Hari ini Serly akan mengajak Zeeya berbelanja semua keperluannya. Sebenarnya Zeeya tak enak, tapi Serly melarang Zeeya untuk pergi ke rumahnya. Serly tak mau ibu tiri dan adik tiri Zeeya tahu bahwa gadis itu sudah keluar dari penjara, tepatnya menjadi tahanan kota.
"Zee sudah siap?" tanya Serly masuk ke kamar Zeeya.
Zeeya sekarang memakai baju milik Serly yang sudah tak terpakai, dress hitam motif bunga panjang selutut dengan lengan tiga perempat.
Sementara Serly memakai blus sifon short sleeve berwarna peach dipadukan dengan celana panjang skinny jeans putih.
"Sudah, Kak. Wow Kak Serly tampilannya muda banget."
"Iyakah?" Zeeya mengangguk. Serly tampak muda dan cerah, padahal perempuan itu sudah berusia di awal tiga puluhan dan mempunyai dua anak, tapi tubuhnya yang langsing dan pakaian modisnya membuat Serly tampak beberapa tahun lebih muda.
"Oh, iya Zee. Aku enggak tahu orang bakal mengenali kamu atau nggak, tapi kamu pakai masker aja ya. Nanti kita ke salon temanku." Serly ingat pada awal kasus ini foto Zeeya tersebar di beberapa media online. Meski sekarang sudah tidak ada, tapi mungkin saja masih ada orang yang ingat wajah Zeeya dan tampilan saat itu memakai baju seragam katering tempatnya bekerja.
"Oke, Kak."
Mereka segera pergi ke salon kecantikan milik Karina, istri dari Kevin.
Kevin adalah sahabat Serly saat masih sering ke klub dulu. Pria itu mantan gigolo yang sekarang telah tobat dan menikah dengan wanita baik-baik bernama Karina.
"Karina, make over temanku ya namanya Zee, tapi sama kamu aja ya, Beb."
"Oke, sini Zee. Tunggu ya, Beb." Karina membawa Zeeya untuk didandani.
Sementara Serly sambil menunggu, ia sibuk berfoto ria mengirimkan kepada Aldo, suami tercintanya.
Serly : Mas aku kangen muachhh.
Begitulah isi pesan Serly dengan mengirimkan banyak foto dirinya.
Aldo yang sedang serius memimpin rapat melihat ponselnya karena terus bergetar di sakunya.
Ketika dibuka ternyata sang istri mengirimkan banyak sekali foto dan juga mengatakan bahwa kangen padanya.
Aldo pun tersenyum membalas pesan itu mengatakan dirinya juga merindukan Serly, lalu lanjut men-scroll foto-foto manis sang istri.
"Bos konsentrasi, jangan lihat foto istri mulu," tegur Joe, asisten Aldo. Baru kali ini asisten menegur bosnya.
Aldo melirik tajam ke arah Joe, tapi Joe tidak peduli karena sudah terbiasa.
Aldo memasang tampang datar kembali, lalu menaruh ponselnya dan lanjut menyimak presentasi karyawannya.
Joe benar-benar heran dengan Aldo dan Serly yang saling berkirim pesan kangen padahal baru 2-3 jam berpisah. Mereka selalu seperti pengantin baru yang aslinya sudah memiliki dua anak.
***
Serly terkagum dengan maha karya Karina dalam melakukan make over pada Zeeya. Rambut Zeeya yang awalnya panjang sampai punggung di potong sebahu. Wajah Zeeya terlihat lebih cerah. Polesan make up yang natural membuat gadis itu tampak cantik dan manis.
Serly menyimpan foto Zeeya yang Win kirimkan padanya. Itu adalah foto Zeeya yang pernah tersebar di media online. Serly membandingkan tampilan Zeeya di foto itu dengan sekarang. Tentu jauh berbeda. Di foto itu bahkan wajah Zeeya tampak kusam dan rambut panjang yang tak rapi. Sekarang dia sudah bisa membawa Zeeya ke mana-mana tanpa harus ditutupi.
"Wah cantik banget Zee," puji Serly.
"Terima kasih, Kak."
"Pada dasarnya Zee sudah cantik banget loh, Beb. Cuman wajahnya kurang perawatan aja," ungkap Karina.
Sebenarnya Karina merasa pernah melihat Zeeya, tapi dia lupa dan Zeeya mengatakan tidak mengenalnya. Sehingga Karina memutuskan tidak memperpanjang itu. Mungkin hanya mirip pikirnya.
"Terima kasih banyak ya Beb. Salam buat si Kevin dan Valen, putri kalian yang gemesin," pamit Serly.
"Sama-sama, sering-sering ya mampir ke sini, Beb."
"Siap."
Setelah Serly membayar, mereka langsung menuju mall untuk membeli semua keperluan Zeeya.
***
Raffa masih sangat sibuk dengan pekerjaan kantornya. Pulang kerja ia berencana untuk mengunjungi Zeeya di rumah Serly. Dua hari ini, dia belum sempat ke sana karena pekerjaan yang menumpuk.
Semoga saja Zeeya tak merepotkan mereka.
Raffa menghela nafas panjang. Namun, tiba-tiba ia berpikir.
Kenapa Zeeya seperti tanggung jawabku? Ck. Gadis itu selalu saja membuatku ke pikiran.
Anehnya bukan benci atau dendam yang ia rasakan sekarang terhadap Zeeya, tapi entah dia juga tak tahu. Yang jelas kecurigaannya pada Zeeya masih belum terhapuskan sampai bukti itu ada jika Zeeya tak bersalah dan tubuh sang istri diketemukan.
***
Sore hari, Serly dan Zeeya baru pulang karena selesai belanja mereka mampir ke toko kue Triple Cake, toko kue Serly dan sahabatnya.
Seperti biasa Serly harus memeriksa aktivitas di toko kuenya. Wulan dan Mila, sahabat Serly ada di sana. Keduanya juga lebih jarang ke toko kue karena sudah disibukkan dengan anak masing-masing. Apalagi Wulan sedang hamil lima bulan, kehamilan keduanya.
Pekerja di sana sudah lebih banyak, jadi lebih banyak pula yang menangani berbagai pekerjaan.
Serly dan Zeeya yang baru sampai segera pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri karena sudah sangat lelah.
Zeeya menatap ponsel yang baru saja dibelikan oleh Serly. Mencoba mengotak-atik agar lebih lancar memakainya. Di sana sudah terdapat nomor Serly, Aldo, Mama Nita, dan nomor rumah Serly.
"Nomor Mas Raffa belum ada. Nanti saja aku minta sama Kak Aldo," gumam Zeeya.
"Mas Raffa bakal ke sini nggak ya?" Zeeya kira kemarin Raffa akan ke rumah itu ternyata tidak.
Daripada memikirkan Raffa, Zeeya memilih keluar kamar mencari Nayra dan Rainer.
Zeeya melihat Nayra dan Rainer di ruang bermain bersama Serly. Mereka sedang melihat buku bergambar.
Zeeya tersenyum melihat kehidupan Serly sekarang. Dia ingat dulu Serly sangat kurus berwajah pucat, bahkan menggerakkan tangannya pun perempuan itu tak mampu, tapi sekarang lihatlah di kehidupan ini betapa bahagianya dia. Memiliki suami yang sangat mencintainya dan dua buah hati yang menggemaskan.
Zeeya sudah mendengar sedikit kisah Serly. Perempuan itu berbeda dengannya. Dua jiwa menjadi satu itulah yang dialami Serly.
Namun, Zeeya tahu perjuangan Serly di dunia ini tidaklah mudah sampai bisa sebahagia sekarang.
Itu yang membuat Zeeya semangat untuk meraih kebahagiaannya juga, meski awalnya menyesal memilih hidup di dunia ini karena Zeeya ternyata berstatus tersangka pembunuhan, tapi dirinya tidak ingin menyerah. Ia harus bisa menyelesaikan kasus ini dan berlanjut mencari kebahagiaannya.
Zeeya akhirnya ikut bergabung dengan Serly, Nayra, dan Rainer.
***
Zeeya yang sedang menyusun baju-baju yang ia beli tadi, segera membukakan pintu karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kak Serly, ada apa?"
"Itu ada Kak Raffa di ruang tamu, lagi ngobrol sama Mas Aldo. Kamu mau ikut gabung?"
"Tunggu Kak—" Zeeya menatap penampilannya di cermin lalu menyisir rambutnya, ketika merasa penampilannya sudah manis, ia mengajak Serly untuk segera ke ruang tamu menemui Raffa.
Serly hanya mengernyitkan keningnya.
Ada yang aneh.
Raffa berbincang dengan Aldo mengenai perusahaan. Raffa berterima kasih karena Aldo sudah membantu banyak di perusahaannya.
"Tidak perlu sungkan Raff."
"Tapi terima kasih banyak, berkat Bang saldo dan Bang Nathan perusahaanku sudah mulai stabil."
"Bagus kalau begitu."
"Zeeya tidak melakukan hal aneh di sini 'kan, Bang?" tanya Raffa.
"Tidak, dia baik sama putra-putriku juga dekat."
"Syukurlah kalau begitu." Raffa menghela nafas lega.
Aldo mengernyitkan keningnya. Raffa seperti bukan menanyakan tentang tersangka pembunuh istrinya, tapi seseorang yang dekat dengannya dan dititipkan ke rumah ini.
Ada yang aneh.
Zeeya dan Serly tiba di ruang tamu. Raffa sempat terpana melihat penampilan Zeeya sungguh berbeda dan sangat manis di matanya, tapi kemudian dia mendatarkan ekspresinya.
Apa yang sedang aku pikirkan?!
Raffa merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Mas Raffa!?" sorak Zeeya yang langsung mengambil duduk di sebelah Raffa.
"Gimana Mas penampilanku, manis tidak?" Zeeya menangkupkan kedua pipinya dengan telapak tangannya menghadap ke arah Raffa.
Raffa mendengkus kesal akan sikap sok dekat dari Zeeya.
"Senang kamu tinggal di sini! Minta dibelanjakan ini itu, pergi ke salon juga! Bisanya merepotkan orang saja!" ketus Raffa. Zeeya berubah cemberut, bukannya dipuji justru disemprot. Padahal Zeeya tak pernah minta dibelanjakan dan ke salon. Serlylah yang sangat baik ingin membelanjakannya.
"Aku Kak yang ngajak dia ke salon dan belanja. Ya, kita kan teman, wajar menurutku. Apalagi dia harus mengubah penampilan agar tidak dikenali," ungkap Serly.
Raffa hanya diam mendengar saja. Dilihat istri dari Aldo itu sangat perhatian pada Zeeya, berarti benar mereka berteman.
"Kamu beruntung punya teman baik kayak istrinya Bang Aldo, mau menerima kamu yang psikopat."
"Aku bukan psikopat! Kalau terbukti aku tidak bersalah, Mas Raffa harus minta maaf sambil berlutut di hadapanku!” Zeeya menatap sengit Raffa begitu pun Raffa membalas tajam tatapan itu.
Penglihatan istimewa Zeeya mulai berfungsi. Tampak bayangan Raffa yang sibuk bekerja hingga kelelahan bahkan sekretaris Raffa menawarkan membelikan makan, Raffa menolaknya karena belum selesai mengerjakan tugasnya.
Tatapan Zeeya berubah lembut membuat Raffa sedikit heran.
"Apa sekarang Mas Raffa sudah makan?" tanya gadis itu.
Raffa terkejut mendengar pertanyaan penuh perhatian dari Zeeya. Raffa hanya diam beberapa saat sebelum dia menjawab Zeeya sudah berkata kembali.
"Gak usah dijawab, aku tahu Mas tidak makan siang tadi dan sepertinya belum makan malam." Zeeya melirik jam dinding di sana sudah pukul delapan malam.
"Raff, sebaiknya kamu makan dulu." Aldo mulai bersuara.
"Iya, Kak Raffa, makan itu penting, sumber energi untuk beraktivitas. Kalau Kak Raffa tidak makan dan kelelahan, bagaimana cara memecahkan kasus ini?" Serly menambahkan.
"Tuh, Mas, Tuan dan Nyonya rumah sudah bersuara." Zeeya ikut menimpali.
"Zee, ajak Raffa ke ruang makan," perintah Aldo, Raffa tak bisa menolak dan akhirnya mengangguk, dia memang terakhir makan pagi tadi itu juga hanya dengan roti. Entah perutnya kuat sekali menahan lapar.
"Oh iya, Raff, mending besok pagi saja kita bicarakan, kalau perlu kamu menginap di sini." Aldo kembali bersuara. Apalagi dari rumah Aldo ke rumah Raffa cukup jauh.
"Nanti aku minta ART bersihkan kamar buat Kak Raffa." Serly pun setuju atas usulan Aldo.
"Sepertinya aku pulang saja habis makan." Raffa berusaha menolak.
"Kamu menginap! Bilang saja kalau butuh pakaian dan lainnya," tegas Aldo dengan nada perintah, dia kasihan dengan Raffa, sepertinya adik tingkatannya saat kuliah itu benar-benar tertekan.
Raffa pun menurut dan pergi bersama Zeeya ke ruang makan, sedangkan Serly dan Aldo memilih membubarkan diri.
"Mbok Inah, Lilis mana sih aku mau minta bersihkan kamar tamu buat Kak Raffa," ujar Serly
"Si Lilis kayaknya kecapean Nyonya habis pulang dari toko kue, jadi tadi langsung tidur. Biar Mbok saja kalau begitu. Eh, Tuan Raffa itu pacarnya Non Zee, ya?" tanya Mbok Inah, wanita paruh baya itu mana tau berita-berita viral. Pekerja di rumah Serly kebanyakan tidak tahu kasus Zeeya. Mungkin hanya beberapa bodyguard yang tahu, tapi mereka orang yang dapat dipercaya, jadi tidak akan bilang ke siapa pun.
"Oke kalau begitu. Kenapa Mbok pikir Kak Raffa pacarnya Zee?"
"Tadi Mbok lihat Non Zee menemani Tuan Raffa makan. Meskipun Tuan Raffa terlihat agak jutek, tapi mereka cocok. Atau keduanya masih pendekatan, ya?" Mbok Inah berspekulasi sendiri.
Serly terkekeh mendengarnya.
"Bukan pacaran atau pendekatan, tapi hubungan mereka ehm aku takut Mbok Inah syok kalau dengar."
"Nyonya bikin penasaran."
"Ya sudah sana Mbok bersihkan kamar, kayak anak muda aja suka kepo."
"Mbok 'kan masih muda, masih umur 25."
"25 kali dua 'kan Mbok." Mereka pun tertawa bersama.