"Adakah kenangan denganya yang masih Mbak simpan?"
"Selembar foto agar Mbak bisa mengingat wajahnya dan jika suatu hari kami bertemu, Mbak akan bilang padanya bahwa Mbak masih kuat meskipun sudah dihancurkan olehnya"
Masih segar dalam ingatan Ana kalimat yang pernah diucapkan oleh kakaknya mengenai laki-laki tak tahu diri itu. Dan setelah melihat foto Radit yang diletakan di halaman paling akhir dari semua deretan foto kakaknya, serta pose yang ditampilkan menunjukan lebih dari kata akrab membuat Ana semakin menduga-duga. Apakah orang itu adalah Radit?
Lalu bagaimana bisa kakaknya dan Radit bertemu?
Tapi respon orang tuanya saat Radit mengantar jemputnya selama ini juga tidak menunjukan tanda penolakan. Apa memang karena wajah laki-laki itu tidak pernah diketahui oleh Mama dan Papa sehingga tidak tahu jika Radit lah yang selama ini telah menghancurkan masa depan anaknya?
Jika Radit mengenal Ani, berarti selama ini dia pun sudah mengenalnya sebagai adik korbanya dulu?
Tapi bukanya Radit memang pernah tinggal di Surabaya seperti katanya dulu ? Berarti itu benar.
Berbagai macam pertanyaan dan dugaan berseliweran didalam otak Ana setelah semalam ia melihat foto kakaknya bersama Radit dalam pose yang mendekati kata mesra.
" Melamun saja dari tadi, sini bantu pecahin telurnya" Tegur Ani melihat adiknya yang sejak tadi melamun didepan adonan kue.
"Mbak..." panggilnya pada Ani. "Hem, kenapa?" Sahut kakaknya.
"Gak jadi deh" diurungkan niatnya bertanya perihal foto semalam.
"Jangan banyak melamun Dek, masih pagi ini" tegur Ani lagi yang melihat adiknya masih melanjutkan aksi melamunya.
Pagi ini ada pesanan kue untuk arisan. Berhubung karyawan lain tengah menyiapkan nasi kotak pesanan dari salah satu warga untuk acara peresmian rumah sehingga akan sangat sibuk, maka Ana membantu kakaknya mengerjakan kue dari ibu-ibu arisan. Namun bukanya membantu malah membuat Ani geleng-geleng kepala karena lebih banyak ditegur daripada Ana bertanya rangkaian membuat adonanya.
"Kamu belum ditelepon sama Wira ya kok jadi lemes begini?" Goda Ana yang dibalas rengutan kesal dari Ana.
"Gak ada hubunganya Mbak"
"Ya siapa tahu aja sarapanya kurang bergizi kalau Wira belum telepon" Ani mengucapkanya seraya melarikan diri sebelum dirinya dilempar telur oleh adiknya yang kesal ia goda.
Setelah berjibaku dengan adonan kue bolu , Ana membantu membungkus lemper yang sudah dibentuk kotak dengan ujung-ujungnya bulat kedalam lipatan daun pisang. Hari ini terlihat saat sibuk sama seperti kemaren. Namun bedanya kemaren memasak seperti saat ini untuk acara keluarga sendiri sedangkan hari ini untuk acara orang lain.
**************************
"Dari mana Ma kok bawa bungkusan banyak kayak gitu?" Tanya Ana begiti melihat Rima masuk kedalam rumah sambil membawa palstik hitam berisi bungkusan dari kertas minyak dalam ukuran agak kecil.
"Oh ini punten. Tadi Mama beli pas jalan sama Papa. Nih bagiin ke yang lain" Meski ia ingin segera membuka bungkusan tersebut dan memasukan kedalam perut begitu tahu itu adalah salah satu makanan yang dirindukanya, tapi tugas membagikan jauh lebih harus didahulukan sebelum Mamanya mengomel tanpa henti dengan berbagai alasan jika berhubungan dengan makanan. Nanti keburu dingin lah, keburu krupuknya gak renyah lagi, nanti gak kemakan kalau gak buru-buru dikasih atau Mama akan merasa makanan yang dibawanya tidak enak karena tidak segera disantap.
Begitulah segala macam asumsi jika makanan yang dibawa oleh Mama nya tidak segera dinikmati alias dihabiskan secepat mungkin.
Ana segera berjalan kearah dapur tempat beberapa karyawan tengah sibuk memotong sayuran, mencuci peralatan masak, menggoreng dan menanak nasi untuk menyerahkan plastik hitam berisi bungkusan punten.
"Mbak... Mas... ini dimakan dulu keburu gak enak nanti sambalnya" teriak Ana seolah menginterupsi agar segera menghabiskan makanan yang dibawanya. Dengan anggukan dari Ani, mereka semua segera meninggalkan kegiatanya sejenak untuk mengambil kemudian membagikan ke yang lain. Menikmati dengan mulut sambil tanganya tetap bekerja karena waktu sedikit saja sangat berharga. Bahkan waktu sedikit juga dapat mengubah segalanya seperti saat menggoreng, telat sedikit mengangkat akan berakibat pada warna yang sedikit gelap dan tekstur lebih keras.
***********************
Tiga hari di kampung halaman rasanya sangat tidak cukup. Namun rutinitas pekerjaan memang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Terutama bagi Hendra yang harus mengawasi kegiatan proyeknya secara langsung dapat berimbas pada kinerja bawahanya yang kadang hanya terlihat disiplin saat diawasi bukan karena rasa tanggung jawab yang diemban.
Hari ini adalah hari kepulangan mereka bertiga ke Samarinda. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akibat pesawat delay dua jam, akhirnya dengan penuh rasa letih yang mendera mereka tiba juga di rumah tepat pukul satu dini hari. Setelah bebersih yang ada di badan dan makan seadanya di dalam persediaan di lemari es, ketiganya mulai melepas penatnya dua setengah jam kemudian.
Dan paginya meskipun masih didera rasa capek, namun Hendra tetap berangkat kerja sedangkan Ana dan Rima bekerja sama membersihkan rumah yang selama tiga hari ditinggalkan penghuninya.
Selesai membersihkan rumah, Ana kembali ke kamar dan mulai membuka laptop melihat revisi yang dikerjakanya sebelum pulang ke kampung halaman sampai malam di kampus waktu itu. Menelitinya bekali-kali dan sedikit membenahi apa yang dirasa janggal kemudian bersiap mencetaknya melalui mesin print out di kamarnya.
Baru saja ia akan memasukan tunpukan kertas , panggilan dari Wira menghentikan kegiatanya. Melihat nama Wira berkedip-kedip di layar ponselnya, segera ia melemparkan diri diatas ranjang mencari posisi tengkurap untuk menikmati obrolan dengan laki-laki itu.
"Hallo Dek" sapa Wira dari seberang. Sejak selesai acara lamaran kakaknya, Wira memanggilnya dengan sebutan 'Dek' padanya. Meskipun Ana sempat protes karena panggilanya sama dengan saat Ani memanggil dirinya toh pada akhirnya suara Wira terasa berbeda memanggil namanya dengan saat Ani menyebutnya. Karena baginya suara Wira jauh terdengar lebih lembut, merdu dan tiba-tiba saja Ana merasa sangat berlebihan jika berhubungan dengan Wira.
"Hallo juga, tumben baru telepon"
"Pengenya subuh tadi telepon biar bisa denger dengkuran kamu tapi aku kasihan nanti handphone nya basah kalau terlalu lama kamu buat bantal"
"Basah kenapa?"
"Ya kena iler Adek, mungkin"
"Ish selalu begitu"
"Maaf kalau keterlaluan bercandanya"
"Kenapa sering sekali meminta maaf sih, gak salah juga kok"
"Tidak harus saat melakukan kesalahan saja kita meminta maaf Dek, seperti halnya tidak semua kata terima kasih diucapkan saat mendapat kebahagian. Semuanya lebih dari itu"
"Ya, baiklah. Selalu berasa sedang telewicara dengan Mario Teguh deh"
"Hem, kalau denganku lebih dari sekedar Mario Teguh, Dek"
Itulah sekelumit obrolan ringan yang membuat keduanya kian merasa dekat dan saling membutuhkan kehadiran masing-masing meskipun sekedar via text atau suara saja.
"Masih belum selesai revisinya?"
"Tinggal print out saja tapi keburu ada telepon dari Pak Prawira"
"Ya udah dilanjut aja biar cepat selesai"
"Iya, mau ke kampus juga besok"
Obrolan itupun berhenti kemudian. Ana kembali melanjutkan kegiatanya sedangkan Wira disana juga tengah sibuk melanjutkan membaca tumpukan kertas laporan keuangan dari bengkel miliknya.
Esok harinya Ana sudah siap dengan map tebal berisi hasil revisi yang akan ia serahkan kembali hari ini. Setelah memastikan kemaren bahwa dosenya tersebut ada waktu bertemu hari ini namun hanya sampai jam sembilan saja membuat dirinya tergopoh-gopoh menuruni anak tangga.
Sesampai di meja makan,Hendra dan Rima yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala saat anaknya makan dengan terburu-buru.
"Pa, Aku bawa motor sendiri ya?" Pinta Ana yang membuat alis Hendra terangakat.
"Kenapa gak naik ojek yang biasanya?"
"Lagi ada penumpang lain Pa, please Pa aku terlambat nanti"
"Boleh asal hati-hati. Apalagi kamu sedang terburu-buru begini harua lebih hati-hati lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa kayak kemaren, Papa langsung jual motor kamu" pesan sekaligus ancaman untuk Ana. Setelah menyelesaikan sepiring nasi kuning, segera ia menyalakan mesin motor yang selama ini cuma ia panasi sejenak karena jarang dipakai. Setelah cukup pemanasanya, Ana segera melesat pergi ke kampusnya.
Inilah pilihan terbaik saat ini sebelum semuanya terbukti. Akibat melihat foto Radit bersama kakaknya tempo hari membuat Ana memutuskan menjaga jarak dengan Radit, menghindari segala macam yang berhubungan tentangnya terlebih mengantar jemput seperti yang dilakukan selama ini. Ana masih menerka apa tujuan Radit menerimanya menjadi penumpang langganan jika dia tahu bahwa orang yang dihancurkan dulu adalah kakaknya. Mendekati untuk menghancurkanya pula atau karena ingin meminta maaf pada keluarganya karena sudah membuat anak sulung mereka mengalami trauma yang mendalam.
Ana masih belum tahu apa motif sebenarnya Radit. Dan sebelum ia tahu semuanya ia akan menjaga jarak untuk sementara waktu.
Sesampai di kampus, Ana segera memarkirkan motornya kemudian sedikit berlari menuju ruang dosenya takut beliau sudah bersiap akan pergi. Begitu sampai, ia langsung duduk menghadap seraya menyerahkan tumpukan kertas di dalam map nya.
Hanya sedikit yang masih perlu dibenahi selebihnya sudah bagus, itu menurut dosenya barusan. Betapa leganya ia karena usahanya mencapai target akan segera terlaksana. Setelah keluar dari ruang dosen tersebut ia melanjutkan langkah menuju ruangan dosen di rungan sebelah yang tak lain adalah pembimbing keduanya.
Setiap mahasiswa yang menyelesaikan skripsi akan didampingi oleh dua orang pembimbing, utama dan pendamping. Biasanya jika pembimbing pertama sudah berkata 'iya' maka pembimbing kedua akan bersikap sama hanya sedikit akan memberikan tambahan untuk pembenahan.
Selesai mendatangi dosen pembimbing duanya dan keluar ruangan dengan senyum yang terpancar tanpa henti, ia memacu motornya menuju salah satu toko kain yang terkenal bagus dan harganya lebih miring.
Sebenarnya bukan hendak membeli kain, melainkan menikmati bakso yang dikenal sangat ramai yang letaknya tepat dihadapan toko kain tersebut. Hatinya begitu gembira dan ingin merayakan dengan makan bakso berkuah pedas kesukaanya.
Sesampai disana, ia hampir tidak mendapatkan kurai karena begitu banyaknya pelanggan yang memenuhi. Ramainya antrian membuatnya harus bersabar.
Dan saat dilanda jenuh menunggu pesanan datang, matanya menangkap sosok yang dihindari saat ini tengah memilih kain kerudung kemudian mencoba dipaskan di kepala perempuan disampingnya dengan telaten seakan ia ingin memilih kerudung terbaik untuk perempuan tersebut.
Batinya bergejolak, mungkinkah laki-laki yang begitu menyayangi saudara perempuanya, yang dengan penuh kasih memilihkan kerudung itu adalah orang yang tega menghancurkan masa depan Ani, kakaknya?
Dan ia ingin memastikan sesuatu, segera. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja dan menghubungi seseorang diseberang sana.
-----------------------------------------------