Diam.
Hal itulah yang kini dilakukan keduanya didalam mobil milik Reksa. Baik Ana mapun Reksa tidak ada yang mencoba membuka suara. Bukan karena rasa segan, karena keduanya semakin hari mulai terbiasa dengan efek perkenalan tempo hari. Bagi Ana, Reksa memang terlihat pendiam namun jika dapat memancing percakapan seru, seorang Dokter tampan disampingnya dapat menjelma sebagai teman berbincang yang menyenangkan.
"Rumahmu sebelah mana Na?" Tanya Reksa pada akhirnya karena sedari tadi ia juga merasa bingung kemana mobilnya melaju, meskipun Ana sudah memberikan petunjuk sebuah jalan namun tetap saja ia merasa bingung pasalnya di jalan yang disebutkan Ana banyak sekali gang masuk.
"Oh itu gang keluarga" jawab Ana sambil menunjuk sebuah papan jalan yang sudah terlihat meski tulusanya samar karena malam hari.
"Hem" Dehem Reksa mengerti kemudian mulai melambatkan laju mobilnya ketika mendekati gang masuk rumah Ana.
Gang tersebut memang cukup untuk satu mobil untuk masuk sehingga Reksa memaksa Ana mengizinkan mengantarnya hingga ke depan rumah meskipun Ana sudah menolak dengan halus.
Sesampai di depan rumah, Ana mengucapkan terima kasih sebelum membuka pintu mobil. Turun kemudian melambai pada Reksa yang duduk di dalam mobilnya.
"Hati-hati" Pesan Ana yang diangguki Reksa. Menutup kembali kaca mobil dan melesat perlahan meninggalkan Ana yang masih melambai di depan rumahnya.
***
"Diantar siapa Na, sepertinya Mama dengar suara mobil tadi?" tanya Rima saat melihat anaknya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Oh tadi memang ada mobik kok Ma, temen nganterin pulang" jelas Ana sambil lalu meninggalkan Mamanya yang terlihat mulai khawatir.
Gadis itu berbeda, tentu saja dia lebih bisa menjaga dirinya sendiri.
Rima membatin dalam hati menepis kekhawatiran yang sempat menelusup benaknya.
Rima lebih tahu sifat kedua anaknya mengingat dialah orang tua yang melahirkan kedua putri yang amat disayanginya, meski kedua putri itu tidak tinggal dalam satu rumah. Ana tinggal bersama dirinya dan Hendra di tanah perantauan, pulau Kalimantan karena sebuah proyek bangunan real estate yang tengah dikerjakan Hendra mengakibatkan mereka harus pindah ke tanah Borneo tersebut. Sedanglan Ani, putri sulungnya yang usianya hanya berjarak dua tahun dengan adiknya memilih tetap tinggal di Pulau Jawa, tepatya di Kota Tahu Kediri.
Sebuah kota kecil yang menjadi kenangan masa kecil Rima dan masa dimana ia melahirkan kedua putrinya dengan penuh perjuangan. Ani, memilih tinggal bersama Neneknya di kota tersebut daripada ikut merantau bersama kedua orang tuanya dan adik semata wayang yang amat dicintai.
"Ma, kok melamun?" Tegur Hendra yang berjalan mendekati istrinya.
"Loh Pa, kapan pulang kok Mama gak denger" heran Rima melihat suaminya tiba-tiba sudah berdiri disampingnya.
"Papa tadi udah salam, teriak juga tapi Mama gak denger. Lagian Mama ngapain melamun sambil lihat tangga?" Rima menggaruk rambutnya yang tidak gatal mendengar sindiran suaminya yang memang benar adanya. Meakipun bukan tangganya yang menjadi obyek lamunanya melainkan orang yang baru saja melintasi anak tangga tersebut.
"Maaf ya Pa, sini Mama bawain tasnya" Rima segera meraih tas kerja suaminya dan berjalan ke belakang mengambilkan minum.
Segelas air putih diserahkan kepada suaminya yang duduk di sofa ruang tamu seraya melepas kancing kemeja di pergelangan tangan
"Makasih" ucap Hendra tulus pada Rima kemudian meneguknya tanpa sisa menandakan ia benar-benar haus membuat Rima mengulum senyum.
"Pa, Ana tadi diantar temanya pakai mobil" Hendra menoleh kearah istrinya.
"Laki apa perempuan?" Tanya Hedra seraya tanganya meletakan gelas kosong diatas meja.
"Belum tahu, tapi kemungkinan besar laki-laki" tuduh Rima begitu yakin.
"Jangan terlalu curiga dulu, kita tahu dia berbeda dengan Ani" sahut Hendra cepat melihat raut khawatir dari istrinya.
"Semoga tidak terulang lagi Pa" Hendra meraih istrinya kedalam rengkuhan dadanya. Ia tahu betapa istrinya amat khawatir jika berhubungan dengan seorang laki-laki. Namun sedapat mungkin keduanya meyakinkan diri bahwa Ana, memang berbeda dan terlihat jauh lebih menjaga jarak dengan kaum lelaki mengingat Ana tidak pernah membawa atau keluar dengan teman lelaki selama ini.
***
Di dalam kamar, Ana berbaring menatap langit-langit kamarnya. Hari ini lelah tapi menyenangkan. Bertemu dengan malaikat penolongnya yang berwujud sopir ojek dan malaikat berhati baik berwujud seorang Dokter.
Mengingat malaikat dalam harinya tadi, Ana langsung meloncat bangun dari tempat tidurnya. Ditumpahkan isi tas selempang yang dibawanya seharian ini untuk mencari sebuah kartu nama. Dibacanya sekali lagi nama yang tertera lebih besar dibanding tulisan lain.
Raditya P
Dilihatnya lagi tulisan dibawah nama tersebut dan meraih ponsel kemudian mengetikan nomor dan nama yang tertera di kartu nama tersebut dalam kontak ponselnya.
Setelahnya ia menekan icon bergambar telepon menandakan riwayat panggilan pada ponselnya, Ana mencari panggilan masuk dengan nomor baru dan menyimpanya pula.
Dua malaikatnya sudah berkumpul dalam memori sim card miliknya. Ana tersenyum girang, dia senang mendapatkan teman baru. Semenjak Dini mulai bekerja, dia merasa jarang bertemu dan bermain bersama lagi meskipun masih bisa dilakukan namun tidak sesering dulu mengingat Ana yang sibuk dengan tugas akhir sedangkan Dini dengan pekerjaanya.
Ana menyimpan ponselnya disamping bantalnya kemudian ia mulai memejamkan mata untuk tidur. Hari melelahkan ini harus segera diakhiri. Bersama malam yang pekat menyelimuti ditambah terang rembulan yang samar mengintip lewat celah cendela, membuai Ana semakin terlelap karena esok ia akan disibukan oleh dua malaikatnya, lagi.
***
"Aku tepat waktu kan?" Tanya Radit seraya membuka kaca helmnya menatap Ana yang berdiri disampingnya.
"Tepat sekali malah lebih cepat sepuluh detik, hehehe" Kekeh Ana geli melihat Radit yang sedikit kesal membawa motornya.
Tadi saat subuh, Ana mengirimkan pesan singkat ke nomor Radit agar hari ini ia mengantar dan menjemput ke Bank tempat dia melakukan penelitian. Terlalu dini memang waktu yang dipilih Ana untuk memesan ojek Radit, namun Ana berpikir jika tidak cepat-cepat maka kemungkinan Radit menerima pelanggan lain lebih besar. Maka dari itu sebelum pelanggan lain memesan jasa Radit, ia lebih dulu yang memesan.
"Kenapa gak malem aja sekalian pesenya, subuh-subuh udah ganggu tidurku aja" gerutu Radit. Terang saja Radit kesal, sejak subuh ponselnya berbunyi terus menerus karena deretan sms dari gadis yang baru mentraktirnya kemaren tak berhenti. Sebenarnya bisa saja ia mematikan ponsel dan selesai masalah gangguan pagi harinya. Namun, ponsel itu adalah satu-satunya pengingat alias pengganti jam weker. Radit memang terbiasa tidur lagi setelah subuh sebelum berangkat kerja. Jika ponselnya dimatikan, tidak ada pengingat yang membangunkanya.
Meski sudah diubah mode getar, tetap saja getaranya membuat telinga geli. Sekali Ana mengiriminya pesan, sepuluh pesan berikutnya segera menyusul.
"Makanya dibalas dong pesanku biar gak digantungin, bisa gak order hari ini"
"Ya udah buruan naik" Radit memilih diam saja mendengar alasan Ana.
Macet memang tak terhindarkan namun kelebihan motor untuk menyelinap tidak perlu diragukan terlebih bagi Radit yang sudah terbiasa dengan jalan tikus yang setiap hari dilaluinya.
Tak berapa lama Ana sampai di depan Bank tujuanya. Suasana masih terlihat sepi karena jam pelayanan masih setengah jam lagi dibuka.
"Jam berapa nanti?" Tanya Radit seraya menerima helm dari tangan Ana.
"Agak sore mungkin, ntar aku sms aja kalau mau pulang" Jawab Ana sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan karena tiupan angin sepanjang jalan tadi dan mematutnya di spion motor Radit.
"Gak usah lama-lama ntar kacanya pecah" tegur Radit sedikit berlagak kesal.
"Halah numpang bentar aja pelit amat, aku gak bawa bedak jadi kalau memastikan udah rapi apa belum cuma bisa numpang disini" Jelas Ana tanpa mengalihkan tatapanya dari spion.
Bukan masalah bedaknya luntur apa tidak, tapi rambutnya berantakan atau tidak mengingat dia sedang berada di lingkungan yang mewajibkan penampilan rapi serta kegiatanya disini yang bukan sekedar sebagai pengunjung melainkan untuk bertemu dan berhadapan dengan seorang Manajer untuk membantunya melakukan wawancara hari ini.
Gadis aneh.
Batin Radit melihat tingkah teman barunya yang terlihat santai mematut penampilanya tanpa sungkan. Dan apa dia bilang tadi? Tidak punya bedak? Radit sering bertemu dengan gadis yang berbeda tiap hari dan tidak ada satu gadis pun yang melewatkan alat make up sebagai barang wajib dalam tasnya. Mengingat saat di halte pun banyak perempuan yang membenahi bedak atau lipstik setelah turun atau sebelum naik kendaraan.
"Oke udah rapi, aku masuk dulu Dit, dan bayarnya digabung aja ya ntar" Ana melangakah sedikit dipercepat meninggalkan Radit yang masih keheranan.
***
D. Reksa
Dimana?
Ariana
Lagi di jalan naik motor
D. Reksa
Darimana naik motor?
Ariana
Naik ojek baru pulang dari Bank.
Lama tidak melihat balasan sms dari Reksa membuat Ana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Jika masih sibuk mengetik, ia sangsi pada keselamatanya karena saat ini Ana tengah duduk dengan posisi miring di atas motor Radit yang tengah menembus gang sempit agar terhindar dari penyakit lalu lintas.
"Jangan ditarik Na!" Pekik Radit kaget karena Ana menarik ujung jaketnya saat dirinya tiba-tiba mengerem mendadak karenw seekor kucing hamil dengan santai tanpa dosa melintas di tengah jalan membuat Radit buru-buru berhenti sebelum kecelakaan naas terjadi.
"Reflek Dit, lagian kamu juga remnya mendadak"
"Ada kucing lewat tadi, lagi hamil tua juga. Kasihan kalau ketabrak, bapaknya nyariin istri sama calon anaknya" mendengar lelucon Radit membuat Ana terpingkal sambil menepuk-nepuk punggung Radit.
"Emang bapaknya peduli? Sok tahu amat, apa jangan-jangan kamu yang hamilin tuh kucing?" Balas Ana membuat gurauan.
"Enak aja, aku masih suka manusia Na" kesal Radit dengan gurauan sekaligus tuduhan Ana.
"Ya udah lanjut jalanya. Eh Dit, mampir ke Tepian dulu bentar"
"Ngapain?"
"Beli tahu tek pesenan Mama" Radit mengangguk dan melanjutkan perjalananya menuju tujuan berikutnya.
Sesampai di Tepian, julukan sebuah tempat bagi masayarakat Samarimda untuk menghabiskan waktu malam bersama sahabat, kekasih maupun sahabat. Banyak penjual makanan yang berjejer rapi mulai sore hari seperti saat ini. Tempat tersebut berhadapan dengan megahnya Kantor Guberbur Kalimantan Timur serta berada di tepian Sungai Mahakam yang dikenal sebagai jalur transportasi batu bara.
"Kita makan sekalian gimana?"tawar Radit begitu melihat tahu yang digoreng, lontong dipotong menjadi lebih kecil serta suara gesekan cobek saat meramu bumbu seketika menimbulkan rasa lapar di perut Radit.
"Iya deh, aku lapar juga" Ana ternyata merasakan hal yang sama terlebih saat harum petis berpadu kacang tanah dan bawang putih membuat air liurnya seakan hendak menetes.
Ana hendak duduk di kursi plastik berwarna biru namun Radit segera menunjuk tempat duduk buatan semen yang sengaja dibangun untuk pengunjung tak jauh dari penjual Tahu Tek, tengah kosong. Ana mengikuti Radit berjalan dan duduk terlebih dulu sementara Radit membeli minuman botol untuk keduanya.
Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang, tanpa ragu keduanya menikmati suapan demi suapan dari tahu goreng setengah matang, lontong serta sayuran yang berlumuran bumbu kacang dengan lahap. Keduanya terlalu lapar hingga nyaris tanpa perbincangan saat kegiatan makan berlangsung.
Di dalam mobil yang berhentk tak jauh dari tempat Radit dan Ana menikmati makananya, seseorang tengah memperhatikan dengan seksama. Perasaan asing tiba-tiba menggelitik hatinya saat melihat keduanya terlihat begitu akrab disana.
---------------------------------------