduanya bergegas pergi karena rintik hujan mulai turun. Sedikit melajukan motornya menembus jalanan yang mulai diiringi hujan, Radit tidak tega jika Ana harus basah.
"Kok berhenti Dit, hujan gini"
Radit mengeluarkan jas hujan dari dalam tas ransel yang dibawanya. Menyerahkan pada Ana untuk dipakai. Jas hujan nya bukan berbentuk kelelawar yang bisa digunakan untuk dua orang melainkan berbentuk jaket. Alhasil Ana memakai sendiri sedangkan Radit mengalah hanya berbalut jaket yang sedari awal memang sudah melekat di tubuhnya.
Awalnya Ana ragu dan tidak enak hati namun paksaan Radit yang mengancam akan menurunkan ditempat jika tidak mau mengenakan, membuat Ana buru-buru memakai sebelum bajunya benar-benar basah kuyup.
Hujan semakin deras membuat laju motor diperlambat karena arus air yang mulai menggenang, maklum karena kota ini dikelilingi sungai jadi saat hujan turun tak ubahnya Jakarta yang banjir, disini pun begitu.
Belum sampai ke rumah Ana, Radit menghentikan kembali motornya, lagi. Kali ini didepan warung nasi goreng. Dengan menurut, Ana mengikuti Radit melepas atribut berkendara dan berjalan masuk kedalam warung.
"Mau nasi goreng?" Ana mengangguk dan menambahkan segelas teh hangat pada pelayan. Keduanya duduk bersama beberapa orang yang terlihat juga sedang berteduh atau mungkin tengah duduk menunggu pesanan. Warung ini terlihat belum siap buka karena beberapa pelayan masih sibuk dengan kegiatan menata sayuran , mengangkat bakul nasi dari dalam dan beberapa orang lagi tengah memotong mentimun.
Hari masih sore, wajar saja jika warung nasi goreng seperti ini belum siap karena biasanya jadwal buka memang malam hari.
"Sorry Na, ngajak kamu ke sekolah ponakan jadi terlambat sampai rumah. Dan sekarang malah kehujanan" sesal Radit melihat wajah penumpangnya pucat karena dingin.
"Gak papa, yang penting kamu anterin aku sampai rumah dengan selamat"
"Sip, semoga gak kapok naik ojek ku" Mendengar itu Ana langsung tertawa geli. Seakan-akan Ana merasa kurang puas dengan pelayanan Rangga selama ini.
" Ngomong-ngomong, kamu tinggal dimana sih Dit"
"Deket sekolah tadi, kenapa?"
"Gak papa. Kalian tinggal serumah ya?" Tanya Ana penasaran mengingat barang kecil seperti pembatas buku saja bisa tertinggal didalam buku milik Radit.
"Iya aku tinggal sama mereka. Orang tuaku sudah meninggal saat kami tinggal di Jawa dulu, dan selama ini aku tinggal bersama Kakak perempuanku yang sudah menikah" ada raut kesedihan yang terpancar dari wajah Radit membuat Ana secara spontan mengusap punggung tangan Radit sambil meminta maaf sudah mengingat kesedihnya.
"Gak usah iba gitu, aku cowok Na, jadi masalah seperti ini aku kuat. Dasar korban sinetron" Ana merengut sebal dengan kekehan Radit. Apa salahnya dia berempati ikut sedih dengan keadaan keluarganya, malah dia mengejek.
"Eh kamu dulu tinggal di Jawa ya? Aku juga orang perantauan" menyadari Radit tadi mengatakan kalau dia dulu tinggal di Jawa membuantnya cukuo senang. Ternyata sama-sama orang perantauan.
"Di Surabaya, dulu aku sekolah disana" meskipun berbeda kota setidaknya Ana sudah cukup senang dengan kenyataan barusan.
"Kamu sendiri?" Tanya Radit balik.
"Dulu aku tinggal di Jawa juga, sama kakak dan kedua orang tuaku. Tapi semenjak Papa dapat proyek disini, kami ikut pindah juga kecuali kakak ku yang memilih tetap tinggal bersama Nenek di Kediri"
"Tuh mulai lagi sinetronya" cibir Radit mengomentari raut wajah Ana yang berubah sendu. Mendengar ejekan Radit lagi membuat Ana tanpa segan memukul kening Radit dengan sendok yang tersedia dalam sebuah gelas didepanya. Radit mengaduh namun tak dihiraukan Ana yang terlanjur kesal. Radit benar-benar merusak suasana.
Radit tersenyum dalam ringisanya. Ia senang perempuan dihadapnya terlihat kesal karena ulahnya.
Tidak berubah
Gumam Radit dalam hati masih memperhatikan Ana yang mengerucutkan bibirnya kesal.
Seorang pelayan datang membawakan dua gelas teh hangat dan disusuk seorang lagi dibelakangnya membawa nampan berisi dua piring nasi goreng.
Dingin membuat perut memang terasa lapar lebih cepat. Keduanya makan sambil bermain tebak-tebakan. Baik Radit maupun Ana tidak ada yang rela mengalah sehingga percekcokan kerap menyelingi suapan nasi goreng kedalam mulut masing-masing.
"Yang menang suapin yang kalah pakai sambal satu sendok" hukuman yang mereka tetapkan saat memulai permainan ini. Suara ribut keduanya tidak terdengar jelas karena letak kurai yang mereka tempati memang paling ujung. Dan bersyukurlah pada deras hujan yang lebih berisik dibanding suara keributan mereka.
Hingga skor akhir dihitung, Ana mendapat nilai lebih sedikit membuatnya lesu dengab kekalahan sedangkan Radit bertepuk tangan girang dengan kemenanganya.
Aturan tetap aturan, dan dengan pasrah Ana bersiap menerima suapan sambal dari sendok yang dipegang Radit.
"Langsung ditelen habis itu minum tehnya mumpung masih hangat" pesan Radit sebelum mulai dengan aksinya.
"Dit...." rajuk Ana berusaha meminta keringanan. Tapi dasar Radit, ia tidak mudah luluh dengan rengekan Ana. Dan dengan memejamkan mata, Ana menerima suapan dari sendok Radit. Begitu masuk menyentuh lidah berlanjut pada tenggorokan, seketika mata Ana melotot lebar. Dengan gerakan cepat tanganya meraih gelas miliknya yang hampir habis dan meneguk isinya. Rasa pedas bercampur hangat membuat perpaduan luar biasa didalam mulut.
"Nih" Radit menyodorkan gelas miliknya karena melihat gelas milik Ana sudah habis tandas tanpa sisa. Ana meraih cepat dan meneguknya tandas pula.
"Ck, haus apa doyan sih" decak Radit melihat dua gelas teh sudah lolos didalam mulut perempuan dihadapanya yang tengah berlinangan air mata.
" Aku baik kan mau jadi tukang lap keringet mu" Bangga Radit yang tanpa ia duga tanganya terulur mengambil tissue kemudian menghapus buliran keringat yang memenuhi dahi dan menetes hingga ke pipi. Wajah yang tadinya pucat karena dingin hujan berganti merah membara dalam linangan air mata dan keringat. Radit benar-benar ingin tertawa melihat Ana yang membuka mulutnya seakan menghembus keluarkan udara panas dalam mulut sambil mengipas-ngipaskan telapak tangan didepan wajah.
Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan keduanya dengan senyum yang terukir sedari tadi. Tersenyum melihat kedua anak manusia saling menghibur dalam dinginya hari yang beranjak semakin pekat.
***
"Maaf Dok, Ibu menunggu di ruangan anda" suara Rena, perawat yang berjaga siang ini.
"Baik, terima kasih" Balas Reksa tetap menampilkan senyum ramahnya. Rena yang mendapat senyuman itupun tersipu malu.
Selesai melihat kondisi pasiennya, segera ia melangkah menuju ruanganya. Disana sudah duduk dengan kepala tegak, wanita yang melahirkanya membelakangi pintu.
"Ada angin apa Mama datang kesini?" Tanya Reksa seraya memposisikan dirinya duduk mengahadap Monica.
"Tidak ada aturan untuk Mama datang kesini, kapanpun" jawab Monica pongah.
"Baiklah" Reksa memilih tidak ingin banyak bicara.
"Mama dengar kamu sedang dekat dengan perempuan" Reksa menghela nafas berat. Mamanya selalu ikut campur urusan pribadinya.
"Jangan dianggap gosip murahan seperti itu" Reksa menyanggah meskipun kenyataanya ia memang sedang mengejar seorang gadis.
"Hanya mengingatkan bagaimana standar keluarga kita sebelum semuanya terlambat" Ditekankan kalimatnya seakan memberi peringatan keras untuk Reksa.
Tanpa banyak kata lagi, Monica beranjak keluar dari ruangan anaknya tanpa melihat lagi kearah Reksa.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tersenyum mendengar percakapan ibu dan anak didalam ruangan yang tidak tertutup sempurna.
-----------------------------------------------