10. Paranormal

2045 Words
Aldo, Serly, Mama Nita, Zeeya, dan Raffa sudah berada di rumah Wulan yang memang tetangga mereka. Tampak di sana Wulan terduduk sambil terisak dan tubuhnya gemetar di pelukan Bi Surti, sang bibi. Danish berlutut memohon agar Wulan percaya padanya bahwa ia tak pernah selingkuh dan tidak mengenal wanita yang saat ini ada di rumahnya. Wanita itu pun juga tampak menangis. "Ada apa ini?" tanya Serly. "Serly ...." Wulan melihat Serly dan segera memeluk sahabat karibnya itu. Serly dan Wulan duduk di kursi tamu sambil berpelukan. "Mama, Aldo, Serly kalian tolong percaya, aku tidak pernah selingkuh aku nggak kenal dengan wanita ini!" Danish tetap membela diri dan memohon agar Mama Nita, Aldo, dan Serly percaya dengan dirinya. Pria itu butuh dukungan. "Bagaimana kami bisa percaya sudah jelas sekali ikat pinggang dan kartu nama kamu ada di dia dan sekarang dia mengaku hamil anakmu. Bibi menyesal dulu merestui hubunganmu dengan Wulan. Ternyata kelakuanmu sama saja dengan kelakuan papamu di masa lalu!" seru Bi Surti sengit. Wanita paruh baya itu tidak tahu bahwa perkataannya menorehkan luka dalam di hati Danish. Apalagi mengingat dulu sang mama memang diceraikan dan ditelantarkan oleh papanya. Danish sudah berusaha menjadi suami terbaik untuk Wulan dan hanya karena seorang wanita yang mengaku hamil anaknya, lalu memiliki ikat pinggang serta kartu namanya sekarang tak ada yang mempercayai ucapannya. "Sebegitu kecilkah kepercayaan Wulan dan Bibi kepadaku? Kalian lebih percaya wanita itu daripada aku. Sudah berapa kali aku bilang aku tidak kenal siapa dia, tapi kalian—" Danish tampak benar-benar kecewa dan frustrasi. Mama Nita memeluk Danish untuk menguatkannya. Danish bagai putra kandungnya, dia tentu percaya apa yang dikatakan Danish. Begitu juga dengan Aldo. Serly pun sama lebih percaya dengan Danish, tapi dia tak bisa blak-blakan sekarang mengingat Wulan masih terguncang mungkin juga emosi wanita itu tak stabil karena kehamilannya, tapi Serly agak kecewa dengan kata-kata Bi Surti yang Serly sadari sangat melukai hati Danish. Bi Surti pun merasa demikian, tapi dia sudah terlanjur sangat marah tadi. Zeeya dan Raffa masih berdiri di sana menyaksikan huru-hara rumah tangga Danish. Raffa sudah mulai bosan dan mengajak Zeeya pergi, tapi wanita itu masih ingin tahu kelanjutannya. "Kamu disuruh siapa?!" Aldo mulai bertanya pada wanita yang mereka tahu bernama Selena itu, yang mengaku dihamili oleh Danish. Selena menangis. "Aku tidak disuruh siapa pun. Aku di sini hanya meminta pertanggungjawaban Mas Danish. Aku tidak mau bayiku tak punya ayah nantinya. Mas Danish tidak pernah bilang saat kita berhubungan bahwa ia sudah mempunyai istri, tapi aku rela dijadikan istri kedua agar anakku bisa punya sosok ayah," ungkap Selena sesekali terisak. "Jangan bohong kamu!" Danish terlihat emosi. Mama Nita berusaha untuk menenangkan Danish. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Danish. "Tega sekali kamu, istrimu sedang hamil dan kamu menghamili perempuan lain!" Bi Surti menyalahkan Danish lagi dan lagi. Karena kata-kata Bi Surti, Wulan dipelukan Serly semakin terguncang. "Cukup Bi! Bibi tidak lihat kondisi Wulan. Bibi jangan memperkeruh keadaan. Belum tentu Kak Danish berbuat seperti itu. Tidak ada bukti yang kuat, hanya ikat pinggang dan kartu nama. Tidak ada foto juga, hanya foto usg. Dulu Mas Aldo bahkan lebih parah dari ini, terbukti Mas Aldo tak bersalah dan dijebak." Serly mulai kesal dengan sikap Bi Surti. Wanita paruh baya itu langsung terdiam, tidak berani melawan Serly. Dia hanya tak terima keponakannya dipermainkan oleh orang kaya seperti Danish. Dulu dia sedikit keberatan saat Danish dan Wulan memutuskan menikah, tapi karena keduanya saling mencintai akhirnya Bi Surti merestui apalagi mendengar kisah Danish dan mamanya, Bi Surti merasa prihatin. Namun, memang dari awal Bi Surti ingin anggota keluarganya menikah dengan orang biasa saja. Dulu Bi Surti juga pernah ditipu oleh orang kaya sebelum menjadi pembantu di rumah ayah dan bunda Serly. Jelas dia tidak mau keponakannya ditipu seperti kisahnya yang sampai sekarang memutuskan tidak menikah. Meski Bi Surti sadar orang kaya tak selalu berperilaku buruk. Wulan mulai tenang mendengar apa yang dikatakan Serly. Benar, dulu kejadian yang dialami Aldo yang dijebak oleh wanita ular saat Serly hamil bahkan lebih buruk. "Kak Danish, apa ikat pinggang itu benar punya Kakak?" tanya Serly. "Bisa dibilang benar, tapi memang aku sudah tidak lihat ikat pinggang itu lagi sejak beberapa minggu terakhir, kukira hilang, dan aku tidak mengerti kenapa bisa ada di dia," jelas Danish. Dia tak memungkiri ikat pinggang itu memang miliknya. Serly bingung sepertinya masalah ini akan panjang. "Mas, kenapa kamu tidak mau mengaku kalau kita berhubungan. Bagaimana dengan anak kita, Mas?" Selena menatap Danish dengan tatapan penuh luka. Sementara itu, dari tadi gerak gerik Selena diperhatikan oleh Zeeya. Dia sedang fokus menatap mata wanita itu. Siapa tahu dia bisa menggunakan penglihatan istimewa yang sesekali muncul. Tidak disangka Zeeya berhasil melihat siapa wanita itu sebenarnya dan apa yang terjadi. "Delvin, lo ngapain ke sini katanya nggak mau tanggung jawab, sekarang gue udah janji sama dokter mau gugurin kandungan gue." Selena berkata pada seorang pria yang bernama Delvin. "Gue ada tugas buat lo, minta tanggung jawab ke kakak gue, namanya Danish. Ini ikat pinggang dan kartu namanya." Pria itu memperlihatkan foto Danish dan menyerahkan ikat pinggang dan kartu nama milik Danish. "Maksud lo?" "Bilang ke dia kalau anak yang lo kandung itu anaknya dia. Buat rumah tangganya hancur. Syukur-syukur lo dinikahi. Kalau dia nggak mau ancam aja lo bakal gugurin kandungan. Istrinya itu bodoh pasti gampang percaya." "Ini nggak gratis, kan? Kalau gue gagal gimana?" "Ini Dp tiga puluh juta. Nanti kalau berhasil gue tambah lagi, tapi kalau lo gagal ya terserah lo mau gugurin atau nggak, yang jelas gue nggak mau tanggung jawab!" "Kenapa sih lo nggak suka sama keluarga kakak lo?" tanya Selena penasaran. "Karna mereka, papa gue sekarang nggak mau lagi ngasih gue uang buat beli mobil sport terbaru. Papa lebih sayang si Danish dan istri Danish yang namanya Wulan, lalu memanjakan cucunya. Cih ...." Pria yang bernama Delvin itu terlihat muak. Begitulah yang Zeeya lihat dari penglihatannya. Di lain pihak terdengar lagi suara Selena yang butuh tanggung jawab Danish. "Mas kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, aku terpaksa menggugurkan janin ini. Apa kamu tega, Mas? Aku tidak menyangka Mas Danish lelaki pengecut!" Selena benar-benar pandai berakting. Wulan yang mendengar itu menatap sinis suaminya. Ia bingung ingin percaya siapa, tapi Selena tampak sangat meyakinkan. Danish mengusap wajahnya kasar, ingin sekali membentak Selena dan mengusirnya, tapi ia tahu itu tidak baik apalagi dilihat oleh sang istri. Mengusir juga tidak akan menyelesaikan masalah. "Anda berbohong Mbak Selena." Sebuah suara mengagetkan semua yang ada di sana. Danish melihat wanita yang ia tak kenali berdiri di samping Raffa. Wanita itu langsung menuding Selena berbohong. "Saya tidak berbohong!" Entah mengapa Selena merasa wanita yang menatapnya penuh selidik itu berbahaya. Tentu wanita itu adalah Zeeya. Raffa menoleh ke sampingnya, dia hanya berharap Zeeya tidak berkata hal aneh kali ini. "Anda berbohong, anak yang berada di kandungan Anda adalah anak dari Delvin, adik dari Kak Danish. Anda diberi uang DP tiga puluh juta untuk berbuat seperti ini. Delvin tidak suka kepada Kak Danish dan Kak Wulan. Bukankah begitu Mbak Selena?" Penjelasan itu membuat semua yang ada di sana tidak bisa berkata-kata. Danish, Wulan, dan Bi Surti terkejut dengan ucapan Zeeya. Apakah Zeeya mengada-ada, tapi tak mungkin kalau mengarang bisa sedetail itu, bahkan dia menyebutkan Delvin dan uang muka tiga puluh juta. Itulah yang mereka pikirkan. Jika memang benar tentu saja Danish sangat kecewa dengan Delvin, adik satu ayahnya. Mengapa dia bisa setega itu? Memang beberapa minggu lalu Delvin tiba-tiba menginap di rumah ini karena merasa jenuh di rumahnya, mungkin ikat pinggang dan kartu nama dia dapat saat itu. "Ba—bagaimana ...." Mulut Selena terasa kaku mendengar Zeeya bisa tahu percakapannya dengan Delvin. "Saya tahu karena saya melihatnya," Zeeya menjawab tanpa ragu. "Tidak mungkin! Percakapan dengan Delvin itu terjadi di apartemen saya." Selena masih tak percaya. Dia sudah tidak ingat bahwa sedang bersandiwara. "Yang jelas Mbak sudah mengakui yang saya katakan tadi benar. Mbak bilang sendiri kalau percakapan itu benar terjadi di apartemen mbak." "Ck. Benar-benar menyebalkan!" Tanpa kata maaf, Selena segera melenggang pergi dari rumah itu. Zeeya pun mengejar Selena, ada yang ingin ia katakan lagi. Begitu pula Raffa mengikuti Zeeya. "Mbak Selena," panggil Zeeya saat Selena baru membuka pintu mobilnya. "Kenapa lagi?! Jangan mengusik saya! Kamu pasti dukun.” Selena tampak kesal, ada perasaan takut juga. “Saya bukan dukun, Mbak.” “Terus kamu mau apa?!” "Mbak Selena, anak adalah anugerah terindah titipan Tuhan. Meski Mbak Selena mendapatkannya dengan cara yang salah, tapi Mbak tidak boleh menambah dosa lagi dengan membunuh anak itu. Anggap saja ini sebuah pelajaran bagi Mbak untuk tidak melakukan hubungan seperti itu sebelum menikah. Jaga dengan setulus hati bayi dalam kandungan Mbak, sedikitnya bisa menebus kesalahan yang Mbak perbuat. Mintalah pertanggung jawaban Delvin, beritahu kedua orang tuanya. Kak Danish mungkin juga akan memberitahu keluarganya nanti. Jangan menyerah untuk bayi itu. "Tidak semua wanita dipercaya untuk mendapat keturunan dan tidak semua wanita bisa melihat bayinya yang sudah ia nantikan dalam kandungan. Mbak harus tetap jaga bayi itu, ya. Aku yakin Mbak Selena wanita kuat bisa menghadapi ini." Setelah mendengar nasihat itu, Selena pergi melajukan mobilnya. Memang dia terlihat cuek, tapi ia memikirkan perkataan Zeeya. Mungkin benar, aku harus menjaganya, batin Selena. Zeeya menghela nafas berat sambil memandangi mobil yang menjauh. Dulu dia bahkan tak bisa menjaga bayi dalam kandungannya bahkan sampai tiga kali. Dia tak mau Selena merasa kekecewaan yang mendalam seperti dirinya. Belum terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Zeeya berbalik dan terkejut melihat Raffa sudah berada di belakangnya. "Astaga Mas Raffa bikin kaget!" "Hebat juga kamu ternyata," puji Raffa, tapi dengan nada ketusnya. "Sekarang percaya 'kan aku punya penglihatan istimewa. Aku tuh nggak bohong." Raffa hanya mengangkat bahunya dan berjalan kembali masuk ke rumah Danish diikuti Zeeya yang cemberut. Di ruang tamu itu sudah terlihat Wulan yang sedang duduk di samping Danish, memeluk Danish sambil bermanja mengecup sayang pipi suaminya itu. Danish telah memaafkan Wulan dan Bi Surti yang tak mempercayainya. Bi Surti sekarang sedang berada di kamar untuk melihat Hasna, putri pertama Danish dan Wulan yang selama kejadian tadi sedang tidur. Danish juga sudah menghubungi Delvin dan sang papa. Tentu hal ini harus dibicarakan karena bayi dalam kandungan Selena adalah cucu papanya. Danish melihat Zeeya yang memasuki rumah mereka lagi. "Terima kasih banyak ya, nama kamu Zee, kan? Katanya kamu temannya Serly. Nanti kalau butuh bantuan, kamu bisa minta bantuanku,” ungkap Danish. Pria itu sudah menanyakan Zeeya pada Serly dan Serly hanya mengatakan Zee itu temannya. “Iya Zee terima kasih ya. Mungkin kalau nggak ada kamu masalah ini akan semakin panjang dan aku bakal stres.” Wulan menambahkan. “Sama-sama Kak Danish dan Kak Wulan. Aku senang bisa bantu.” “Zee, aku masih penasaran kamu kenapa bisa tahu?" tanya Danish. "Aku tuh—bisa dibilang—" Zeeya bingung menyebutkan. "Dia itu bisa disebut paranormal." Aldo menjelaskan. "Oh begitu hebat sekali." Danish tampak kagum dan Zeeya tersenyum karena dipuji. Raffa berbisik pada Zeeya, “Harusnya sih psikopat." Zeeya berubah cemberut. "Raff, lo ke rumah Aldo mau diskusi tentang kasus istri lo? Gimana perkembangannya? Si psikopat itu udah ngaku belum? Jangan sampai dia bebas, bahaya." Tadi Danish bertanya kepada Aldo mengapa Raffa di sini ternyata membicarakan kasus Grasia. Danish tidak sadar bahwa psikopat itu adalah Zeeya. "Belum ada titik terang sih, Bang. Kalau tentang psikopat, dia hilang ingatan dan sekarang jadi tahanan kota. Kalau tidak ada dia, permasalahan Bang Danish hari ini nggak akan selesai secepat ini benar 'kan, Zee?" Raffa melirik Zeeya dan wanita itu semakin cemberut. "Maksud kamu dia—" Danish melirik kepada Serly, Aldo, dan Mama Nita. Ketiganya mengangguk membenarkan dugaan Danish. Pria itu tersenyum canggung kepada Zeeya, tampak meminta maaf, Zeeya mengangguk. Wulan yang melihat itu tak terlalu mengerti, dia tidak tahu masalah Raffa ataupun Zeeya. Tidak berapa lama keluarga Aldo serta Zeeya dan Raffa kembali ke rumah. "Zee, kamu mau kerja?" tanya Raffa sambil melangkah menyusuri jalan. Zeeya berada di sampingnya, sedangkan Aldo, Serly, dan Mama Nita lebih dulu di depan. Mereka memang berjalan kaki karena Danish masih tetangga Aldo. "Mau," balas Zeeya cepat. "Kerja di perusahaan saya, bagaimana?" "Jadi apa, Mas?" "Asisten mungkin, sambil mengawasi kamu." "Tapi, otakku pas-pasan, Mas. Jangan terlalu berharap ya." "Saya tahu kamu memang kelihatan bodoh." "Ih nyebelin. Aku nggak terima nih pekerjaannya." "Ya sudah kalau tidak mau, saya tidak maksa." "Jangan gitu, mau deh, tapi digaji ya?" "Kalau kerja pasti digaji, asal kamu tidak buat aneh-aneh." "Siap, Pak Bos."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD