Hari ini Raffa akan pergi ke kantor Aldo untuk membicarakan perihal Zeeya yang akan menjadi tahanan kota.
Meskipun tak membuat janji, Raffa tetap di persilakan masuk untuk menemui Aldo. Aldo juga sudah tahu apa yang akan dibicarakan Raffa padanya. Dia sudah menyiapkan penjelasan yang benar-benar logis untuk itu.
"Masuk." Suara dari dalam mempersilakan Raffa untuk masuk ke dalam ruang kerja luas milik CEO RAD company itu.
"Langsung duduk di sofa, Raff, ini sebentar lagi selesai." Aldo melihat ke arah Raffa dan kembali fokus ke pekerjaannya. Mereka tidak terlalu bersikap formal karena Aldo dan Raffa sudah lama saling mengenal.
Raffa mengikuti saja instruksi dari Aldo memilih menunggu pria itu selesai mengerjakan tugasnya.
Tidak berapa lama Joe asisten sekaligus sekretaris Aldo membawakan teh serta camilan dan segera keluar.
"Silakan diminum dulu, Raff." Aldo kembali membuka suara dan Raffa pun tak banyak bicara, langsung menikmati teh dan camilan yang tersaji. Camilannya sudah pasti enak mengingat istri Aldo memiliki toko kue sangat laris terkenal menjual kue-kue yang enak.
Setelah selesai Aldo bergegas ikut duduk di sofa.
"Aku tahu apa yang akan kamu tanyakan, mengenai Zeeya, bukan?"
"Aku tidak habis pikir kenapa bisa Bang Aldo membantu Zeeya untuk menjadi tahanan kota? Kemarin-kemarin tidak pernah bilang kalau istri bang Aldo itu teman Zeeya."
Memang dari awal saat Aldo tahu kejadian yang menimpa Raffa, dia berusaha mendukung Raffa dan ikut membantu. Dia yakin Raffa bingung akan tindakannya kali ini.
"Begini, Raff, aku juga baru tahu kalau Serly pernah kenal dan berteman dengan Zeeya. Hari itu dia tidak sengaja melihat berita tentang kamu. Saat Serly tahu bahwa pelakunya adalah Zeeya, dia langsung meminta izinku untuk menemui gadis itu, tentu aku menemaninya. Setelah dilihat Zeeya gadis yang baik. Tampak tidak mungkin dia tega untuk membunuh. Setelahnya kami mengajukan permohonan pengalihan jenis penahanan, kemarin-kemarin aku ingin membicarakan ini, tapi kamu ada di luar kota," terang Aldo.
"Tapi, aku tidak mau tersangka pembunuh istriku bebas begitu saja."
"Kami yang akan mengawasinya, Raff. Dia juga akan tinggal di rumah kami, bahkan dia berjanji akan membantu mencari pelakunya, meski dia hilang ingatan." Aldo tahu kalau Zeeya mengaku hilang ingatan pada Raffa.
Raffa mendengkus kesal, tapi juga tak bisa marah. Aldo dari dulu banyak membantunya. Sekarang perusahaan Aldo pun sedang membantu perusahaan Raffa agar kembali normal.
"Maaf, Raff, istriku benar-benar percaya pada Zeeya, tapi kalau nanti terbukti Zeeyalah yang bersalah, aku pastikan tidak akan lagi ada bantuan dariku," ujar Aldo meyakinkan.
Semoga benar Zeeya di dunia ini memang tidak bersalah, kasihan sekali Zeeya kalau harus menanggung akibat kesalahan yang tidak pernah ia perbuat, batin Aldo. Pria itu tak mungkin memberitahu hal tidak masuk akal seperti ini kepada Raffa.
"Baiklah." Raffa tidak ingin berdebat. Menurutnya itu akan membuat permasalahan semakin panjang. Lebih baik ia fokus pada pencarian tubuh sang istri.
"Sekarang aku ingin menanyakan beberapa hal." Aldo mulai bertanya untuk proses penyelidikan. Menurutnya polisi sangat lamban menangani kasus ini.
"Oke."
"Apa kamu tidak merasa kalau kejadian hari itu seperti sudah direncanakan?" Aldo mengingat hari itu istri Raffa hanya sendiri di rumah, semua ART berada di tempat mama Raffa membantu persiapan arisan. Hanya ada satu satpam yang mengawasi.
"Ya aku juga merasa begitu, tapi aku tidak menemukan titik terang, bagaimana orang lain bisa masuk kecuali Zeeya. Hanya dia yang ke rumah hari itu mengantarkan katering."
"Di gerbang rumahmu kenapa tidak ada CCTV? Mengingat tembok rumahmu yang cukup tinggi, rasa tidak mungkin ada yang memanjatnya apalagi sambil membawa tubuh istrimu."
"Bukan tidak ada, tapi CCTV di gerbang itu rusak dua hari sebelum kejadian dan yang tersisa hanya di teras dan ruang tengah." Raffa juga frustrasi karenanya. Memang benar semua ini terkesan direncanakan dengan matang.
"Menurutku ini pembunuhan berencana. Mereka bisa saja tidak melewati teras makanya tidak ketahuan, tapi kalau gerbang kurasa kamu harus menyelidiki satpam di rumahmu. Kalau perlu kamu ancam dia dan keluarganya demi berkata jujur."
"Aku berulang kali bertanya dan menurutnya karena di awal dia berjaga malam akhirnya siang itu dia ketiduran. Seingatnya yang datang hari itu hanya Zeeya. Bang Aldo bisa lihat di rekaman kalau Zeeya ikut memasuki rumah." Memang Raffa marah sekali pada satpamnya.
"Raff, sebelum Zeeya hilang ingatan apa kamu pernah menanyakan mengapa dia masuk ke dalam rumahmu?" Setahu Aldo, Zeeya tidak kenal Grasia, tapi kenapa dia masuk ke dalam.
"Iya dan dia menjawab bukan urusanku."
"Apa maksudnya? Apa sebenarnya dia kenal istrimu?"
"Dia bilang baru pertama kali bertemu Grasia."
Aldo menghela nafas begitu juga dengan Raffa, belum ada titik terang.
"Tunggu—apa istrimu sering pesan katering di tempat Zeeya bekerja?"
"Iya beberapa kali, tapi aku tidak tahu pengantarnya Zeeya atau bukan."
"Hari itu istriku sempat pergi sekitar pukul 9-12," ungkap Raffa.
"Dan Zeeya datang lima belas menit kemudian. Kalau boleh tahu ke mana istrimu pergi?" tanya Aldo.
"Sebelumnya Grasia minta izin mengunjungi rumah orang tuanya, ada barang-barang yang perlu ia ambil."
Aldo mengangguk mendengarnya.
"Apa kamu sudah menyelidiki tempat katering itu?"
"Sudah dan tidak ada yang mencurigakan. Namun, mereka mengatakan jika Zeeya yang memang baru sebulan kerja tampak sedikit aneh."
Aldo berpikir, mengapa semua seperti menyudutkan Zeeya, tapi kalau memang gadis itu pelakunya di mana dia membawa tubuh Grasia.
Tidak mungkin 'kan tiba-tiba mayatnya menguap, batin Aldo. Memang di dunia ini banyak hal aneh termasuk kejadian Serly, Nathan, dan Zeeya. Tetapi sepertinya tidak mungkin sampai ada mayat menguap. Oke, Aldo pusing sekarang, dia akan membicarakan ini pada sang istri, siapa tahu ada pencerahan.
Setelah cukup lama berbincang, Raffa pun pamit, dia harus kembali ke kantor.
***
Sore hari, Raffa menyempatkan diri berkunjung ke rutan, tentu saja untuk mengunjungi Zeeya.
"Mas Raffa, Mas Raffa, Mas Raffa ...!" pekik Zeeya, tampak gadis itu benar-benar bahagia.
"Berisik! Kamu ingin gendang telinga saya pecah!" seru Raffa.
"Ih, aku lagi senang Mas, besok aku udah boleh keluar!" soraknya.
Raffa menggeleng, usia wanita di hadapannya sudah dua puluh delapan tahun, tapi tampak masih seperti bocah. Ini memang sangat berbeda dengan Zeeya sebelum hilang ingatan. Gadis itu dulu misterius, tapi yang sekarang cerewet, suka bertindak aneh, dan membicarakan hal-hal aneh.
"Mas, habis ketemu Kak Aldo, ya?" Raffa tersentak akan pertanyaan Zeeya.
"Dari mana kamu tahu?" Raffa menatap heran Zeeya.
"Aku 'kan udah pernah ngasih tahu, kalo aku itu punya penglihatan istimewa. Mas sih tidak percaya semua ucapanku."
Raffa menatap malas Zeeya. Benar bukan gadis itu suka membicarakan hal-hal aneh.
"Mas, aku boleh pinjam kertas sama bolpoin? Tadi aku mau pinjam ke Bu Polwan tidak boleh."
"Buat apa?"
"Membuat rencana apa saja yang akan aku lakukan setelah ini."
Tuh, 'kan dia mulai aneh lagi, benak Raffa.
"Saya tidak bawa kertas dan bolpoin, Zeeya."
"Kalau begitu pinjam ponsel Mas. Mumpung aku belum lupa tujuanku," pintanya.
Ya tujuanku memilih hidup di dunia ini. Aku harus bisa bahagia di sini. Meski sempat menyesal, aku tidak akan menyerah, lanjut batinnya.
"Ya sudah ini!" Raffa mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikan itu kepada Zeeya.
Zeeya melihat wallpaper dari ponsel Raffa adalah foto pernikahan pria itu dengan sang istri. Seketika Zeeya menjadi kasihan terhadap Raffa, pasti berat diposisi pria itu karena istrinya pergi dengan cara tak wajar dan belum terungkap sampai sekarang.
Semoga Zeeya di dunia ini tidak membohongiku kalau dirinya bukan pembunuh, benak Zeeya.
Zeeya membuka note dan mengetikkan list pertamanya adalah mengungkapkan kasus Raffa dan istrinya. Selanjutnya adalah mencari pria baik yang tulus mencintainya. Kemudian harapan terbesar selama ini adalah memiliki anak, bukan hanya delusi semata seperti dulu.
Tiba-tiba ketika menuliskan kata anak, Zeeya menangis. Dia ibu yang lemah yang tidak bisa melindungi tiga kali kehamilannya, tiga anaknya yang sangat ia nantikan.
Raffa terkejut melihat Zeeya menangis.
"Ada apa lagi denganmu, Zeeya?" Baru tadi gadis itu tampak bahagia sekarang ia menangis terisak.
Zeeya berusaha mengusap air mata di pipinya.
"Aku—aku sangat ingin punya anak." Kembali setelah itu air matanya menetes.
"Ketika kamu nanti menikah, atas izin-Nya kamu pasti akan memiliki anak."
"Doain ya, Mas Raffa. Aku bisa dapat pria baik yang cinta sama aku, lalu kami menikah dan punya anak."
"Kenapa saya harus mendoakan kamu?"
"Ya kita 'kan sohib."
Raffa mendengus, mana mungkin dia bisa menjadi sohib tersangka pembunuh sang istri.
"Mana sini ponsel saya!"
"Ih tunggu, Mas, belum kusimpan di e-mail." Zeeya dengan cepat membuka e-mailnya. Ternyata e-mailnya tetap sama dengan dunia yang lalu. Setelah diperhatikan tidak ada yang penting yang bisa menjadi petunjuk.
"Mas, nanti jangan beritahu siapa-siapa ya kalau aku jadi tahanan kota. Apalagi ibu tiri dan adik tiriku." Sejujurnya Zeeya tak ingin lagi bertemu dua orang itu.
"Kenapa saya harus merahasiakannya?" tanya Raffa basa-basi tentu dia tidak akan memberitahu, untuk apa?
"Mas, 'kan sudah pernah kuceritakan tentang keburukan mereka. Ck, pasti Mas nggak percaya seperti biasa.” Zeeya menunduk dan bibirnya dibuat cemberut.
"Oke, apa untungnya buat saya menceritakan ke mereka." Zeeya menatap Raffa kembali, benar-benar senang mendengar ucapan itu.
Jam kunjungan telah selesai dan Raffa bergegas pergi.
"Mas nanti kunjungi aku di rumah kak Serly dan kak Aldo ya. Bye bye Mas Raffa."
Raffa tidak menjawab dan memilih cepat meninggalkan tempat itu.