Raffa sampai di rumah mamanya. Ayah Raffa telah meninggal tujuh tahun yang lalu. Di sebelah rumah mamanya ini ada rumah sang kakek yang cukup besar, tapi terlihat asri. Kakeknya lebih suka tidur di rumah mamanya dan rumah sang kakek sendiri dipakai untuk menyalurkan hobi berkebun pria paruh baya itu.
"Nak, kamu kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanya Gina, mama dari Raffa. Pria itu menyalami punggung tangan sang mama.
"Iya, tadi kebetulan saja kangen rumah."
"Kalau tahu kamu mau kemari Mama pasti masakkan makanan kesukaanmu. Kamu nginap sini 'kan, Nak?" Keduanya memutuskan mengobrol di ruang tv.
"Iya, Ma."
"Nah memang sebaiknya begitu. Mama sebenarnya takut kamu tinggal sendiri di rumahmu itu, apalagi—" Raffa melihat kesedihan di mata sang mama. Dia menggenggam telapak tangan mamanya itu.
"Maaf ya, Nak. Ini gara-gara Mama yang meminta pekerja di rumahmu membantu memasak dan bersih-bersih di rumah ini." Raffa menggeleng cepat, mamanya selalu saja mengungkit masalah ini.
"Bukan salah Mama. Yang namanya musibah bisa datang kapan saja Ma. Sudah jangan sedih lagi." Gina menggenggam tangan putranya.
"Terima kasih, kamu tidak menyalahkan Mama. Oh, iya bagaimana dengan wanita itu, katamu kemarin dia hilang ingatan. Apa dia sudah ingat?" Gina menanyakan tentang Zeeya.
"Belum Ma, dia sama sekali tidak ingat."
Sebaiknya aku tidak usah bilang ke Mama kalau Zeeya akan menjadi tahanan kota, nanti Mama cemas lagi.
"Semoga Grasia bisa cepat ditemukan ya, Nak."
Raffa mengangguk.
"Kalau perusahaan bagaimana?" tanya Gina kembali.
"Ya seperti yang mama tahu perusahaanku mengalami penurunan, tapi senior-seniorku yang juga seorang CEO berusaha membantuku agar perusahaan kembali normal."
"Baguslah kalau begitu. Tega sekali orang-orang yang menyebar rumor buruk tentang kamu. Mama benar-benar kesal."
"Sudahlah Ma, rumor itu pasti akan berlalu, sekarang yang aku fokuskan adalah mencari Grasia dan menormalkan perusahaan." Gina mengangguk mendengar ucapan Raffa.
"Satria sama Kyra mana, Ma?" Satria dan Kyra adalah adik dari Raffa.
"Satria tadi bilang sepulang kerja mau ada acara sama teman-temannya jadi nggak makan malam di rumah. Kalau Kyra, biasa anak itu shopping, bentar lagi juga pulang."
Satria memang bekerja sebagai manajer keuangan di perusahaan yang dipimpin oleh Raffa, AF Textile Company, perusahaan bergerak di bidang industri tekstil yang menghasil produk kain dan pakaian, sedangkan Kyra, gadis itu baru lulus kuliah dan belum ada niatan untuk bekerja.
"Oke, terus Kakek mana?"
"Ada di rumahnya lagi santai di kebunnya."
Setelah mendengar jawaban sang mama, Raffa langsung pamit ke kamarnya dan bergegas membersihkan diri.
Tidak berapa lama, ia keluar dari kamar mandi dengan tampilan segar menggunakan kaos putih polos dan celana bahan sampai lutut.
Raffa memeriksa e-mail di ponselnya. Ada beberapa dokumen yang dikirimkan oleh sekretarisnya.
Tiba-tiba Raffa ingat jika Zeeya tadi menulis note tentang rencana hidupnya setelah ini. Raffa memeriksa note, ternyata belum dihapus, terlihat di sana 'rencana hidup si cantik Zeeya'.
"Gadis itu benar-benar narsis." Raffa membuka dan membacanya. Prioritas pertama Zeeya memang menyelidiki kasus pembunuhan istri Raffa dan selebihnya adalah tentang mencari suami sekaligus kriterianya, lalu menikah dan tentang anak. Ada juga rencana honeymoon, babymoon dan lain-lain.
"Sepertinya dia ingin cepat menikah dan punya anak. Memang usianya sudah 28 tahun, tapi kelakuannya masih seperti bocah." Raffa bermonolog sendiri.
Seketika Raffa tersadar, untuk apa dia melihat rencana hidup seorang tersangka pembunuh Grasia. Raffa merasa heran dengan dirinya yang terkesan akrab dengan Zeeya.
Raffa memandang kembali layar ponsel di tangannya.
"Semoga benar bukan kamu pelakunya, Zeeya." Jika memang Zeeyalah pelakunya ia tentu tak akan mengampuni perempuan itu. Tetapi ada rasa simpati terhadap Zeeya yang sekarang tak tahu apa-apa.
***
Zeeya menatap penuh antusias jalanan macet ibukota, aneh memang, tapi Zeeya yang tak pernah keluar selama enam tahun di RSJ merasa pemandangan sekitar sayang untuk dilewatkan. Belum lagi gedung menjulang tinggi yang membuat Zeeya terkagum karena sudah lama tak melihat itu.
Sebenarnya terakhir kali dia melihat gedung menjulang pada saat kematiannya. Namun, ia ingin melupakan itu.
Serly dan Aldo yang berada di mobil yang sama dengannya melirik heran ke arah Zeeya. Mereka berdualah yang langsung menjemput Zeeya dari rutan untuk mengajaknya tinggal di rumah mereka.
Aldo mengirim pesan kepada sang istri di sebelahnya, memang mobil belum bergerak karena kemacetan. Serly pun segera membacanya.
Aldo : Sepertinya temanmu bukan selama enam tahun tidak keluar RSJ, tapi dia hidup di masa penjajahan.
Serly hampir tergelak membaca pesan suaminya itu.
Tiba-tiba suara Zeeya mengagetkan mereka berdua.
"Kak Serly, Kak Aldo, cerita dong kisah kalian. Aku penasaran banget," katanya antusias.
Serly dan Aldo saling lirik. Tentu kisah mereka lumayan panjang.
"Nanti saja, ceritanya panjang. Mending kamu saja yang cerita, tapi yang belum diceritakan ke kami ya,” balas Serly.
"Oh baiklah ehm aku mulai dari mana kira-kira. Ketika aku keguguran untuk pertama kalinya ...." Zeeya menceritakan kisahnya tanpa henti. Serly dan Aldo heran apa Zeeya bernafas karena tidak ada jeda dalam cerita itu.
Saat lampu merah dan mobil berhenti, Aldo kembali mengirim pesan pada istrinya.
Aldo : Sayang, lain kali jangan suruh dia cerita, mulutnya seperti kereta api yang nggak akan berhenti sampai kita tiba di rumah.
Serly kembali ingin tergelak, tapi ia tahan karena sedang memasang tampang khidmat mendengarkan kisah Zeeya.
Apa Serly dan Aldo benar-benar mendengarkan?
Ya, mereka sungguh-sungguh dalam mendengarkan kisah Zeeya hingga kepala Aldo pusing.
"Begitu Kak ceritanya." Benar saja Zeeya berhenti saat mereka sudah berada di depan gerbang rumah Serly dan Aldo. Saat gerbang itu dibuka tampak rumah empat lantai yang megah dengan desain modern.
Zeeya tercengang melihat rumah sebesar itu. Apalagi konon katanya rumah ini adalah hadiah Aldo kepada Serly.
Kak Serly benar-benar beruntung.
Dulu keluarga Zeeya masuk dalam golongan kelas menengah, Zeeya memang terbiasa hidup sederhana, rumahnya pun sederhana saja meski sebenarnya keluarga Zeeya memiliki harta berlebih, mereka lebih suka menabung. Dulu selain bekerja sebagai dosen mendiang ayahnya memiliki beberapa kos-kosan dan ada juga rumah yang dikontrakkan. Namun, semua telah diambil oleh Vina dan Fira. Zeeya yakin kehidupannya di dunia ini tak jauh beda, atau mungkin lebih parah.
Zeeya menapakkan kakinya masuk ke dalam rumah, gadis itu semakin terpukau melihat keindahan rumah itu.
"Astaga! Ini rumah atau istana, Kak!?" pekiknya.
Serly tersenyum saja mendengar pekikan Zeeya. Sedangkan Aldo hanya menggeleng melihat ekspresi Zeeya yang menurutnya konyol. Sekarang saja Zeeya sedang mengagumi kursi empuk ruang tamu.
Aldo berbisik kepada istrinya.
"Sayang, apa benar si Zee sudah sembuh?" Aldo dan Serly memang lebih senang memanggil Zeeya dengan panggilan Zee.
"Mas jangan ngomong begitu. Aku juga 'kan pernah mengalami gangguan mental."
"Kamu sama dia beda cerita, Sayang. Kamu mengalami halusinasi karena efek obat dan itu nggak sampai hitungan tahun, sedangkan Zee, dia mengalami delusi karena tertekan dan itu berlangsung selama enam tahun."
"Percaya sama aku, Zee sudah sembuh, dia hanya terkesan cerewet dan sedikit norak saja. Mas harus maklum."
"Baiklah Mas percaya sama kamu."
Serly tersenyum, dia tahu Aldo sedikit ragu, pria itu merasa pikiran Zeeya bisa saja masih terganggu. Serly tahu suaminya memang penuh kewaspadaan dan ia memahami hal itu. Tidak mudah untuk menerima seseorang yang pernah mengalami gangguan mental.
Kemarin Serly dan Aldo juga harus meyakinkan Mama Nita, mama dari Aldo, agar Zeeya bisa tinggal di rumah ini.
Mama Nita awalnya menolak tegas usulan itu. Tentu karena yang Mama Nita tahu, Zeeya adalah pembunuh istri dari Raffa.
Serly dibantu oleh Aldo, mati-matian meyakinkan Mama Nita dan akhirnya Mama Nita menyetujui asal Zeeya benar-benar diawasi.
Semoga Zee tidak melakukan hal aneh yang membuat Mama dan Mas Aldo semakin ragu, batin Serly.
"Ayo Zee kenalan sama mama mertuaku dan anak-anak," ajak Serly.
Zeeya tampak bersemangat, dia sudah mendengar cerita tentang Mama Nita, Nayra, dan Rainer.
Mama Nita terlihat menggendong Rainer dan di sampingnya ada Nayra yang melihat kedatangan orang tuanya dengan Zeeya.
Zeeya menatap Mama Nita, penglihatannya berfungsi, terlihat olehnya perjuangan Serly dan Aldo meyakinkan Mama Nita agar dirinya bisa tinggal di sini.
Zeeya tersenyum lalu menyalami punggung tangan mama dari Aldo tersebut.
"Terima kasih ya, Tante, sudah mau menerima aku di sini. Aku janji akan berperilaku baik dan bantu-bantu di rumah ini," ungkap Zeeya dengan senyum ketulusan.
Mama Nita yang melihat itu juga ikut tersenyum, benar kata Serly, Zeeya anak yang baik. Mama Nita tipe orang tua yang bisa menilai seseorang ketika melihatnya.
Dulu sejelek apapun sifat Serly padanya, dia tetap menyayangi menantunya itu karena merasa pada dasarnya Serly anak yang baik dan terbukti sekarang Serly bagai cahaya yang menyinari kehidupan mereka.
Melihat Zeeya secara langsung, Mama Nita menyadari mengapa Serly dan Aldo bersikeras jika Zeeya tak bersalah. Zeeya tampak ceria, tapi dari matanya Mama Nita bisa melihat bahwa Zeeya menyimpan banyak kesedihan.
"Panggil mama saja, Zee."
"Bolehkah?"
Mama Nita mengangguk. Zeeya menoleh kepada Serly dan Aldo, sepasang suami istri itu pun juga mengangguk.
"Terima kasih, Ma."
Zeeya berpindah melihat Rainer di gendongan Mama Nita.
"Lucu sekali," ungkapnya mengusap pipi Rainer dan berkenalan.
Beralih dia berlutut untuk sejajar dengan Nayra.
"Halo Tante Zee, aku Nay." Itulah perkenalan Nayra dengan suara khas anak kecilnya. Balita yang belum genap berusia empat tahun itu sangat aktif berbicara.
"Nay cantik sekali." Zeeya mengusap pipi Nayra.
Andai saja dulu dia tak keguguran, pasti dia akan mendapat putra dan putri selucu Rainer dan Nayra.
Rasanya Zeeya ingin menangis, tapi ia tahan. Gadis itu tak mau terlihat aneh di depan semua orang karena tiba-tiba menangis.
"Zee, ayo kita makan. Mama sudah masak banyak," ajak Mama Nita. Zeeya kembali tersenyum.
Tuhan terima kasih Engkau telah mempertemukan aku dengan keluarga sebaik ini, batin Zeeya.
Ruang makan terdengar begitu ramai dengan celotehan Rainer yang sangat menggemaskan.
"Mama," panggil Rainer pada Serly.
"Apa Ain Sayang?"
"Tuh ...." Rainer menunjuk ke arah Zeeya yang sudah selesai menyantap makan siangnya.
"Namanya Tante Zee, Sayang."
"Te," panggil bocah satu tahun itu pada Zeeya dan merentangkan tangannya ingin digendong.
"Haha, Zee ajak Rainer main sana, aku mau selesaikan makan dulu," titah Serly. Dia belum selesai makan karena menyuapi Rainer.
Zeeya menggendong Rainer.
"Kamu gemesin banget sih." Zeeya menatap wajah mungil Rainer.
"Ajak belajar jalan Zee, dia itu inginnya digendong mulu," ungkap Aldo. Mama Nita menunjukkan ruang bermain anak kepada Zeeya. Rainer, Nayra, dan Zeeya bermain di sana.
Mama Nita diam-diam memperhatikan interaksi Zeeya dan cucu-cucunya. Beliau tersenyum, lalu meninggalkan mereka bermain.
"Sepertinya Zeeya telaten mengurus anak, padahal belum menikah," ungkap Mama Nita pada Serly dan Aldo saat kembali ke ruang makan.
Serly dan Aldo saling lirik dan memikirkan hal yang sama.
Itu 'kan memang kegiatan si Zee selama enam tahun, ngurus anak meski hanya boneka.