9. Perbincangan

1495 Words
Raffa sedang menikmati makan malamnya dengan lahap, memang hanya dia yang makan karena Aldo sekeluarga sudah makan malam sebelum ia datang. Raffa sebenarnya baru pertama kali datang ke rumah ini, tapi sudah dianggap seperti keluarga. "Mas enak 'kan masakannya. Ini aku loh yang buat lauknya." Uhuk! Raffa tersedak, kalau tahu Zeeya yang buat dia akan menunjukkan ekspresi tak suka saat makan. Zeeya segera mengambil minum untuk Raffa. "Pelan-pelan, Mas. Terlalu enak sih masakanku, makannya sampai kalap begitu." "Ini masakanmu? Pantas rasanya biasa saja," sindir Raffa. "Masakanku yang biasa aja, Mas sudah nambah apalagi aku masak yang luar biasa, ya?" Zeeya terkekeh, tentu tahu Raffa menyukai masakannya. Raffa hanya bisa mendengkus kesal dan melanjutkan makannya. "Mas, aku sudah punya ponsel loh, dibelikan Kak Serly." Zeeya memamerkan ponsel barunya pada Raffa. "Ck, ponsel dikasih saja bangga. Harusnya yang bangga tuh bisa beli sendiri." Raffa kembali menyindir Zeeya. "Aku belum punya uang, Mas. Kalau mau aku ganti, aku yakin Kak Serly tidak mau kalau uangnya diganti. Ehmm sepertinya aku harus cari hadiah untuk Kak Serly sekeluarga, tapi aku mau cari kerja dulu biar dapat uang." Begitulah Zeeya tidak terpengaruh dengan sindiran, ia justru berpikir untuk mencari pekerjaan. "Serly baik sekali ke kamu, memangnya kalian kenal di mana? Apa pernah satu sekolah? Tidak mungkin 'kan kamu temannya dia di klub." Yang Raffa tahu dari cerita Aldo dulu Serly adalah ratu klub. "Oh aku kenal di R—ih Mas Raffa kepo." Hampir saja Zeeya keceplosan kembali, mulutnya kalau ngomong memang susah berhenti. Raffa mengernyitkan keningnya, melirik Zeeya yang tampak tak ingin melihatnya. Raffa tidak mau ambil pusing hal itu. "Aku mau minta nomor mas Raffa." Zeeya tipikal orang yang tidak suka suasana sunyi, dia kembali bersuara. Raffa tak menjawab, tapi tetap mengambil ponsel Zeeya dan mengetikan nomornya. Zeeya mengirim pesan ke nomor Raffa. Nada pesan masuk pun berdering. "Itu nomor aku ya, Mas. Jangan lupa di save." Raffa tak menjawab dan segera menyelesaikan makannya. Setelah itu, Zeeya dengan cepat membereskan piring kotor dan gelas Raffa. "Mas langsung ke kamar tamu saja. Aku beresin ini dulu." Zeeya tahu Raffa terus memperhatikan gerak-geriknya menuju dapur. Raffa tak bergerak ke kamar tamu. "Kenapa nggak pergi, Mas?" tanya Zeeya yang melihat Raffa sedang menungguinya mencuci piring. "Mana saya tahu di mana kamar tamu. Saya tadi hanya ingat di lantai tiga." "Yang diberesin sama Mbok Inah kamar paling kanan di lantai tiga, Mas." Raffa mengangguk. Dia akan melangkah pergi, tapi terhenti karena suara Zeeya. "Mas, walau kemungkinan kecil, aku selalu berdoa agar Mbak Grasia masih hidup. Aku memang yakin bukan aku pelakunya, tapi aku sebenarnya takut jika penyelidikan selesai pun tetap pelakunya mengarah kepadaku. Aku takut menjalani sisa hidupku di penjara." Suara Zeeya bergetar mengungkapkan apa yang ia risaukan saat ia tahu bahwa dirinya di dunia ini adalah tersangka pembunuhan. Bulir air mata membasahi pipinya. Aku takut di kesempatan keduaku untuk hidup, aku tidak bisa bahagia seperti harapanku, batin gadis itu. Meskipun dia berusaha selalu ceria, tapi sebenarnya ia merasa risau. Raffa diam mendengarkan dia tahu Zeeya sedang menangis, meski tak terdengar karena suara air mengalir. Pria itu tahu ini berat bagi Zeeya yang tiba-tiba saja tersandung kasus pembunuhan, padahal gadis itu tak tahu apa-apa. "Saya juga selalu berdoa agar Grasia masih hidup setidaknya saya menemukan tubuh istri saya atau di mana letak kuburannya. Satu lagi doa saya beberapa minggu ini adalah agar bukan kamu pelakunya." Kemudian Raffa memilih meninggalkan Zeeya di dapur. "Terima kasih," gumam Zeeya sambil terisak, walau tak akan didengar Raffa karena pria itu telah pergi. Zeeya dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu menuju kamarnya. Zeeya menatap layar ponselnya. Mencari video rekaman CCTV di rumah Raffa yang telah dikirim kepadanya oleh Serly karena di media online sendiri sudah dihapus video itu. Dia memutar beberapa kali video penusukan itu. Meneliti setiap gerak-gerik orang yang mirip dirinya. Perempuan itu menyeret Grasia ke tempat yang bisa tertangkap kamera. Wajahnya tertutup oleh rambut. Dia menusuk lima kali tubuh Grasia yang tergeletak membelakangi kamera. Terlihat dia berpindah tempat, untuk menunjukkan bahwa darah membasahi baju Grasia dan lantai. Setelahnya video CCTV itu mati. Pantas saja aku dituduh psikopat, terlihat sekali wanita itu mau menunjukkan bahwa dia membunuh Grasia di kamera. Menurut cerita Aldo yang Zeeya dengar, saat Zeeya datang ke rumah itu, Grasia juga baru pulang. Perempuan itu sempat pergi ke rumah orang tuanya. Zeeya kembali memutar rekaman itu, sebenarnya video tak begitu jelas karena sepertinya CCTV itu akan rusak. Menurut Mas Raffa, tidak ada pelayan di tempat kerjaku yang sama posturnya denganku. Tempat kerjaku belum menjadi usaha katering besar, pelayannya masih bisa dihitung jari, tapi orang-orang di sekitar komplek perumahan Mas Raffa sering memesan di sana. Usaha katering itu menyediakan menu katering harian, itulah yang dipesan oleh Mbak Grasia. Aku bekerja di sana pun baru satu bulan dan kemungkinan baru hari itu aku pergi ke rumah Mas Raffa. Zeeya bermonolog sendiri dalam benaknya. Orang yang punya postur tubuh sama denganku yang aku tahu cuma Fira, tapi apa iya, apa hubungannya Fira dengan Grasia? Lagi pula perempuan itu walau jahat apa dia tega membunuh dan mengambinghitamkan aku, batin Zeeya kembali. Zeeya rasa belum ada titik terang. Di kehidupan yang lalu dia juga tak pernah kenal siapa Raffa dan Grasia. "Mending aku tidur biar besok bisa berpikir jernih." *** Setelah sarapan Raffa, Zeeya, Serly dan Aldo kembali berdiskusi. Kali ini di ruang keluarga. "Pagi, Pak Bos, Bu Bos." Seorang pria masuk ke dalam ruang keluarga tersebut serta menyapa Aldo dan Serly. "Pagi, Win," balas keduanya bersamaan. Pria itu Win, hacker yang sangat dipercaya Aldo dan Serly. Zeeya dan Raffa juga ikut menatap ke arah Win. "Win, kenalkan ini Raffa dan Zeeya." Win hanya melirik sekilas ke arah Raffa karena fokusnya menatap perempuan cantik yang tersenyum ke arahnya. Dia adalah Zeeya. Jadi ini cewek yang dibilang psikopat. Aslinya cantik banget nggak kayak foto kemarin, batin Win. "Salam kenal Pak Raffa saya Wira Narendra biasa dipanggil Win." Raffa mengangguk mendengar perkenalan itu. Win segera duduk di samping kiri Zeeya, berusaha memepet gadis itu. "Hai, Zeeya. Aku Win." Win mengulurkan tangannya dan dibalas dengan salaman oleh Zeeya dengan tetap memasang senyumnya. "Aku Zeeya panggil saja Zee." Mereka saling tersenyum berhadapan, membuat seorang pria melirik keduanya dengan tatapan kesal. Raffa yang memang duduk di samping kanan Zeeya dengan jarak sekitar tiga puluh centi berusaha menyikut pinggang gadis itu. Zeeya segera menoleh dan terlihat kesal pada Raffa. Serly dan Aldo saling lirik. "Ada yang aneh, kenapa Kak Raffa kayak pacar posesif," bisik Serly sambil merebahkan kepalanya di bahu Aldo. Suaminya itu menyetujui. "Ehmm, kita lanjut lagi, bagaimana Win hasil penyelidikanmu tentang keluarga Grasia." Aldo memang meminta Win untuk menyelidiki keluarga Grasia. "Kenapa menyelidiki keluarga istriku?" tanya Raffa sebelum Win menjawab. "Raff, kamu pernah bilang 'kan kalau Grasia itu anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Pasti keluarganya tidak akan lepas tangan begitu saja seperti sekarang. Jadi, aku meminta Win untuk menyelidiki mereka. "Raff, aku juga ingin kamu ikut mencari tahu tentang dua mantan istrimu sebelumnya. Bukankah ini sangat janggal, kamu sudah menikah tiga kali dan belum cukup setahun kamu sudah pisah dari istrimu," lanjut Aldo. "Apa!? Mas Raffa sudah pernah menikah dua kali sebelumnya!!!" pekik Zeeya yang membuat seisi ruangan menutup kuping mereka. Zeeya menoleh ke arah Raffa, pria itu tak pernah bercerita padanya. "Kenapa Mas? Apa Mas Raffa KDRT? Atau ...." Zeeya menatap ke arah bawah perut Raffa. Siapa tahu karena benda pusaka pria itu yang tidak memuaskan. Raffa menyentil kening Zeeya. "Saya tidak pernah KDRT, apalagi dengan pikiran aneh kamu." Zeeya mengusap keningnya. "Terus kenapa?" tanya gadis itu penasaran. "Zee, nanti saja minta penjelasannya. Kita dengar hasil penyelidikan Win," sela Aldo. Zeeya segera merapatkan bibirnya jika Aldo sudah bicara dia tentu tak berani. "Win, bagaimana?" tanya Aldo kembali. "Kedua orang tua Grasia pindah keluar kota, tetangganya juga tidak tahu ke mana mereka," jawab Win. "Raff, kamu tahu di mana dua kakak laki-laki Grasia tinggal?" tanya Aldo. "Ada yang di Jakarta dan ada yang di Bandung." "Mungkin saja mereka pindah ke Bandung. Yang jelas coba kalian selidiki lagi." Aldo masih sangsi dengan kepindahan orang tua Grasia. Tiba-tiba ponsel Serly berbunyi. Terlihat nama Wulan di sana. Tumben Wulan telepon. “Halo ada apa, Lan?” “Serly, tolong ke sini, Mas Danish selingkuh.” Tangisan terdengar dari seberang telepon. Wulan menangis dan mengatakan jika suaminya selingkuh. “Apa!? Aku sama Mas Aldo segera ke sana.” Panggilan telepon pun ditutup. Aldo yang melihat istrinya panik, tampak penasaran. “Ada apa?” “Mas, kita ke tempat Wulan sekarang. Ada masalah.” “Aku ikut ya, Kak.” Zeeya ingin ikut. Kemarin dia sudah mengenal Wulan saat di toko kue. Serly mengangguk, entah mengapa ia merasa Zeeya bisa membantu. Raffa pun akhirnya ikut untuk mengawasi Zeeya agar tidak berbuat aneh. Win lebih memilih mencari makan daripada ikut ke tempat Wulan. Mama Nita yang tadi menjaga Nayra dan Rainer juga diajak untuk ke rumah Wulan. Sementara kedua buah hati Serly dan Aldo yang tertidur, dititipkan kepada Mbok Inah dan Lilis. Kelimanya segera pergi ke rumah Wulan dan Danish yang tempatnya memang berdekatan dengan rumah Serly dan Aldo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD