Malam ini Zeeya dan Serly sedang berbincang, tentu setelah Nayra dan Rainer terlelap.
"Jadi, kamu benar mau kerja di tempat Kak Raffa. Kenapa tidak di toko kueku saja?" tanya Serly.
"Mas Raffa yang ngajak aku, Kak. Katanya sekalian mengawasi aku." Sebenarnya Zeeya merasa jika kerja di tempat Serly pasti lebih enak, tapi dia mau memberikan hadiah untuk Serly sekeluarga, tidak mungkin uangnya dari Serly juga, walau hasil bekerja, lebih baik kerja di tempat Raffa pikirnya.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu, tapi Zee dulu kamu benaran tidak kenal dengan Kak Raffa?" Serly berpikir Zeeya dan Raffa memiliki kedekatan yang agak aneh. Bisa jadi di kehidupan dahulu memang saling kenal.
Zeeya tampak berpikir siapa tahu dia lupa, tapi benar ia tak mengingat wajah Raffa di kehidupan lamanya. Zeeya pun menggeleng menandakan dia tak kenal Raffa sebelumnya. Serly sebenarnya heran, dia masih berpikir Zeeya dan Raffa saling kenal di kehidupan lama.
"Ya sudah istirahat gih. Eh, makasih ya tadi udah bantu Wulan dan Kak Danish. Kalau nggak ada kamu tambah panjang pasti masalahnya."
"Gak perlu sungkan, Kak. Aku malah senang bisa bantu."
Serly tersenyum, Zeeya memang gadis yang sangat baik. Entah jika Zeeya yang asli di kehidupan ini.
"Aku pamit ya, Zee."
"Iya, Kak. Selamat beristirahat."
Serly menuju kamarnya, tampak Aldo sedang bersandar di tepi ranjang sambil melihat tablet miliknya.
Rainer sudah tertidur di ranjang miliknya sendiri yang juga cukup luas.
Serly naik ke tempat tidur langsung memeluk Aldo dari samping, mengecup sayang pipi suaminya. Aldo pun sama mengecup pucuk kepala Serly.
"Sudah ngobrolnya?"
"Iya, Mas. Ehmm mulai Senin, Zee mau kerja di tempat kak Raffa." Serly memberitahu Aldo.
"Oh, ya. Aku sempat heran loh dengan sifat Raffa dan Zee, walaupun Raffa tampak dingin dia terlihat perhatian pada Zee, begitu juga Zee yang justru kelihatan akrab. Kalau dilihat memang Zee tipikal orang yang sok dekat sih."
“Aku sudah nanya apa dulu dia kenal Kak Raffa, tapi Zee bilang tidak kenal. Apa menurut Mas kasus ini bisa dipecahkan dan bukan Zee pelakunya? Kasihan Zee, dia baik banget." Serly menanyakan kerisauan hatinya.
"Kamu harus percaya kebenaran itu pasti terungkap dan semoga bukan Zee pelakunya." Serly mengangguk.
Dia melihat tablet Aldo yang menampilkan grup chat suaminya yaitu F4.
"Ramai banget Mas grupnya, memang lagi bahas apa?"
"Biasa si Danish heboh masalah tadi, terus juga bilang kalau kamu punya teman paranormal. Eh, tapi dia sengaja enggak ngasih tahu kalau Zee tersangka pembunuh istri Raffa. Kalau dia bilang pasti tambah heboh."
"Syukurlah makin banyak yang tahu 'kan kasihan Zee, dituduh psikopat terus. By the way Zee benar-benar bisa melihat seperti itu ya, Mas?"
"Iya awalnya Mas juga percaya tidak percaya, walau Zee sering menunjukkan tiba-tiba tahu sesuatu, tapi tadi terlihat sekali kemampuannya. Aneh memang, tapi Zeelah penyelamat Danish hari ini."
"Untunglah Wulan juga tidak apa-apa. Makanya aku bersyukur ada Zee. Di dunia ini memang banyak yang aneh Mas. Kayak ada misterinya. Aku takut pembunuhan istri Kak Raffa, ada unsur diluar nalar. Gimana bisa mengungkapkannya kalau gitu?"
"Jangan sampai ya, Sayang." Serly mengangguk.
Pillow talk Serly dan Aldo kali ini di isi dengan percakapan tentang kasus Zeeya dan Raffa.
"Mas badan aku juga merasa aneh deh?"
"Kenapa Sayang, kamu sakit?"
Serly menggeleng, memajukan bibirnya. "Badan aku kalau lagi berduaan sama Mas Aldo rasanya gerah pingin buka baju ...," ungkapnya manja, sambil perlahan membuka kancing piyamanya.
Aldo terkekeh geli, ada-ada saja kode dari istrinya. "Nakal banget." Aldo mencium bibir merah muda milik wanita yang amat ia cintai, menindih tubuh kecil Serly, tidak lupa menyelimuti mereka berdua. Aldo pun dengan cepat melepas pakaiannya dan pakaian Serly dalam selimut.
"Kamu tambah seksi, Sayang," ungkap Aldo di tengah percintaan mereka. Serly tak menjawab, wajahnya tampak merona, desahan pelan keluar dari bibirnya. Dia benar-benar menikmati saat Aldo menaburkan benih cintanya. Serly merasa sangat dicintai.
"I love you."
"love you too."
Mereka tertidur dalam selimut setelah menikmati beberapa kali pelepasan.
***
Senin pagi, sang surya mulai menampakkan cahayanya, putra bungsu Aldo dan Serly juga mulai terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan sekeliling mencari keberadaan orang tuanya yang tak tampak batang hidungnya sama sekali.
"Ma-ma-ma-pa-pa-pa!" Rainer segera memanggil mama serta papanya.
Serly dan Aldo yang sedang mandi bersama bergegas menyelesaikan mandinya. Mereka menggunakan baju handuk dan segera keluar dari kamar mandi. Takut jika putra kecil mereka menangis.
"Eh, Ain sayangnya mama papa sudah bangun. Yuk mandi biar wangi." Rainer pun yang sudah terduduk merentangkan tangannya.
"Lucu banget sih jagoan papa." Aldo mengecup sayang kepala sang putra kecil.
Serly membawa Rainer mandi dan Aldo bersiap untuk berangkat ke kantor.
Setelah Rainer beres mandi giliran Nayra yang dibangunkan dan Serly mengawasi putri kecilnya itu mandi. Nayra sudah bisa mandi sendiri, tapi masih perlu pengawasan Serly.
Keluarga mereka turun bersama untuk menikmati sarapan. Terlihat Mama Nita dan Zeeya sedang bercengkerama di meja makan.
"Keluarga kak Aldo memang potret keluarga yang bahagia ya, Ma. Kapan ya aku bisa punya keluarga kecil seperti itu." Zeeya menatap Serly dan Aldo menuruni tangga dengan Serly yang menggendong Rainer dan Aldo yang menggendong Nayra.
Mama Nita mengalihkan pandangannya dari keluarga kecil Aldo ke arah Zeeya.
"Suatu saat kamu pasti juga punya keluarga bahagia seperti mereka, Nak." Mama Nita mengusap surai hitam Zeeya dan gadis itu pun tersenyum ke arah wanita paruh baya itu.
Jika melihat Mama Nita, dia jadi mengingat sosok ibu kandungnya yang juga sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Sementara Mama Nita sendiri sudah menganggap Zeeya sebagai putrinya. Entah mengapa Mama Nita selalu merasa bahwa Zeeya menyimpan kesedihan yang mendalam membuat wanita paruh baya itu ingin sekali memberikan kasih sayang agar Zeeya tak berlarut dalam kesedihan.
Mama Nita yakin bahwa Zeeya anak yang baik meski statusnya sekarang adalah tersangka pembunuhan, tapi beliau percaya bukan Zeeya yang melakukan itu.
Semoga kebenaran segera terungkap.
"Lagi ngobrol apa nih?" Serly dan Aldo beserta buah hati mereka sudah berada di meja makan.
"Lagi ngobrol potret keluarga bahagia Kak Serly dan Kak Aldo,” jawab Zeeya sambil tersenyum. Dibalas dengan senyuman sepasang suami istri tersebut.
Mereka memulai sarapan bersama, Rainer pun sudah dibuatkan sarapan khusus oleh sang nenek.
"Zee, nanti ke kantor mau diantar?" tanya Serly. Dia bisa meminta sopir atau bodyguard-nya untuk mengantar Zeeya ke kantor Raffa. Hari ini adalah hari pertama Zeeya bekerja. Tampilannya sudah rapi. Terkesan sederhana dan anggun.
Sekarang Zeeya memakai blus merah muda dengan blazer hitam dan rok hitam selutut. Rambut sebahunya digerai dan dibuat sedikit bergelombang. Zeeya juga tampak sangat manis, gadis itu memang memiliki wajah baby face, orang akan berpikir dia mungkin baru lulus SMA nyatanya usianya bahkan sudah dua puluh delapan tahun. Bukan hanya wajah, tapi kelakuannya juga bisa dikatakan sedikit kekanak-kanakan.
"Aku dijemput sama Pak Bos, Kak."
"Pak Bos?" Kening Serly dan Aldo mulai berkerut.
"Mas Raffa nanti mau jemput."
Aldo dan Serly saling pandang.
Tuh 'kan aneh.
Kalau dipikir jika Raffa menjemput sama saja dia memakan waktu lama ke kantor karena bukan sekalian lewat.
"Zee, nanti bilang sama Raffa, besok-besok tidak usah lagi dijemput kasihan dia harus semakin jauh perjalanan," saran Aldo.
"Iya, Kak. Ini juga karena pertama kali masuk kerja, takutnya kata Mas Raffa aku malah aneh-aneh jadi dijemput."
Aldo mengangguk saja. Setelahnya ia berpamitan ke kantor. Serly pun bergegas ke toko kue membawa kedua buah hatinya.
Zeeya memilih menunggu Raffa di teras rumah.
Bagaimana ya hari pertama bekerja di kantor?